
Kedua kakak kelas itu terdiam ketika melihat kedatangan ustadz Ridwan.
" Assalamualaikum ustadz," Azmi mencium tangan ustadz Ridwan diikuti oleh Aban dan salah satu kakak kelas yang membela Azmi tadi.
" Barakallah, wa'alaikumsalam. " ustadz Ridwan, kedua kakak kelas yang tidak suka dengan Azmi mulai ikut berdiri dan maju dan mencium tangan ustadz Ridwan.
" Kenapa kalian menertawakan Azmi?,ada apa dengan Azmi?,kalian tidak suka atau iri dengannya?. " tanya ustadz Ridwan kepada kedua santri itu mereka menunduk dan tidak berani menatap mata ustadz Ridwan.
" Afwan ustadz, dari tadi mereka ini ngejek Azmi, mereka bilang Azmi bakal malu-maluin pesantren kita. " ucap kakak kelas yang membela Azmi.
" Astagfirullah, kenapa?,Dimas ," ustadz Ridwan kepada kakak kelas yang menatap Azmi sinis dia adalah Dimas.
" Iya ustadz, saya emang gak suka kalau dia yang wakilin pesantren ini, dia itu sok ganteng, sok pintar, sok alim dan satu lagi dia itu cuman menang ganteng aja,dia gak punya prestasi apapun. " Dimas sembari menatap Azmi dengan pandangan yang menakutkan dan Azmi hanya bisa terdiam memandang Dimas.
" Cukup Dimas, siapa yang mengajarkan kamu bicara seperti itu?, kalau ustadz dengar kamu ngomong seperti itu lagi ustadz tidak akan diam, kamu tidak boleh menjelek-jelekkan Azmi, itu tidak baik, " ustadz Ridwan menjelaskan kepada Dimas dengan tegas.
Dimas hanya terdiam dan pandangannya masih fokus kepada Azmi yang ada di hadapannya.
" Semuanya, ayo latihan, " ucap ustadz Abdullah yang baru datang dan menyiapkan semuanya.
" Ayo, " ajak ustadz Ridwan kepada semuanya.
Mereka semua berjalan menuju ustadz Abdullah sedangkan Azmi dan Dimas masih saling tatap.
" Lihat aja Mi, kamu gak akan bisa menang." Dimas.
Azmi berusaha menahan emosinya dengan cara menghela nafas dan tersenyum kepada Dimas, tetapi Dimas malah menyenggol keras pundak Azmi hingga Azmi terdorong. Dimas terus berjalan menuju ustadz Ridwan bersama salah satu temannya. Aban yang masih ada di sana segera menghampiri Azmi.
" Azmi,kamu gak papa?. " tanya Aban mendekati Azmi.
" Iya Ban, gak papa, kenapa ya?, kedua saudara itu benci sama aku ,gak kakaknya mas Dimas atau Zakir adiknya, mereka selalu aja jelek-jelekin aku. " Azmi.
" Kamu gak usah mikirin mereka Mi, kan masih banyak yang suka sama kamu, " Aban coba menenangkan Azmi.
" Azmi, Aban, ayo latihan. " ustadz Ridwan.
" Baik ustadz. " Azmi.
" Ayo Ban, " Azmi mengajak Aban pergi menuju santri-santri yang sudah berkumpul untuk latihan.Aban mengangguk, mereka melangkah bersama menghampiri semuanya.
" Assalamualaikum warahmataullahi wabarkatuh. " ustadz Abdullah.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ." jawab semuanya.
"Baiklah ,kalian yang ada disini adalah para santri yang dipilih untuk mengikuti lomba di pesantren Al-Hidayah di Surabaya, ada 7 santri yang akan berangkat, saya akan absen ya, ini juga sesuai lomba yang akan diikuti.Untuk lomba Puisi bahasa arab ada Ahmad Farist dari kelas 3, ada?. " ustadz Abdullah.
" Ana, hadir ustadz. " ucap santri yang bernama Farist sembari mengacungkan tangannya,dia adalah kakak kelas yang sangat baik kepada Azmi.
" Baik, selanjutnya untuk lomba Tartil ada Nurus Sya 'ban dari kelas 1,Aban ?." ustadz Abdullah.
" Hadir ustadz, " ucap Aban mengacungkan tangannya.
" Iya Aban, selanjutnya ada lomba Kaligrafi yang diwakilkan oleh Dimas Satria,Dimas ,mana?." ustadz Abdullah.
" Saya ustadz. " Dimas dengan sangat cuek mengacungkan tangannya dan melirik ke arah Azmi.
" Oke ,ada kakaknya Zakir,benar Dimas ?." ustadz Abdullah.
" Benar ustadz, saya sepupunya. " Dimas.
" Masya Allah, baiklah, selanjutnya ada lomba dakwah yang akan diwakilkan oleh Muhammad Ulul Azmi Askandar Al-Abshor, Azmi," ustadz Abdullah.
" Hadir ustadz. " Azmi dengan sangat semangat sembari menoleh ke arah Dimas yang juga menoleh ke arahnya ,melihat senyuman Azmi membuat Dimas semakin kesal dan memalingkan wajahnya.
" Masya Allah ,semangat sekali Azmi, ini adalah lomba yang sangat penting dan ini yang paling di lihat oleh semua orang nanti, tapi semua lomba itu bagus ,saya minta semuanya semangat dan Azmi terus semangat seperti ini ya, " ustadz Abdullah.
" Bagus Azmi,saya suka semangat kamu, selanjutnya akan dibacakan oleh ustadz Ridwan ." ustadz Abdullah.
Ustadz Ridwan mulai membacakan nama ke 3 santri yang akan mengikuti lomba tajwid, sambung ayat dan membaca kitab.Setelah semua di absen mereka semua bersiap untuk latihan.
Selama pelatihan Azmi mulai serius mendengarkan ustadz Ridwan yang menjelaskan kepada Azmi. Waktu terus berjalan adzan ashar terdengar dari masjid lain yang berada tidak jauh dari pesantren dan semua santri sudah menyelesaikan latihannya.
" Siapa mau adzan ?." ustadz Abdullah.
" Saya ustadz. " Azmi mengacungkan tangannya tanpa memikirkan apapun ,Azmi segera berdiri dan mengambil mikrofon yang terpasang pada penyangga yang biasa dipakai untuk adzan.
" Masya Allah, tumben Mi, langsung mau. " ustadz Abdullah.
" Heeee, iya ustadz. " jawab Azmi tersipu malu sembari tersenyum.
" Masya Allah akhi....." ucap Farist kepada Azmi sembari tertawa kecil memandang Azmi.
" Masya Allah. " ucap yang lainnya mengikuti Farist sedangkan Dimas diam saja merasa kesal memandang Azmi.
__ADS_1
" Sudah, sudah, ayo Mi, adzan. " ustadz Ridwan.
" Baik ustadz. " jawab Azmi, sebelum Azmi mulai adzan ia membaca bismillah terlebih dahulu dan mulailah Azmi mengeluarkan suara lantang dan merdunya .
Semua ikut menjawab adzan ,para santri yang lain segera melangkah untuk mengambil air wudhu.
Singkat waktu 🕕.........
Azmi sangat serius membaca teks dakwah yang diberikan oleh ustadz Ridwan untuk dibawakan pada perlombaan nanti. Dengan sangat menghayati membuat ekspresi Azmi menjadi lucu tidak hanya itu saja Azmi juga berdiri dan menganggap Ahkam, Aban dan Muhklis sebagai juri. Azmi menampilkan dakwah yang sangat bagus dan Ahkam juga mengoreksi Azmi dan memberikan yang benar jika Azmi salah hingga Azmi dapat menyelesaikan dakwahnya .
Ahkam, Aban dan Muhklis memberikan tepuk tangan mereka ketika Azmi sudah menyelesaikan dakwahnya.
" Mantap Mi, bagus. " Aban memberikan kedua jempolnya.
" Syukron mas Aban, " Azmi tersenyum dan duduk disamping Aban.
" Bagus Mi, cuman kamu kurang benar waktu penyampaian dalil sama tadi ada yang salah dikit, nanti belajar lagi. " Ahkam.
" Siap mas ustadz, " Azmi.
" Azmi, udah kayak pendakwah beneran aja. " Muhklis.
" Aamiin, semoga aku bisa dakwah. " Azmi.
Dimas yang berhenti dan sedari tadi diam-diam mendengarkan Azmi dakwah mulai memikirkan sesuatu untuk membuat Azmi gagal ketika perlombaan nanti.
Dimas mulai melangkah karena malamun ,Dimas menabrak Zakir yang sedang terburu-buru ,mereka terjatuh secara bersamaan dan terduduk di lantai tidak jauh dari kamar Azmi.
" Astagfirullah, mas Dimas, ngapain sih?. " Zakir.
" Aduhh ,kamu tuh Kir, ngapain buru-buru gitu?. " Dimas membenarkan pecinya dan berdiri .
" Eh mas tau gak?." Zakir.
" Apaan ?." Dimas.
" Aku tadi dengar kalau ustadz Ridwan,ustadz Abdullah dan semua ustadz itu muji-muji Azmi dan katanya Azmi adalah anak yang paling teladan untuk anak MTS.Dari dulu kan mas Dimas yang selalu dipuji dan dapat gelar santri teladan tingkat MTS. Emang mas gak iri gitu sama Azmi?. " Zakir dengan liciknya ia memanas-manasi Dimas.
" Dasar Azmi, lihat aja apa yang akan aku lakuin nanti sama anak cupu itu ." Dimas dengan wajah kesal dan membalikkan badannya dan kembali menoleh ke arah Zakir di akhir ucapannya.
Zakir tersenyum licik melihat Dimas yang mulai kesal.
__ADS_1
Bersambung.....