Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 151. Tidak Sengaja Menabrak.


__ADS_3

Mufti masih melamuni perkataan Hafsah, wajahnya juga masih gelisah dengan keringat yang terlihat pada dahinya.


" Ya elah, Muf. Masa omongan cewek kaya dia lo masih pikirin, sih? " anggota Band 1.


" Udah lah, Muf. Cewek tadi itu bukan siapa-siapa lo, jadi lo gak perlu nanggepin apa yang dia omongin tadi. " anggota Band 2.


" Tapi cewek tadi cantik juga, ya, " anggota Band 3 dengan wajahnya yang sedang tersenyum gembira seakan sedang melamunkan wajah Hafsah.


Melihat kelakuan temannya, salah satu anggota memukul keras pundaknya agar temannya sadar dan tidak membayangkan wajah Hafsah.


" Apaan sih, kalian? Siapa juga yang mikirin omongan cewek gak jelas kaya dia?" Mufti dengan wajah kesal kepada temannya sekilas ia memandang wajah teman-temannya dan kembali memalingkan wajahnya.


" Awas kena karma lo, Muf. Gue pikir-pikir cewek tadi itu ada benarnya, kita udah melakukan tindakan pecundang dengan buat berita hoaks itu, " anggota Band 3 terlihat membela Hafsah daripada teman-temannya memang dialah anak yang paling polos dan baik daripada teman-temannya yang lain.


" Jadi lo, lebih bela dia, hah? Lo bilang apa yang kita lakukan itu pecundang? " Mufti mulai marah besar menatap tajam anggota Band 3 yang sangat polos menggelengkan kepalanya mencoba menerangkan hal yang benar kepada Mufti.


" Emang nih, anak. Lo ngebelain anak-anak rebana kampung itu? " tanya anggota Band 1.


" Enggak kok, tapi kalau tuh cewek beneran bilang yang sebenarnya, gimana? " jawab anggota Band 3.


" Argh! Udahlah, lo gak usah pikirin hal yang gak mungkin dilakuin cewek lemah kaya dia. Ayo, kita cabut! Gue capek banget, nih!" Mufti.


Semua teman-teman Mufti hanya bisa mengangguk mengikuti perintah Mufti yang sudah jelas tampak wajah emosinya.


Dalam menjalankan motornya, Mufti masih melamuni perkataan Hafsah yang terus ada dalam otaknya membuatnya tidak tenang dan sangat marah tanpa kendali ia melajukan motornya dan menabrak seorang wanita. Wanita itu tidak lain adalah Hafsah, setelah tertabrak Mufti, Hafsah terlihat sangat lemas ia tertindih motornya.


Sementara Mufti yang juga terbentur ke jalan dengan sangat keras terasa sangat lemas tubuhnya dan belum bisa bangkit ia segera meminta teman-temannya yang berhenti untuk menolong Hafsah.


" Woi! Jangan diam aja! Bantuin, tuh cewek!" teriak Mufti berusaha bangkit.


Dengan teriakan Mufti, ketiga temannya segera ingin menolong Hafsah tapi Hafsah yang sudah muak melihat wajah-wajah mereka menolak keras untuk ditolong.


" Heh! Jangan berani kalian pegang aku! Aku bisa bangun sendiri, tolongin aja teman kalian yang angkuh!" sentak Hafsah kepada semua teman Mufti.

__ADS_1


" Lo yakin bisa berdiri! Kita semua lihat kalau Mufti udah nabrak lo keras, " ucap salah satu anggota melihat kondisi Hafsah yang memang sudah lemas.


" Enggak-enggak! Aku bisa, kalian gak usah repot-repot nolongin aku! " Hafsah.


Hafsah mencoba membangunkan motornya sementara teman-teman Mufti membantu Mufti untuk bangun perlahan. Pandangan Mufti sangat fokus kepada Hafsah yang berusaha bangun dengan perlahan melihat kondisi jalan yang sudah sepi apalagi pada jalan suatu desa yang biasa dilalui Hafsah.


Dengan susah payah, tapi Hafsah masih tidak bisa mengangkat motornya yang sudah menghimpit kedua kakinya. Tangannya yang sudah terluka cukup parah tidak kuat untuk mengangkat motornya. Hafsah meringis kesakitan dan berusaha untuk terus bangkit tapi keadaannya yang lemas tidak mendukungnya.


" Udah, gue gak papa, " Mufti ia meminta agar teman-temannya tidak memeganginya.


" Lo gak papa, Muf? Mau ngapain? " tanya anggota Band 1.


" Udah kalian diam aja, tunggu disini, oke! " Mufti.


Akhirnya teman-teman Mufti mau menuruti perintah Mufti untuk diam dan menunggu mereka di sana. Tanpa basa-basi Mufti mengangkat motor Hafsah dari kaki Hafsah yang sudah tertindih. Hafsah hanya bisa melihat dengan wajah masih kesal mengingat perilaku Mufti kepadanya.


Hafsah mencoba berdiri tapi kakinya sudah terluka dan sulit untuk berdiri. Mufti yang tau akan hal itu langsung memberikan tangannya. Melihat tangan Mufti, Hafsah sempat terdiam matanya memandang ke arah Mufti yang wajahnya juga terluka seketika Hafsah memalingkan wajahnya ia masih sangat marah kepada tingkah Mufti.


Setelah terus mencoba, memang benar, Hafsah masih belum bisa bangun ia kembali menatap ke arah Mufti yang masih memberikan tangannya dengan wajah terpaksa, Hafsah mau menggenggam tangan Mufti untuk berdiri lalu ia melepasnya begitu saja mencoba menahan rasa sakitnya.


" Mufti, kamu jahat banget, ya? Aku cuma mau belain anak Syubban tapi kamu malah nabrak aku kaya gini. Kamu mau nyelakain aku, iya? " ucap Hafsah dengan penuh kemarahan tatapannya juga sangat tajam kepada Mufti.


Mufti menggelengkan kepalanya ia mencoba untuk bicara kepada Hafsah.


" Enggak, aku.. Ehem, gue gak sengaja nabrak, lo. " jawab Mufti berusaha bicara kepada Hafsah yang sudah terlanjur sangat marah dan tampak jelas pada raut wajah Hafsah yang enggan menatap Mufti.


" Aku udah gak ngerti lagi sama kamu, Muf! Apa sih, yang ada dipikiran kamu? Kamu egois, Muf! Kamu cuma mikirin diri kamu sendiri, kamu gak pernah berpikir tentang akibat dan penderitaan dari orang-orang yang udah kamu sakitin! " ucap Hafsah lirih matanya berkaca-kaca tapi ia masih mencoba tegas kepada Mufti.


Mufti terus menggelengkan kepalanya ingin menjelaskan kalau ia tidak sengaja menabrak keras Hafsah. Hafsah kembali menatap Mufti dalam.


" Sekarang terserah kamu, Muf. Yang penting aku udah ngasih tau kamu mana yang benar dan mana yang salah. Kamu harus bisa memikirkan tentang orang lain, gak cuma mikirin diri kamu sendiri! " ucap Hafsah menunjuk Mufti lalu ia mencoba berjalan walau kakinya sudah pincang.


Mufti masih ingin menjelaskan ia berjalan perlahan menghampiri Hafsah.

__ADS_1


" Hafsah, Hafsah! Gue minta maaf karena udah nabrak lo, tapi gue gak sengaja, " jelas Mufti terus mendekati Hafsah.


Tapi Hafsah sudah enggan untuk bicara walau ia terkadang masih menatap Mufti.


" Haf, lo masih luka-luka, biar gue obatin dulu, nanti kalau lo..." Mufti.


" Udah, aku masih bisa nyetir, gak usah sok peduli, " Hafsah ia mulai menyalakan motornya dan menjalankan motornya.


" Hafsah! Gue minta maaf, Haf! " teriak kembali Mufti kepada Hafsah yang terus berjalan.


Teman-teman Mufti merasa bingung dengan tingkah Mufti mereka saling pandang dan perlahan mulai mendekati Mufti.


Mufti memegangi dahinya dengan kepapa yang tertunduk ia bingung harus apa dia sekarang.


" Muf, lo baik-baik aja, Muf? " tanya anggota Band 1.


" Udah lah, Muf. Lo nabrak dia gak sengaja, kan? " anggota Band 2.


" Tapi kenapa lo bisa nabrak dia, Muf? Lo ngelamun? " tanya anggota Band 3.


Mufti mengusap wajahnya dan menoleh ke arah teman-temannya yang memasang wajah khawatir mereka.


" Gue gak papa, gue mau pulang ke rumah gue, " Mufti ia pergi begitu saja menuju motornya.


" Kerumah gue? " anggota Band 1 dengan perasaan bingung.


" Bukannya dia lagi marah ya, sama Kakak nya? " anggota Band 2.


" Udah lah, kita gak usah mikirin itu, ayo balik, " anggota Band 3.


Dengan perlahan Mufti bersama teman-temannya menyetir motor mereka pada jalanan malam hari yang sudah sepi hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang dan disisi lain air mata Hafsah jatuh ketika ia masih menyetir mencoba untuk menahan rasa sakitnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2