Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 95. Cukup Lama.


__ADS_3

Kyai dan ustadz Mustafa duduk bersama sesekali mereka menepatkan kedua tangan pada wajah mereka sembari mengucap doa. Ini memang tidak seperti biasanya, Akmal dirawat cukup lama kurang lebih sampai satu jam mereka sampai hampir tertidur karena lama menunggu. Tidak lama kemudian Dokter datang dan menghampiri Kyai dan ustadz Mustafa.


Seketika mereka bangun dan menghampiri Dokter.


" Bagaimana keadaan santri saya, Dok?" tanya Kyai yang sangat khawatir.


" Ada banyak darah yang keluar tadi, tapi kami sudah mendonorkan darah untuknya.Yang saya khawatirkan keadaan pasien semakin parah, ada luka di paru-paru dan tenggorokannya yang cukup parah dan harus segera ditangani. " jelas Dokter kepada Kyai dan ustadz Mustafa.


Mereka merasa sangat sedih mendengar keadaan Akmal yang semakin parah.


" Astagfirullah, lalu bagaimana, Dok?, apa Akmal perlu di operasi? " tanya Kyai.


" Penyakit ini tidak perlu operasi Kyai, pasien hanya harus dirawat di rumah sakit ini. Pasien harus makan-makanan yang halus, nanti saya akan suruh suster yang mengaturnya. " Dokter.


" Baik, terimakasih Dokter, " Kyai.


" Sama-sama, mari Kyai, ustadz, " Dokter yang hendak melangkah pergi.


" Iya Dok, mari. " Kyai.


"Terimakasih Dok, " ustadz Mustafa.


Dokter mulai melangkah pergi...


" Ayo Kyai, kita lihat Akmal, " ustadz Mustafa.


Kyai menganggukkan kepalanya.


" Ayo, " Kyai.


Akmal terbaring sangat lemas tidak berdaya dengan infus di tangan kanannya dan juga oksigen yang terpasang di hidung Akmal. Kyai mendekati Akmal dan duduk di kursi yang ada di samping kasur Akmal, ia terus memandang Akmal yang masih terpejam matanya.


" Cepat sembuh nak, kami sangat ingin melihatmu kembali ceria seperti dulu." Kyai sembari mengelus-ngelus kepala Akmal. Mata Kyai dan ustadz Mustafa yang merah akibat kurang tidur terlihat berkaca-kaca mereka tidak bisa melihat santrinya yang terbaring lemah.


Ustadz Mustafa perlahan mendekati Kyai yang terus mengelus-ngelus kepala Akmal.


" Maaf Kyai, sebaiknya kita juga harus melaporkan ini kepada orang tua Akmal karena, bagaimanapun juga mereka harus tau keadaan Akmal yang sebenarnya, mereka bisa mendoakan Akmal supaya Akmal bisa sembuh. " ustadz Mustafa yang berdiri di samping Kyai.


Kyai kembali memandang Akmal yang sangat pucat.

__ADS_1


" Kamu benar, nanti saya yang akan bicara kepada orangtua Akmal. Mereka akan saya jemput untuk kerumah sakit, kasihan Akmal kalau tidak ada orangtuanya di sisinya yang bisa menguatkan Akmal. " ucap Kyai dengan suara yang mulai serak.


Ustadz Mustafa yang mendengarkan setuju dan menganggukkan kepalanya.


" Iya Kyai, sehabis subuh nanti kita beritahu keadaan Akmal kepada orangtuanya. " ustadz Mustafa.


Kyai mengangguk pelan beberapa kali. Ustadz Mustafa mulai duduk di samping Kyai untuk ikut menjaga Akmal.


Jam terus berputar, arah jarum jam tepat menunjukkan pukul 02.00 pagi tapi Akmal masih belum sadar.


Kyai terus mengucap dzikir dan doa di samping Akmal sesekali ia juga mengelus-ngelus kepala Akmal sementara ustadz Mustafa hanya bisa berdoa dan menunggu Akmal agar cepat sadar.


Tidak lama kemudian di menit kesepuluh Akmal mulai membuka matanya perlahan ia melihat Kyai dan ustadz Mustafa yang sedang menjaganya. Akmal mencoba untuk berbicara sembari menahan rasa sakitnya.


" Kyai, " ucap Akmal dengan suara bergetar dan sangat pelan.


Seketika Kyai menoleh ke arah Akmal begitu juga dengan ustadz Mustafa yang mendengar suara kecil Akmal.


" Alhamdulillah, Akmal, kamu mau apa?, apa kamu haus, nak? " tanya Kyai kepada Akmal yang sangat lemas.


" Kyai, saya tidak kuat untuk bicara, tenggorokan saya sakit sekali. " ucap Akmal terbata-bata dan tidak jelas karena sakitnya rasa yang ia rasakan di tenggorokan yang membuat Akmal susah berbicara.


Ustadz Mustafa segera mengambilkan air minum ketika mengetahui Akmal kesakitan saat berbicara.


" Ayo nak, pelan-pelan." Kyai membantu Akmal bangun dan nembantu Akmal melepas oksigen yang terpasang di hidung dan mulut Akmal.


Ustadz Mustafa memberikan air itu dan membantu Akmal untuk minum, perlahan Akmal meminum air itu hingga rasa sakit yang ia rasakan cukup membaik.


"Bagaimana, nak?, apa masih terasa sakit?" tanya Kyai penuh perhatian.


" Alhamdulillah, sudah mendingan Kyai, daripada yang tadi. " ucap Akmal dengan suara yang bergetar.


" Sini gelasnya, biar ustadz taruh. " ucap ustadz Mustafa.


Akmal memberikan gelasnya dengan tangannya yang masih terpasang infus, ustadz Mustafa mulai menaruh gelas itu.


" Ayo nak, kamu istirahat lagi, ayo." Kyai.


Akmal menganggukkan kepalanya pelan dan kembali berbaring di kasurnya, Kyai kembali memasang oksigen Akmal dan mengelus-ngelus kepala Akmal dengan penuh kasih sayang. Melihat perhatian Kyai membuat Akmal terharu tanpa ia sadari air mata jatuh dan mulai membasahi pipinya, Akmal berusaha memejamkan matanya agar tidak merasakan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.

__ADS_1


_


_


_


_


_


Azmi mulai terbangun ia hanya tidur satu jam saat itu. Azmi mulai duduk untuk menenangkan dirinya. Azmi mengingat Akmal yang pingsan dan di bawa ke rumah sakit, Azmi juga mengingat ketika dirinya membersihkan hidung dan mulut Akmal yang terus mengeluarkan darah.


" Ya Allah, sembuhkanlah mas Akmal, hamba mohon Ya Allah, hamba ingin mas Akmal ceria seperti dulu lagi. Hamba ingin mas Akmal bisa hidup bahagia tanpa merasakan sakit yang ia rasakan saat ini. " ucap Azmi menadahkan kedua tangannya dan mengusap wajahnya setelah berdoa.


Azmi bangun dan melihat jam tangannya yang masih menunjukkan jam setengah tiga. Azmi memasang pecinya dan hendak pergi untuk mengambil air wudhu tetapi Ahkam yang melihat Azmi saat membuka pintu menghentikannya.


" Azmi, tunggu!" ucap Ahkam dengan suara berbisik.


Azmi menghentikan langkahnya dan memandang Ahkam. Ahkam bangun dan menyalakan lampu.


" Kalau kamu bangun, bangunkan juga teman-temanmu, ajak dia sholat tahajud sama-sama. " ucap Ahkam meletakkan tanganya sebentar di pundak Azmi.


" Maaf mas, Azmi salah, Azmi pikir nanti ganggu tidur mereka. " ucap Azmi.


" Tidak Mi, barang siapa yang mengajak temannya untuk sholat di sepertiga malam bersamanya, Allah akan memberi dia ganjaran yang lebih, jadi ayo, kita bangunkan teman-teman kita. " Ahkam.


Azmi mulai mengerti dan menganggukkan kepalanya.


" Iya mas, Azmi mau bangunin Aban dulu." Azmi.


Ahkam tersenyum memandang Azmi dan menganggukkan kepalanya. Ahkam mulai membangunkan Muhklis dan Azmi mulai membangunkan Aban.


Azmi dan Ahkam tidak perlu susah payah untuk membangunkan Muhklis dan Aban, karena mereka langsung bangun dengan beberapa pukulan pelan di pundak mereka, mereka segera duduk dan mengusap wajah mereka.


" Ayo bangun, kita sama-sama sholat tahajud. " Ahkam.


" Ayo Ban, " ajak Azmi kepada Aban yang masih mengusap-ngusap matanya.


Aban mengangguk dan mulai berdiri begitu juga dengan Muhklis yang ikut berdiri di samping Ahkam.

__ADS_1


Pada sepertiga malam itu, Masjid terlihat sudah ramai dengan para santri yang melaksanakan sholat tahajud begitu juga dengan Azmi, Ahkam, Aban, dan Muhklis yang melaksanakan sholat tahajud dengan sangat khusyuk ketika berdoa tidak lupa mereka semua mendoakan kesembuhan Akmal.


Bersambung....


__ADS_2