
" Coba aku lihat, " Syafiq.
Hamdi menoleh ke arah Syafiq dan dengan segera memberikan handphonenya kepada Syafiq. Sementara semuanya sungguh masih belum bisa berkata-kata termasuk Azmi yang baru saja bangkit dari masalah yang sebelumnya.
Syafiq memeriksa semuanya juga komentar yang sudah sampai ribuan.
" Tapi, gak semua orang percaya. Banyak juga yang bilang kalau ini belum tentu benar, mereka banyak yang membela kamu, Mi." Syafiq.
" Tetap aja, ini udah gak benar! Azmi, coba kamu jelaskan apa isi foto ini, apakah ini benar atau fitnah? " tanya Ustadz Mustafa yang begitu serius dengan nada yang sangat tegas.
Azmi yang sedari tadi terlihat cemas sambil berpikir dengan kepala yang tertunduk seketika mengangkat kepalanya saat Ustadz Mustafa bicara kepadanya.
Kyai mengangguk dengan pandangan yang memandang Azmi dengan sangat serius.
" Iya, coba kasih ke Azmi itu. Supaya Azmi yang bisa menjelaskan semuanya," Kyai.
Syafiq mengangguk dengan segera ia mendekati Azmi untuk memberikan handphonenya.
Azmi menoleh dan menerima handphone dari Syafiq untuk melihat isi foto itu.
Ekspresi Azmi ketika sangat tegang ia begitu sunyi seribu bahasa ketika melihat foto itu, dimana tatapan Azmi kepada Aisyah begitu dalam dan Aisyah yang begitu serius terlihat begitu emosional ketika bicara kepada Azmi.
" Bagaimana, nak? Apakah itu benar?" tanya Kyai dengan nada yang tetap halus.
Azmi berusaha kuat untuk bicara dengan jujur mulai mengangkat kepalanya dengan tatapan mata yang mengarah ke bawah mengingat Kyailah yang ada dihadapannya saat ini dan tengah menunggu jawabannya.
" Iya, Kyai. Semalam saya memang bicara dengan Aisyah, " jawab Azmi dengan nada lirih.
" Astagfirullah, Azmi! Sekarang kita gak bisa membeladiri dan buat klarifikasi tentang masalah kamu ini, kenapa kamu bicara dengan tatapan yang begitu dalam dengan yang bukan mahram? Kamu udah belajar dipesantren, harusnya kamu tau kalau itu zina mata! " Ustadz Mustafa amarahnya mulai keluar saat Azmi bicara dengan jujur.
Azmi terdiam saat dimarahi Ustadz, ia sungguh tidak berani melawan dan hanya bisa terus menundukkan kepalanya membuat Hamdi dan Syafiq hanya bisa terdiam mereka juga sekilas saling toleh dan ikut ketakutan karena amarah Ustadz yang begitu besar kepada Azmi.
__ADS_1
" Saya mengaku salah, Ustadz. Waktu itu saya hanya ingin bicara dengan teman saya, saya ingin menjelaskan semuanya. Supaya tidak ada lagi rasa benci, dendam ataupun kesalahpahaman." jelas Azmi dengan suara yang tegas walau dengan kepala yang masih tertunduk.
" Tapi, itu tetap aja.. " Ustadz Mustafa seketika berhenti bicara saat Kyai mulai mengambil alih bicara.
" Sudah Mustafa! Azmi sudah jujur kepada kita semua, mungkin waktu itu Azmi mencoba menjelaskan kepada gadis itu, ini hanya kesalahpahaman." ucap Kyai yang membuat Ustadz Mustafa tersadar ia menundukkan kepalanya dan terdiam.
" Maaf, Kyai. Tapi bagaimana ini, banyak pihak yang kebaperan dan menyalahkan Azmi tentang ini karena dia hanya berduaan dengan seorang gadis, di malam hari pula." Hamdi.
Kyai mengangguk pelan beberapa kali atas pertanyaan Hamdi.
" Iya, iya. Kamu benar, Azmi akan bicara yang sebenarnya. Jelaskan yang sebenarnya kepada semua orang dan itu harus jujur, " Kyai.
" Tapi, Kyai.. Kalau saya jujur nanti semua orang membenci saya dan nama anggota Syubban jadi jelek karena saya, " Azmi.
" Apa kamu takut dibenci oleh manusia Azmi? Ingat, lebih baik dibenci oleh ribuan manusia asal jangan dibenci Allah, juga nabi kita, nabi Muhammad SAW." jelas Kyai kepada Azmi.
" Salllahu 'alaihi wassallam, " jawab semuanya.
" Masih ada Allah, Azmi. Allah akan ada dipihak hamba-Nya yang selalu ada dijalan kebenaran dan selalu memohon kepadanya " Kyai.
Dengan kepala yang sedikit tertuduk, Azmi mendengarkan dengan serius perkataan Kyai, ia mulai mengerti dan siap untuk bicara lewat semua pengguna media sosial terutama orang-orang yang telah mengagumi dirinya.
" Baik, Kyai. Saya akan bicara kepada semua orang dengan sejujurnya." ucap Azmi dengan tubuh yang tegak dan suara yang tegas.
Syafiq dan Hamdi tercengang akan jawaban Azmi dan Ustadz Mustafa memandang Azmi dengan tatapan dalam sekilas ia memberikan senyuman kecil kepada Azmi.
Tanpa berlama-lama, Hamdi siap merekam Azmi yang akan bicara menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada semua orang.
Rasa bangga memiliki santri yang berani dan selalu tawadhu' kepada Kyai dan para Ustadz sangat dirasakan oleh Kyai, dengan wajahnya yang berseri, senyumannya terlukis dengan tulus untuk Azmi yang berani ambil resiko apapun.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya Azmi Askandar. Ingin mohon maaf kepada kalian semua terutama orang-orang yang sudah selalu mendukung saya selama ini atas sebuah foto yang telah tersebar dan buat semua orang heboh. Foto itu memang real, itu saya.." Azmi ia bicara dengan sangat lancar dengan suaranya yang tegas dan wajahnya yang fokus memandang kamera.
__ADS_1
Pembicaraan seketika terhenti, kepala Azmi tertunduk dan ia kembali mengangkat kepalanya dan pandangannya mengarah kepada Kyai.
Kyai tersenyum seolah memberikan kepercayaan pada Azmi kalau Azmi bisa melakukan semuanya.
Azmi mengangguk dan matanya kembu tertuju kepada kamera yang masih dipegang oleh Hamdi.
" Perempuan itu adalah teman saya, saya hanya bicara formal dengan dia. Tidak ada yang perlu diperbesarkan. Karena islam memperbolehkan kita untuk berteman dengan lawan jenis sesuai dengan syariatnya yang gak boleh itu pacaran. Saya tidak tau siapa yang ngefoto saya dengan maksud buruk seperti itu. Saya hanya minta, siapapun orang itu, tolong berhati-hati dalam menyebarkan berita dan yang anda sebar dan yang anda lakukan sudah termasuk fitnah. Wassaalammualaikum, " Azmi ia bicara dengan lancar dengan sorot mata yang sungguh tajam.
Hamdi memberikan jempol kepada Azmi sebagai tanda kalau camera videonya sudah ia matikan.
" Alhamdulillah, " ucap Azmi mengusap wajahnya.
Semuanya tersenyum, mereka kagum dengan keberanian yang Azmi miliki apalagi pembicaraan mengalir begitu saja oleh Azmi tanpa ada persiapan sebelumnya.
" Saya bangga sama kamu, nak. Semoga Allah selalu memberi kamu jalan yang benar dan selalu membantu masalah kamu, " Kyai.
Ustadz Mustafa yang ikut bangga dengan Azmi sadar atas kesalahannya ia setelah sekilas tertunduk ia memandang kearah Azmi.
" Azmi, maafin saya. Saya tadi terbawa emosi sehingga saya memarahi kamu, " Ustadz Mustafa.
" Tidak apa-apa Ustadz, saya memang salah. Saya tidak pantas membela diri walau saya benar sekalipun kalau yang bicara dengan saya adalah seorang guru." Azmi ucapannya yang sungguh mulia dengan suara yang menyejukkan membuat Ustadz Mustafa tersenyum bangga kepada Azmi.
" Maaf, Kyai. Ada undangan setelah sholat duhur berjama'ah nanti." Hamdi.
" Baik. Azmi, sebaiknya kamu istirahat dulu, siapkan tenaga untuk acara nanti, " Kyai.
" Nggih Kyai, " Azmi ia langsung melangkah ke arah Kyai dan mencium tangan Kyai dengan penuh hormat ia juga menyalam tangan Ustadz Mustafa, Hamdi dan Syafiq.
"Assalamualaikum, " Azmi.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya.
__ADS_1
Bersambung...