
Aban, Farist, Dimas dan yang lainnya sudah menyelesaikan makan mereka tetapi Azmi masih belum datang.
" Azmi mana sih?. " Farist memandang satu-persatu santri yang berlalu lalang.
" Lelet banget tuh anak, cuman ambil air aja sampai hampir 1 jam." Dimas.
" Apa aku susulin aja ya?." Aban yang mulai khawatir.
" Gak usah Ban, " ucap Azmi yang baru datang dan melangkah mendekati teman-temannya.
" Lama banget kamu Mi, dari mana aja?. " Aban.
" Maaf, aku tadi ada urusan bentar. " Azmi.
" Diharapkan untuk santriputra segera berkumpul di Masjid." suara yang sangat jelas dan keras membuat para santriputra segera menuju Masjid.
" Ayo, kita langsung kesana. " Farist.
" Iya mas, " Azmi.
Mereka juga segera melangkah menuju Masjid.Pihak pesantren tidak mau santriputri dan santriputra bertemu,mereka sudah mengatur semuanya dan santriputri sudah berkumpul lebih dulu di ruangan besar tempat untuk berlatih hadroh.
Para ustadz di persilahkan untuk duduk di bangku yang sudah disediakan di dekat panggung yang akan di pakai untuk para santri yang berhasil menang dari setiap perlombaan.
Masjid pesantren yang sangat megah membuat sekitar 200 santri muat untuk masuk bahkan mereka sangat leluasa.
Azmi dan yang lain duduk bersama di kursi berwarna merah yang sudah di sediakan.
" Semoga kita semua menang ya, " salah satu santri.
" Aamiin. " ucap semuanya.
Dimas yang duduk di paling pojok di antara mereka hanya bisa diam sembari memainkan jemarinya.
Santri dari pesantren Al-Hidayah yang tidak ikut lomba beramai-ramai masuk ke Masjid ingin mengetahui siapa saja yang menang tetapi itu malah membuat risih santri lainnya karena keramaian mereka.
" Rame banget, mereka kenapa ada disini?." Azmi yang memandangi para santri yang masuk dan duduk memenuhi Masjid.
" Gak bener nih, harusnya mereka gak menuhin tempat. " Farist.
Sebelum kegaduhan antar pesantren terjadi untung saja ada salah satu ustadz yang menyuruh para santri itu untuk pergi dan akhirnya mereka mau pergi tanpa bantahan.
Terlihat para ustadz yang memakai kalung nama, tanda mereka adalah juri atau panitia yang sedang membicarakan sesuatu dengan wajah serius.
" Aduh aku makin deg-degan nih, " salah satu santri yang berada di samping Azmi.
" Udah mas, santai aja, lombanya juga udah selesai. Cuman tinggal nunggu hasilnya dan yang terbaik itulah pemenangnya. " Azmi kepada santri itu sembari tersenyum.
" Iya mas, mending kita doa aja semoga pesantren kita yang terbaik. " tambah Aban.
" Iya, kalian benar. " ucap santri itu sembari memberikan senyumnya.
__ADS_1
" Alah... Sok pintar aja mereka. " ucap Dimas.
" Dimas, kamu gak boleh kayak gitu. " tegur Farist.
" Kenapa ?,aku bener kan, mereka cuman caper aja ngomong kayak gitu,ya kan, ngaku aja. " Dimas.
" Dimas, kamu kenapa sih?,dari tadi kayak gak suka gitu sama mereka." ucap salah satu santri.
" Iya, aku emang gak suka sama mereka,sok suci tau gak, " Dimas.
" Astagfirullah,...... " Farist yang tidak suka dengan perilaku Dimas dan ingin menegurnya tetapi Azmi berhasil menghentikan Farist dengan menggenggam tangan Farist.
" Udah mas, aku gak papa kok digituin, aku sama Aban bisa terima, itu udah hal biasa, ya kan Ban. " Azmi.
" Iya mas, kita gak papa kok. " Aban.
" Pengumuman pemenang akan segera dimulai harap para santri jangan ribut dan dengarkan baik-baik. " ucap seseorang yang sudah ada di atas panggung berbicara dengan mikrofonnya.
Serentak semua santri yang tadinya ribut menjadi sunyi.
Farist mulai tenang sembari menarik nafasnya memandang kembali Dimas yang sangat cuek.
Azmi kembali duduk dengan benar dan merapikan pecinya.
Terlihat seorang laki-laki tua yang naik dengan sangat hati-hati ke atas panggung. Mc memberikan mikrofon kepadanya dengan sangat sopan.
" Silahkan Kyai. " ucap Mc setelah memberikan mikrofonnya dan kembali turun.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. " jawab semua santri,para ustadz dan para dewan juri.
" Alhamdulillah, puji syukur kita ucapkan karena acara dapat berjalan dengan lancar. Saya juga mengucapkan terimakasih untuk 20 pesantren yang sudah mau ikut berpartisipasi dalam perlombaan ini. Saya lihat kemampuan kalian semua dalam semua perlombaan.Ada yang pandai baca Qur'an ada yang pandai berbahasa arab ada apa saja ...
" Puisi arab Kyai. " ucap salah seorang santri.
" Iya benar,ada yang pandai dalam menggambar kaligrafi juga, dan ada juga yang pandai dalam membawakan dakwah,Masya Allah .Saya sangat bangga kepada kalian semua para santri yang sudah menunjukkan kemampuan kalian, semangat terus untuk tholabul ilmi (mencari ilmu). Karena kalian adalah generasi muda yang harus membuat bangga negara.Baiklah langsung saja pengumuman para pemenang. " Kyai.
Mc segera naik ke panggung dan menerima mikrofon dari Kyai dengan kedua tangannya.Kyai di persilahkan untuk duduk terlebih dahulu.
Para santri sangat antusias menunggu pengumuman para pemenang.
" Baiklah semuanya,saya selaku pembawa acara akan membacakan nama-nama santri yang berhasil membawa pulang piala dari berbagai lomba. Langsung saja saya bacakan untuk lomba puisi bahasa Arab pemenangnya juara 3 adalah....
Semua sangat fokus mendengarkan pemenang juara 3 dan juara 2 di panggil untuk mengambil piala dan hadiah mereka.
Inilah yang paling ditunggu yaitu pemenang juara 1.
" Oke selanjutnya, pemenang juara 1 adalah......
Farist yang menjadi peserta sangat antusias menunggu ia harap namanya yang di panggil dengan kedua tangan yang ia satukan di hidung dan mulutnya.
" Kepada Ahmad Farist dari pesantren Nurul Qadim di persilahkan naik ke atas panggung. " Pembawa acara.
__ADS_1
Tepukan tangan menyambut Farist.
" Hebat mas, ayo maju." Azmi.
" Alhamdulillah, " Farist, ia melangkah maju menuju panggung.
Farist berhasil menerima piala dan hadiah.
" Masya Allah, boleh tepuk tangan lagi..." pembawa acara.
Semua memberikan Farist tepukan tangan yang sangat meriah. Ustadz Abdullah dan ustadz Ridwan sangat bangga kepada Farist
" Harap pemenang berdiri di sebelah kiri, " pembawa acara.
Para pemenang mundur dan bergeser ke kiri untuk memberi tempat kepada pemenang selanjutnya.
" Kalian jangan turun dulu ya, " pembawa acara kepada ketiga pemenang.
" Baik. " jawab ketiga pemenang.
Satu-persatu pemenang diumumkan dan naik ke atas panggung Aban berhasil meraih juara 1 dan Dimas juga di panggil namanya sebagai juara 2.
" Selamat mas, " Azmi kepada Dimas.
Dengan lagak sombongnya Dimas tidak membalas ucapan selamat dari Azmi dan pergi begitu saja menuju panggung.
" Sombong banget Dimas. " ucap salah satu santri teman Azmi.
" Udah Mi, kamu gak usah hirauin orang kayak dia. " tambah santri lainnya.
" Iya mas, " ucap Azmi sembari tersenyum kepada kedua santri yang tidak berhasil menang.
Dimas berdiri tepat di samping Aban yang membawa piala juara satunya.
Tepukan tangan semakin meriah untuk semua santri yang berhasil menang. Dimas juga sudah mendapatkan piala tapi ia sama sekali tidak menoleh ke arah Aban yang sedari tadi memandangnya.
" Selamat mas, " Aban.
" Gak usah sok baik, " ucap Dimas begitu pedas tapi Aban hanya tersenyum dan kembali memandang ke depan melihat Azmi yang memberikan kedua jempolnya.
" Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu yaitu pemenang lomba dakwah saya akan bacakan......." pembawa acara.
Azmi kembali fokus mendengarkan ia sangat berharap namanya yang akan di panggil.
" Azmi pasti menang. " ucap salah satu santri teman Azmi.
" Aamiin. " Azmi mengusap kedua wajahnya.
" Untuk santri yang berhasil meraih juara satu dalam lomba dakwah ia adalah....."
Kesunyian membuat suasana semakin tegang.
__ADS_1
Ustadz Abdullah berharap semoga nama Azmi yang akan di panggil.