Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 165. Lewat Video Call


__ADS_3

Zakir, Sihin, Helmi dan Dimas sedang asyik-asyiknya nongkrong didepan rumah milik Zakir. Bukannya ngobrol tetapi mereka malah asyik dengan dunianya masing-masing yaitu dengan mata yang tertuju pada layar hape mereka. Zakir yang asyik memakan camilannya heran dan penasaran dengan apa yang dilakukan teman-temannya juga Kakak sepupunya, Dimas.


" Kalian dari tadi main hape terus, pada ngapain, sih? Main game?" tanya Zakir masih asyik mengunyah camilannya.


" Kita lagi nonton yang lagi viral, masa kamu gak tau, Kir. " Helmi.


" Azmi? " tanya Zakir dengan wajah malas.


" Ini tim Syubban, kenapa kamu gak suka? Kalau sekarang mereka bisa kaya gini." tanya Dimas memandang Zakir yang terlihat kesal.


" Emang mas suka mereka terkenal? Bukannya mas Dimas dulu benci ya, sama Azmi?" tanya Zakir balik.


" Itu dulu, setelah tau kalau sepupu aku sendiri udah buat jahat sama dia, ngapain aku harus benci sama orang sebaik dia, " jawab Dimas.


" Kamu harusnya bangga Kir, Ponpes Nurul Qadim jadi terkenal gara-gara Syubban, " Sihin.


" Benar Kir, udahlah kamu baikan aja sama Azmi, emang salah dia apa, sih? " tambah Helmi.


" Argh! Kalian sama aja, gak ada yang dukung aku, " Zakir ia terlihat ngambek dan masuk ke dalam rumahnya membawa toples camilannya.


" Teman kalian tuh, nasihatin." Dimas.


" Setiap hari juga kita gak pernah bosan ceramahin dia, ya gak, Hin? " Helmi.


" Iya mas, emang kepala batu si, Zakir. " Sihin.


" Sabar, aku yakin kalian bisa, " Dimas.


" Aamiin, " Helmi dan Sihin bersamaan.


" Semoga aja Zakir cepat sadar, ya. Aku pengen ngelihat dia gak benci lagi sama Azmi, " Sihin sangat berharap.


Dimas tersenyum menatap kedua sahabat Zakir yang tetap mau berteman dengan Zakir walau sifatnya sudah sangat keterlaluan kepada Helmi dan Sihin.


...****...


Setelah acara gema Sholawat se-jawa timur selesai, para orang tua seluruh anggota Syubban hadir dan memberi pelukan hangat kepada putranya yang telah berhasil membuat orangtuanya sangat bangga.


Hanya Azmi yang sendiri tanpa kehadiran kedua orangtuanya. Azmi hanya bisa menatap teman-temannya di peluk oleh orangtua mereka ia juga terharu melihat Aban dan Ahkam yang mendapat kecupan dan pelukan dari orangtua mereka. Ahkam dan Aban juga terlihat mencium telapak tangan ibu dan ayahnya cukup lama.


" Heh! Nangis lo, Mi? " tanya Mufti tiba-tiba ia berdiri di samping Azmi. Tanpa Azmi sadari air matanya jatuh membasahi pipinya ia juga kaget mendengar suara Mufti dengan segera Azmi mengusap air matanya.


" Mas Mufti ngagetin aja, enggak kok mas, aku gak nangis. " jawab Azmi masih memalingkan wajahnya.


Mufti tertawa kecil dan menaruh tangan kanannya pada pundak kanan Azmi.


" Dahlah, gue tau perasaan lo, ngelihat mereka semua ketemu orangtua mereka. Lo pasti kangen banget sama orangtua lo, ya kan? " Mufti.

__ADS_1


Azmi belum bisa menjawab dan hanya bisa membalas dengan tawa kecilnya.


Ustadz Mustafa yang tadinya sedang bicara bersama Hafsah, Hamdi, Syafiq, Kyai dan juga pak sopir melihat Azmi yang tengah bersedih. Tidak tega dengan santrinya ia pamit untuk menghampiri Azmi.


" Assalamualaikum, " ucap Ustadz Mustafa berdiri disebelah Azmi.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Azmi dan Mufti.


" Tadi Ustadz kabarin semua orangtua buat datang kesini karena Ustadz tau kalau mereka pasti kangen berat sama orangtua dan juga saudara mereka. Tapi cuma Azmi yang orangtuanya jauh dan gak bisa datang, Ustadz hubungin orangtua kamu, ya? Pakai video call, biar bisa meredakan rasa rindu kamu. " Ustadz Mustafa.


Azmi masih terdiam belum bisa menjawab dan hanya menatap dalam Ustadz Mustafa sambil berpikir.


" Mau ajalah Mi, lo pasti kangen banget sama orangtua lo, " Mufti ia juga tersenyum kepada Kakaknya dengan tangan kanan yang ia letakkan pada pundak Azmi.


" Selesaiin dulu masalah kamu, " Ustadz Mustafa menatap malas Mufti dan kembali mengarah pandangannya kepada Azmi.


" Iya, iya, gitu amat sama Adek sendiri, " Mufti matanya melirik ke arah Ustadz Mustafa dan kembali kedepan dengan ekspresi sedih teringat kembali masalahnya dengan teman-temannya.


" Ayo Mi, ini Ustadz telpon langsung aja, " Ustadz Mustafa tanpa minta pendapat Azmi lagi ia segera menghubungi orangtua Azmi.


Tidak butuh waktu lama Abah dan Ummi Azmi sudah tersambung dalam video call, Ustadz Mustafa langsung memberikan handphonenya kepada Azmi.


" Masya Allah, Azmi. Assalamualaikum, apa kabar, Nak? " Ummi Azmi.


Azmi masih tercengang melihat Ayah dan Ibunya walau dalam layar hape ia mencoba tegar agar air mata tidak jatuh dari matanya.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Azmi baik Ummi, Ummi sama Abah apa kabar? " ucap Azmi dengan suara lirih.


" Abah sama Ummi baik disini, kok Mas'e makin kurus? Kapan mau pulang?" Abah Azmi.


Tawa kecil tampil diwajah Azmi setelah mendengar perkataan Abahnya.


" Masih belum tau Abah, soalnya ini masih dapat banyak undangan," Azmi.


Mendengar suara Masnya Naufal dan Rara segera ikutan nimbrung mereka melambaikan tangan kepada Azmi hal itu membuat Azmi melukis kembali tawa manisnya yang membuat iri Mufti ia hanya bisa diam memandang Azmi.


Percakapan Azmi terlihat sangat asyik membuat anggota Syubban yang melihatnya ikutan senang dan bahagia mengetahui hanya Azmi yang belum bisa bertemu orangtua sampai saat ini.


" Ya sudah kamu baik-baik disana, Nak. Makannya yang banyak biar gak kurus, jangan lupa sholat sama ngajinya. " Ummi Azmi.


" Iya Ummi, nanti aku makan yang banyak," Azmi.


" Semangat mas Azmi, aku bangga sama mas, " Naufal.


" Mas Azmi semangat sholawatnya, " sambung Rara.


" Siap bos, " Azmi.

__ADS_1


" Ya sudah Abah tutup ya, baik-baik disana, " Abah Azmi.


" Nggih Abah, " Azmi dengan anggukan kepalanya.


" Assalamualaikum, " ucap orangtua dan adek-adek Azmi.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " Azmi.


Selesailah pembicaran video call Azmi bersama orangtuanya.


" Terimakasih Ustadz, " Azmi dengan kedua tangannya ia memberikan handphone kepada Ustadz Mustafa yang sedang merangkul Mufti.


" Iya Mi, udah mendingan kangennya? " Ustadz Mustafa.


" Alhamdulillah, sudah Ustadz, " Azmi tersenyum.


" Kamu kenapa Muf?" tanya Hafsah yang sudah bersiap untuk pulang.


" Biasa iri lihat Azmi telponan, " jawab Ustadz Mustafa.


Mufti langsung bangun dan menghapus air matanya.


" Apaan sih, Kak? Ya enggak lah, masa aku iri sama Azmi. " jawab Mufti.


Hafsah tertawa melihat Mufti yang membuatnya melirkk sinis ke arah Hafsah.


" Kamu kalau marah kaya gitu, lucu juga ya," Hafsah.


Mufti enggan menjawab dan wajahnya masih terlihat kesal membuat Hafsah, Ustadz Mustafa dan Azmi tertawa.


" Azmi, sini! " teriak Aban yang berama orangtuanya.


Azmi menganggukkan kepalanya memandang Aban.


" Ustadz saya kesana dulu, " Azmi.


" Iya Mi, " Ustadz Mustafa.


Azmi menyalam tangan kedua orangtua Aban dengan sangat sopan menyematkan senyum diwajah kedua orangtua Aban.


" Ini Azmi, dia vocal di tim kita yang paling ganteng, " Aban.


" Apaan sih, Ban? " Azmi membuat Aban tertawa.


" Oh, Azmi. Bagus namanya, Aban cerita banyak tentang kamu tadi, " Ibu Aban.


" Iya, Aban beruntung punya teman sebaik kamu, Nak." Ayah Aban menepuk pundak Azmi.

__ADS_1


Azmi hanya bisa mengangguk dan tersenyum mereka mulai berbicara tentang Syubban.


Bersambung....


__ADS_2