
Suasana pesantren sangatlah sepi jauh beda dengan hari-hari biasanya dimana suara-suara santri yang mengaji, berbicara atapun langkah kaki mereka meramaikan kawasan pesantren. Tepat setelah sholat isya' berjama'ah Azmi dan Aban turun dari Masjid hanya langkah kaki mereka yang terdengar.
" Pesantrennya sepi banget ya, Mi. Gelap banget lagi. " Aban.
" Iya, Ban. Biasanya jam segini masih ramai sama suara-suara santri yang mengaji. Aku jadi tau suasana pesantren tanpa santri, benar-benar jauh beda. Cuma ada suara jangkrik yang ngiringin langkah kita, " Azmi.
" Aku kok jadi takut, ya, Mi. Yang lain pada kemana, ya? " Aban.
" Yang lain sibuk sama urusan mereka masing-masing, tadi aku lihat mas Ahkam sama bang Muhklis masih ngobrol sama Ustadz Mustafa. Terus mas Ali, mas Udin sama mas Firman mereka masih ngobrol juga di Masjid, dan yang lain, gak tau pada kemana," jawab Azmi sembari melangkah bersama Aban hingga mereka terduduk di bangku panjang dekat kamarnya.
Aban terlihat tegang ia juga sedang menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
" Pakai jaket, Ban. Kalau kamu dingin, nanti masuk angin, lagi, " Azmi.
" Hmm, iya, Mi. Emang aku dingin banget, lo. Kamu gak dingin, apa? " tanya Aban kepada Azmi yang terlihat tenang-tenang saja.
" Enggak tuh, biasa aja. " jawab Azmi singkat.
" Ya udah, aku masuk kamar dulu, ambil jaket, " Aban.
" Oke, Ban. " Azmi mengacungkan jempolnya.
...*****...
Orangtua dan adik-adik Azmi masih menunggu kabar Azmi dari rumah. Azmi lupa untuk mengabarkan orangtuanya. Terlihat semua mengkhawatirkan keadaan Azmi hingga Aisyah datang bersama ibunya.
" Assalamualaikum, " Aisyah dan ibunya.
Ibu Azmi dengan segera membukakan pintu dengan wajah yang masih khawatir.
" Wa'alaikumsalam, " jawab ibu Azmi.
Aisyah segera menyalam tangan ibu Azmi tanpa disuruh.
" Eh, ada neng cantik. Udah pulang, ya? " ibu Azmi.
" Iya Ummi, Aisyah sudah pulang dari tadi, sebelum maghrib, " jawab Aisyah dengan penuh sopan santun suaranya juga sangat lembut.
__ADS_1
Aisyah memang sudah memanggil ibu Azmi dengan sebutan ummi mengingat Azmi adalah sahabat dekatnya.
" Lha, Azmi emang belum pulang, Mbak? Aisyah sama Azmi, kan satu pesantren." ucap ibu Aisyah.
" Nah, iya. Azmi kok belum pulang, ya? Saya khawatir sekali. Apa saya harus ke terminal? Takut Azmi kenapa-napa. " ibu Azmi dengan suara lirih.
" Aisyah tadi langsung dirumah tuh, Mbak. Sopir bus yang bawa Aisyah langsung berhenti di depan gang kata Aisyah, " terang ibu Aisyah.
" Coba ummi telepon dulu pihak pesantren," usul Aisyah.
" Oh, iya, ya. Saya coba telepon." ibu Aisyah.
Di waktu bersamaan, Azmi juga baru ingat kalau dia belum mengabari orangtuannya. Azmi meminjam handphone Ustadz Mustafa untuk menghubungi ibunya.
Dan benar, baru saja ibu Azmi mau menghubungi Azmi, adik Azmi ( Rara) sudah memberikan handphone ibunya yang sedari tadi sudah berbunyi. Dengan kaki kecilnya, Rara berlari, menghampiri ibunya yang mengajak masuk Aisyah dan ibunya.
" Ummi, ada telepon, " ucap Rara memberikan telepon yang ada di genggaman tangan mungilnya.
" Terimakasih, anak ummi yang pintar, " ucap ibu Azmi sembari mengelus-ngelus kepala Rara. Dengan anggukan dan senyuman Rara membalas sentuhan hangat ibunya.
Tidak lupa, ibu Azmi memberikan Aisyah dan ibunya duduk di sofa ruang tamu.
" Assalamualaikum, iya Ustadz, " ibu Azmi.
Mendengar ibunya yang memanggilnya Ustadz, Azmi tertawa kecil mengambil aba-aba untuk bicara.
" Wa'alaikumsalam, Ummi, ini Azmi. " jawab Azmi masih dengan senyum kecil di wajahnya.
" Ya Allah, Azmi. Ummi khawatir sekali sama kamu, Nak. Di sini Abah, sama adik-adik kamu nungguin kamu pulang. Aisyah juga ada di sini sama ibunya, kamu ada dimana, Nak? Kenapa belum sampai rumah?" tanya ibu Azmi kepada Azmi ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya yang tak kunjung sampai rumah.
" Iya, maaf Ummi. Azmi lupa ngabarin kalau Azmi gak jadi pulang karena ada sedikit masalah, tapi ummi gak perlu khawatir.." Azmi belum saja ia selesai bicara ibunya mendahului pembicaraan Azmi karena kekhawatirannya yang amat sangat kepada putranya.
" Ada masalah apa, Nak? Terus Azmi kapan bisa pulang? Ini adik-adik kamu udah nungguin kamu dari tadi sampai ketiduran. Ummi sama Abah juga kangen sekali sama kamu, Nak." Ibu Azmi.
Wajah Azmi mulai sedih mendengar ucapan ibunya yang sangat ia rindukan tapi dirinya tidak boleh lemah dan harus tetap tegar demi kesuksesan tim Syubban. Dengan suara ademnya, Azmi mencoba menenangkan ibunya dengan mencari alasan yang ia buat sendiri.
" Ummi gak perlu khawatir, Azmi baik-baik aja, disini. Azmi belum bisa pulang karena tim Syubban masih dapat undangan ke banyak acara. Jadi Azmi belum bisa pulang," ucap tegas Azmi walau ia dalam kesedihan.
__ADS_1
" Ooo begitu, Nak. Ya sudah kalau begitu, Ummi doakan semoga tim Syubban semakim sukses, ya. Kamu jaga kesehatan, jangan telat-telat makannya, Ummi gak mau lihat kamu kurus kalau kamu sudah sampai rumah, " ibu Azmi suaranya membuat Azmi tertawa kecil sembari mengusap-ngusap dahinya.
" Siap, Ummi. Salam buat semuanya, Azmi tutup dulu, ya. Assalamualaikum, " Azmi.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " ibu Azmi ia menutup teleponnya, rasa khawatirnya mulai reda.
Ibu Azmi melangkah menghampiri Aisyah dan ibunya yang sedari tadi menunggunya sembari berbincang.
" Gimana, Mbak? Itu tadi Azmi? " tanya ibu Aisyah.
" Iya, ternyata Azmi belum bisa pulang, dia harus menghadiri acara bersama dengan tim Syubbannya itu. Ya, semoga aja Azmi bersama teman-teman hadrohnya bisa mencapai apa yang mereka impikan." ibu Azmi.
" Aamiin, " jawab ibu Aisyah dan Aisyah walau dengan suara kecil.
Ibu Azmi mulai mencari pembicaraan dengan wajahnya yang tampak senang setelah mendengar suara anaknya tidak lupa ia memberitahu suami dan anak-anaknya tentang salam Azmi.
" Azmi sampai gak pulang demi tim Syubban. Aku juga tau kalau tim Syubban dalam posisi yang sulit tapi Azmi bohong kaya gitu pasti supaya ibunya gak khawatir." Aisyah dalam hati kecilnya.
...****...
Hafsah, Hamdi dan Mufti sudah datang. Mereka langsung menghampiri anggota Syubban yang sudah berkumpul tak lupa mereka menyalam tangan Kyai dan Ustadz Mustafa.
Setelah berbincang-bincang mereka memutuskan untuk segera berangkat ke tempat acara.
Malam yang menegangkan membuat Mufti harus tetap tegar dan siap untuk mengatakan segalanya begitu juga dengan anggota Syubban yang harus tetap tenang dan menjaga sikap mereka.
Dan benar saja baru sampai di tempat acara, tim Syubban sudah mendapat cacian, hinaan dan hujatan tapi untunglah Hamdi sudah mendatangkan polisi untuk mencegah masyarakat yang kebanyakan kaum hawa. Mereka terlihat sangat kesal kepada anggota Syubban dan tangan Azmi yang sempat di tarik sedikit terluka dan memerah.
Azmi mencoba sabar, mata tajammya mengawasi kaum hawa yang sedang menghinanya tapi ia menghela nafasnya sembari beristighfar agar tetap kuat dalam masa yang di hadapinya saat ini.
Ramainya suara jama'ah yang terus tidak menerima kehadiran tim Syubban membuat Mufti emosi dan ia segera naik kepanggung merampas mikrfon Hafsah yang masih hendak menyiapkan dirinya.
" Tolong semua, diam! Gue gak mau kalian ribut dan tolong berhenti menghina tim Syubban." sentakan Mufti membuat semua jama'ah terdiam dan mulai fokus kepada Mufti.
Hafsah juga segera naik ke panggung untuk menenangkan Mufti dengan mikrofon lain yang ia bawa.
Bersambung...
__ADS_1