Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 176. Kebahagiaan


__ADS_3

Azmi, Rara dan Naufal terlihat sangat kompak duduk di masing-masing tempat cukup berjauhan dengan keadaan yang bermalas-malasan dengan dunianya masing-masing. Azmi terlihat sangat asyik memainkan handphonenya, Naufal sangat fokus menatap layar televisi walau isinya iklan marjan, ia duduk di bawah dengan karpet yang sudah terampar di bawah sofa. Sementara Rara tampak sangat lemas untuk meredakan itu ia merebahkan dirinya di sofa lain selat meja dengan Azmi. Rara hanya bisa melihat jam dinding dengan tubuhnya yang lemas.


Ummi datang melihat anak-anaknya yang sibuk dengan dunia mereka masing-masing walau ada pada tempat yang sama.


" Assalamualaikum, " Ummi duduk disebelah Azmi.


" Wa'alaikumsalam, " ucap semuanya melihat kedatangan Ummi mereka segera menyalam tangan Ummi dan kembali duduk di sofa.


" Ummi, maghrib masih lama, ya?" tanya Rara sangat lemas duduk di samping Umminya.


Ummi tersenyum dan mengusap-ngusap kepala putri kecilnya.


" Sabar, ya. Bentar lagi, kalau lagi puasa gak boleh mikir buka terus, nanti pahalanya berkurang, " jelas Ummi.


Rara mengangguk tetap dengan kondisi lemas menatap ke arah Ummi. Ummi kembali tersenyum dan menyemangati Rara.


" Semangat, anak Ummi pasti kuat, " Ummi.


Pandangan Ummi sekarang menuju ke arah Azmi yang sangat sibuk menatap layar hape yang ia pegang dengan kedua tangannya.


" Sibuk banget, Mas? Dari tadi main hape terus, Ummi lihat. Anak pondok itu harus banyak-banyak muraja'ah, ayo sama Ummi, taruh hapenya, " perintah Ummi.


Mendengar ucapan Umminya, Azmi berhenti menatap layar dan kini ia menatap Umminya sambil melukis senyum.


" Azmi sudah murajaah, Ummi. Enaknya subuh kalau murajaah kalau sekarang lagi waktunya untuk istirahat menunggu maghrib," Azmi.


" Bohong Ummi, Mas Azmi langsung ke kamar lagi habis turun subuh, " sambung Naufal.


" Enggak Ummi, Azmi gak bohong. Azmi bener muraja'ah, Naufal aja tuh seng turu habis subuhan, " Azmi.


Naufal malah tertawa melihat kemarahan Azmi kepada dirinya yang sudah menjelekkan Azmi didepan Umminya bercanda.


" Iya, Ummi percaya, kalau gitu sekarang baca hafalannya." Ummi.


Seketika Azmi tambah lemas ia menundukkan kepalanya, menggaruk bagian belakang lehernya belum menjawab pertanyaan Ummi.


" Nah, kan. Mas Azmi takut tuh, Mmi." tambah lagi Naufal.


" Jangan sekarang Ummi, Azmi lemas banget, " alasan Azmi.


" Kalau main hape, Mas Azmi gak lemas?" sambung Rara membuat semua tertawa dengan berada dipihak Rara.


"Pinteran Adik'e, " Ummi.

__ADS_1


Azmi tidak bisa berkata-kata lagi ia ikut tertawa dengan ucapan Rara yang terlintas sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari senderan di sofa begitu juga dengan Naufal dan Ummi.


" Assalamualaikum, " Abah baru datang dan menghampiri keluarganya.


Azmi, Rara, Naufal dan Ummi menyalam tangan Abah secara bergantian dan kembali duduk bersebelahan pada sofa.


" Azmi, nanti kamu pimpin sholawat, habis taraweh, terus jangan lupa ikut tadarus, " Abah.


" Di Masjid biasa, Bah? "Azmi.


" Iya, tadi dijalan banyak banget orang yang kasih salam ke kamu. Mereka juga mau kamu sholawatan, " Abah.


" Tadi Ummi juga dihadang banyak orang, mereka nanyain kamu, le. Ummi gak nyangka banget kalau banyak yang ngefans sama kamu, " Ummi.


" Lihat aja ignya Mas Azmi, followersnya langsung banyak banget. Lagi sitik ae Mas sudah dapat centang biru, terus bisa dapat kiriman-kiriman opo iku, endors, endors, iku." Naufal.


" Mikire, iku tok, " Azmi menepuk pelan lengan Naufal.


" Mas Azmi hebat, jadi artis sekarang, " Rara.


" Enggak, Mas ini masih seorang santri yang cuma dapat semua ini dari Allah SWT. Tugas Mas ya, cuma tetap terus sholawatan, " Azmi.


Senyuman terlukis di wajah kedua orangtua mendengar ucapan mulia terdengar dari mulut putra sulungnya. Ummi Azmi sudah tak tahan dan langsung memeluk dan juga mencium kepala anaknya.


" Barokallah, semoga dengan kamu bersama teman-teman kamu yang terus semangat bersholawat dapat membuat semua umat muslim merindukan kanjeng nabi, dan semoga rasa rindu ini sampai kepada kanjeng nabi Muhammad SAW, "Abah.


Keluarga Azmi terlihat sangat bahagia dengan senyum dan tawa yang menyelimuti suasana rumah menjadi indah penuh warna.


...****...


Azmi menjadi pemimpin sholawat dan doa setelah selesai sholat taraweh di Masjid biasa yang ada tidak jauh dari rumahnya.


Para jama'ah sangat senang karena Azmi bisa memimpin apalagi para jama'ah wanita yang malah tak khusyuk berdoa sibuk memperhatikan Azmi.


Di saat semua jama'ah sudah turun pulang datanglah seorang bapak yang merupakan pemilik Masjid juga ketua Rt di daerah Azmi.


" Masya Allah, jadi ini yang viral." pak Rt.


" Alhamdulillah, Pak," jawab Azmi dengan senyumannya.


" Bagus banget suaranya'e, kamu siap, kan kalau setiap hari mimpin dan juga tadarus disini," Pak Rt.


Azmi masih belum menjawab dan menoleh ke arah Abahnya yang memberikan izin sambil tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


" Insya Allah, Pak. Sebenarnya saya gak enak'e. Saya kan masih muda disini, banyak mas, mas yang lebih dari saya, " Azmi.


Pak Rt membenarkan ia juga terlihat sedang berpikir dan menganggukkan kepalanya pelan beberapa kali.


" Begini saja, Pak. Bagaimana kalau dibuat jadwal piket saja dengan remaja Masjid yang sudah senior disini, " usul Abah Azmi.


" Iya, Pak. Azmi setuju, " sambung Azmi.


" Hmmm, benar juga, saya juga setuju. Kalau gitu nanti saya buat jadwalnya. " Pak Rt.


Terlihat beberapa jama'ah wanita yang mengintip Azmi masih mengenakan mukenahnya.


" Ngapain kalian disini? " tanya Pak Rt.


" Pak, kita bolehkan, ikut tadarusan. " jama'ah wanita 1.


" Iya, mumpung ada Azmi, calon imam." jama'ah wanita 2.


Ucapan mereka membuat Azmi geleng-geleng kepala sambil menyematkan tawa kecilnya dengan kepala yang tertunduk.


" Astagfirullah, kalau cewek tadarusnya sama Umminya Azmi, masa mau gabung sama cowok-cowok, " Abah Azmi.


Para jama'ah itu hanya nyengir dan merasa kecewa tak bisa bersama dengan Azmi.


" Sudah-sudah sana, ngelihatin Azmi sampai kaya gitu, " Pak Rt.


" Assalamualaikum, " para jama'ah itu akhirnya mau pergi walau mereka sempat memanggil nama Azmi dan melambaikan tangan kepada Azmi.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Azmi, Abah, dan pak Rt.


Para remaja Masjid sudah siap untuk tadarus juga ada Naufal yang baru mendekat bersama teman-teman yang lain.


Suara indah Azmi membuat kagum semua orang yang ikut tadarus, bahkan suara Azmi terdengar sampai keluar Masjid mengingat tadarus yang memakai mikrofon membuat semua orang bisa mendengar suara indah Azmi.


Begitu juga dengan para akhwat yang sedang tadarus bersama Ummi Azmi bahkan Aisyah yang sedang membaca Qur'annya sampai tidak diperhatikan oleh mereka yang asyik memuji suara indah Azmi.


" Ehem, kok malah ngomong sendiri? Ayo disimak Aisyahnya dari tadi baca'e, " Ummi.


" Maaf Ummi, habisnya suara Azmi bagus banget, kedengaran sampai sini, " salah satu akhwat.


" Suaranya Aisyah juga bagus kok, gak usah fokus sama suara disana aja, " Fitri.


" Sudah-sudah! Ayo disimak, Aisyah ayo, Nak. Lanjut bacanya," Ummi.

__ADS_1


Aisyah mulai mengangguk dan kembali melanjutkan bacaan Qur'annya.


Bersambung...


__ADS_2