Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 183 Baru Pulang Bentar


__ADS_3

Back to Azmi, setelah sekian lama kisah bucinnnya Mufti and Hafsah 🙂👍


...Selamat membaca...


...readersku yang setia 💖...


...Semoga selalu suka, ya....


...sama karya aku yang belum seberapa ini 😇🌹...


...•...


...•...


...•...


...****...


Matahari telah terbit dari ufuk timur menerangi wilayah kota Probolinggo. Saat itu Azmi sudah siap dengan kopernya dan pakaian yang keren. Azmi duduk di teras rumah sambil memainkan handphonenya.


" Mas Azmi, kemana aja dapat undangannya? " tanya Naufal yang melangkah sambil menghampirinya lalu duduk setelah menyelesaikan ucapannya.


" Sek-sek, Mas lihat dulu, " Azmi sambil megecek handphonenya jari telunjuk dan jempolnya sedang mengelus-ngelus dagunya.


Naufal mengangguk ekspersinya sangat fokus memandang Masnya.


" Pertama Aceh, Jakarta, Bali terakhir Semarang. Semarang iku jawa endi'e?" tanya Azmi mengarahkan pandangan pada Naufal.


" Jawa tengah kalau gak salah, iya, iya. Jawa tengah." Naufal.


Azmi mengangguk paham beberapa kali secara perlahan ia kembali menatap layar handphonenya.


" Enak banget, Mas Azmi. Udah ganteng, terkenal, dapat udangan kemana-mana. Ke Bali lagi, aku pengen jadi kaya, Mas." Naufal.


Ucapan Adiknya itu membuat Azmi seketika terdiam ia melukis senyum sembari memikirkan sesuatu untuk diungkapkan pada Adiknya.


" Mas yakin, kamu juga bisa menjadi seperti, Mas. Bahkan lebih dari, Mas. Mas ini gak seberapa kok, Mas cuma dapat suatu keberuntungan, rezeki dari Allah SWT. Dan harus Mas jalankan dengan rendah hati. Kamu pasti bisa jadi yang lebih dari Mas kamu ini, " Azmi dengan suaranya yang khas dan menyejukkan membuat hati Naufal senang dan bangga memiliki seorang Kakak yang selalu menguatkan dirinya.


" Aamiin, siap! Aku akan jadi yang terbaik buat Mas, " Naufal.


Azmi tertawa melihat semangat Naufal yang kembali bangkit.


Rara datang mendekati kedua Kakaknya yang terlihat sangat asyik berbincang. Dengan langkah kecilnya ia berhenti dan duduk di samping Azmi.


" Ummi, mana, Dek? " tanya Azmi kepada Adiknya yang baru saja duduk.


Dengan wajahnya yang lucu Rara menoleh ke arah Azmi.


" Masih ngobrol sama Abah, " jawab Rara.


" Dek, " panggil Naufal pada Rara wajahnya begitu serius menatap Rara.


" Hmmm, opo maneh toh, Mas? ( apa lagi sih, Mas)." Rara menoleh ke arah Naufal.


" Apa ya? Lupa, gak jadi." Naufal tertawa kecil membuat wajah Rara menunjukkan ekspresi kesalnya.


" Jangan gitu, Fal. Kamu suka sekali buat Rara kesel, " tegur Azmi.


" Mas juga'e, kok aku tok?" protes Naufal.


" Enggak, Dek, Rara. Siapa yang paling suka jahilin kamu? Mas Naufal, kan? " Azmi.

__ADS_1


" Mas Azmi, Ra. Aku selalu kasih dia ice cream, Mas pernah kasih dia apa? Hayo, gak ada, kan? " Naufal.


" Pernah...Pernah.. Sek, sek. Oh, ya. Aku pernah kasih Dek, Rara. Iku, apa namanya?" Azmi terlihat bingung.


" Opo? Gak pernah iku, " Naufal.


" Pernah, kasih Dek Rara. Jepit rambut, waktu masih kecil, segini." Azmi tangannya menunjukkan ukuran tinggi Rara saat itu dengan ukuran bawah lututnya.


" Emang Rara ingat? " tanya Naufal kepada Rara.


Rara berpikir sampai ia geleng-geleng kepala.


" Yo, gak bakal ingat, lah. Dia sek cilik'e." Azmi.


" Kalau gitu, Mas Azmi emang gak pernah kasih Rara apa-apa." Naufal.


" Benar, waktu itu aja. Kripik Rara, roti Rara terus minuman Rara dihabisin sama Mas Azmi, " Rara.


" Masa iya'e, " Azmi menggaruk depan kepalanya membuat pecinya semakin tidak karuan letaknya.


" Iya, Mas Azmi rakus, makannya banyak." ledek Rara dengan wajah lucunya membuat Naufal tertawa dan Azmi tersenyum kecil.


" Maafin, Mas. Tapi Mas melakukan semua itu agar Dek Rara gak sakit gigi makan keripik, terus gak batuk, jadi Mas habisin minumnya, " Azmi.


" Alasan iku, tadi aja Mas lupa," Naufal.


" Emang makan keripik bisa bikin batuk, ya Mas?" tanya Rara bingung membuat Naufal dan Azmi terdiam.


" Eee, bisa, bisa kalau makan keripik terus itu gak baik bagi kesehatan gigi karena mengandung bahan yang bisa merusak gigi," Azmi dengan nada bicara layaknya seorang Dokter juga gerakan tangannya yang sangat serius.


" Sok tau, mana ada? " ucap Naufal memojokkan Azmi sembari tertawa melihat wajah dan ekspresi Azmi.


" Nggih, Mas Azmi sok tau, mana gayanya ikut-ikut Pak Dokter, " sambung Rara ikut mentertawakan Azmi.


" Opo ae wes?" Azmi pasrah tak bisa mengatakan apa-apa lagi sambil tertawa kecil setelah memandang ke arah kedua Adiknya.


Abah dan Ummi datang menghampiri anak-anaknya, Azmi langsung menoleh dan berdiri untuk menghormati orangtuanya.


Melihat Masnya yang berdiri, Naufal dan juga Rara juga ikut berdiri bersebelahan dengan Azmi tepat dihadapan Abah dan Ummi.


" Azmi, sudah siap, Nak? " tanya Ummi meletakkan tangan kanannya pada pundak Azmi, Ummi juga mengelus pundak Azmi sambil memandang Azmi dengan tatapan dalam.


Azmi mengangguk tersenyum manis kepada Umminya.


" Nggih, Ummi. Insya Allah, siap." Azmi mengangguk dan kembali menatap Ilmunya.


" Ya, kudu siap. Anak Abah, kok." Abah.


" Mas Azmi berangkat sekarang, Mmi? " tanya Naufal.


" Iya, sekarang. Kalian mau ikut? " tanya Ummi.


" Nganter Mas Azmi ke Bandara, kan? " sambung Rara.


" Iya, Dek. Masa ke rumah pak RT, " jawab Azmi mencairkan ketegangan Adik-Adiknya.


" Yo wes, aku melu( ikut)." Naufal.


" Yah, Mas Azmi baru aja sebentar di rumah, tapi udah mau pergi lagi." Rara wajahnya tampak sedih dengan kepala yang menunduk membuat semuanya ikut sedih.


Azmi mendekati Adiknya menjatuhkan satu lututnya ke lantai dan satu lutut lainnya ia jongkok untuk bisa menatap Adiknya yang sedang sedih.

__ADS_1


" Wes, Dek Rara masih bisa video call-an sama, Mas'e. Paling Mas juga perginya gak lama." ucap Azmi ia mengusap halus wajah Rara.


" Rara jangan sedih, Mas Azmikan mau menggemakan sholawat, Rara juga suka, kan? Kalau Mas'e sholawat." sambung Ummi.


Rara memgangguk pelan dengan kepala yang masih tertunduk seakan ia belum rela Masnya itu pergi keluar kota meninggalkan dirinya yang baru saja melepas rindu saat awal kedatangan Masnya.


Azmi tersenyum sebelum ia kembali berdiri Azmi mencubit pelan pipi Adiknya yang tembem.


" Ayo, berangkat. Biar nanti Tim Syubban gak nunggu lama, " Abah.


" Arek-arek, nunggu aku di Bandara, nggih, Abah?" tanya Azmi kepada Abah.


" Iya, mereka semua kumpul di Bandara nunggu kamu, baru terus kamu berangkat bareng sama mereka, " jawab Abah.


Azmi mengerti dan mengangguk sedikit dan pelan.


Baru saja satu langkah kaki, suara Aisyah dan Fitri datang membuat pandangan Azmi mengarah pada mereka berdua.


" Assalamualaikum, Ummi." Aisyah dan Fitri.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya termasuk Azmi yang seketika menundukkan kepalanya.


" Ummi mau kemana? Kok udah pada rapi gini? " tanya Aisyah dengan senyuman kecil setelah ia menyelesaikan ucapannya.


" Ini Ummi mau nganter Azmi, Alhamdulillah, Syubband dapat undangan. Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu, tapi Kyai baru mengizinkan mereka berangkat sekarang, " terang Ummi.


Seketika pandangan Aisyah menuju kepada Azmi dan Azmi juga mengangkat kepalanya menatap Aisyah.


" Kalian, ada apa kemari? " tanya Ummi.


Fitri menyenggol pelan tubuh Aisyah yang sadari tadi melamun walau pandangannya sudah berpaling dari Azmi.


" Oh, iya. Ini Ibu suruh Aisyah, kasih ini. Sedikit uang, Ummi. Ibu bilang sebagai tanda terima kasih karena Ummi sering bantu keuangan Ibu, Ibu gak mau punya hutang. Ini juga ada camilan buat nanti buka puasa," Aisyah kedua tangannya membawa beberapa bungkusan camilan dan seamplop uang.


Sebelum menerima itu, Ummi memandang Abah. Abah hanya memberikan anggukan pelan.


" Aisyah, Ummi ikhlas nolongin Ummi kamu, kita sudah sahabat dari dulu. Jadi uang itu ikhlas Ummi kasih. " Ummi.


Aisyah menghela pelan nafasnya sembari menunduk melihat bawaannya sebelum ia kembali bicara. Naufal, Rara termasuk Azmi juga memandang wajah Aisyah yang tengah bingung dan memikirkan sesuatu.


" Tapi, Ummi. Ini amanah dari Ibu Aisyah. Aisyah mohon sekali, terima ya, Ummi." Aisyah.


" Sudah terima saja, " Abah.


Setelah beberapa detik akhirnya Ummi mau menerima pemberian Aisyah hal itu membuat Aisyah langsung tersenyum.


" Baik, Ummi terima, salam buat Ummi kamu. Terima kasih, ya, Nak." Ummi.


" Iya Ummi, sama-sama, " Aisyah.


" Aisyah, Fitri, kalau gitu kita langsung mau pergi ya. Waktunya sudah mepet." Abah.


" Oh, iya Abah, " Aisyah.


" Kita pergi dulu, assalamualaikum," Ummi dan semuanya yang mengucap salam.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Aisyah dan Fitri.


Azmi melangkah tepat dihadapan Aisyah yang sempat menatapnya dan kembali menundukkan kepalanya begitu juga Azmi yang kembali mengarahkan pandangan ke depan.


Aisyah dan Fitri hanya bisa menatap keberangkatan Azmi bersama keluarga yang mengantarnya dengan mobil mewahnya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2