Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 226 Jangan Ragu


__ADS_3

Zakir asyik bermain hape pada sofa lembutnya yaitu dengan posisi tubuh yang rebahan dan kepala yang ada pada ujung sofa.


Dimas yang baru datang dengan pakaiannya yang sangat rapi dan peci putih dengan logo pesantrennya langsung menghampiri Zakir yang hanya ada disana sendiri.


" Assalamualaikum, " ucap Dimas sembari duduk di sofa satunya tepat dihadapan Zakir.


" Wa'alaikumussalam, " jawab Zakir singkat dengan posisi yang masih sama dengan santainya dirinya tetap mengarahkan pandangannya pada handphonenya itu.


Dimas hanya bisa bersikap untuk tetap sabar melihat sikap Adik sepupunya yang begitu cuek.


" Om sama Tante mana? " tanya Dimas.


"Gak tau, tadi bilang keluar sebentar, " jawab Zakir.


" Ohh, " Dimas sambil mengangguk pelan beberapa kali.


Dimas melepas pecinya dan ia mengambil air putih yang sudah tersedia disana Dimas langsung meminumnya sampai habis.


" Aduh, kalah, kan jadinya. Arghh, kesel banget aku!" Zakir ia terlihat kesal akhirnya berhenti bermain handphone sembari mengacak-ngacak rambutnya karena habis kalah dalam permainan yang ia mainkan


Saat Zakir ingin mengambil airnya ia terlihat terkejut saat melihat air yang ia sediakan habis.


" Yah, ini kok habis. Kakak, kenapa air minum aku dihabisin, sih?" Zakir ia yang sudah kesal tambah kesal karena ulah Dimas. Sambil membenarkan posisi duduknya ia memandang Dimas penuh kekesalan.


" Punya kamu itu? Maaf, Kir Aku gak tau, aku kira emang ada disini." jawab Dimas.


" Tanya dulu harusnya kalau mau minum." Zakir.


" Maaf, maaf. Tinggal ambil lagi apa susahnya, sih? " Dimas.


Zakir hanya terdiam ia yang tampak begitu kesal dengan lirikan mata tajamnya kepada Dimas ia langsung mengambil gelas bekas Dimas dan pergi ke dapur untuk minum.


Dimas malah tertawa kecil sambil geleng kepala melihat Zakir yang sangat kesal.


Tidak lama kemudian Zakir kembali dan melihat Dimas yang masih bersantai menghidupkan televisi.

__ADS_1


" Santai banget, ya." Zakir.


Dimas menoleh dan bangun saat melihat Zakir yang sudah kembali.


" Eh, Kir. Sorban Azmi mana? Kamu belum balikin ke dia?" Dimas.


" Belum masih ada tuh dilemari aku," jawab santai Zakir.


" Astagfirullah, Kir. Kamu santai banget, sih. Azmi pasti lagi nyariin sorbannya itu. Kasihan dia, " Dimas.


" Udahlah, santai aja. Besok aku balikin ke dia lagian kaya dia mau kemana aja besok. Azmi masih tetap disini kali, Kak. " Zakir.


" Huft, ya udah deh, terserah kamu. Yang penting besok kamu benar kembaliin ke dia. Jangan ditunda-tunda lagi." Dimas.


" Ya elah, iya, iya. Selow, Kak. Azmi itu masih ada disini, dia gak akan kemana-mana juga, segitunya banget." Zakir.


" Bukan masalah gitu, emang kamu gak kasihan sama dia. Dia pasti nyariin sorban itu. Oh, ya satu lagi kamu pernah bilang sama aku kalau kamu mau minta maaf sama Azmi, gimana itu? Kapan kamu mau minta maaf?" tanya Dimas.


Zakir tiba-tiba terdiam bola matanya berputar seakan tengah gelisah memikirkan sesuatu.


Zakir menoleh ke arah Dimas dengan tatapan tajam kepada Dimas yang juga tengah memandang dirinya untuk menunggu jawabannya.


" Eeee, sebenarnya aku mau minta maaf sama Azmi. Setelah apa yang aku lakukan sama dia dan balasan dia yang malah begitu baik sama aku, Kak. Tapi gak tau kenapa hati aku masih berat. Kenapa, ya? " Zakir.


" Nah, ini, nih. Kir, jangan pernah kamu ragu untuk minta maaf mengakui kesalahan kamu ingat hadist ini, disebutkan, bahwa orang yang lebih dulu meminta maaf derajatnya di hadapan Allah SWT lebih tinggi dan lebih dicintai Allah SWT dari yang dimintai maaf . Maka dari itu jangan meminta hanya di saat kita bersalah. Kamu ngerti? Apalagi kamu udah banyak salah sama Azmi, itu setan yang bisikin kamu dan buat hati kamu berat untuk minta maaf. Lawan itu, Kir. " jelas Dimas.


Zakir yang sedari fokus mendengarkan mengangguk pelan dan tersenyum dengan wajah yang berseri kepada Kakaknya itu.


" Iya, Kak. Sekarang aku ngerti. Kalau gitu besok temenin aku kerumah Azmi, oke." Zakir.


" Emang kamu tau rumah Azmi, kalau aku sih, oke aja mau anter kamu." Dimas.


" Gampanglah, tinggal nanya orang sini aja. Siapa yang gak tau rumah Azmi, dia kan udah terkenal." Zakir.


Dimas mengangguk.

__ADS_1


" Ngomong-ngomong, Kakak pintar banget bicara kaya gitu pakai hadits segala lagi, udah kaya Ustadz aja. Mantap deh, gak nyangka aku." Zakir.


" Biasa aja, Kir. Makanya kalau ada pelajaran hadist kamu jangan tidur." Dimas.


Zakir hanya terdiam memalingkan wajahnya tidak bisa membalas ucapan Kakak sepupunya sementara Dimas hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan.


***


Malam ini begitu dingin bagi Mufti yang baru saja berdebat dengan sahabat terbaiknya.


Di kamarnya yang begitu rapi dengan berbagai poster Band yang menambah suasana keren dari kamarnya itu, Mufti terduduk dikasurnya sembari melamun.


Mufti mengingat peristiwa dimana ia bertengkar dengan Doni ini tidak hanya sekali semenjak, Mufti memilih untuk menyudahi persaingannya dengan Azmi bersama anggota Syubban semenjak itulah, Doni bersikap egois dan tidak terima dengan semua itu.


" Gue bingung sama sikap Doni, memang dia itu keras kepala banget, susah buat diatur dan selalu memikirkan kepentingan dia sendiri aja. Tapi, Doni gak boleh bersikap seperti ini terus. Gue sama yang lain aja udah bisa anggap tim Syubban itu teman. Ya, walau gak semua teman gue kaya gitu. Tapi, setidaknya mereka udah bisa ngehapus rasa kebencian sama anak Syubban. Anak-anak Syubband itu baik, mereka sabar, kuat dan gak pernah nganggap gue sama teman-teman gue musuh." ucap Mufti yang berada dikamarnya sendirian.


Mufti merasa bingung ia tidak mau seperti ini terus, Mufti juga mengingat semua kesalahannya pada anggota Syubban yang bahkan enggan untuk membalas perilaku Mufti bersama teman-temannya yang sudah sangat keterlaluan.


Mufti juga mengingat Akmal yang pernah ia marahi, jahili bahkan sampai ia pukuli sampai saat Mufti merasa begitu bersalah kepada Akmal yang kini Akmal telah tiada.


Mufti merasa bingung hingga ia mengambil tas gendong yang berwarna hitam dan yang biasa ia bawa kemana-mana.


Mufti seperti mencari sesuatu dalam tasnya itu.


" Lho, ini buku gue kemana lagi? Aduh, perasaan gue taruh sini. Mana, sih? " ucap Mufti yang sudah lelah mencari bukunya itu sampai mengeluarkan semua isi tasnya bahkan ia sampai membalikkan bukunya hingga semua barangnya keluar.


Buku itu ada pada tangan Hafsah, sama seperti Mufti yang tengah ada dalam kamarnya sendirian hanya bedanya kamar Hafsah terlihat begitu rapi dan indah dengan hiasan yang ia suka.


Hafsah juga sedang melamun duduk di dekat meja yang berhadapan dengan jendela luar yang sengaja ia buka sedikit.


Hafsah merasa penasaran dengan apa yang ada dalam buku itu.


" Aku jadi penasaran, apa, sih isi buku ini? Apa aku buka aja, ya? Tapi, ini, kan punya Mufti entar dia marah lagi." gumam Hafsah sambil memandang buku yang berukuran sedang berwarna cokelat itu.


" Arghhh, udahlah. Gak papa, entar aku bilang sama Mufti Paling juga gak ada apa-apa. Orang kaya Mufti masa nulis diary di buku kaya gini." Hafsah ia mulai membuka buku Mufti dan ia terlihat begitu kaget saat melihat isi dari buku itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2