Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 139. Ngepel.


__ADS_3

Bel istirahat sekolah sudah berbunyi, seperti kata Ustadz Abdullah, Azmi dan Aban berjalan bersama menuju kantor. Namun terlihat Zakir yang sedari tadi penasaran mau kemana Azmi dan Aban terus mengikutinya dengan sengaja ia menumpahkan minuman yang menimbulkan lantai menjadi licin hal itu Zakir lakukan karena ia pikir Azmi akan melangkah di sana.


Tapi dugaan itu salah Azmi menghentikan langkahnya ketika ia melihat ada tumpahan es di lantai yang akan ia lewati.


Azmi dengan cepat menarik tangan Aban yang sedari tadi menghadap kedepan membuat langkah Aban terhenti dan menoleh ke arah Azmi dengan wajah kesal karena dihentikan dengan tarikan tangan keras.


" Ada apa sih, Mi? Narik-narik tanganku keras banget lagi, " Aban melepas keras tangannya dari genggaman erat Azmi.


" Tuh lihat ada es tumpah, kalau kamu lewat terus jatuh terus sakit kan, gak lucu, " Azmi memberitahu Aban pada tumpahan es yang ada tepat dihadapannya.


" Eh iya Mi, " Aban tersenyum kepada Azmi dan tiba-tiba memasang ekspresi bingung.


" Tapi kok bisa, ya? Pasti ulah Zakir, nih! " ucap Aban sangat yakin.


" Jangan seudzon Ban, positif thinking aja, siapa tau emang tadi ada santri yang gak sengaja jatuhin esnya, " Azmi.


" Kamu benar sih Mi, mubazir banget tuh esnya, kok bisa sih, jatuh? " tanya Aban memandang Azmi.


" Ya, mana aku tau Ban, " Azmi ia seketika pergi meninggalkan Aban tanpa pamit.


" Eh Mi, mau kemana? " tanya Aban berteriak pada Azmi yang terus berjalan.


" Bentar Ban," jawab Azmi berteriak dan terus berjalan.


Ternyata Azmi mengambil alat pel dengan semprotan pewanginya sekaligus untuk membersihkan tumpahan es itu.


" Ternyata, aku kira kamu mau ngapain? " ucap Aban terus mengawasi Azmi.


" Kalau gak di pel, nanti ada korban, kasihan Ban, " Azmi.


" Iya sih, Mi, tapi Ustadz Abdullah udah nunggin, gimana? " Aban kepada Azmi yang sedang sibuk mengepel.


Seketika tangan Azmi berhenti mengepel dan menatap ke arah Aban dalam.


" Oh iya Ban, gak baik buat guru nunggu, " Azmi.


" Nah, itu yang aku mau bilang, udah, nanti suruh yang lain aja, " Aban.


" Siapa? Gak boleh nyuruh-nyuruh Ban, atau gini aja deh, kamu kesana duluan bilang aja aku lagi ke kamar mandi, nanti aku nyusul, " Azmi.


" Mana boleh bohong Mi, dosa, " Aban.


" Ya udah, bilang aku lagi bersihin ini, gak lama kok, " Azmi.


Aban mengangguk mengerti dengan ucapan Azmi.


" Oke deh, kalau gitu aku duluan ya, " Aban.


" Iya, " Azmi.

__ADS_1


Sebelum pergi, Aban sempat menepuk 2 kali pundak Azmi yang tengah mengepel lalu pergi menuju kantor para Ustadz.


" Sok rajin banget Azmi, pakai di pel segala, lagi, " Zakir dengan perasan marah ia pergi menghampiri Azmi.


" Ngapain kamu, Mi? Udah jadi tukang bersih-bersih pesantren, ya? " ledek Zakir terus menatap Azmi yang sedang mengepel tumpahan es yang cukup banyak dan lengket.


Tidak ingin berdebat Azmi memilih diam dan terus melakukan pekerjaannya.


" Bisu, ya? Di tanyain gak jawab, " Zakir.


Mendengar perkataan Zakir, Azmi terhenti bekerja dan menatap Zakir dengan tatapan tajam.


" Bukannya bisu, tapi buang-buang waktu aja ngomong sama orang kaya kamu, " Azmi perkataannya sungguh membuat Zakir marah tapi Azmi malah tersenyum dan kembali mengepel.


" Maksud kamu ngomong gitu, apa hah? " Zakir mendekati Azmi.


" Masa gitu aja gak ngerti Kir, apa harus aku ngomong pakai bahasa inggris biar kamu ngerti? " Azmi menatap Zakir yang sedang berdiri di dekatnya.


" Arghh!!! Gak guna ngomong sama orang kaya kamu Mi!"Zakir ia hendak pergi begitu saja tapi lantai yang baru saja Azmi basahi dengan semprotan yang berisi cairan pembersih lantai yang wangi membuat Zakir terpeleset dan jatuh.


Azmi yang sedang mengepel seketika diam menatap Zakir sambil tertawa.


" Aduh, Mi, kamu sengaja, ya? Buat aku jatuh kaya gini!" sentak Zakir.


" Kamu aja tuh, yang gak hati-hati. Makanya kalau jalan jangan sambil es moci, " ledek Azmi ia tidak berhenti tertawa bahagia melihat Zakir yang jatuh kesakitan.


" Awas aja kamu ya, Mi! Sekarang kamu bisa ngetawain aku, tapi nanti aku pastiin aku yang akan ngetawain kamu! " ucap Zakir penuh kebencian.


" Masa, " ledek Azmi dengan santai.


Zakir semakin kesal dengan mengepal kedua tangannya ia menatap Azmi sangat tajam begitu juga Azmi yang malah tersenyum kecil miring ke kanan kepada Zakir walau tatapannya juga bikin ngeri.


Sudah sangat kesal dengan Azmi, Zakir segera melangkah pergi dengan langkah cepat. Azmi masih memandang Zakir yang terus berjalan sambil geleng-geleng kepala.


" Astagfirullah , Zakir, Zakir, semoga kamu cepat dapat hidayah, " Azmi ia kembali melanjutkan mengepel lantai hingga bersih.


__


__


__


Aban duduk dengan tegang tepat dihadapan Ustadz Abdullah yang terlihat sangat sibuk mengetik komputernya.


" Azmi lama banget, sih. " keluh Aban pandangannya sering kali mengarah ke luar pintu kantor berharap Azmi cepat datang.


" Kenapa, Ban? Kok kaya gelisah gitu," tanya Ustadz Abdullah yang melihat Aban terlihat gelisah.


" Hah? Ee, tidak Ustadz, lagi nunggu Azmi, lama sekali dia, " jawab Aban kembali menghadap ke arah Ustadz.

__ADS_1


" Gak papa, tunggu aja, paling sebentar lagi datang, " Ustadz Abdullah.


" Iya Ustadz, " jawab Aban mengangguk.


" Assalamualaikum, " ucap Azmi berdiri di depan pintu kantor.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Aban bersama semua Ustadz yang tengah bekerja di kantor.


" Panjang umur kamu Mi, sini Mi, " Ustadz Abdullah.


Azmi tersenyum sembari mengangguk lalu ia melangkah pelan duduk di samping Aban.


" Lama banget kamu Mi, " bisik Aban.


" Maaf Ban, ada masalah sedikit tadi, " jawab Azmi.


" Ada apa, Mi? " tanya Ustadz Abdullah mendengar suara Azmi yang berbisik kepada Aban.


Seketika Azmi menoleh ke arah Ustadz Abdullah dengan mulut yang sempat mangap dengan spontan lalu Azmi menundukkan kepalanya.


" Maaf Ustadz, kalau saya sudah buat Ustadz nunggu lama, " jawab Azmi dengan nada pelan.


" Tidak apa-apa Azmi, tadi Aban bilang kamu lagi ngepel, benar? " tanya Ustadz Abdullah.


Azmi menoleh ke arah Aban yang memalingkan wajahnya sembari berdehem " ehem" dengan tangan kanan yang menutupi mulutnya.


" Iya Ustadz, tadi ada tumpahan es. Takutnya ada yang jatuh nanti, " jawab Azmi.


Ustadz Abdullah tersenyum ia juga mengangguk pelan beberapa kali.


" Maaf Ustadz, sebelumnya ada apa, ya? Minta kita kemari. Apa kita melakukan kesalahan? " tanya Aban.


" Tidak Ban, saya menyuruh kalian kemari itu untuk meminta agar kalian mengaji pada saat perpisahan nanti, " Ustadz Abdullah.


Mendengar hal itu Azmi yang tadinya menunduk, kaget dan mengangkat kepalanya begitu juga dengan Aban yang sekilas memandang Azmi.


" Kita Ustadz? " tanya Aban meyakinkan.


" Iya, kenapa? Kalian keberatan? Suara kalian bagus lo, semua Ustadz dan Kyai sendiri juga setuju kalau nanti kalian yang mengaji, " Ustadz Abdullah.


" Tapi Ustadz..." Aban.


" Baik Ustadz, kita siap!" jawab Azmi tegas memotong pembicaraan Aban.


" Alhamdulillah, terserah kalian mau baca surat apa saja, yang penting bacanya 1 orang 1 halaman, mengerti? " Ustadz Abdullah.


" Mengerti Ustadz, " jawab Azmi dan Aban setelahnya walau Aban masih terlihat canggung.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2