Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 230 Ke Rumah Mufti


__ADS_3

Aisyah dan Fitri duduk bersama di kamar Aisyah tepatnya pada kasur Aisyah. Fitri melihat wajah Aisyah yang gelisah dan seakan seperti memikirkan sesuatu yang mengundang rasa penasaran Fitri.


" Syah! Kamu kenapa malah melamun aja, sih dari tadi? Kamu mikirin apa? " tanya Fitri.


Aisyah yang kaget karena dipanggil Fitri dengan sentakan seketika menoleh dan tapi masih terdiam memandang dalam Fitri sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.


" Aku gak tau, Fit. Hati aku kenapa gelisah banget, ya?" jawab Aisyah.


" Hmmmm... Kayanya kamu kepikiran sama Azmi deh, karena kamu belum minta maaf sama dia. Syah, kita sebentar lagi udah kembali ke pesantren habis itu kamu gak ada kesempatan lagi buat ketemu sama Azmi." Fitri.


" Fitri, tapi, masa aku gelisah karena Azmi, sih? Enggak. Ucapan aku waktu itu gak salah, dan aku sama sekali gak salah sama Azmi." Aisyah.


Fitri menghela nafasnya lalu meletakkan tangannya tepat di atas tangan Aisyah yang terpangku pada lututnya. Hal itu membuat Aisyah menoleh kepada Fitri.


" Syah, sampai kapan kamu egois kaya gini. Ingat, Syah. Nabi Muhammad pernah mengajarkan umatnya untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan orang tersayang yang harus pergi dan kembali kepada Allah. Dan Allah juga pernah berfirman Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali hanya sekelompok kecil saja di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." – (Q.S Al-Maidah: 13). Allah juga sangat memuliakan orang-orang yang berani mengakui kesalahannha dengan meminta maaf." jelas Fitri.


Aisyah yang mendengarkan dengan sangat serius mulai berpikir dengan jernih tak lama ini ia juga mimpi tentang Kak Akmal yang bahagia jika Aisyah bahagia dan bisa merubah sikapnya yang egois.


Aisyah teringat itu ia kembali mengingat ucapannya jahatnya kepada Azmi dan saat itu juga Azmi menampakkan wajah badmoodnya di berbagai acara, senyuman juga sudah jarang tampak kepada jama'ah dan mungkin itu karena ucapannya, pikir Aisyah.


" Syah, kamu harus bisa minta maaf duluan sama Azmi. Waktu itu Azmi sudah sampain minta maafnya sama aku berulang kali setiap dia ketemu sama aku, aku yakin dia juga gak tenang lihat kamu kaya gini dan kamu malah kelihatan berat banget buat maafin dia." Fitri.


Tanpa sadar, air mata Aisyah jatuh dan dengan segera ia menghapus air mata yang telah membasahi pipinya dan kembali memadang Fitri dengan tatapan mata yang begitu dalam.


" Ucapan kamu itu benar, Fit. Akhir-akhir ini aku juga sadar kalau aku salah, tapi, aku malu, Fit. Kalau aku yang harus minta maaf sama Azmi." ucap Aisyah dengan suara lirih kali ini dia yang menggenggam tangan Fitri dengan sangat erat.


" Ya Allah, Aisyah. Kamu gak usah malu, kamu cuma mau minta maaf. Gak ngapa-ngapain terus nanti aku yang akan temani kamu. Ingat, minta maaf juga salah satu jalan untuk menghapus doa. Lagian Azmi duluan kok, yang minta maaf dan apa salahnya kalau seorang wanita yang minta maaf duluan?" Fitri.


Aisyah mengangguk mengerti.


" Kalau gitu besok kita berangkat ke pesantren. Biar nanti aku ngomong sama Abah, pasti dikasih, sih. Terus nanti kamu ikut aku, kamu tenang aja, oke." Fitri.


" Makasih Fitri, kamu selalu bisa buat aku sadar dengan kesalahan aku dan sahabat seperti inilah yang harus diperjuangkan untuk akhirat kita nanti." Aisyah.

__ADS_1


" Aaaa, sama-sama sayang. Sini peyuk, " Fitri.


Aisyah tersenyum manis dan mulai memeluk erat sahabatnya.


***


Pada pagi ini Hafsah sudah bergegas entah ia mau kemana sampai-sampai tidak sempat menghabiskan sarapannya.


" Dek, mau kemana kamu? " tanya Hamdi.


" Penting, Kak. Aku buru-buru, assalamualaikum," Hafsah ia sudah berjalan dengan cepat sampai ke luar rumahnya bahkan Hafsah tidak menerima tawaran dari sopirnya untuk mengantarkannya ia memilih untuk naik motor kesayangannya saja.


Ternyata Hafsah menghampiri rumah Mufti dengan tujuan membicarakan tentang buku Mufti yang telah ia baca.


Sesampainya disana, Hafsah langsung memencet bel rumah Mufti hingga Ustadz Mustafa yang membukakan pintunya.


" Hafsah, ada apa? " Ustadz Mustafa.


" Assalamualaikum, Kak. Maaf kalau aku ganggu pagi-pagi gini." Hafsah.


Hafsah tersenyum dan mengangguk ia mulai masuk ke rumah Mufti dan Ustadz Mustafa.


" Silakan duduk, biar saya minta tolong Bibi buatkan kamu minum." Ustadz Mustafa.


" Iya, Kak. Terima kasih, " Hafsah.


" Sama-sama, " jawab Ustadz Mustafa.


Tidak lama kemudian, Mufti keluar kamar dengan penampilannya yang masih berantakan karena sedari tadi ia mencoba untuk tidur karena ia terlihat sangat mengantuk.


Hafsah menoleh dan melihat Mufti yang baru saja keluar dari kamarnya dan juga tengah menatap dirinya.


Hafsah memberikan senyuman manisnya kepada Mufti yang tentu saja membuat Mufti hetan dan bingung ia mendekati Hafsah mengusap-ngusap matanya, menyipitkan matanya dan mendekati wajahnya untuk memastkan bahwa itu Hafsah.

__ADS_1


" Muf, kamu kenapa, sih? " ucap Hafsah yang gugup karena Mufti mendekati wajahnya untuk melihat wajah Hafsah.


" Astagfirullahal'adzim, maaf. Aku kira ini beneran orang," Hafsah.


Hafsah melihat kantung mata Mufti yang hitam dan matanya juga merah, wajah Mufti sangat tampak kalau dia begitu lelah.


" Mufti mata kamu kaya panda, hitam banget. Kamu begadang? " tanya Hafsah.


Mendengar ucapan Hafsah, Mufti langsung memegang kedua kantung matanya secara bergantian.


" Masa, sih? " Mufti.


" Mufti, udah bisa tidur kamu? " tanya Ustadz Mustafa sembari meletakkan dua gelas minuman dan camilan yang diletakkan pada nampan, dengan posisi yang masih berdiri Ustadz Mustafa memandang ke arah Mufti.


" Gak bisa, Kak. Aku udah coba tidur daritadi, tetap aja aku gak bisa tidur." jawab Mufti.


" Emang barang apa sih, yang hilang? Sampai kamu gelisah seperti ini, sampai gak bisa tidur lagi." tanya Ustadz Mustafa yang mulai kemarin masih bertanya tentang barang apa yang sebenarnya sangat penting bagi Mufti.


" Eeee... Oh, iya, Haf. Lo tau buku gue, gak? Siapa tau jatuh ditempat waktu itu dan lo yang bawa? " tanya Mufti ia sengaja mengalihkan pertanyaan Kakaknya dan langsung memberikan pertanyaan kepada Hafsah yang menurutnya membawa buku.


Hafsah langsung terdiam ia juga terlihat gugup dan tidak berani untuk langsung menjawab.


" Kalau aku jujur, gagal deh, rencana aku buat kasih tau ke Kak Mustafa. Mending aku diam dulu sampai semua rencana aku selesai." pikir Hafsah dalam bati kecilnya.


" Heh! Malah bengong, tau buku gue, gak? " Mufti.


" Hah? Oh, iya. Buku kamu? Enggak tuh, kemarin aku gak lihat barang kamu yang jatuh ataupun buku kamu." jawab Hafsah ia langsung memalingkan wajahnya setelah selesai bicara.


" Kalau gak ada di lo, terus ada dimana, ya? Apa jatuh dirumah Doni? " ucap Mufti.


" Udah, kamu mandi dulu biar seger. Baru cari lagi buku kamu, " ucap Ustadz Mustafa.


" Iya, Kak. " jawab Mufti sambil mengangguk ia sebelum ia lanjut melangkah Mufti menatap tajam Hafsah yang juga memandang ke arahnya.

__ADS_1


Kini Hafsah hendak bicara semuanya tapi ia tidak ingin Mufti sampai tau dulu ia hanya ingin bicara kepada Ustadz Mustafa.


Bersambung....


__ADS_2