Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 189 Membujuk Aisyah


__ADS_3

Aisyah melamun mengalihkan pandangannya pada Fitri yang sedang menunggu jawaban " iya " dari mulut Aisyah sendiri. Bola mata Aisyah berputar ke kanan dan ke kiri seakan dirinya masih sangat takut kalau hal buruk akan terulang lagi menimpa pada dirinya.


" Syah, gimana? Kamu mau, yah. Please, kamu harus bisa melupakan hal itu, Syah. Itu cuma masa lalu, kamu jangan menghindar tapi kamu harus bisa memperbaikinya, dan... Satu lagi, Azmi itu gak salah dia udah minta maaf sama kamu. Kamu harus bisa pelan-pelan maafin dia, hilangin pikiran negatif kamu sama Azmi, " ucap Fitri.


Aisyah berdiri dengan rasa yang gelisah dan ia melangkah sampai ke jendela kamarnya dan tepat di sampingnya ada meja belajar dimana disana terletak foto Akmal.


" Semua ini gara-gara Azmi, kamu gak ngerti yang aku rasain. Aku trauma, Fit. Semua orang nyorakin aku, semuanya lemparin aku, satu lagi aku sampai jatuh dan makin di hina sementara Azmi, apa yang dia lakuin waktu itu? Dia diam aja, gak ngomong apapun. Mukanya yang sok polos bikin aku.... Arghh, makin benci sama dia, " Aisyah ia bicara dengan penuh rasa kebencian dengan kedua tangannya yang mengenggam.


" Azmi, dia udah minta maaf sama kamu, Syah. Aku yakin waktu itu dia lupa sama lagu yang harusnya di bawa, " ucap Fitri ia bangun untuk menghampiri Aisyah dan menasehatinya.


" Minta maaf? Dia aja gak berani ngomong yang sebenarnya kalau lagu yang dia bawa itu salah. Lagian kalau dia lupa, kenapa dia gak nanya dulu sama aku? Kenapa dia langsung nyanyi kaya gitu? " Aisyah mengarahkan pandangannya kepada Fitri dengan tatapan mata bulatnya yang tajam.


" Iya, aku tau, Syah. Waktu itu Azmi, kamu, aku, masih kecil. Masih ada rasa takut, Azmi bilang sama aku, kalau dia benar-benar lupa sama lagu yang harus dibawain, dia juga udah bilang ke semua orang kalau ini bukan salah kamu. Kamu gak ingat dia selalu bela kamu? Dia selalu ngelindungin kamu, Syah." Fitri.


" Terus aja kamu banggain Azmi yang sekarang udah dikenal banyak orang. Kamu cuma terobsesi sama dia dan itu membuat Azmi dimata kamu benar terus, gak ada salahnya." tegas Aisyah.


" Gak gitu, Syah. Aku cuma mau bilang..." Fitri belum saja ia selesai bicara tapi Aisyah sudah memintanya untuk keluar.


" Udahlah, Fit. Aku gak mau dengar nama orang yang buat kuping aku makin panas." Aisyah.


" Syah, kamu dengarin aku dulu. Aku gak bermaksud gitu, Syah." Fitri ia menggenggam kedua tangan Aisyah yang sudah malas dengan memalingkan wajahnya tapi Fitri masih berharap kalau Aisyah mau mengisi acara itu bersama dengannya.


" Maaf, Fit. Untuk kali ini aku gak bisa, maaf. Sebaiknya kamu pergi dulu, " Aisyah ia melepas genggaman tangan Aisyah.


" Ya udah, kalau itu mau kamu, Syah. Aku pulang dulu, tapi aku masih sangat berharap kalau kamu mau berubah, kamu mau memaafkan Azmi, dan yang paling penting kamu mau ngisi acara itu, " Fitri tapi Aisyah sudah membalikkan tubuhnya untuk menahan rasa kebenciannya dan amarahnya.


Aisyah masih terdiam dengan kedua tangan yang memeluk dirinya sementara Fitri masih bersabar menatap dalam Aisyah.


" Aku pamit, Syah. Assalamualaikum." Fitri ia mulai melangkah pergi dari kamar Aisyah.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " Aisyah setelah Fitri sudah pergi ia kembali berbalik tubuh sembari menghela nafas.

__ADS_1


Aisyah duduk di kasurnya saat ia melihat foto Kakaknya yang terletak di samping tepatnya diatas meja belajar Aisyah langsung mengambil foto itu ia memandang dalam foto Akmal.


" Kak Akmal, Aisyah bingung harus apa. Apa Aisyah salah bersikap kaya gini sama Fitri dan juga masih dendam sama Azmi?" renung Aisyah mengusap-ngusap foto Kakaknya hingga tak terasa air mata jatuh dari pipinya, Aisyah memeluk erat foto itu sambil merenungi semuanya.


Fitri berjalan dengan perasaan kecewa wajahnya juga terlihat sangat sedih hingga Ibu Aisyah yang mengetahui hal itu langsung menghampirinya.


" Fitri, kamu kenapa? Kok mukanya ditekuk gitu, Aisyah ngomong apa, Nak? " tanya Ibu Aisyah sambil memegang kedua pundak Fitri.


" Tante, eeee... Itu, Aisyah gak mempan dibujukinnya. Dia masih aja gak mau ngisi acara, padahalkan niat aku baik kok, aku cuma pengen Aisyah menghilangkan traumanya itu, terus dia bisa memaafkan Azmi." Fitri menatap dalam mata Ibu Aisyah.


" Ya Allah, Aisyah. Kenapa dia keras hati banget? Emmm, kamu sabar aja, ya, Fitri. Nanti tante coba bilang sama Aisyah. Kalau ada omongan Aisyah yang gak baik tolong jangan dimasukkin ke hati, kamu tolong ngertiin dia, ya." Ibu Aisyah.


" Iya tante, Aisyah gak bilang apa-apa kok." Fitri sambil mengangguk.


" Makasih Nak, nanti tante yang nasihatin Aisyah, " Ibu Aisyah.


Fitri membalas dengan anggukan dan senyuman kecil.


" Kalau gitu Fitri pamit dulu, assalamualaikum." Fitri.


Fitripun melangkah pergi dari rumah Aisyah kini Ibu Aisyah yang sedih dengan sikap anaknya ia berpikir bagaimana cara agar Aisyah mau kembali bersholawat.


Kini anggota Syubban sudah berpindah tempat untuk menghadiri tempat lainnya yang mengundang mereka. Posisi mereka saat ini tepat berada di Jakarta. Setelah selesai dengan semua kegiatan, para anggota Syubban beristirahat bersama pada satu kamar luas yang sudah khusus disiapkan untuk mereka.


Azmi melepas pecinya dan merapikan rambutnya dengan kedua tangannya ia duduk di lantai bersama dengan yang lain.


" Wuh, capeknya," keluh Udin menyenderkan tubuhnya ke tembok.


" Nanti malam ada acara dimana?" tanya Azmi.


" Mbohlah, Mi. Kita lihat aja nanti, " jawab Ali mengarahkan pandangannya kepada Azmi.

__ADS_1


" Tau gak, tadi Azmi ditarik-tarik bajunya sama fansnya." Ahkam.


" Eh, emang iya, mas? Kok aku gak tau, " Aban.


" Kok bisa? Gimana ceritanya, Mi?" tanya Firman.


" Gak gimana-gimana, Mas." Azmi ia seakan enggan menjawab sekilas menatap teman-temannya sambil tersenyum kecil.


" Gak gimana-gimana opo'o, Mi? Iki bahaya lo, untung aja kamu gak terluka, " Udin wajahnya begitu serius dengan perasaan khawatirnya.


" Gak papa, mas. Aku gak papa, " Azmi.


" Aku tau, jadi Azmi itu kan mau turun terus ada ukhty-ukhty yang tiba-tiba narik-narik Azmi untung aja ada aku, terus aku bilang sama petugas keamanan." Muhklis.


" Terus-terus? " tanya Ahkam.


" Terus bang Muhklis yang ditarik-tarik bajunya, " Azmi.


" Benar bang Muhklis? " tanya Ali.


" Benar! Ya enggaklah, sopo yang mau narik-narik aku?" Muhklis membuat semuanya tertawa dengan ucapannya itu.


" Wes, aku capek'e. Gak papa kok, cuma ketarik gitu aja. Soalnya gini lo, yang aku tau, kan itu udah ada pembatasnya, kan? Terus aku itu mau izin turun, tiba-tiba saja saya terserang begitu saja." Azmi ia sedikit bercanda mencairkan suasana yang tegang.


" Untung saja anda tertolong, " sambung Ahkam.


" Yah, benar." Azmi mengacungkan jempolnya.


" Memang benar-benar, ya? Mereka semua gak mikir tentang keselamatan orang yang mereka fansnin apa? " Aban yang sudah merasa sangat kesal.


" Benar tuh, aku juga pernah lihat ada cewek nangis sambil teriakin nama Azmi. Itu kaya berlebihan gak sih? " sambung Ali.

__ADS_1


Semua anggota Syubban termasuk Azmi secara kompak menganggukkan kepalanya perlahan menatap Ali.


Bersambung....


__ADS_2