
Ini adalah hari terakhir para santri berkemah saat ini santri putra sedang bersantai ada yang makan, ada yang masih memasak makanan, ada yang berbincang-bincang dan ada juga yang mencoba menghafal. Bermacam-macam kegiatan yang dilakukan oleh santri putra yang sungguh ramai dengan suara-suara mereka yang terngiung di telinga.
Beda halnya dengan Azmi yang asyik melantunkan sholawatnya bersama Aban dengan buku sholawat yang mereka pegang karena belum terlalu hafal. Suara lantang Azmi membuat Zakir semakin kesal dengan tatapan sinis ia mengawasi Azmi dan Aban yang tengah asyik mengembangkan suara mereka.
" Nih Ban, Ya Hanana, itu sholawat yang paling aku suka, " ucap Azmi menunjukkan halaman sholawat yang ingin ia baca.
" Mi, itu udah sering banget lo, mending yang ini, menyayat hati banget, nih. " tolak Aban memberikan pendapatnya sendiri.
" Yo wes, yang waras ngalah, " Azmi mengalah tapi juga meledek Aban.
" Ooo, iki, berarti aku gak waras ngono, " Aban dengan wajah kesal.
" Bukan aku lo, yang bilang, " Azmi ia masih saja nyengir walau Aban terlihat kesal padanya.
" Mulai aja Mi, Ban, debat mulu dari tadi, " ucap Rifki yang tidak suka melihat Aban dan Azmi terus berdebat soal sholawat.
" Iki lo, Aban seng mulai, " Azmi menunjuk Aban sebagai penyebab mereka berdebat.
" Iyo, kabeh aku seng salah, ra tau bender aku ( iya, semua aku yang salah, gak pernah benar aku)." jawab Aban kepada Azmi dengan ekspresi pasrah dan kepala yang ia tundukkan setelah menatap Azmi dan Rifki bergantian.
" Logatnya kok jawa kabeh? Aku jowo yo kiyo lo, ( logatnya kok jawa semua? Aku jawab juga lo). " sambung Rifki dengan logat yang sangat jawa mengikuti Azmi dan Aban yang sedari tadi memamerkan bahasa jawab mereka.
Ketiga sahabat itu terlihat gembira hadir tawa dalam wajah mereka yang manis dan berseri-seri membuat bunga-bunga yang ada di sekitar mereka seakan turut ikut merasa bahagia.
" Wes-wes, ayo Ban, baca shoalawatnya, " ajak Azmi.
" Kamu dulu Mi, " Aban.
" Iya dah, yang ini, kan?" tanya Azmi meyakinkan, memperlihatkan halaman shoalawat yang hendak ia baca.
" Iya yang ini, " Aban.
" Bismillah, " Azmi.
Dengan buku sholawat yang ia pegang Azmi siap membacakan sholawat mengisi waktu istirahat mereka.
...*******...
...Rindu Rasul ...
...______________...
" Alangkah indahnya hidup ini
__ADS_1
andai dapat kutatap wajahmu
kan pasti mengalir air mataku
karena pancaran ketenangan Mu." indahnya suara Azmi yang dalam dan lantang membuat semua santri diam untuk mendengarkan sholawat yang tengah di baca.
Azmi memberi kode agar Aban ikut membaca shoawatnya dengan sedikit mendongak satu kali dan tatapan dalam kepada Aban lalu matanya kembali mengarah ke buku sholawatnya.
" Ya Rasullah yaa Habiballah ( nada yang tinggi dengan suara Azmi dan Aban yang juga tinggi dan sangat adem di dengar oleh semuanya)
tak pernah kutatap wajahmu
Ya Rasullah yaa Habiballah
Kami rindu padamu." Azmi dan Aban.
Azmi memberikan Aban untuk menunjukkan sholawatnya sendirian. Aban kembali mengulang bacaan pada bait pertama. Suara Aban sangatlah lembut dan halus sangat enak di dengar oleh siapa saja, orang yang mendengar pasti akan langsung terenyuh mendengar suara Aban yang adem.
Semua santri yang ada di sekitar Azmi dan Aban sangat menikmati sesekali mereka berbicara tentang indahnya suara Aban dan Azmi yang sangat gemar bersholawat pada setiap waktu luang.
" Enak banget Mi, terus... Masya Allah, bagus banget suara kamu Azmi, Aban, " puji Rifki.
" Aduh, gak tau lagi harus ngomong apa, suara mereka buat aku terenyuh, " tambah Ahmad yang duduk di dekat Rifki Asyik mendengar Aban dan Azmi bersholawat.
" Alay banget sih, kalian! Biasa aja kali suara mereka, gak ada bagus-bagusnya, " Zakir yang sedari tadi mengawasi Azmi dan Aban dengan wajah yang tidak mengenakkan.
Tapi kali ini Zakir sudah lelah berdebat ia tidak membalas dan hanya memasang wajah malas dan tatapan sinisnya.
Ketika Azmi dan Aban menyelesaikan sholwatnya semua santri memberikan tepukan tangannya dengan meriah dan memberikan pujian pada Azmi dan Aban.
Azmi dan Aban tersenyum manis dan mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang memuji mereka.
" A'udzubillahiminassyaitho nirrajimm." suara seorang perempuan terdengar merdu dan indah tengah membaca ta'awaduz dan basmalah menggunakan mikrofon membuat para santriwan yang tengah bersantai terdiam mencari-cari letak suara itu.
" Eh suara siapa, nih? Merdu banget lo, " Rifki.
" Adem banget, suaranya siapa, ya? " tambah Helmi.
" Yee, kamu malah balik nanya Hel, " Rifki.
Helmi hanya nyengir kepada Rikfi yang menunjukkan ekspresi datar dan terus mencari-cari letak suara itu.
" Siapa lagi kalau bukan santriwati? Ya, gak?" sambung Sihin.
__ADS_1
" Ya, iyalah, Hin. Masa suara cowok kaya gini, gimana, sih? " Zakir.
Sihin hanya terdiam enggan menjawab Zakir yang sedari tadi wajahnya terlihat galak sama sekali tidak enak dipandang.
Suara indah itu membuat Azmi terdiam dan teringat sesuatu. Seketika tatapan Azmi tajam kepala Azmi pun perlahan menunduk seakan sedang memikirkan sesuatu.
*****
Masa lalu Azmi .....
Azmi dan Aisyah adalah sahabat di masa MI atau sekolah dasar. Mereka selalu bersama bahkan banyak yang bilang mereka cocok. Teman-teman Azmi dan Aisyah selalu menjodoh-jodohkan Azmi dengan Aisyah. Tapi Aisyah tidak suka dengan itu, lain halnya dengan Azmi yang bersikap biasa saja ia hanya membalas dengan senyum manis seolah ia tidak masalah jika dijodohkan dengan Aisyah.
Waktu itu mereka masih kecil dan tidak mengerti apapun begitu juga dengan Azmi. Memiliki suara yang sama-sama merdu menjadikan mereka rekan bernyanyi pada setiap perlombaan ataupun acara seringkali Aisyah hanya bermain piano dan hanya Azmi yang bernyanyi tapi, tidak jarang juga mereka bernyanyi bersama.
Namun, kesalahan terjadi saat Azmi telat datang membuat Aisyah yang sudah duduk dengan pianonya menunggu cukup lama. Bukan hanya itu saja, Azmi membawakan lagu religi yang malah tidak sesuai dengan petikan jari-jari Aisyah yang sedang bermain piano.
Entah kenapa Azmi malah menyanyikan lagu lain tidak sesuai dengan latihan mereka.
Aisyah yang gugup menjadi sangat kacau dan tidak bisa menyamakan nada-nada untuk lagu yang Azmi bawakan.
Semua orang hanya melihat kesalahan Aisyah karena yang mereka lihat Azmi menampilkan penampilan yang sangat bagus sementara Aisyahlah yang sudah mengacaukan semuanya.
Orang-orang melempari Aisyah dengan benda-benda ringan dan menyorakinya, sontak saja Aisyah ketakutan dan berlari ia sempat terjatuh. Azmi yang hendak menghampirinya terlewati dengan langkah Aisyah yang sudah menjauh. Saat itulah kebencian tertanam dalam diri Aisyah.
Aisyah marah besar pada Azmi, ia juga sempat menyentak dan berbicara kasar pada Azmi, tapi Azmi juga bingung ia merasa dirinya benar.
Semenjak itulah Aisyah tidak ingin berbicara pada Azmi sampai saat ini. Aisyah tidak menerima permintaan maaf Azmi, ia terus menghindari Azmi dengan perasaan takut dan trauma.
___________________||__________________
" Heh, Mi! Kenapa kamu? Dari tadi bengong aja, ada apa? " tanya Rifki yang sedari tadi mengawasi Azmi.
Seketika wajah Azmi menghadap ke arah Rifki dengan wajah kebingungan.
" Hah? Apa Ki'? " Azmi.
" Ya elah, makanya jangan melamun terus awas kesambet lo, " Rifki.
" Eee..." Azmi menggaruk pelan lehernya dan mengusap wajahnya setelah mengingat kejadian itu Azmi merasa sangat sedih. Rasa bersalah masih menghantui Azmi.
" Ayo semuanya baris! " teriak Ustadz Ridwan membuat semua santri bergerak cepat untuk segera berbaris.
" Ayo Mi, " ajak Aban.
__ADS_1
Azmi hanya membalas dengan anggukan dan mulai melangkah pelan masuk menuju barisan.
Bersambung....