Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 220 Senang Melihat Senyum Hafsah


__ADS_3

Malam ini, Hafsah berjalan sendiri setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia terlihat sangat letih dan memilih untuk duduk disebuah bangku taman dimana disana juga banyak orang yang berkumpul memilih tempat untuk bersilaturahmi bersama sanak keluarga mereka.


Suasana taman yang memang sangat indah mampu membuat letih Hafsah reda dan berkurang wajahnya yang cantik melukis senyuman manis saat melihat anak-anak kecil gemas yang bermain dan tertawa.


" Gemesh, banget anak-anak itu. Coba aja, aku bisa pulang kampung pasti bisa ketemu sama Adik-Adik sepupu aku yang lucu-lucu. Huft, jadi kangen mereka." Hafsah ia menghela nafasnya sambil menyenderkan tubuhnya dibangku berwarna putih itu.


Tangan kanannya yang bersender di tangan bangku memegangi bagian kepalanya sembari menenangkan dirinya. Tiba-tiba Hafsah teringat pada anggota Syubban terutama Azmi. Entah apa yang membuatnya khawatir dan tiba-tiba ingin menghubungi Azmi.


" Oh, iya. Azmi apa kabar, ya? Udah lama gak ketemu dia sama anggota Syubban yang lain. Jadi kangen sama mereka, " renung Hafsah mulai menegakkan tubuhnya dan meletakkan tangan kanannya pada dagunya sambil berpikir.


" Ah, coba aku hubungi dia aja. Kangen banget sama anak-anak Syubban." Hafsah sembari mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.


Pandangan Hafsah sekarang fokus pada handphonenya yang kini mengarah pada media sosial milik anggota Syubban. Begitu kagetnya Hafsah ketika ia mengetahui bahwa masih ada juga orang-orang iseng yang kerjanya hanya membully Azmi begitu juga dengan anggota Syubbannya.


Hal itu tentu berdampak buruk bagi anggota Syubban atau para fans mereka yang selama ini sudah begitu menyayangi mereka.


" Heran deh, kenapa masih ada aja orang kaya gini? Menilai seseorang dengan sisi buruk aja. Kasihan mereka, padahal polos-polos dan baik-baik banget." Hafsah ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali memandang layar handphonenya.


Bersamaan dengan itu, Mufti dengan teman-temannya juga sedang ada di taman itu. Mata Mufti mengarah kepada Hafsah yang terlihat sangat fokus pada handphonenya.


Melihat Mufti yang terdiam seperti itu membuat ketiga teman Mufti yang ada bersamanya bingung dan mengarah kemana dan kepada siapa yang arah mata Mufti memandang.


" Heh, bro! Lo ngelihatin apa, sih?" tanya Doni sembari melambaikan tangannya tepat pada wajah Mufti.


Mufti yang terkejut segera memalingkan pandangannya dari Hafsah dan menoleh ke arah Doni sembari mencari alasan agar dirinya bisa bertemu dengan Hafsah.


" Emmmm... Eh, ini kayanya udah malam banget, ya? Mendingan kita lanjut besok aja. Soalnya.. Eee.. Kakak gue pasti udah nungguin dirumah," Mufti.


Mendengar ucapan Mufti yang tidak biasa membuat ketiga temannya bingung dan saling pandang.


" Lo sehat, Muf? Tumben ngomong lo kaya anak pesantren gitu. Ya, gak? " ucap salah seorang teman Mufti yang heran dengan tingkah Mufti.


" Sehatlah, omongan itu bukan buat anak pesantren aja kali. Norak lo, udahlah kalian pulang aja. Masa gak mau kumpul sama keluarga di hari raya ini? Ya walau udah lewat beberapa hari, sih. " Mufti.


Lagi-lagi ucapannya itu membuat teman-temannya terdiam dan semakin heran tidak mengerti apa maksud Mufti.


" Ya elah, pakai bengong lagi. Besok gue jemput kalian pagi-pagi deh, kita seru-seruan sampai malam. Gimana? Gue yang traktir deh, " Mufti dengan gayanya yang sedikit sombong.


" Nah, ini gue demen nih." teman 1.


" Gue juga setuju banget kalau kaya gitu. Mantap nih, Muf. Ide bagus, " teman 2.


Doni masih terdiam menatap tajam Mufti seakan ia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Mufti lakukan.


" Don, ayo!" ajak salah satu temannya yang membuat Doni kaget dan menoleh ke arahnya.


" Iya, iya. Kalau gitu, Muf! Gue cabut dulu." Doni.


" Oke boskuh, sampai jumpa besok pagi." Mufti ia mulai melukis senyum karena akhirnya teman-temannya mau pulang.


Doni hanya mengangguk mengiyakan ucapan Mufti dan kembali melangkah bersama teman-teman yang lainnya.


Melihat langkah teman-temannya yang sudah menjauh untuk pulang, senyuman manis dan girang mulai tampak diwajah Mufti. Matanya kini mengarah pada Hafsah yang masih sendiri.

__ADS_1


Dengan gayanya, Mufti mulai mendekati Hafsah dan berdeham terlebih dahulu saat sudah tepat dihadapan Hafsah yang sedang terlihat sangat fokus pada handphonenya.


" Ehem, " Mufti.


" Salam dulu kali, gak usah banyak kebanyakan gaya." Hafsah.


" Oh iya, lupa. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ukhti." ucap Mufti sambil.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa?" tanya Hafsah.


" Gue gak dikasih duduk dulu, gitu? " Mufti.


Mendengar pertanyaan Mufti membuat Hafsah menoleh kearahnya. Mereka berdua saling tatap hingga beberapa lama.


" Ya udah, silahkan duduk." Hafsah ia memberi tempat untuk Mufti duduk disampingnya.


Saat Mufti mulai duduk disamping Hafsah, Hafsah sedikit menjauhkan dirinya agar tidak terlalu dekat dengan Mufti.


" Eh, lo ngapain? Kok ngejauh?" tanya Mufti yang heran dengan tingkah Hafsah.


" Gak boleh deket-deket, bukan mahramnya. Emang kamu mau ngapain? Ada perlu sama aku?" Hafsah.


" Eeee... Sebenarnya gak juga, sih. Tadi gue cuma kebetulan aja lihat lo duduk sendiri disini. Emang gak boleh gue disini?" Mufti.


" Gak papa sih, sebenarnya." Hafsah.


" Dari nada bicara lo, kelihatan banget kalau lo gak suka, ya. Gue disini. Oke, fine! Gue pergi aja." Mufti ia bangun dan hendak melangkah pergi.


" Mufti! " panggil Hafsah yang membuat Mufti seketika menghentikan langkah kakinya.


" Kamu baperan amat jadi orang. Aku cuma bercanda. Iya, iya. Kamu boleh disini nemenin aku, jangan pergi." Hafsah.


Permohonan Hafsah yang memintanya untuk tidak pergi membuat Mufti tersenyum lebar, wajahnya tampak berseri-seri, terlihat jelas kalau ia sedang senang.


Tapi Mufti berusaha untuk tetap menjaga sikapnya dan kembali bersikap seperti tadi sebelum ia menoleh dan membalikkan tubuhnya kepada Hafsah.


Mufti memandang Hafsah dengan tatapan begitu dalam dan begitu juga dengan Hafsah yang menatap Mufti dengan tatapan dalam.


" Kayanya lo gak pengen gue pergi, ya? Udah mulai suka?" Mufti dengan gayanya yang begitu percaya diri tentu membuat Hafsah berubah kesal kepadanya.


" Kepedean! Siapa juga yang suka? Kamu paling tuh, " Hafsah sambil kembali duduk dan memalingkan wajahnya.


" Kalau gue emang iya, " ucap Mufti dengan nada pelan dan kecil tapi tetap dapat terdengar oleh Hafsah yang duduk disampingnya.


" Hah? Apa kamu bilang? " tanya Hafsah.


Membuat Mufti menoleh ke arahnya terdiam kaku dengan mulut yang sedikit terbuka seperti hendak berbicara sambil mencoba berpikir alasan apa yang akan dia beri.


" Emang gue bilang apa? " Mufti dengan wajahnya yang begitu serius lalu memalingkan wajahnya.


" Tadi kayanya kamu ngomong sesuatu gitu deh, masa aku yang salah dengar? " Hafsah.


" Gak ada, gue gak ada ngomong apa-apa. Wah, telinga lo nih yang harus dicek. Takutnya ada apa-apa lagi, " Mufti.

__ADS_1


" Enak aja kalau ngomong." Hafsah ia kembali melihat handphonennya dengan tatapan yang sangat fokus.


" Lo ngelihatin apaan, sih?" Mufti.


" Kepo, ya? " ledek Hafsah membuat Mufti membuang muka.


" Terserah deh, " Mufti dengan nada ngambek.


" Kamu emang kaya anak kecil banget, ya. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah. Nih, aku lagi lihatin sosmednya Syubban terutama Azmi," Hafsah dengan jujurnya sambil memperlihatkan apa yang ia lihat.


Mufti hanya mengangguk kecil dengan wajah yang tetap tertekuk matanya juga sekilas menatap layar handphone Hafsah.


" Kangen gak, sih sama mereka? Sama suara 3A yang adem banget. Sama semua tim hadrohnya. Mereka apa kabar, ya?" Hafsah.


Mufti yang melihat Hafsah terlihat sangat rindu kepada tim Syubban yang memang sudah lama tidak jumpa mulai menampakkan ekspresi cemburunya.


" Kangen amat lo sama mereka? Emang mereka kangen apa sama lo? Mereka itu udah jadi artis, udah sukses. Gak bakalan ingat sama lo, apalagi sama gue." ucap Mufti membuat Hafsah yang sedari tadi menatap handphone terdiam dan menoleh ke arah Mufti.


" Syirik aja kamu, Muf! Aku kenal banget sama mereka, mereka gak mungkin kaya gitu. Sesukses apapun mereka, mereka itu tetap hanyalah seorang santri. Itu yanh pernah Azmi bilang sama aku," Hafsah.


" Emangnya ada yang lo suka dari anak-anak Syubban itu? " Mufti.


Hafsah tersenyum sambil mengangguk kecil membuat Mufti kaget dan dengan spontan bertanya dengan begitu antusias.


" Siapa? Lo suka sama siapa, Haf? Azmi? Ya elah dia masih bocah, masa lo suka sama Azmi." sambar Mufti.


" Apaan, sih? Bukan itu Mufti," Hafsah.


" Bukan Azmi? Terus siapa?" Mufti.


" Susah ya, ngomong sama kamu. Maksud aku, aku emang suka sama mereka semua. Suka sama cara mereka bicara, adab mereka sama guru-guru atau orang yang lebih tua. Aku itu udah anggap mereka semua keluarga, ya, walau aku gak dekat -dekat banget, sih." Hafsah.


" Oooo, gitu. Kirain," Mufti.


" Lagian aku kasihan sama mereka, kenapa masih aja ada orang yang iri dan bilang mereka munafiklah, bilang gedek sama merek? Bahkan ada yang sampai buat fitnah buat mereka." Hafsah.


" Biasalah, orang-orang kaya gitu cuma iri sama mereka. Tapi gue yakin kalau anak-anak Syubban itu hebat, sabar dan kuat. Mereka bisa ngadepin semua itu dengan kepercayaan diri yang melekat dalam tubuh mereka. Ya, gue juga ikut salut sama mereka. Karena gue tau sendiri gimana perjuangan mereka sampai bisa seperti ini." Mufti.


" Kamu benar, Muf. Sukses selalu deh buat mereka, " Hafsah.


" Gimana kalau kita undang aja mereka? Kayanya mereka sekarang udah gak sibuk-sibuk amatlah. Pasti mereka mau, " Mufti.


" Tapi gimana caranya, Mufti? Emang kamu ada hak buat itu? " Hafsah.


" Udah lo tenang aja, nanti gue ngomong sama Kakak gue. Gue juga kangen sih sama mereka. Walau gak secepatnya, ya sebelum mereka balik kepondok lah, kita bisa kumpul-kumpul bareng dulu. Ya, gak? " Mufti.


" Iya juga, ya. Semoga aja kita bisa ketemu sebelum mereka balik ke pesantren." Hafsah.


" Iya, tenang aja deh. Semua gue yang urus." Mufti ia terus meyakinkan Hafsah.


Hafsah mengangguk dan tersenyum padanya hal itu membuat Mufti memandang dalam Hafsah dengan penuh tatapan yang sangat dalam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2