Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 169. Welcome to Bandung


__ADS_3

" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Kyai.


" Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, " jawab serentak anggota Syubban.


" Saya ingin kalian memberikan penampilan yang terbaik, tetap jaga adab kalian, berlaku tetap seperti seorang santri. Satu lagi, saya ingin kalian tidak sombong atas apa yang sudah kalian capai saat ini," Kyai.


" Baik, Kyai. " jawab anggota Syubban yang masih dengan barisan rapi mereka.


" Hamdi, Hafsah dan Syafiq meminta kita langsung ke Bandara, mengetahui daerah yang kita tempuh sangat jauh, " Ustadz Mustafa.


" Pak sopir, kita langsung ke Bandara, segera." Kyai.


" Nggih, baik Kyai. Mari, " sopir.


" Ada yang naik mobil Ustadz ya, biar gak sesak nanti, " Kyai.


" Baik Kyai, " jawab semua anggota Syubban.


Satu-persatu mereka masuk ke dalam mobil Kyai dan juga Ustadz Mustafa yang terparkir bersebelahan.


" Terus mobil Kakak gimana nanti? " tanya Mufti.


" Udah, nanti ada teman Kakak yang bawa, ayo naik, " Ustadz Mustafa.


" Oooh, oke deh kalau gitu, " Mufti.


Kendaraan sudah menyala semua dan mereka siap berangkat. Dengan mengucap basmalah dan doa mengharapkan keselamatan sampai tujuan.


Sampai sudah mereka di Bandara dan benar saja, teman Ustadz Mustafa datang untuk membawa mobilnya.


Para anggota Syubban merasa tak menyangka bahwa mereka akan seperti ini bahkan di Bandara banyak yang datang dan mengerumuni mereka.


Pandangan mereka tetap menunduk walau nama Azmi, terus dipanggil. Ahkam tak bisa berkata apapun ia sempat melihat banyaknya masyarakat yang sudah melingkar dan mengarahkan pandangan kepada mereka. Teriakan nama Aban juga hadir membuat suasana semakin ramai, Aban sempat tersenyum membalas para penggemarnya.


" Maaf ya, kita harus berangkat. Ayo, ayo, " Hafsah walau ia perempuan tapi dia bertugas sangat besar dalam menjaga anggota Syubban dari kerumunan begitu juga dengan Hamdi, dan Mufti sementara Syafiq dan Ustadz Mustafa siap menjaga Kyai layaknya seorang prajurit.


Dengan badan mungilnya, Hafsah terjatuh akibat dorongan orang banyak yang sangat histeris melihat anggota Syubban yang viral saat ini. Untungnya, Mufti dengan sigap menopang tubuh Hafsah dengan kedua tangannya.


Suasana diantara mereka berdua menjadi hening seketika dan detak jantung mereka berdebar kencang saat saling pandang.


" Lo, gak papa? " Mufti matanya sangat dalam menatap wajah Hafsah.


" Astagfirullah, " Hafsah ia segera berdiri dan memalingkan wajahnya.


" Iya, aku gak papa. Makasih, " Hafsah.


Seakan mulut Mufti terkunci untuk bicara, Mufti hanya bisa tersenyum dan mengangguk.


" Maaf, mbak. Permisi, tolong minggir ya, " Hafsah melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam pesawat.

__ADS_1


Mufti kembali tersenyum memandang langkah Hafsah dan siap menjadi pelindungnya terus menjaga Hafsah dari belakang.


Mereka semua sudah duduk rapi di dalam pesawat yang sudah terdapat cukup penumpang, dua Pramugari juga bertugas mengamankan dan memberi pemberitahuan kepada para penumpang.


" Masya Allah, ayu tenan'e, " Udin bukannya menjaga pandangan ia khilaf menatap fokus pramugari cantik yang ada di hadapannya.


Ali yang mengetahui hal itu segera menutup kedua mata Ali menggunakan tangan kanannya.


" Lepas, Li. Kenapa, sih? " Udin yang kesal segera melepas tangan Ali yang menghalangi pandangannya.


" Jaga pandangan, Din. Lihat yang lain, semuanya nunduk, kamu malah natap mbak Pramugari kaya gitu. Istighfar, Din." Ali.


Udin sadar akan kesalahannya dan melihat Azmi, Aban, Ahkam dan Mukhlis yang menunduk begitu juga dengan Firman yang duduk paling pojok.


" Astagfirullah, iyo, Li. Aku lali ( lupa). Makasih udah ngigetin, " Udin ia tak lagi berani menatap Pramugari dan berusaha menjaga pandangannya.


" Iya, sama-sama, " Ali.


Azmi terlihat sedang berdoa dengan sangat khusyuk selesai berdoa ia mengusap wajahnya.


" Aamiin, " Azmi dan Aban yang juga ikut mengaminkan.


Mendengar suara Aban, Azmi menoleh dan tersenyum kepada Aban yang juga tersenyum kepadanya.


...****...


Ba'da isya' para anggota Syubban sudah bersiap dengan seragam mereka yang berwarna biru berkombinasi dengan warna putih. Mereka terlihat sangat keren dan ganteng apalagi Azmi yang sudah siap duduk bersama Aban dan Ahkam berlatih mengecek suaranya.


" Kali ini kita harus lebih semangat! Jaga kekompakan kita, oke, " Ali.


Anggota mengaguk beberapa ada yang menjawab penuh semangat.


" Tim Syubban, ayo siap naik ke panggung!" Hafsah.


" Iya, Kak. Ayo mas-mas, " ajak Azmi.


Bersama-sama anggota Syubban saling tos untuk menyemangati satu sama lain.


" Bismillah, " Azmi.


" Allahumma Shalli Ala'ih Muhammad. " seru Ali.


" Ya rabbi shalli ala'hi wasallam, " jawab serentak semua anggota Syubban termasuk Azmi yang menyematkan senyum manisnya senang melihat semangat teman-temannya.


Mereka melangkahkan kaki bersama menuju panggung yang akan digunakan mereka untuk sholawat.


Kyai dan Ustadz selalu memberi mereka semangat dari balik panggung kepada seluruh anggota Syubban.


Anggota Syubban melangkah cepat sembari menunduk begitu juga dengan Azmi yang berada dalam barisan tengah. Tangan-tangan jama'ah hendak menggapai mereka yang berjalan pada tengah jalan yang sudah terpasang batas pengaman di dua sisi dan sejumlah polisi yang berjaga untuk keamanan.

__ADS_1


Tabuhan rebana mulai terdengar dan teriakan dari bawah panggung terus menggema ditelinga mereka. Ribuan jama'ah hadir meramaikan suasana kota Bandung saat itu. Azmi hanya tersenyum menerima sorakan yang terdengar histeris berkali-kali menyebut namanya sesekali pandangannya kedepan melihat begitu banyaknya jama'ah dan kembali menundukkan kepalanya.


Tangan Azmi memutar-mutar mikrofon bersiap menunggu gilirannya untuk suara. Masih Aban yang bersholawat dengan suaranya yang adem selanjutnya Ahkam dengan lantunan sholawat yang enak didengar. Saatnya Azmi menunjukkan suara lantangnya begitu histeris para jama'ah ketika Azmi bersholawat.


Hafsah sangat asyik merekam aksi tim Syubban mengacuhkan Mufti yang berdiri disampingnya.


" Gak pegel tuh tangan, ngerekam mereka mulu," Mufti.


" Hush, ganggu aja sih, kamu." Hafsah.


Mufti tak bisa melakukan apapun ia hanya menghela nafasnya dan kembali mengarahkan pandangannya kepada tim Syubban.




" Biasa kali, histeris banget cewek-ceweknya. Arghh!!" Zakir ia terlihat sangat kesal setelah melihat video live sholawat Syubban saking marahnya ia meletakkan handphonenya dengan sangat keras.



" Kok ngamuk, Kir? Ada apa, sih? " tanya Dimas yang baru saja datang dengan menggunakan baju koko dan pecinya ia duduk di samping Zakir masih menyempatkan mengambil camilan.



" Malas banget lihat, youtube, ig, sampai story wa, bahasnya Azmi mulu. Apa sih hebatnya dia? Menurut aku suaranya itu biasa aja, gak ada bagus-bagusnya, terus mukanya juga pas-pasan. Gak ada ganteng-gantengnya, " Zakir wajahnya terlihat sangat kesal.



" Iri kamu sama dia? Udahlah, Kir. Kamu gak usah insecure sama Azmi, dia emang pantas dapatin itu, suaranya bagus kok, dan emang mukanya ganteng, harusnya kamu bangga sama dia, kamu kan temannya." Dimas.



" Ganteng dari mana, Kak? Suaranya merdu darimana coba? Gak banget banggain orang kaya dia, " Zakir.



Dimas menoleh ke arah Adik sepupunya yang sangat membenci Azmi sangat tidak suka jika Azmi terkenal ditambah dia sudah bermentar buruk di chanel Syubban karena emosinya.



" Kir, jangan sampai gara-gara kamu iri sama Azmi, kamu berperilaku yang buruk tanpa mikirin dulu akibatnya kaya fitnah Azmi waktu itu, " Dimas.



" Terserah, aku benci banget sama tuh, anak. Sok suci, dasar munafik!" Zakir ia pergi begitu saja meninggalkan Dimas sendirian.



" Dibilangin yang benar juga, " Dimas ia sudah lelah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Adik sepupunya.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2