Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 184. Pergi Untuk Sholawat


__ADS_3

Aisyah termenung meratapi kepergian Azmi yang sudah tidak terlihat lagi, hanya mereka berdua yang masih ada di halaman Azmi dengan langkah pelan mereka pergi dan Fitri yang menutup pintu gerbang rumah Azmi.


Aisyah tertunduk ia seakan memikirkan tentang Azmi dengan kembali mengangkat kepala, menghela nafasnya dan menegakkan tubuhnya.


" Syah, kamu kenapa, sih? Lagi, mikirin tentang Azmi, yah? Udah ngaku aja deh. Gak usah malu, kita kan best friend. Iya emang, sih. Kayanya Azmi baru bentar pulang terus udah pergi lagi, sayang banget aku belum bisa foto sama dia, " Fitri.


" Astagfirullah, Fit. Kamu ngomong apa, sih? Daripada kamu mikir yang enggak-enggak mending kita pulang aja, ayo." ajak Aisyah.


" Nah, ini, nih. Ciri-ciri orang yang mengalihkan pembicaraan, " Fitri.


" Kalau kamu mau nungguin Azmi, ya udah diam aja disini sampai dia datang, aku mau pulang, assalamualaikum." Aisyah dengan nada ketus wajahnya juga sudah sangat kesal kepada Fitri ia pergi dengan langkah yang tergesa-gesa.


" Wa'alaikum, eh, Syah! Tunggu! Ya elah, cepat banget ngambek tuh, anak. Emang omonganku ada yang salah, apa? Syah, tunggu! " Fitri ia terus meneriaki Aisyah agar mau berhenti tapi langkah Aisyah malah semakin cepat sama sekali enggan mendengarkan Fitri terpaksa Fitri harus berlari agar sampai dan tidak ketinggalan Aisyah.


Azmi terlihat melamun dengan ekspresi yang datar memandang keluar kaca mobil Naufal yang menyadari hal itu memberi pertanyaan pada Masnya.


" Mas, Azmi? Mas kenapa? Berat ya? Soalnya Mas udah gak bisa ketemu sama Mbak Ais," Naufal ucapannya membuat Ummi dan Abah yang mendengar terkejut.


" Hushhh! Ngomong opo, toh?" tegur Azmi memukul pelan lengan Adiknya.


" Kenapa le? Mas Azmi berat sama siapa?" tanya Ummi.


" Itu, Mmi. Sama.." Azmi segera menutup mulut Adiknya agar tidak lagi bicara yang tidak-tidak tentang dirinya.


" Gak ada kok, Ummi. Azmi cuma berat ninggalin kalian semua, " Azmi masih menutup mulut Adiknya.


" Bukannya, tadi Mas Naufal bilang berat sama Mbak Ais." ucapan Rara membuat semua orang terkejut apalagi Azmi yang merasa sudah kalah dan ekspresinya sungguh panik dan lucu.


" Benar itu, Nak? Kamu masih kecil, nyantri dulu yang benar. Jangan mikirin cewek tok, hafalannya dijaga." Ummi menoleh ke belakang menatap ke arah Azmi.


Wajah Azmi yang panik keluar keringat dingin seakan sulit untuk bicara dan memandang Umminya.


Untuk mencairkan suasana Azmi nyengir memberi tawa manisnya pada Ummi ia juga sempat memandang kedua Adiknya yang tersenyum kepadanya.


" Enggak, Ummi. Dek Naufal cuma bercanda, Insya Allah, Azmi tidak akan memikirkan wanita, " Azmi meyakinkan Ummimya.


" Yo wes, Ummi percaya sama kamu. Semoga anak-anak Ummi menjadi anak yang soleh-soleha dan bisa melawan hawa nafsunya, terhindar dari semua perbuatan maksiat," Ummi.


" Aamiin, " jawab semuanya dengan serentak termasuk Abah yang sedang menyetir sambil tersenyum kecil.


Sampailah mereka pada Bandara dimana Azmi sudah siap berangkat untuk kembali bersholawat bersama tim Syubband. Sebelum Azmi masuk semuanya pemberi pelukan hangat untuk Azmi. Kedua Adiknya mencium tangan Azmi mereka harus bisa melepaskan Masnya yang akan pergi.


Ummi memberi kecupan pada kening Azmi, orangtua Azmi memberikan doa terbaik untuk Azmi.

__ADS_1


" Nanti, kalau sudah sampai ingat kabari kami. Jangan pernah tinggalkan sholat, satu lagi, pikirlah yang Mas rasakan saat ini dan jangan berpikir tentang kami, Ummi gak mau, Mas malah sedih dan gak fokus untuk tujuan Mas, " Ummi.


" Kami pasti baik-baik saja, jaga dirimu baik-baik, Nak." Abah.


" Mas Azmi sering-sering kasih kabar, ya." Rara.


" Jangan lupa makan yang banyak Mas, biar gak kurus, " Naufal.


" Iya. Terima kasih, Ummi, Abah, dan kedua Adik Mas, Azmi berangkat dulu ya, " Azmi.


" Eh, tapi.. Mas Azmi kan udah jadi orang terkenal, nanti kalau ada yang minta foto, gimana? Terus malah ngejar-ngejar Mas Azmi, kan ngeri, " Naufal.


Ummi tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


" Ummi sama Abah sudah mikirin tentang hal itu, Mas Azmi pakai ini Mas, " Ummi memberi kaca mata hitam dan sorban berwarna hitam putih.


Perlahan Azmi menerima itu dengan kedua tangannya.


" Azmi pakai ini? " tanya lagi Azmi memandang pemberian Umminya dan kembali memandang Abah dan Ummi.


" Ya, iya. Ummi kasih itu buat dipakai, wes, cepat dipakai itu, biar gak ada yang ngenalin kamu, nanti kamu kalau sudah sampai Bandara kamu cari atau hubungi arek-arek Syubban bilang kalau kamu sedang menyamar," Abah membuat semuanya tertawa termasuk Azmi yang mengangguk pelan.


Azmi mulai memakai kaca mata hitamnya dan melebarkan sorbannya yang sudah dilipat menjadi segitiga dipasang di atas pecinya sampai menutup wajah Azmi.


" Bukan, Dek. Mas Azmi ganteng kaya orang arab gitu, " Naufal.


Azmi hanya bisa tertawa begitu juga dengan Abah dan Ummi yang melihat penampilan Azmi.


" Ya udah, Mmi, Abah, Azmi berangkat dulu," Azmi segera menyalam tangan Ummi dan Abahnya. Kedua Adik Azmi juga mencium tangan Azmi.


Rara tak bisa menahan ia langsung memeluk erat Azmi dengan tangan kecilnya hal itu membuat Azmi juga ikut sedih tapi ia berusaha tegar sambil mengelus-ngelus kepada Dek Rara.


" Udah, Dek. Mas Azmi gak akan lama, keburu pesawatnya terbang lo," Ummi mencoba melepas pelan Rara yang memeluk erat Azmi.


Akhirnya Rara juga bisa melepas pelan pelukannya.


" Assalamualaikum, " Azmi ia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan keluarga kecilnya menuju naik ke dalam pesawat.


Keluarga Azmi hanya bisa diam dengan keadaan tenang memandang kepergian Azmi yang semakin jauh hingga naik ke dalam pesawat.


Dek Rara merasa sangat sedih ia memeluk Umminya dengan tubuh mungilnya yang hanya sampai pada lutut Ummi.


......****......

__ADS_1


" Kamu yakin mau pulang sekarang, Muf? " tanya Ustadz Mustafa ia terlihat sudah sangat rapi bersiap juga ingin pergi menemui anak-anak didiknya.


" Iya, aku gak papa kok, udah sehat. Kakak gak usah khawatirin aku, kakak pergi aja." Mufti.


Ustadz Mustafa tentu sangat mengkhawatirkan keadaan Adiknya yang belum pulih total dan seharusnya ia masih dirawat.


" Assalamualaikum, " Hafsah masuk dengan seragam Susternya mengarahkan pandangan Ustadz dan Mufti kepadanya.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Mufti dan Ustadz Mustafa.


" Muf, kamu yakin mau pulang? " tanya Hafsah.


" Iya, gue udah gak papa. Gak usah khawatir gitu, " Mufti.


Hafsah menghela nafasnya keras dan tersenyum paksa kepada Mufti mencoba menahan amarahnya.


" Ya udah, Kak, salam sama anak-anak Syubban. Kangen banget sama mereka, " Hafsah.


" Iya, nanti saya salamin, " Ustadz Mustafa.


" Ya udah, ayo, Kak." ajak Mufti.


Ustadz mengangguk dan Mufti hendak berdiri tapi kakinya yang masih lemah tidak bisa seimbang dan akhirnya ia hendak terjatuh untung saja ada Hafsah yang sigap memeganginya.


Lagi-lagi tatapan mereka sangat tajam dan dalam dengan tangan lembut Hafsah yang memegangi tubuh Mufti.


" Ehem, pelan-pelan makanya. Ayo bangun pelan-pelan, " Hafsah mencoba tidak gugup.


Mufti memalingkan pandangannya dan mencoba melangkah dengan benar.


" Kamu benar gak papa kakinya, Dek? " tanya Ustadz Mustafa.


" Iya, Kakak tenang aja." Mufti.


" Kami pamit ya, Hafsah. Assalamualaikum," Ustadz Mustafa dan juga Mufti yang mengucap salam walau dengan suaranya yang kecil.


" Iya, Kak. Wa'alaikumsalam, hati-hati, " Hafsah.


" Iya, terima kasih, ayo, Muf." Ustadz Mustafa membantu Mufti malangkah.


Mufti mengangguk dengan bantuan Kakaknya ia melangkah dengan perlahan. Mufti sempat melirik Hafsah yang juga menatap dirinya dan Mufti kembali memalingkan wajahnya sambil melukis senyumnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2