
Hafsah yang juga sedang mengendarai motor tidak sengaja berpapasan dengan Azmi dan Ali ia dengan spontan menyuruh Ali untuk menepi dan menghentikkan motornya.
" Azmi, minggir dulu dong!" teriak Hafsah memelankan laju motornya agar bisa tetap di sebelah Ali.
" Duh, nih cewek mau ngapain, sih?" gerutu Ali terus menyetir melajukan sedikit kecepatan motornya agar bisa menjauh dari Hafsah.
" Yah, yah, kok malah berhenti? Azmi, ini kak Hafsah, tolong berhenti! " teriak Hafsah ia terus-menerus meminta Ali menghentikan laju motornya.
Azmi khawatir dengan Hafsah yang terus berteriak sangat jelas sampai ke kupingnya apalagi di jalanan desa yang sudah siang hari sedikit ramai dengan pengendara motor dan mobil yang berada dalam kecepatan rata-rata.
" Mas Ali, berhenti dulu aja, kasihan, " Azmi sempat menoleh ke arah Hafsah yang melambaikan tangannya.
" Mau ngapain, Mi? Kita ini mau ke rumah Kyai, nanti kita ketinggalan lagi, " Ali terus melajukan motornya.
" Azmi tau mas, tapi bahaya juga sama kak Hafsah, lagipula mas Ali hafal, kan? Jalan kerumah Kyai? " Azmi.
Setelah berpikir akhirnya Ali mau menuruti ucapan Azmi dan menepi tepat di parkiran di depan supermarket.
Hafsah segera mengikuti kemana berhentinya Ali, ia melepas helmnya dan pergi melangkah menghampiri Azmi dan Ali yang masih duduk di atas motor.
Dengan nafas yang terperangah, Hafsah mengatur nafasnya sebelum ia berbicara.
" Susah banget, sih disuruh berhenti? " Hafsah menatap Ali.
Azmi turun untuk menghampiri Hafsah begitu juga dengan Ali yang mematikan motornya dan berdiri di sebelah Azmi di hadapan Hafsah.
" Lagian kamu ngapain neriakin kita kaya gitu? Kita ini santri bukan artis, pakai di teriakan segala, gak pantas banget, " Ali.
" Iya aku tau, maaf, tapi kenapa kalian bisa keluar pesantren? Haaaa!! Atau, jangan-jangan kalian emang udah di keluarin dari pesantren karena masalah yang udah tersebar itu, iya? " ucap Hafsah begitu membara dan ekspresi yang panik sekaligus khawatir menoleh ke arah Azmi dan Ali.
" Enggak kok kak Hafsah, kita mau kerumah Kyai, tadi mobilnya gak cukup makanya aku sama mas Ali pakai motor, " terang Azmi membuat Hafsah sedikit tenang juga menghilangkan rasa panik yang sudah membara.
Hafsah menghela nafasnya keras setelah mendengar penjelasan Azmi.
" Lagian kita semua gak salah, anak Band itu yang harusnya dihukum atas kesalahan yang telah mereka buat, " sambung Ali.
" Nah, iya. Aku yakin kalau anak-anak sholeh, polos dan sabar kaya kalian gak mungkin ngelakuin perbuatan kaya gitu, ini pasti Mufti nih, dalang dari semua ini, " Hafsah rasa geramnya kepada Mufti tampak jelas pada wajah cantiknya.
" Alah, percuma kalau kamu kesal di sini, masalah gak akan selesai kalau kita gak berbuat apa-apa, " Ali.
" Pakai ngeremehin, Azmi, kamu tenang aja, aku akan mengembalikan nama baik kamu. Aku itu kesel banget sama semua orang yang udah jelek-jelekin kamu, tapi aku selalu bilang sama mereka kalau kamu sama teman-teman kamu pasti gak salah, " Hafsah.
Azmi tersenyum senang melihat Hafsah yang sudah peduli dengannya.
" Tapi kak, kakak mau ngelakuin apa? " tanya Azmi.
" Nah ini, nih, emang kamu mau ngelakuin apa? " sambung Ali masih meremehkan.
__ADS_1
" Aku akan langsung ngomong sama Mufti, aku akan usaha buat ngasih hidayah sama dia, " ucap Hafsah penuh keyakinan.
Ali malah tertawa meledek Hafsah untung saja Azmi segera menyadarkan Ali agar tidak terus tertawa.
" Maaf, maaf, emangnya kamu berani ngomong sama anak kaya Mufti, Kakaknya sendiri aja gak mau di dengerin, apa lagi kamu. " Ali.
" Iya kak Hafsah, kak Hafsah gak usah ngelakuin itu, nanti takutnya kakak di apa-apain lagi sama mas Mufti. Kita pasti bisa kok, nemuin jalan untuk masalah ini," Azmi suara ademnya membuat hati Hafsah sejuk.
" Azmi kamu emang perhatian banget sama aku, gak kaya orang yang di samping kamu. Tapi kamu tenang aja, aku akan usaha untuk masalah ini, tenang aja, " Hafsah dengan suaranya yang lembut mencoba menenangkan Azmi membuatnya percaya dengannya.
Azmi hanya membalas dengan senyuman kecilnya sempat menatap Ali sekilas yang menunjukkan wajah malasnya kepada seorang gadis cantik yang sangat antusias untuk membantu mereka.
" Ya udah, karena niat kamu baik, aku dosin semoga berhasil, " Ali.
" Aamiin, " Azmi dan Hafsah.
" Makasih ya, tapi, aku gak tau dia ada di mana," Hafsah.
Azmi dan Ali seketika saling pandang.
" Aku dengar, mas Mufti nanti malam mau tampil, tapi gak tau di daerah mana, " Azmi.
" Oh, oke deh, nanti aku coba cari kabar tentang dia, pasti teman-teman aku juga banyak yang tau. " Hafsah.
" Kamu sebaiknya ngajak teman deh, daripada nanti kamu kenapa-napa, " Ali.
Azmi kembali tersenyum kepada Hafsah dan mengangguk pelan.
" Mi, jaga pandangan, " tegur Ali membuat Azmi menoleh ke arahnya.
" Iya mas, aku gak ngelihatin kak Hafsah, mas Ali malah yang terus lihatin, " protes Azmi kepada Ali yang memang terus melihat Hafsah dengan tatapan tajamnya.
Seketika Ali tertunduk atas teguran Azmi untuk mencairkan suasana dan ketegangannya ia berdehem " ehem " sembari menutupi mulutnya dengan tangan kanannya dan segera mencari alasan agar bisa segera pergi.
" Ayo Mi, Kyai sama yang lain pasti udah sampai, mereka pasti lagi nungguin kita, " Ali.
" Astagfirullah, iya mas, ayo, " Azmi.
" Oh, kalian mau pergi ya, ya udah, hati-hati. Sampai ketemu lagi Azmi, daa, " Hafsah ia terus menyematkan senyum manisnya dan melambaikan tangannya kepada Azmi yang berusaha menjaga pandangan.
" Duluan Kak, assalamualaikum, " Azmi yang sudah duduk di belakang Ali yang sudah siap menjalankan motornya.
" Wa'alaikumsalam, " jawab Hafsah.
Tanpa pamit sekalipun, Ali langsung ngegas menjalankan motornya segera meninggalkan Hafsah.
" Cepat-cepat banget tuh orang, tapi tenang aja, aku akan balikin nama baik Syubbanul Muslimin dan pandangan masyarakat kepada santri. " Hafsah ia merasa sangat senang dan sangat berharap supaya Mufti mau mendengarkan dirinya.
__ADS_1
___
___
___
Benar saja, Kyai bersama semua anggota Syubban sudah sampai begitu juga dengan Ahkam dan Aban mereka khawatir dengan Ali dan Azmi yang belum sampai.
" Ini Ali sama Azmi, kemana, ya? Kenapa mereka belum sampai juga?" Kyai.
" Sebentar lagi pasti mereka sampai Kyai, " jawab Ahkam.
" Biasa Ali iki, pasti dia lagi mengambil kesempatan untuk jalan-jalan, " Udin.
" Hush, gak boleh seudzon Din, mana mungkin juga Ali berani jalan-jalan bawa Azmi, " tegur Muhklis.
Baru saja di khawatirkan oleh Kyai, Ali dan Azmi muncul dari pintu gerbang yang sudah terbuka lebar.
" Nah itu dia, " Firman.
" Alhamdulillah, sampai juga mereka, " Kyai.
Ali segera memakirkan motor di tempat parkir yang memang sudah tersedia di rumah Kyai yang besar dan mewah itu.
" Assalamualaikum, "ucap Azmi dan Ali yang sudah berdiri bersama teman-temannya.
" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.
" Kalian ini darimana saja? Kenapa lama sekali? " tanya Kyai.
" Maaf Kyai, tadi kita dihentikan sama cewek, dia juga teriak-teriak Kyai, " jawab Ali sejujur-jujurnya yang membuat kaget semua orang termasuk Kyai.
" Astagfirullah, yang benar, Li? Itu yang ngefans sama kita atau malah yang benci sama kita? " Udin.
" Ngefans, emang kita artis, apa? " Firman.
" Ya, siapa tau, kan? " Udin.
" Siapa yang sudah menghentikan kalian? " tanya Kyai.
" Maaf Kyai, itu Kak Hafsah adiknya mas Hamdi, dia bilang kalau dia mau bantu masalah kita, " jawab Azmi membenarkan semua kesalahpahaman yang ada di pikiran semuanya.
" Masya Allah, baik sekali dia, mau bantu kita. Kita harus berdoa, semoga Hafsah bisa mengatasi masalah kita. Allah pasti akan memudahkan hambanya yang punya niat baik untuk menolong sesama manusia, " Kyai.
Semua anggota Syubban mulai mengerti dan mereka turut senang atas Hafsah yang mau membantu mereka.
" Aamiin, " jawab semuanya.
__ADS_1
Bersambung....