
Waktu maghrib telah tiba para anggota Syubban buka bersama pada restaurant mewah yang buka pada waktu itu. Seperti biasa banyak perhatian yang tertuju pada mereka. Selesai berbuka banyak orang yang meminta foto pada para anggota Syubban.
Atas izin Kyai, semua anggota Syubban menerima permintaan para fans mereka dengan tetap berperilaku layaknya seorang santri yang harus menjaga pandangan, tidak terlalu dekat dengan para kaum hawa, Azmi juga terlihat sangat cuek ia sama sekali tidak memberikan senyuman pada fans wanita yang berjumlah tidak sedikit.
Azmi hanya menganggukkan kepalanya saat para fans mengucap terima kasih kepadanya.
Anggota Syubband melaksanakan sholat di Masjid besar dan mewah yang berada di Blitar, mereka sudah sampai di sana. Teoat jam 10.00 malam, para anggota Syubband sudah selesai mandi semua. Mereka beristirahat pada kamar mereka masing-masing.
Kamar mereka kini terpisah tidak seperti waktu kemarin. Azmi seperti biasa sekamar dengan Aban, Ahkam dan Muhklis dengan ada 2 kasur yang terpisah.
Wajah Azmi terlihat sangat segar, dengan kaos panjangnya dan sarung biru tuanya ia duduk bersama Aban pada kasur mereka menyenderkan tubuhnya pada kepala kasur yang terbuat dari kayu.
" Alhamdulillah, akhirnya setelah beberapa lama kita istirahat juga." ucap Azmi sambil bersantai di kasurnya membuat semua temannya menoleh ke arahnya.
" Lebay," Ahkam kepada Azmi dengan ucapan yang sedikit keras nada bercanda.
" Nah, kan benar, aku. Mas gak lelah apa? Sekarang aku sedang bersyukur atas istirahat yang sudah kita dapatkan," Azmi.
" Tumben, biasanya tiap malam kita juga istirahat, kamu gak bersyukur juga?" sambung Muhklis.
" Nah, true sekali. Bagus, Klis." Ahkam dengan penuh semangat.
" Tapi, kan bang, mas. Masa bersyukur harus di dengar jelas sama semua orang, bersyukur itu bisa kapan aja didalam hati, benar, gak? " Aban yang ada dalam pihak Azmi turut membela sahabatnya.
" Benar sekali, Ban. 100 buat Aban, emang kamu sahabat sejati aku, " Azmi memberikan jempolnya tepat pada wajah Aban sungguh wajahnya tampak kemenangan.
__ADS_1
" Yo wes, Kam. Kita ngalah ae sama 2 bocah ini, " Muhklis.
" Yang tua harus ngalah sama yang muda, iya, gak, Ban? " Azmi.
" Iya, iya. " Aban.
" Terserah wes, aku selalu kalah kalau debat sama kalian." Ahkam.
" Lihat, nih, Kam. Mukanya Azmi, sok cool sekali anda, pak." Muhklis mendekatkan hapenya untuk menunjukkan sesuatu kepada Ahkam tak lain itu tentang Azmi.
Ahkam seketika tertawa terpingkal-pingkal setelah melihat foto Azmi yang sama sekali tidak menyematkan senyum seperti biasa.
" Ada apa, mas Ahkam? " tanya Aban dengan wajah penasaran.
" Sini, Ban. Lihat mukanya Azmi, sini." Ahkam masih tertawa tak bisa menahan gelak tawanya untuk wajah Azmi yang begitu lucu.
Aban menepuk pundak Azmi sambil tersenyum ia bangun dan melangkah untuk menghampiri Ahkam dan Muhklis karena rasa penasarannya yang teramat sangat.
" Sini, sini, Ban." Ahkam merangul Aban untuk memberitahu apa yang sebenarnya mereka tertawakan.
Saat Aban melihat wajah Azmi dalam foto yang begitu cuek, ada juga yang wajah datar dan ada yang sembarang diambil saat Azmi sedang bicara membuat Aban juga ikut tertawa terpingkal-pingkal masih duduk di samping Ahkam.
" Opo' tho kalian semua kok terlihat bahagia sakali? " Azmi yang sedari tadi fokus mengawasi semua temannya.
" Makanya kesini biar kamu tau, " Aban.
__ADS_1
Tanpa menjawab hanya menoleh ke arah Aban, Azmi bangun dari kasurnya menghampiri ke tiga temannya yang selalu jahil pada dirinya. Azmi berdiri di samping Aban dan kembali bertanya.
" Mana, mas? Coba aku lihat, " Azmi.
" Nih, kamu lihat sendiri. " Muhklis memberikan handphonenya kepada Azmi.
Azmi mulai tersenyum melihat satu-persatu fotonya dab kembali memandang ke arah teman-temannya yang sedang tertawa kecil.
" Gak ada yang salah, ganteng kok aku, " Azmi.
" Jangan takabur, " tegur Muhklis kembali mengambil handphonenya dari tangan Azmi yang malah tidak marah dengannya.
" Siapa yang takabur? Aku ini sedang bersyukur atas nikmat Tuhan yang telah diberikan padaku, " Azmi dengan wajah seriusnya membuat Ahkam yang sedari tadi menahan tawa mengusap keras wajah Azmi.
" Wes, bersyukur bukan kaya gitu, Mi." Ahkam dengan tangan kanannya yang mengusap wajah Azmi hingga Azmi menunjukkan wajah datar menoleh ke arah Ahkam.
" Ngomong-ngomong besok pagi kita ke acara itu? " tanya Aban setelah tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat ekspresi Azmi yang ditegur Ahkam.
" Pagi, habis sholat subuh, Ban." jawab Ahkam seketika menoleh ke arah Aban.
" Serius, mas? Kalau gitu ayo turu, biar besok kita gak ngantuk." Azmi yang kaget dan begitu antusias menyuruh semua temannya untuk tidur.
" Benar juga Azmi, ayo tidur, rek." Muhklis.
Azmi segera melangkah menuju kasurnya dan merebahkan dirinya dengan tangan yang terlentang menikmati kehangatan kasurnya itu. Aban juga melangkah menyusul Azmi mereka semua lantas sudah siap untuk tidur.
__ADS_1
Ahkam hanya bisa tersenyum melihat semua temannya yang gerak cepat kalau disuruh tidur. Sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Azmi ia melangkah untuk mematikan lampu.
Bersambung...