Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 117. Ada Apa Dengan Azmi??


__ADS_3

Aban dan Azmi duduk santai di depan kamar mereka terlihat siap untuk ke sekolah dengan mengenakan seregam Madrasah berwarna hijau gelap sedikit ada corak batiknya yang membuat para santri yang masih Madrasah terlihat rapi dan keren.


Azmi terus memandang Aban yang terlihat sakit flu, tidak sedikit juga dari anggota Syubban yang pilek karena kelelahan dengan aktivitas kemarin, walau Azmi merasa pusing tapi dia lebih khawatir dengan keadaan sahabatnya.


" Ban, kamu gak papa? Beli obat yok, " ucap Azmi memandang fokus Aban.


Seketika Aban yang terlihat sakit menoleh ke arah Azmi sambil tersenyum dengan suara yang serak ia berbicara kepada Azmi.


" Gak usah Mi, aku emang selalu kaya gini kalau kecepek'an entar juga sembuh, " Aban.


" Serius kamu Ban? Kalau kamu sakit, udah istirahat aja, nanti aku yang izinin, " Azmi.


" Azmi, kalau aku diam aja, sakitnya gak cepat sembuh, tapi kalau aku sekolah pasti lebih cepat sembuhnya. " jelas Aban.


Azmi tersenyum dan mengangguk.


" Ya udah Ban, " Azmi.


" Assalamualaikum, " Rifki yang datang dan berdiri di samping Azmi.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Aban dan Azmi yang tidak mau menoleh ke arah Rifki.


Dengan melihat tingkah Azmi, Rifki sadar atas kesalahannya ia menghela nafasnya dan perlahan duduk di samping Azmi.


Memang Azmi sangat kecewa dengan kedua sahabatnya ia juga sempat sakit hati atas perkataan Rifki dan para senior yang lain, tapi Azmi tidak pernah membenci siapapun ia bukan seorang pembenci bahkan dia sudah memaafkan Zakir yang tidak ikhlas meminta maaf kepadanya. Sekarang Azmi hanya mengerjai Rifki yang merasa sangat bersalah kepada Azmi.


" Azmi, aku tau kamu pasti sakit hati sama ucapan aku, aku minta maaf ya, Mi. " Rifki memohon agar dirinya di maafkan.


" Kamu ingat lagi Ki, dulu kamu bilang aku munafik terus kamu bilang aku yang udah bohongin kalian, dan... Ah, udahlah! Gak ada gunanya juga ingat-ingat omongan orang yang cuma bikin sakit hati, " Azmi tanpa enggan menoleh ke arah Rifki.


" Aku sadar Mi, aku memang udah ngomong yang enggak-enggak soal kamu, maafin aku Mi, " Rifki.


Bel sekolah berbunyi, terlihat para santri baik Mts maupun Ma berjalan beramai-ramai menuju sekolah yang ada di dalam pesantren.

__ADS_1


" Ayo Ban, " ajak Azmi kepada Aban, matanya tetap tidak ingin menatap Rifki dan ia pergi begitu saja menuju Madrasah.


" Ayo Ki," ucap Aban dengan nada pelan kepada Rifki, Rifki hanya mengangguk dan memandang langkah Azmi dan Aban setelahnya.


Rifki yang tinggal sendiri merasa sedih ia sangat kecewa dengan dirinya atas kesalahan yang ia buat pada Azmi, Azmi adalah sosok orang yang sangat ceria ia selalu bisa membuat Rifki dan Aban tertawa dengan lawakan yang Azmi buat.


" Gak biasanya Azmi kaya gini, pasti dia sakit hati banget sama omonganku waktu itu, aku memang bukan sahabat yang baik," Rifki menghela nafasnya dan menunduk sehingga ada salah seorang santri yang meneriakinya.


" Ki, cepetan berangkat! " teriak salah seorang santri yang merupakan teman sekelas Rifki.


Rifki akhirnya berjalan dengan wajah kusam juga lemas karena ia merasa sangat sedih melihat Azmi yang kecewa pada dirinya.


Suasana pesantren tepat pada jam 07.00 terasa sangat ramai dengan suara para santri yang tengah belajar dan para calon Ustadz yang juga sedang sekolah.


Di luar memang sepi tapi di dalam kelas sangat ramai, dengan para santri yang belajar mendengarkan Ustadz mereka.


...*********...


Azmi dan Aban tengah berbincang dengan sangat serius dengan gaya bicara Azmi yang terlihat seperti orang cerdas dan gerakkan tangannya, Azmi menjelaskan apa yang ia inginkan untuk kesuksesan tim Syubban, sementara Aban sembari menikmati makanannya ia sangat fokus mendengarkan Azmi dan sesekali ia mengangguk pelan beberapa kali menandai ia sudah paham dengan apa yang Azmi maksud.


Aban tersenyum senang melihat sahabatnya terus berusaha untuk kesuksesan tim Syubban.


" Oke Mi, aku ngerti sama apa yang kamu bilang, tapi kita kan masih Mts, mana boleh tentang cinta-cintaan, masih kecil Mi, " Aban memandang Azmi serius.


" Iya Ban, kamu benar. Tapi, coba deh pikir apa yang paling disukai oleh semua orang? Apa yang buat mereka lupa akan segalanya? Dan, apa yang buat mereka rela melakukan apa saja demi mendapatkanya? Cinta, Ban! Semua karena cinta, kita juga cinta sama Nabi Muhammad dan kita menunjukkan itu dengan sholawat, ya gak? " Azmi.


Aban kembali mengangguk pelan beberapa kali.


" Benar sih Mi, emang kamu pernah jatuh cinta? " tanya Aban dengan wajah lugunya membuat Azmi yang sedang minum tersedak dan batuk.


" Kenapa, Mi? Kok malah batuk? " Aban tertawa kecil.


" Kamu Ban, nanya nya kaya gitu, mukanya serius banget lagi, " Azmi menatap Aban.

__ADS_1


Aban tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


" Apa salahnya sih? Kan siapa tau? " ledek Aban.


" Udah tanya sama mas Ahkam aja, aku tau dia sering banget nulis di bukunya itu tentang cinta-cintaan, " Azmi.


" Oh iya, Mi! Bahkan di samping-samping buku kitabnya ditulisin tentang cinta, " Aban membuat Azmi tertawa mendengarnya, Abanpun juga ikut tertawa.


" Hush, wes toh Ban, jangan ghibah, " Azmi sembari menahan tawanya.


" Ya maaf, " jawab Aban singkat dengan senyuman manisnya.


Dari kejauhan, Rifki melihat Azmi dan Aban yang asyik makan tanpa kehadiran dirinya walau ia sangat sedih, tapi Rifki berusaha tegar dan melangkah maju mendekati mereka.


" Assalamualaikum, Azmi, Aban, kalian tumben gak ngajak aku ke kantin bareng, aku duduk ya, " Rifki hendak duduk.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Aban yang menoleh ke arah Rifki dan Azmi yang bangun hendak pergi.


Mengetahui wajah Azmi yang kembali kusam, Rifki menarik tangan Azmi dan menghentikan langkah Azmi.


Azmi melepas genggaman Rifki dengan keras.


" Ban, aku ke kelas dulu ya, " ucap Azmi hanya kepada Aban.


Aban tidak menjawab dan merasa kasihan dengan Rifki yang sedari tadi di acuhkan oleh Azmi.


" Ban, Azmi masih marah ya, sama aku? Tapi kalau dia maafin Zakir, kenapa dia gak maafin aku? " tanya Rifki duduk di samping Aban.


Aban menghela nafasnya keras dan menoleh ke arah Rifki.


" Ya, begitulah Azmi, dia itu misterius! Mending kamu samperin lagi Ki, siapa tau berubah pikiran lagi, " Aban.


" Kalau gitu, aku samperin Azmi ya, assalamualaikum, " Rifki berlari ia terlihat sangat terburu-buru mengejar Azmi dan Aban hanya bisa memadang langkah Rifki yang semakin menjauh.

__ADS_1


" Wa'alaikumsalam, Mi, Azmi, jek driye nah (jahil banget)." Aban menggelengkan kepalanya beberapa kali dan kembali melanjutkan makannya.


Bersambung...


__ADS_2