
Suasana yang semakin larut malam menambahkan ketegangan pada Azmi yang kini harus bisa menjawab pertanyaan dari Kyai.
" Ada apa, nak? Kenapa Azmi pergi begitu saja? Tanpa pamit dulu sama teman-teman kamu, sama saya atau sama Ustadz Mustafa." Kyai.
Azmi menganggukan kepalanya sedikit dengan cepat sebelum ia menjawab pertanyaan Kyai, Azmi juga menegakkan tubuhnya untuk bersiap menjawab pertanyaan Kyai tanpa ada salah kata sedikitpun.
" Saya mengakui kesalahan saya, Kyai. Saya minta maaf, karena sudah pergi begitu saja tanpa pamit kepada siapapun." Azmi dengan nada bicaranya yang begitu hati-hati dan tetap menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang terpangku pada kedua lututnya.
" Kalau kamu tau itu salah kenapa kamu tetap melakukan hal itu? Kamu tau gak apa akibatnya setelah kamu melakukan hal itu? Semuanya bicara tentang kamu, kita juga takut kalau timbul fitnah, nanti." Ustadz Mustafa yang mulai mengeluarkan suaranya karena sedaritadi wajahnya sudah terlihat jelas kalau ia kecewa dengan Azmi.
Azmi memandang ke arah Ustadz Mustafa saat Ustadz Mustafa bicara dan kembali menundukkan kepalanya karena ia mulai bingung harus menjawab apa.
" Sudah Mustafa, saya yakin Azmi pasti punya alasan kenapa dia melakukan hal itu? Apa kamu kenal dengan seorang gadis yang tadi berlari entah kenapa dia itu? Tiba-tiba dia bersikap begitu aneh dan seperti ketakutan padahal suaranya sangat bagus, enak didengar." Kyai.
" Yang tadi itu santri pesantren Nurul Qadim, Kyai. Saya kenal, ada Aisyah sama Fitri mereka santriwati teladan dan juga berprestasi," Ustadz Mustafa.
" Masya Allah, iya, Mus? Ya Allah, kenapa saya tidak tau? Hebat mereka. Tapi, Azmi, apa kamu kenal sama mereka? " tanya Kyai.
" Iya, Kyai. Mereka berdua itu teman saya waktu sekolah dasar dulu. Saya cukup dekat sama mereka berdua, " jawab Azmi.
" Jadi itu alasan kamu mengikuti Aisyah?" Ustadz Mustafa.
" Ya, cukup Mustafa. Ini sudah sangat malam. Azmi juga harus banyak istirahat, besok saya mau bicara lagi sama kamu. Apapun masalah kamu, nak. Saya sebagai pengasuh pesantren Nurul Qadim wajib mengetahui semua masalah santrinya, tidak terkecuali. Jangan segan-segan cerita kepada saya, nanti pasti saya kasih jalan keluar untuk kamu, Insya Allah." jelas Kyai.
" Nggih, Kyai. Insya Allah, " jawab Azmi sambil menganggukkan kepalanya.
Kyai mulai melukis senyumnya semenjak daritadi ia begitu serius bicara kepada Azmi.
" Sana istirahat dulu, jangan lupa baca doa sebelum tidur, " Kyai.
" Baik, Kyai. Saya pamit," Azmi perlahan ia mulai bangun dan menyalam tangan Kyai juga Ustadz Mustafa.
__ADS_1
" Assalamualaikum, " Azmi setelah menyalam tangan Ustadz Mustafa ia mengucapkan salam menghadap ke arah Kyai dan bergantian kepada Ustadz Mustafa.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab Kyai dan Ustadz Mustafa.
Setelah Azmi sudah keluar, Ustadz Mustafa langsung duduk ditempat Azmi duduk tadi untuk membicarakan sesuatu.
Azmi berjalan dengan perlahan, ia mengaruk bagian depan kepalanya hingga peci hitam yang ada logo Syubbanul Muslimin itu jomplang. Langkah Azmi terlihat sangat lemas sampai ia sampai pada kamarnya.
Kamar Azmi sudah gelap, semuanya sudah tidur mengingat hari yang sudah sangat malam. Tidak langsung tidur Azmi malah mengambil handphone yang terletak pada meja disamping kasurnya dan membuka media sosialnya dari wa, youtube hingga instagramnya.
Azmi menurunkan handphonenya dengan lampu layar hape yang menyinari wajahnya ia kembali mengingat semua perkataan Aisyah kepadanya.
" Azmi, semua yang ngefans sama kamu itu cuma kagum sama wajah kamu bukan sholawat kamu! Kamu gak usah bangga deh, karena cepat atau lambat pelan-pelan fans kamu itu juga bakal hilang. Karena, mereka cuma terobsesi sama kamu!."
" Kamu pikir, kamu itu udah hebat banget, hah? Gak usah bangga sama diri kamu, masih banyak orang yang lebih dari kamu."
" Mereka udah berlebihan sama kamu, Mi! Dan semua yang berlebihan itu gak baik! Dan itu semua penyebabnya cuma sama kamu!."
" Ya Allah, " Azmi sambil terus menutupi wajahnya sungguh ucapan dan suara Aisyah terus berputar dalam kepalanya tidak hanya itu, suara bentakan Aisyah juga terus melayang dipikiran Azmi membuat Azmi begitu lelah.
Aban terbangun ia melihat Azmi yang tengah menutupi wajahnya sambil mengucapkan sesuatu seperti berdoa dengan nada pelan.
" Azmi, kamu kenapa? " tanya Aban yang terbangun dan seketika ia terduduk.
Mendengar suara Aban, Azmi segera menghapus air mata yang tanpa ia sadari keluar dari matanya.
" Aban, aku buat kamu bangun, ya? Maaf, Ban. Aku gak papa, " jawab Azmi sekilas ia memandang ke arah Aban lalu meletakkan handphonennya dan menundukkan kepalanya.
" Benar gak papa, Mi?" tanya Aban yang masih tidak yakin dengan jawaban Azmi.
" Iya, udah kamu tidur aja. Aku juga udah ngantuk, " Azmi ia langsung melepas pecinya dan segera merebahkan dirinya juga menarik selimutnya untuk tidur. Azmi hanya tidak ingin membicarakan kesedihannya pada Aban yang selama ini sudah menjadi sahabat yang begitu baik untuk dirinya.
__ADS_1
Aban mengerti dengan keadaan Azmi, ia menghela nafasnya memandang Azmi yang sudah tertidur dengan pulasnya.
" Kasihan, Azmi. Ya Allah, tolong selesaikan masalah Azmi, jangan buat dia menderita lagi, Aamiin," Aban mengusap wajahnya bersamaan dengan mengucapkan aamiin.
Barulah Aban mulai merebahkan tubuhnya membaca basmalah dan memejamkan matanya perlahan.
***
Aisyah masih belum bisa tidur, ia kembali terbangun dan minum air yang sudah tersedia pada meja belajarnya.
Aisyah terduduk di kursi meja belajarnya dan kembali mengingat perkataannya kepada Azmi yang begitu kasar dan keras tidak seharusnya ia bicarakan itu kepada orang baik seperti Azmi yang tidak bersalah.
" Aku udah ngomong kasar sama Azmi, Ya Allah ampuni hamba. Azmi masih kepikiran gak, ya sama omongan aku? " ucap Aisyah matanya lalu mengarah pada foto almarhum kakaknya yang tengah tersenyum manis.
Air mata Aisyah jatuh membasahi pipinya dan ia kembali meletakkan foto kakaknya perlahan dan pandangannya mengarah ke arah jendela yang terletak lurus dengannya.
Aisyah menghapus air matanya dan ia mulai sadar akan kesalahannya.
" Azmi, maafin aku," ucap Aisyah dengan nada lirih.
***
Zakir kini sudah sampai pada rumahnya dan ia masih merenung duduk di kasurnya dan mengambil handphonenya untuk melihat kembali foto Azmi yang sedang bicara dengan Aisyah.
" Aku kok jadi kepo, sih? Azmi ada masalah apa sih sama cewek ini? Dan muka nih, cewek kaya gak asing, siapa ya, dia? " Zakir yang terus bertanya-tanya sendiri sambil terus memandangi foto itu.
" Arghh! Gak penting itu semua! Yang penting sekarang aku harus posting ini foto," Zakir dan benar saja apa yang ia ingin lakukan pasti akan segera ia lakukan. Saat itu juga ia langsung menyebar luasakan foto itu dengan caption " AZMI ASKANDAR BICARA DENGAN PEREMPUAN!! ".
" Lihat aja Azmi, sebentar lagi akan ada musibah buat kamu! Hah, Zakir mau dilawan, " ucap Zakir sambil tersenyum licik ia sudah merasa menang.
Bersambung...
__ADS_1