Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 233 Tujuan Baik Hafsah


__ADS_3

Pagi yang cerah ini, Hafsah masih dalam rencananya. Kemarin ia sudah berusaha sampai petang, bicara membantu keberangkatan orang tua Mufti dan itupun tanpa sepengetahuan Mufti.


Dibantu Ustadz Mustafa, akhirnya setelah bicara dengan perlahan, kedua orangtua Mufti dan juga Ustadz Mustafa akhirnya mau menerima permintaan Hafsah.


Tinggal teman-teman Mufti yang sudah 3 hari sekarang, belum bicara dan masih bermusuhan dengan Mufti. Hafsah terus mencari dimana keberadaan Doni dan tempat terakhir yang ia kunjungi adalah tempat biasa Mufti dan teman-temannya nongkrong dan untungnya Hafsah tau tempat itu setelah diberitahu Ustadz Mustafa.


Dengan langkah kakinya yang terus melangkah masuk ketempat tongkrongan biasa Mufti dengan teman-temannya yaitu disebuah tempat yang tidak jauh dari rumah Doni dan suatu markas yang sejak dahulu menjadi tempat Mufti dan teman-temannya menumpahkan suka duka mereka.


" Doni!" ucap Hafsah menghentikan langkah kakinya saat melihat Doni yang tengah tertawa dengan semua teman-temannya.


Dengan wajah kaget dan sedikit bingung, Doni menoleh dan melihat Hafsah dengan wajah yang terlihat begitu kesal.


Semua pandangan seketika menuju kepada Hafsah, mereka terlihat kaget dan bingung karena Hafsah datang tiba-tiba dan langsung memanggil Doni dengan nada keras dan sedikit sentakan.


Doni perlahan bangun, ia melangkah dan mendekati Hafsah. Semuanya mulai hening mereka bertanya-tanya satu sama lain apa yang sebenarnya akan dilakukan Hafsah.


Hafsah agak ketakutan karena tatapan Doni yang begitu tajam dan sangat dekat berdiri dihadapannya. Hafsah juga melihat semua teman Doni yang tengah memandangnya. Tapi, Hafsah berusaha kuat dan tidak ingin terlihat takut, ia tetap tegar walau sempat melangkah mundur menjauhi sedikit Doni yang berdiri teralalu dekat.


" Assalamualaikum, " Hafsah.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya termasuk Doni yang sekilas menoleh kebelakang mengawasi teman-temannya.


" Mau apa lo kesini? " tanya Doni dengan mata yang begitu tajam terus mengawasi Hafsah.


Bukannya langsung menjawab, Hafsah menelan ludahnya terlebih dahulu ia memandang Doni yang masih menunggu jawabannya barulah ia mengambil buku milik Mufti yang masih ada dalam genggamannya.


" Ini, " ucap singkat Hafsah sambil menyodongkan buku itu kepada Doni.


Doni yang tidak mengerti hanya menatap buku tebal yang disodongkan Hafsah, matanya seakan tengah mengingat dimana? Ia seperti pernah melihat buku itu. Setelah beberapa detik, Doni kembali memandang Hafsah.


" Apaan, nih? " tanya Doni.


" Udah ya, aku mau kamu baca isi buku ini aja, gak usah sampai habis kamu udah bisa nemuin yang aku maksud dalam 5 lembar pertama. Kalau perlu ajak teman-teman kamu juga biar kalian semua paham." Hafsah.


Ucapannya itu semakin membuat Doni bingung, begitu juga dengan teman-teman yang lainnya. Mereka hanya bisa terus saling toleh dengan ekspresi yang penasaran dicampur bingung.


" Gue gak ngerti sama apa yang lo omongin sama gue! Gak usah bertele-tele kaya gini deh, langsung aja to the poin jelasin apa tujuan lo datang kesini!" tegas Doni.

__ADS_1


" Doni, aku cuma pengen kamu baca ini. Bisa, kan? " tegas balik Hafsah.


Tatapan Doni semakin tajam layaknya seekor elang yang hendak menerkam mangsanya, pandangannya juga kembali pada buku tebal yang seperti tidak asing bagi dirinya.


Dengan wajah serius dan tegang tangan Hafsah masih bertahan menyodongkan buku tebal milik Mufti kepada Doni.


Dan, akhirnya dengan wajah malas, Doni mau mengambil buku itu.


Sebelum membaca buku itu, Doni masih saja sempat melirik Hafsah dengan tatapannya yang begitu tajam.


Hafsah mencoba untuk tenang sambil melukis senyumnya kepada Doni karena akhirnya Doni mau mengambil buku itu dan mulai membukanya.


Doni mulai terlihat fokus membaca sampai ia berhenti dan terlihat begitu tegang saat pada halaman yang dimaksud Hafsah.


Tulis tangan Mufti yang masih bisa dibaca Doni walau agak tidak jelas.


Tulisan yang penuh dengan kata-kata tentang sahabat, dimana disitu juga tertempel foto Mufti, Doni dan teman-teman lainnya.


Semuanya Mufti tulis dengan hati kecilnya yang sangat dalam.


Doni tidak menyangka semua ini, kalau dirinyalah sahabat paling spesial bagi Mufti.


Selama ini, Mufti kesepian karena orangtuanya pergi jauh untuk bekerja, dan hanya Donilah tempatnya mengadu suka dan duka. Ustadz Mustafa juga terlihat sangat keras kepada Mufti apalagi saat tau waktu Mufti kabur dari pesantren.


Kasih sayang sangat kurang pada Mufti, ia juga mengingat pertengkaran hebatnya dulu pada Mufti tapi mereka kembali baikan karena teman-teman yang lain yang selalu mendukung mereka menjadi best friend.


Ingatan itu membuat Doni terdiam kaku dan habis kata-kata, dengan semua tulisan yang ia baca sambil mengingat kenangan masa lalunya dengan sahabatnya, Mufti.


Melihat sikap Doni yang tiba-tiba berubah menjadi sunyi dan sedih. Kedua teman Doni merasa bingung, mereka sempat saling pandang hingga akhirnya mereka mulai melangkah mendekati Doni dan salah satu dari mereka memegang pundak Doni.


" Don, lo kenapa? " tanya teman Doni.


Doni segera menghapus air matanya dan menoleh ke arah kedua temannya ia juga membalikkan badannya dengan masih memegang erat buku milik Mufti itu.


Tanpa kata-kata, Doni memberikan buku itu kepada salah satu temannya dan dengan kode matanya ia meminta mereka membaca buku itu.


Kedua teman Doni itu mengerti, mereka mengangguk dan perlahan menoleh ke arah buku yang sudah dibaca Doni.

__ADS_1


Mereka hening...


Masih hening...


Hafsah memandang Doni dan juga teman yang lain secara bergantian lalu ia menundukkan kepalanya.


Sampai Doni kembali melangkahkan kaki mendekati Hafsah.


Kedua teman Doni juga kaget saat melihat isi buku Mufti, mereka tidak menyangka dibalik sikap Mufti yang keras bahkan ia tidak pernah mengadu kesedihannya didepan temannya.


Kalau ada masalah, biasanya Mufti hanya diam dan tidak bicara itulah yang diingat oleh kedua teman Doni dan Mufti.


Doni sempat terdiam, ia menghela nafasnya keras, memalingkan wajah sebentar, melihat kearah dinding dan perlahan kembali menoleh ke arah Hafsah yang juga memadangnya dengan begitu serius dan tegang.


" Ini punya Mufti? Kenapa bisa ada di lo? " tanya Doni dan kali ini nadanya sudah tidak keras, suaranya lirih karena baru saja air matanya menetes.


Hafsah yang gugup berusaha tenang menatap mata Doni sambil mengangguk.


" I... I.. Itu punya Mufti, tapi! Buku itu jatuh dari tas Mufti, Mufti sama sekali gak tau kalau buku itu ada di aku. Dia lagi nyari buku ini sekarang, tapi aku mau kalian baca dan tau apa isi buku ini apa." ujar Hafsah dengan begitu cepat, walau nada suaranya sangat jelas terdengar bahwa ia sedang gugup karena Doni yang terus menatap dirinya tajam.


Melihat sikap Hafsah yang seperti ini membuat Doni tersenyum lalu tertawa kecil.


" Lo gak usah gugup kaya gitu, gue tau maksud lo. Tujuan lo yang baik, " Doni.


Hafsah mengangguk begitu juga dengan kedua teman Doni yang mengangguk dan sempat menundukkan kepala mereka untuk menyadari semua kesalahan mereka.


" Tapi, gue gak tau harus gimana, Hafsah? Mufti udah marah besar, dan itu semua karena gue. Gak tau kenapa gue gak suka lihat Mufti dekat sama tim Syubban itu. Tapi, sekarang dan perlahan gue harus bisa terima mereka sebagai sahabat karena bagaimanapun mereka orang baik. Gue tau itu, " Doni.


" Doni, Mufti sayang banget sama kamu dan teman-teman yang lain. Dia cuma mau kamu ngertiin dia yang mau jadi orang lebih baik dan dia juga mau kalian begitu, " Hafsah.


Doni mengangguk.


" Tapi Hafsah, gue gak tau harus gimana? Nomer gue diblokir sama dia, apa lo bisa bantuin gue sama teman-teman gue. Karena gue tau banget kalau Mufti marah, dan kalau dia merasa benar dia maunya kita yang minta maaf. Teman-teman gue yang juga teman-temannya dia aja gak ada satupun yang dibalas chatnya, " jelas Doni.


" Hmmmm.." Hafsah.


Ia mencoba berpikir bagaimana caranya agar Doni dan juga teman-teman yang lain bisa minta maaf dan bertemu dengan Mufti langsung.

__ADS_1


Hafsah memandang Doni dan kedua teman lainnya yang tengah menunggu jawabannya sambil tersenyum karena sudah menemukan rencana bagusnya.


Bersambung...


__ADS_2