Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 129. Suasana Yang Indah.


__ADS_3

Pada hari yang cerah di selimuti hangatnya cahaya matahari pagi, semua santri sudah bersiap-siap membawa tas dengan jaket untuk pergi berkemah yang biasa di lakukan sebelum hari yang paling di tunggu yaitu hari pulangan. Para santri terlihat sangat gembira. Suasana lapangan luas pesantren di penuhi oleh santri yang memiliki wajah adem dan menyejukkan mata siapa saja yang memandang mereka.


Dengan jaket hitam bermerek, peci berwarna putih bersih dan tas besar berawarna silver, Azmi duduk di samping Aban menunjukkan suasana hatinya yang sangat senang. Azmi, Aban dan Rifki duduk bersama pada kaki tangga Masjid yang di penuhi oleh para santri.


Para senior seperti Ahkam, Muhklis dan Nur sibuk mempersiapkan kebutuhan kemah membantu para Ustadz yang terlihat sibuk mengurus makanan, minuman dan mengecek semua kehadiran santri.


Zakir yang duduk sendiri tanpa teman memandang sinis Azmi yang terlihat asyik berbincang sambil tertawa ria kepada kedua sahabatnya.


"Kenapa gini banget, sih?Sekarang teman aja gak punya, sepupu sendiri gak mau bicara sama aku, sedangkan si Azmi ketawa-ketawa gak jelas di hadapan aku. Awas aja kamu Mi!Aku gak akan pernah berhenti buat kamu menderita!" ucap Zakir dalam hati matanya sangat sinis kepada Azmi yang terlihat sangat asyik berbincang.


Ada sekitar 10 lebih bus pariwisata sudah tiba, pak satpam dengan cepat membukakan gerbang pesantren memberi masuk bus yang besar dan banyak mencakup seluruh santri yang berjumlah ratusan bahkan hampir ribuan. Bus-bus besar yang masuk ke dalam pesantren membuat para santri berdiri memandang satu-persatu bus yang siap mengantarkan mereka pada tempat perkemahan.


Ustadz Abdullah dan Ustadz Fathur dengan ramah menyambut sopir-sopir bus yang turun untuk bersalaman kepada para Ustadz.


Sementara Ustadz Ridwan dan para senior bertugas membariskan semua santri mengatur mana saja santri yang akan masuk satu bus.


Dengan tertib dan teratur semua santri mendengarkan perintah semua Ustadz dan senior, satu-persatu mereka masuk kedalam bus sesuai arahan Ustadz dan Ahkam yang tidak lelah berteriak kepada semua santri.


" Ayo masuk!Pelan-pelan dan jangan ada yang dorong-dorongan! Ayo masuk dengan tertib!" teriak Ahkam mengatur semuanya.


" Ayo pelan-pelan, jangan ribut sampai di dalam bus, " Ustadz Ridwan juga mengawasi semuanya tanpa ada satu pun yang luput dari pengawasannya.


Terlihat mobil Kyai sudah sampai, dengan segera Ustadz Abdullah menghampiri Kyai.


" Assalamualaikum, bagaimana? Sudah di urus semuanya? " tanya Kyai yang berdiri di hadapan Ustadz Abdullah.


" Wa'alaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillah Kyai, semua sudah diatur, " jawab Ustadz Abdullah penuh rasa hormat.


" Alhamdulillah, bagus, saya ikut dari belakang dan saya minta jaga semua santri. Awasi semuanya!" Kyai.


" Baik Kyai, siap! " Ustadz Abdullah.


Kyai tersenyum kepada Ustadz Abdullah yang tegas dan siap menjalankan amanah dari Kyai.


Azmi dan Aban duduk bersama sementara Rifki duduk di belakang bersama Zakir dengan rasa terpaksa.


" Ki', ajak ngomong tuh di sampingmu, masa diam tok, " ledek Azmi menoleh ke belakang.


" Malas banget ngomong sama dia Mi, " ucap Rifki memandang Zakir malas.

__ADS_1


" Kir, " panggil Azmi kepada Zakir dan Zakir mau menoleh walau dengan tatapan malas.


" Nih, makan, biar kamu gak lapar selama perjalanan, " ucap Azmi menyodongkan sebungkus roti cokelat kepada Zakir.


" Gak usah sok baik deh Mi, aku juga punya kali makanan kaya gitu," ucap Zakir sinis.


Aban dan Rifki semakin kesal dengan tingkah Zakir yang menunjukkan kebenciannya kepada Azmi.


" Yo wes, kalau gak mau, alhamdulillah, di baikin juga, " Azmi kembali menoleh ke arah depan dan menyenderkan tubuhnya pada kursi bus, Aban hanya bisa tertawa kecil menoleh ke arah Azmi yang juga menatapnya sambil menikmati roti cokelatnya.


Melihat Aban yang terus tersenyum kepadanya Azmi mulai aksi jahilnya.


" Kenapa, Ban? Mau?" ucap Azmi menyodongkan roti cokelat yang sudah ia gigit sebagian.


" Apaan sih, Mi? Masa aku di kasih bekas mu?" Aban.


" Oh iya, ya, ya udah aku bagi 2, mau gak? " tanya Azmi lagi hendak membagi 2 roti cokelatnya itu.


" Eh, gak usah Mi, kamu makan aja, aku juga punya kok, " Aban menghentikan Azmi yang ingin membagi dua roti cokelat yang terlihat sangat lezat.


" Benar nih, gak mau?" tanya Azmi meyakinkan Aban.


" Iyaaa, udah kamu makan aja, " ucap Aban.


Ahkam masuk pada bus yang sudah di penuhi santri-santri kelas 1 MTS. Ahkam dengan jaket biru gelapnya bertugas untuk menjaga ketertiban para santri yang jauh lebih muda darinya.


Azmi melihat Ahkam yang tengah membicarakan sesuatu kepada sopir bus yang sangat fokus menatap Ahkam mendengarkan ia berbicara.


" Mas Ahkam ngapain di sini, Mi? " tanya Rifki yang duduk di belakang Azmi.


" Gak tau, di suruh jaga sini mungkin, " Azmi setelah mengunyah habis rotinya.


" Mas Ahkam kenapa harus jaga di sini, sih? Bikin suasana makin mendung aja, " ucap Zakir dengan wajah yang sangat tidak bersemangat.


" Mana ada mendung Kir, yang ada cerah banget tuh, " ledek Azmi sementara Zakir yang sudah badmood hanya diam tidak menjawab Azmi.


Dengan kalung yang sudah bertulis PANITIA, Ahkam membalikkan badannya menghadap ke arah semua santri kelas 7.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Ahkam dengan suara yang tegas.

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " ucap semuanya dengan semangat kecuali Zakir yang sangat tidak bersemangat.


" Mas absen dulu ya, ini semuanya santri kelas 7 A, betul? " Ahkam.


" Iya betul mas, " teriak Azmi sembari memberi jempolnya dan tersenyum manis kepada Ahkam yang membuat Ahkam menoleh dan tersenyum kepada Azmi.


" Oke baik, saya absen dulu, harap bilang hadir dan angkat tangan, " Ahkam sudah bersiap dengan selembar kertas yang ia bawa.


Ahkam mulai membaca nama-nama adik kelasnya hingga semua sudah di sebut namanya.


" Alhamdulillah, baik, ini sudah jam 07.15, sesuai perintah ustadz Ridwan sebentar lagi kita akan berangkat. Sebelum kita berangkat, marilah kita berdoa semoga selamat sampai tujuan," Ahkam.


" Aamiin, " ucap semuanya termasuk pak sopir.


Dengan Ahkam yang memimpin doa, semuanya mulai mengaminkan begitu juga dengan pak sopir.


" Baik pak, bisa jalan sekarang, " Ahkam.


" Oh iya dek, kita jalan, " pak sopir.


Dengan membaca bismillah yang diikuti oleh semua santri, pak sopir mulai menyalakan mobilnya dan mulai berjalan.


Begitu juga dengan bus-bus yang lain yang berjalan mengikuti bus pertama.


" Sholawatan Mi, biar tambah semangat, Ban! " teriak Ahkam yang duduk di depan menoleh ke arah Azmi dan Aban yang tersenyum melihat semua santri yang tertuju kepada mereka.


" Ayo, sholawatan aja, biar selamat sampai tujuan, " pak sopir.


" Iya pak, dulih Mi, Ban, ( sana Mi, Ban)" Ahkam.


Mulailah Azmi mengajak Aban untuk bersholawat.


" Teman-teman ikutin aku ya, ayo kita sholawat kepada kanjeng nabi Muhammad, Allahumma Shalli 'Ala Muhammad! " seru Azmi membuat semua santri tambah semangat.


" Allahumma shali 'alaih, " ucap semua teman-teman Azmi dengan semangat.


Mulailah Azmi menunjukkan suara indahnya diikuti dengan Aban yang mengiringi lantunan sholawat Azmi dengan suara yang tidak kalah merdu dan lantang.


Ahkam dan semua santri mulai bersholawat mengikuti Azmi yang sangat semangat.

__ADS_1


Jalanan pagi desa Probolingo di penuhi bus-bus yang tertulis ponpes Nurul Qadim, bus santriwati juga berjalan di belakang dengan hati-hati.


Bersambung....


__ADS_2