Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 177. Kesedihan


__ADS_3

Di depan rumah Mufti yang besar dan cukup mewah, terlihat Mufti yang sedang duduk melamun tepatnya di tangga masuk rumahnya. Mufti menatap langit dan kembali melihat keadaan rumahnya yang sangat sepi mengingat ia hanya tinggal berdua bersama Kakaknya dan ada salah satu pembantu yang dipekerjakan Ustadz Mustafa karena ia tidak bisa mengurus rumah bersarnya sendirian apalagi ia cukup sibuk.


Dengan pakaian rapi dengan peci, Ustadz Mustafa sangat fokus berbincang lewat handohonenya. Terdengar ia juga menyebut-nyebut nama Syubban dengan perasaan yang penuh bahagia sampai ia selesai dan menutup pembicaraannya.


Mata Ustadz Mustafa terlihat mencari Adiknya dengan mata yang mengarah keseluruh bagian rumah hingga ia melihat pembantunya yang sedang bersih-bersih.


" Bik, bibi lihat, Mufti? " tanya Ustadz Mustafa.


" Bibik kurang tau juga, Den. Dari habis sahur tadi bibi gak lihat Den Mufti," pembantu.


" Kemana, ya dia. " geming Ustadz Mustafa memalingkan wajahnya.


" Ya udah bi, terima kasih. Saya cari dia dulu," Ustadz Mustafa kepada bibi.


" Iya, Den." pembantu.


Ustadz Mustafa melangkah keluar rumah matanya terus mencari dimana Adiknya berada hingga ia melihat Mufti melamun dan menghela nafasnya di pojokan rumah.


" Disini ternyata, kamu ngapain bengong disini? Kaya banyak pikiran, lagi mikirin apa, sih? " tanya Ustadz Mustafa.


" Tumben Kakak perhatian, gak berangkat kerja? " tanya Mufti balik sekilas ia menatap ke arah Kakaknya dengan tatapan sinis dan kembali memalingkan wajahnya.


Mendengar ucapan Mufti membuat Ustadz Mustafa sempat terdiam dan mencoba mendekati Adiknya itu.


" Iya, Kakak minta maaf kalau di mata kamu Kakak ini kurang perhatian, " Ustadz Mustafa.


" Ya emang, bukan kurang tapi gak perhatian," jawab Mufti.


Lagi-lagi ucapan Mufti membuat Ustadz Mustafa terdiam dan tersenyum kecil.


" Ya udah, kalau gitu kamu cerita, kenapa kamu kaya gini? Kakak siap dengerin semua masalah kamu, " Ustadz Mustafa.


" Gak usah, masalah pribadi Mufti biar aku yang selesain, aku udah gede Kak, " Mufti.


Tawa kecil tampil diwajah Ustadz Mustafa setelah mendengar jawaban dingin dari Adiknya. Mufti masih tetap cuek hanya sekilas melirik ke arah Kakaknya yang terus tertawa dan kembali mengarahkan pandangannya kedepan dengan wajah malasnya.


" Iya, Kakak tau. Tapi Kakak bisa ngasih kamu.. " Ustadz Mustafa.

__ADS_1


Tiba-tiba ucapannya terhenti ketika deringan handphonenya terdengar. Ustadz Mustafa terpaksa harus menghentikan pembicaraannya kepada Adiknya untuk menerima telepon.


" Assalamualaikum anak Ibu, "


Begitu terkejut dan senangnya Ustadz Mustafa melihat wajah Ibu dan Ayahnya yang hadir walau lewat hape.


" Wa'alaikumsalam, Ibu, Ayah. Gimana kabarnya? kapan mau pulang kesini?" tanya antusias Ustadz Mustafa.


" Alhamdulillah Ibu sama Ayah baik, " Ibu.


" Tapi, kami minta maaf, Nak. untuk tahun ini Ibu sama Ayah belum bisa pulang, kalau tahun depan Insya Allah. Pekerjaan kami disini belum selesai, kamu sabar, ya." sambung Ayah.


Seketika wajah bahagia Ustadz menjadi sedih apalagi dengan Mufti yang sedari awal sudah malas.


" Kamu jaga kesehatan, ya, Nak. Jaga juga Adik kamu. Ibu sama Ayah kerja buat kalian," Ibu.


" Iya, lihat sekarang rumah kita jadi bagus, kan? Jadi mewah, itu semua karena kerja keras dari Ibu sama Ayah," sambung Ayah.


" Iya, Ayah. Alhamdulillah kemarin om sama tante juga sempat bantu renovasi rumah kita, " jawab Ustadz Mustafa.


" Oh iya, Mufti mana? Ibu kangen banget sama dia, " ibu.


" Ini ada kok, Muf. " Ustadz Mustafa mendekatkan handphonenya kepada Mufti sampai Ibu dan Ayah melihat wajah Mufti.


Tanpa sepatah kata apapun juga sedikitpun, Mufti sama sekali enggan untuk menoleh ke arah Ibunya ia bangun dan melangkah pergi begitu saja masuk ke dalam rumahnya.


" Muf, Mufti! " teriak Ustadz Mustafa mencoba agar Adiknya mau bicara dengan Ayah dan Ibunya.


" Sudah, Nak. Kalau Mufti gak mau bicara, kami tutup saja ya, kalian jaga kesehatan. Assalamualaikum, " Ibu dan Ayah cukup mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Mufti mereka terpaksa menutup telepon agar tidak menunjukkan kesedihan mereka.


" Tapi... " Ustadz Mustafa baru saja ingin bicara tapi orangtuanya lebih dahulu mematikan teleponnya.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " Ustadz Mustafa.


Ustadz Mustafa menarik berat nafasnya dan mengeluarkannya keras ia sungguh merasa kecewa dengan tingkah Adiknya dengan kepala yang menunduk sambil memutar-mutar handphonenya.


Ayah Ustadz Mustafa dan Mufti tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa merangkul istrinya mencoba menguatkannya.

__ADS_1


Dengan langkah kaki cepat Ustadz Mustafa meneriaki nama Mufti dengan perasaan kesal.


" Mufti! " teriak Ustadz Mustafa.


Mufti mulai terlihat sudah rapi ingin keluar dengan jaket merahnya dan tangannya yang memegang kontak motor. Melihat itu, Ustadz Mustafa segera melangkah mendekati Mufti menarik tangannya agar langkah Mufti terhenti.


" Apaan sih, Kak? " jawab Mufti melepas genggaman keras Kakaknya dengan tatapan yang menoleh ke lain tempat.


" Kamu kenapa bertingkah kaya gitu, Ibu sama Ayah tadi cuma mau bicara sama kamu. Harusnya kamu senang kasih mereka senyuman biar mereka tenang dan bahagia," Ustadz Mustafa.


" Mereka udah bahagia, Kak. Hampir 6 Tahun mereka kerja di Singapura gak pernah pulang sekalipun, dari aku SMP mereka udah ninggalin kita cuma demi uang, Kak!" Mufti mulai menatap tajam Ustadz Mustafa bicara dengan keras dan lantang kepada Kakaknya.


Sementara Bibi yang melihat itu merasa takut dan berusaha memisahkan pertengkaran mereka.


" Sudah, Den. Jangan bertengkar kaya gini, apalagi kalian lagi puasa, " Bibi.


" Bibi lanjut bersih-bersih aja, bibi kerja disini buat kerja bukan buat ceramah!" sentak Mufti menatap tajam pembantunya.


" Mufti, jaga omongan kamu!" Ustadz Mustafa semakin kesal dengan tingkah Mufti.


Bibi yang disentak oleh Mufti tak berani lagi bicara dan melanjutkan pekerjaannya.


" Kenapa? Kakak mau belain pembantu itu?" Mufti.


" Mufti, Kakak sama sekali gak pernah ngajarin kamu kaya gini. Dan ingat, Ayah sama Ibu itu susah payah kerja demi kamu, Muf! Mereka mau kamu jadi anak yang sukses biar kamu hidup bahagia. Kamu gak ingat betapa susahnya kita dulu, lagian ada om sama tante yang udah mau ngerawat kita, kamu harusnya bersukur." Ustadz Mustafa.


" Iya, mereka mau ngerawat kita karena mereka dulu gak punya anak, Kakak gak ingat setelah 3 tahun ngerawat kita dengan gak ikhlas mereka punya anak dan apa? Mereka ninggalin kita, " Mufti ucapan-ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Mufti.


Sudah sangat kesal mendengar semua ucapan buruk Adiknya itu, akhirnya Ustadz Mustafa tak bisa menahan amarahnya hingga satu tamparan keras menuju wajah kiri Mufti membuat ia tertunduk dan memegang pipi kirinya.


Perlahan Mufti mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Kakaknya masih dengan tangan kiri yang memegang wajah bagian kirinya.


" Terus aja tampar, Kakak sering keras kaya gini sama gue. Seenaknya lo nampar gue, dan ini gak cuma sekali, tampilannya aja religius kaya gini tapi main kasar terus sama Adiknya sendiri. Mentang-mentang lo Kakak gue, tapi lo gak ada hak sedikitpun untuk ngatur hidup gue! " Mufti mendekati Kakaknya tatapannya juga sangat tajam ia bicara dengan keras dan menunjuk-nunjuk Kakaknya itu.


Mulut Ustadz Mustafa seakan terkunci untuk bicara ia hanya menggeleng dan mencoba menjelaskan kepada Adiknya. Dengan pandangan sinis, Mufti pergi dengan langkah kaki cepat.


" Mufti, maafin Kakak, Muf! Mufti! " panggil Ustadz Mustafa terus mengejar Adiknya tapi Mufti sudah merasa sangat kesal ia pergi melajukan motornya hingga Ustadz Mustafa tak dapat mengejarnya.

__ADS_1


Hanya penyesalan yang ada dalam diri Ustadz Mustafa setelah menampar Adiknya, tangan kanannya menyentuh dahi sambil geleng-geleng kepala.


Bersambung...


__ADS_2