
Para anak-anak Syubband menyantap sahur bersama di 2 kamar yang langsung terhubung mereka dengan nasi kotak yang baru saja dibagikan oleh Hamdi dan Syafiq. Kebersamaan yang ada diantara mereka sungguh terlihat menyayat hati. Di saat semua sudah selesai santap sahur dan tinggal menunggu waktu subuh Azmi langsung bersama dengan handphonenya yang sudah ada pada genggamannya.
Ternyata Azmi sedang menghubungi keluarganya, ia mengechat Naufal dengan wajah yang sangat serius didepan layar handphone. Naufal juga sangat cepat dan antusias membalas chat-chatan dari Azmi tidak lupa ia memberitahu Ummi, Abah dan Dek Rara agar mereka bisa senang dan tidak khawatir.
Entah apa chat-chatan Azmi dengan Adiknya yang membuat Azmi begitu fokus dan kadang tertawa sendiri.
" Ngapain, Mi? Ketawa-ketawa kaya gitu," tanya Aban yang sedari tadi memperhatikan Azmi.
" Enggak enek, Ban. Ini aku lagi chatan sama Adikku. Mau? " Azmi.
" Hah? Mau apa? " tanya Aban bingung dengan pertanyaan Azmi yang ambigu.
" Chatan sama Adikku, " Azmi kembali menatap layar hapenya.
" Kalau kenalan enaknya itu langsung ketemu, kalau lewat hape ya, tidak asyik, Mi" Aban.
" Siah, gak asyik. Tapi iya, sih. Ya udah kapan-kapan aku kenalin sama Adikku, " Azmi kembali memandang ke arah Aban.
" Oke bos, siap." Aban.
" Kenalan sama siapa? " jawab Muhklis yang baru datang sangat jelas sekali kalau ia baru saja habis makan dan minum.
" Opo toh? Datang-datang melu-melu kita berbincang, kepo sekali anda, " canda Azmi.
" Gayamu, Mi. Kaya ngomong hal penting banget, " Muhklis dengan ekspresinya yang lucu memuncakkan rasa penasaran tentu saja hal itu membuat Azmi dan Aban tertawa bersamaan.
" Onok opo tho, rek?" Ahkam juga baru datang wajahnya yang segar karena ia baru saja selesai mengambil air wudhu.
" Wishh, Masya Allah. Ustadz Ahkam sangat glowing, " Azmi nada dan gaya bicara yang menirukan sponsor iklan sungguh menimbulkan gelak tawa pada Aban, Ahkam dan juga Muhklis.
" Opo ae, Mi, Mi." Ahkam berusaha menahan tawa dengan menghela nafas keras tidak lama ia juga memalingkan wajahnya agar tidak melihat Azmi.
" Benar lo, mas Ahkam. Wajahnya mas itu jadi bersinar kalau habis wudhu, " sambung Aban dengan senyuman manis yang terlukis memandang Ahkam.
" Masa kalian gak tau, Ahkam itu selalu menjaga wudhu, buang angin dia langsung wudhu, bangun tidur dia langsung wudhu." Muhklis.
" Alhamdulillah, terima kasih atas pujian anda semua tapi jangan israf (berlebihan) nanti saya bisa terbang, " jelas Ahkam dengan nada pelan ia menjelaskan dengan ekspresi yang sangat serius tentu saja mengundang tawa Azmi, Aban dan Muhklis.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
__ADS_1
Adzan subuh telah berkumandang suasana kamar yang tadinya sangat ramai seketika sepi tak ada satu orang lagi yang berani bicara atau tertawa mereka semua menunduk untuk menjawab kalimat-kalimat adzan yang begitu indah terdengar begitu juga dengan Azmi ia menjawab adzan sembari menunduk dan menadahkan tangannya sungguh wajahnya sangat serius jauh berbeda seperti tadi.
Setelah adzan selesai mereka semua langsung berdoa setelah adzan dengan begitu khusyuknya lalu baru mereka satu-persatu bangun menuju kamar mandi untuk bersih-bersih ataupun berwudhu.
" Ayo, Mi, mas Ahkam, Aban, bang Muhklis," ajak Ali yang berdiri sudah hendak melangkah keluar.
" Nggih mas, duluan, " jawab Azmi.
Ali mengangguk dan kembali lanjut melangkah kaki mengejar Udin dan ia berjalan di samping Udin.
" Azmi bisa langsung serius banget mukanya kalau dengar adzan. Aku sampai bingung gitu, cepat banget, Azmi juga kalian berubah jadi serius." Ahkam.
" Ya jelas mas Ahkam, Nabi muhammad SAW mengajarkan 10 adab ketika adzan diantaranya
1.Mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muadzin.
2.Bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Allahumma sholli ‘ala Muhammad
3.Minta pada Allah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah dan keutamaan.
4 Membaca: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.
5.Memanjatkan doa sesuai yang diinginkan. Sebab terdapat doa mustajab antara adzan dan iqamah
7.Tidak Berbicara.
8.Menghentikan aktifitas yang dilakukan.
9.Menyegerakan shalat. Agar terhindar dari waktu terlarang untuk shalat
10.Tidak keluar dari majid atau mushala setelah adzan. Bahkan di Arab aja kalau ada adzan semua kegiatan wajib dihentikan." ucap Azmi begitu cepat tapi juga sangat jelas membuat kagum teman-temannya yang sedang mendengarkan dengan sangat serius.
" Benar, Mi. Hebat kamu hafal semua," Muhklis memberikan jempolnya kepada Azmi.
" Emang kamu gak tau?" tanya Ahkam.
" Tau, tapi ada yang lupa, " Muhklis.
" Ayo, Ban, Bang, kita ambil wudhu, " ajak Azmi.
__ADS_1
" Ayo, Mi." Aban.
" Ayo, pergi dulu, Kam. Dadaa, " Muhklis sembari melambaikan tangannya Pada Ahkam.
Ahkam hanya tertawa memukul pelan pundak Muhklis yang hendak bangun. Muhklis mengejar Aban dan Azmi yang berjalan bersebelahan tawa manis juga tampak pada wajah mereka berdua.
Setelah wudhu para anggota Syubban bersama Kyai, Ustadz Mustafa, Hamdi dan Syafiq mereka berjalan ke Masjid yang tidak terlalu jauh dari Hotel mewah itu.
Menjalankan aktivitas sholat subuh dengan baik dan khusyuk, berdoa, mendengarkan pengajian yang langsung disampaikan oleh Kyai.
Setelah semua itu dilakukan anggota Syubban harus kembali menghadiri acara pengajian. Sudah siap dengan seragam putih hitam mereka semua berdiri bersiap-siap hari ini memang kegiatan mereka mulai padat. Lelah dan rasa kantuk memang dirasakan oleh anggota Syubban apalagi Azmi yang semalaman harus berteriak menunjukkan suara lantangnya agar semua jama'ah semangat.
Disaat semua sudah siap hendak menghampiri Kyai, Ustadz Mustafa, Hamdi, dan Syafiq, Azmi malah tiduran dengan posisi tidak biasa yaitu seperti orang yang tengah sujud.
" Mi, bangun Mi, Kyai udah nunggu lo, " Muhklis menepuk-nepuk pelan punggung Azmi agar Azmi mau bangun.
" Ketondu (ngantuk) saya, bang." ucap Azmi tetap dengan posisi tadi ia enggan mengangkat tubuhnya dan menoleh ke arah Muhklis.
" Ayo Mi, gak baik buat Kyai nunggu," Aban.
Semua anggota Syubban mengarahkan pandangan pada Azmi yang terlihat sangat lelah dengan posisi yang tengkurap mendekapkan wajahnya pada bantal.
" Jeggeh, Mi (bangun, Mi). Dekig tedung pole, Mi (nanti tidur lagi, Mi) " Ahkam yang juga ikut membangunkan Azmi tapi Azmi masih saja tak mau bangun.
" Kyai, Kyai, Kyai mau datang kesini," Ali begitu hebohnya hal itu tentu saja membuat Azmi kaget dan takut ia langsung bangun terduduk dengan rambutnya yang acak-acakan.
" Mana Kyai? " tanya Azmi menoleh ke arah Ali dengan matanya yang mengeluarkan air mata saking lelahnya.
" Tapi bohong, " ucap Ali dengan santainya dan senyuman yang terlukis merekah kepada Azmi.
" Wes, Mi. Ayo semangat! Nanti kamu bisa tidur lagi, " Udin.
" Iya, semangat jiwa muda, " sambung Firman.
" Ayo, Nak. Jangan buat Kyai nunggu ayo, " Ahkam menarik tangan Azmi yang lemas hingga Azmi bangun dan berdiri disebelahnya.
Azmi langsung merapikan rambutnya membenarkan pencinya dan pergi ke cermin untuk mengusap-ngusap wajahnya.
" Ayo, wes." ucap Azmi menoleh ke arah semua anggota Syubban yang sedari tadi memperhatikan Azmi.
__ADS_1
Ahkam tersenyum berjalan menghampiri Azmi dan merangkulnya mereka berjalan bersama dengan wajah yang berseri-seri terlihat sangat kompak.
Bersambung....