
Pak satpam yang masih bersiaga siap membukakan pintu gerbang untuk bus-bus yang sudah datang. Suasana begitu ramai, bus yang sudah parkir di halaman luas pesantren dan para santri yang juga perlahan turun dengan tertib dan teratur.
Ahkam mengatur semua adik-adiknya turun dari bus agar tidak ada yang saling dorong. Tepat saat Azmi di hadapannya Azmi memberi senyum lebar dan kedua jempol untuk Ahkam yang sudah bertugas dengan baik.
Ahkam hanya menepuk punggung Azmi yang hendak berjalan turun dari bus.
Terlihat para Ustadz sedang berbicara mereka juga memberikan uang dari Kyai untuk para sopir bus yang sudah mau mengantarkan mereka sampai pesantren dengan selamat.
Dengan wajah gembira penuh bahagia, para sopir bus menerima uang dan mengucapkan terimakasih kepada semua Ustadz dan Kyai.
Kyai juga membalas dengan ramah tak lupa senyum yang selalu Kyai sematkan.
" Terimakasih Kyai, saya pulang dulu, " salah satu sopir menghampiri Kyai dan menyalam tangan Kyai dengan kedua tangannya.
Sopir-sopir yang lain juga melakukan hal itu mereka semua mengucapkan terimakasih dan menyalam tangan Kyai dengan penuh adab tidak sedikit dari mereka yang mencium tangan Kyai cukup lama dan membolak-balik tangan Kyai untuk mencium tangan Kyai.
" Saya minta semuanya hati-hati, " ucap Kyai kepada semua sopir.
" Siap Kyai, kalau gitu saya pamit. Assalamualaikum, " salah satu sopir.
" Hati-hati pak, wa'alaikumsalam, " Kyai.
" Saya juga pamit Kyai, assalamualaikum, " sopir lainnya.
" Iya pak, wa'alaikumsalam, " Kyai.
Semua sopir mulai mengucap salam dan berpamitan. Bus-bus itu pergi dengan berurutan, Azmi melambaikan tangannya kepada sopir bus yang hendak berputar.
" Hati-hati pak!" teriak Azmi.
Pak Sopir yang busnya dekat dengan Azmi mendengar teriakan Azmi ia menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Azmi. Azmi juga terus tersenyum dan melambaikan tangannya.
" Om Telolet om!" teriak Rifki membuat semua santri menoleh ke arahnya.
Sopir yang mendengar suaracteriakan tertawa dan mengabulkan permintaan Rifki walau hanya membunyikan klakson biasa.
" Hore!!! " Rifki terlihat sangat gembira dengan tepukan tangan kepada pak sopir yang mau mengabulkan permintaan Rifki ia terlihat seperti anak kecil yang mendapat mainan, hal itu membuat Azmi dan Aban geleng-geleng kepala dengan pandangan fokus kepada Rifki.
Saat sopir bus itu sudah menjauh Azmi menepuk keras pundak Rifki yang masih girang.
" Aduh, kenapa sih, Mi? " ucap Rifki yang kaget dengan pukulan keras Azmi sambil mengelus-ngelus lengannya yang habis dipukul keras Azmi hingga berbunyi. Rifki terus menatap Azmi yang malah tersenyum kecil.
" Kaya anak kecil tau, gak! " Azmi.
" Iya tuh, lagian udah jaman dulu banget tuh Ki', " sambung Aban.
" Biarin, kalian gak suka apa lihat aku bahagia? " Rifki.
Azmi dan Aban kaget dan saling pandang atas apa yang di ucapkan Rifki dengan wajah datar.
__ADS_1
" Ya, gak gitu Iki'." Azmi.
" Ayo, semuanya baris dulu! " Ustadz Abdullah.
Azmi yang hendak bicara di hentikan oleh perintah Ustadz Abdullah yang menyuruh semua santri berbaris. Azmi mengurungkan niat untuk bicara melihat para santri yang melangkah untuk berbaris.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Kyai.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semua santri.
" Alhamdulillah kita sudah sampai di pesantren, kita juga sempat berhenti untuk sholat ashar. Sekarang kalian boleh istirahat atau bersih-bersih kalau ada yang lapar langsung aja ke dapur. Nanti sehabis sholat Isya' jangan turun dulu karena saya akan membicarakan sesuatu kepada kalian semua. Dan untuk hari ini ngaji kitab diliburkan dulu, " Kyai.
Para santri senang dan mengangguk paham dengan ucapan Kyai.
" Baik, sekarang kalian istirahat, ayo, " Kyai.
" Syukron Kyai, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " ucap semua santri.
" Wa iyyaki, wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " Kyai dan para Ustadz yang juga menjawab salam dari semua santri.
Para santri yang banyak membuat lingkungan pesantren terlihat sangat ramai. Bersama-sama para santri itu melangkah menuju kamar mereka untuk bersih-bersih dan beristirahat.
" Assalamualaikum! " Azmi dengan penuh semangat ia membuka pintu kamar dan langsung duduk di kasurnya.
" Wa'alaikumsalam, " jawab Aban, Ahkam dan Muhklis yang berjalan tepat di belakang Azmi.
Mereka merapikan barang-barang mereka dan kembali duduk di kasur mereka masing-masing.
" Pasti tuh Mi, aduh, aku udah gak sabar buat pulang. Aku kangen banget sama orangtuaku, " Aban dengan perasaan sangat gembira ia terus dalam memandang Azmi yang duduk di sebelahnya.
" Sama Ban, aku juga," Azmi.
" Kalian ini, kalau nanti ternyata gak pulang, gimana? " Muhklis.
Seketika wajah Azmi dan Aban sedih dan lemas secara bersamaan mereka terdiam dan tertunduk. Wajah sedih Azmi dan Aban membuat Ahkam dan Muhklis saling pandang dan merasa kasihan. Azmi dan Aban baru saja mondok tidak seperti Ahkam dan Muhklis yang sudah biasa tinggal di pondok.
" Heh, kok mukanya langsung kusut gitu? Jangan dengerin si Muhklis, kalian pasti pulang, dah, tenang aja, " Ahkam ia berhasil membuat Azmi dan Aban kembali senang dan bersemangat.
" Alhamdulillah, kita pulang Ban, " Azmi.
" Alhamdulillah Mi, " Aban.
" Sek, tapi mas, pulangan itu sampai berapa hari, sih? Bakal lama, gak? " tanya Azmi dengan wajah serius.
" Ya lama Mi, 5 hari kalian di rumah habis itu cepat balik ke pondok kalau enggak kena hukuman, " Muhklis setelah mengucap hal yang menurutnya lucu ia tidak bisa menahan tawanya dan terus tertawa.
" Bang Mukhlis bohong tuh, gak mungkin lah, pulangan cuma 5 hari. " Azmi wajahnya kesal tidak terima dengan ucapan Muhklis.
" Iya Mi, masa kita udah kurang lebih dari 365 hari di sini terus pulangnya cuma 5 hari, " sambung Aban yang juga tidak terima.
__ADS_1
" Sudah-sudah, kalian malah sibuk mikir pulangan. Pasti pulang kok," tegas Ahkam kepada Azmi dan Aban yang sedari tadi sibuk memikirkan pulang ke rumah mereka.
" Habis, aku udah gak sabar mas Ahkam. Kangen banget lo, iki!" Azmi dengan nada lemas menunjukkan bahwa ia sedang sedih.
" Sama Mi, aku juga, " Aban.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Adzan maghrib sudah berkumandang para santri segera mengambil wudhu agar tidak telat untuk sholat berjama'ah.
" Ayo wudhu, jangan sedih terus, udah maghrib. " Ahkam.
Azmi mengangguk pelan ia bangun dan mulai melangkah bersama Muhklis ke tempat wudhu.
" Ayo Ban, semangat! " Ahkam menyemangati Aban yang masih terduduk di kasurnya memandang Azmi dan Muhklis yang sudah jalan.
Aban memandang Ahkam dan mengangguk ia akhirnya bangun. Ahkam merangkul Aban berjalan bersama menuju tempat wudhu.
Matahari mulai turun tenggelam dan suasana malam mulai datang , semua santri baru saja menyelesaikan dzikir sehabis sholat maghrib.
" Sebaiknya kalian mengaji terlebih dahulu untuk menunggu waktu isya'. Jangan lupa setelah isya' nanti Kyai akan membicarakan sesuatu. Saya minta kalian jangan turun dulu. " Ustadz Abdullah.
" Baik Ustadz, " ucap semua santri.
Azmi yang hendak berdiri untuk pergi mengaji di hentikan oleh Ustadz Abdullah yang tiba-tiba memanggilnya.
" Azmi, sini dulu Mi, " Ustadz Abdullah.
Azmi menghentikan langkahnya dan segera menghampiri Ustadz Abdullah.
" Iya, ada apa Ustadz? " tanya Azmi yang sudah duduk di hadapan Ustadz Abdullah.
" Kamu sudah hafal berapa juz?" tanya Ustadz Abdullah.
" Alhamdulillah, baru sedikit Ustadz," jawab Azmi menunduk.
" Saya minta kamu sama Aban, besok jam istirahat sekolah pergi ke kantor. " Ustadz Abdullah.
" Ada apa Ustadz?" tanya Azmi bingung.
" Besok kamu juga tau, " Ustadz Abdullah.
Azmi kembali kembali menunduk dan menganggukkan kepalanya.
" Baik Ustadz, " jawab Azmi.
" Ya sudah, sana ngaji, " Ustadz Abdullah.
" Iya Ustadz," Azmi ia berdiri pergi mengambil Al-Qur'annya duduk di samping Aban.
__ADS_1
Melihat Aban yang khusyuk mengaji Azmi mengurungkan niatnya untuk berbicara ia membuka Al-Qur'annya dan juga mulai mengaji.
Bersambung...