
Setelah makan, handphone Azmi yang ia letakkan di meja yang ada di ruang tamu tiba-tiba berbunyi. Naufal yang tengah duduk santai bersama dengan Rara melihat hape Masnya yang sedaritadi berbunyi.
" Mas Azmi, hapenya bunyi, Nih!" teriak Naufal.
Azmi yang baru saja selesai makan langsung menghampiri Adiknya.
Ketika melihat Azmi yang sudah berdiri didekatnya, Naufal segera bangun untuk memberikan handphone Azmi.
Baru saja Azmi ingin angkat, teleponnya sudah mati terlebih dahulu.
" Aban, ada apa, ya?" pikir Azmi.
" Telepon lagi aja, Mas. Siapa tau penting." Naufal.
Azmi mengangguk dan duduk didekat Naufal. Azmi mulai menghubungi Aban.
Tidak perlu waktu yang cukup lama, Aban langsung mengangkat telepon Azmi.
" Assalamualaikum, Ban. Ada apa? " tanya Azmi.
" Wa'alaikumussalam, Mi. Udah tau kabar belum? " Aban.
" Kabar? Kabar apa? " tanya Azmi bingung.
" Besok kita kumpul untuk acara pesantren yang akan dilaksanakan sebentar lagi, " Aban.
" Serius, Ban? Kok aku gak tau? Besok banget kita kumpul? Sekalian balik buat pondok dong," Azmi.
" Iya, ini aku disini sama anak-anak. Udah, kamu entar malam langsung siap-siap aja." Aban.
Azmi yang kaget mendengar hal itu tentu saja panik karena mendapat kabar yang mendadak tentang ini.
" Mana, Ban? Pinjam bentar," ucap Ahkam yang meminta bicara kepada Azmi.
" Halo, Mi. Udah, kamu gak usah banyak mikir. Langsung terbang kesini. Katanya mau buat karya baru itu." Ahkam ia bicara dengan logat Madura yang membuat Azmi tersenyum akan apa yang Ahkam bicarakan.
" Iyeh. Tapi, ini mendadak banget, Mas. Mana siap aku, " Azmi.
" Ya, harus siap, Mi. Coba kamu cek grup itu Kyai sudah bicara. Gak papa wes cepat balik supaya gak main hape terus kamu," Ahkam.
" Siapkan mental kamu, Mi! " teriak Ali yang ada disana membuat semua orang tertawa dibuatnya termasuk Ahkam dan Azmi.
" Nanti aku bilang dulu Ummi. Besok pagi aku berangkat Insya Allah. Memang kalian lagi ngapain? " Azmi.
" Ya, gak ada. Ini nongkrong-nongkrong." Ahkam.
" Ngopi-ngopi, Mi!" teriak Firman.
" Nah, keding, Mi? ( dengar, Mi?)." Ahkam.
" Iyeh, keding." jawab Azmi sambil melukis senyuman manisnya.
__ADS_1
" Kalau gitu ini aku tutup, ya. Siap-siap kamu." Ahkam.
" Iya, Mas. Salam buat semuanya, assalamualaikum, " Azmi.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " Ahkam.
" Azmi bilang apo, Mas? " tanya Udin.
" Salam buat kalian semua, " Ahkam.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabaraktuh." jawab serentak mereka semua yang ada disana.
" Ada apa, Mas? Mas Azmi mau balik pondok?" tanya Naufal yang sedari tadi terlihat begitu serius mendengarkan pembicaraan Masnya dengan teman-teman pondoknya.
" Mas Azmi cepat banget balik pondok. Perasaan baru aja, Mas pulang." Rara.
" Sebenarnya belum balik, cuma anak-anak Syubban disuruh kumpul. Ya, mungkin akan ada acara sebelum kami kembali ke pondok." jelas Azmi kepada kedua Adiknya.
" Emang Mas Azmi udah siap balik pondok? Gak mau santai dirumah dulu, gitu? " tanya Naufal.
" Siap gak siap ya, harus siap. Namanya juga nuntut ilmu. Jadi kita harus semangat, niatkan dari rumah nuntut ilmu biar hati gak gelisah." Azmi.
" Terus Mas mau berangkatnya kapan? " tanya Rara.
" Ya, ini disuruhnya besok kumpul. Berarti besok pagi Mas harus berangkat. Tapi, Mas mau ngomong sama Ummi sama Abah dulu." Azmi.
" Mas Azmi yang semangat, Mas. Makannya yang banyak biar gak kurus." Naufal.
" Iya, kamu tenang aja." Azmi.
" Bakal kangen sama Mas Azmi nanti, " Rara.
" Gak papa, kan masih bisa video callan tiap bulan." Azmi.
Rara terlihat sedih karena tau kalau Masnya sebentar lagi akan kembali ke pondok demi menuntut ilmu.
" Wes tho, jangan cemberut. Makin kembung pipinya nanti." Azmi.
Rara tidak menjawab dan masih saja terlihat sedih membuat Azmi terdiam begitu juga dengan Naufal mereka sempat saling pandang hingga Azmi mendekati Rara dan jongkok dihadapan Adik perempuannya itu.
" Gak papa, Dek. Nanti ketemu lagi, yah, udah jangan sedih dong. Adik Mas seng ayu," Azmi ia mencubit lembut pipi tembem Rara yang membuat Adiknya itu semakin sedih dan menangis.
" Lho kok, malah nangis tho. Udah, udah. Cup cup cup, " Azmi ia tidak tega melihat Adiknya yang menangis dan langsung memeluk erat Adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
Naufal hanya terdiam memandangi Azmi yang tengah memeluk Rara dengan raut wajah yang sedih Naufal juga tidak bisa berkata apa-apa lagi.
***
Mufti terlihat bersama teman-temannya tengah menikmati hari mereka saat ini yang sangat gembira.
Di restaurant, mereka menyantap makanan mereka dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
" Hey, Muf! Kenapa lo dari tadi diam aja? " tanya Doni yang duduk dihadapannya setelah melihat Mufti yang sedari tadi belum mengeluarkan suaranya tidak dengan teman-temannya yang lain.
" Apa yang mau diomongin emangnya? Ini kita lagi makan, kan." Mufti.
" Tumben banget lo kaya gini, Muf. Biasanya mau makan mau minum mau ngapain juga lo selalu banyak omong, " ucap salah seorang teman Mufti yang mendengar ucapan Mufti dan Doni.
" Ada apa, Muf? Lagi sakit lo? Atau, jangan-jangan ada yang lagi lo pikirin, iya? " sambung teman Mufti lainnya.
" Apaan sih kalian? Gak ada, gue gak papa kok, udah habisin duli makanannya." Mufti.
" Terserah lo deh, Muf. Gue heran aja sama lo sekarang sikap lo berubah banget sama kita. " Doni.
Mendengar ucapan Doni, Mufti yang sedari tadi menikmati makanan seketika meletakkan sendok dan pisaunya menatap dalam Doni.
" Cukup, Don. Lo kenapa, sih selalu masalahin sikap gue yang kaya gini? Lo gak suka atau kenapa? " Mufti.
Seakan tidak ada takutnya dengan wajah malas dan tatapan tajamnya kepada Mufti, Doni bersiap menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
" Iya, emang! Sikap lo itu udah berubah semenjak lo temenan sama anak-anak rebana sampah yang gak jelas itu! Tambah lagi mereka udah sombong, kepala mereka jadi besar semenjak mereka sukses. Dan, lo gak afa apa-apanya dimata mereka!" Doni.
Mufti tidak suka saat Doni bicara buruk tentang anggota Syubban dengan spontan ia memukul meja makan yang mengundang perhatian orang sekitar yang tengah makan disana.
Kedua teman Mufti yang lain tentu saja menjadi khawatir dan takut karena perhatian banyak orang seketika menuju kepada mereka.
" Gue gak suka kalau lo ngehina anak-anak Syubban itu. Mereka udah jadi teman gue, " Mufti.
Doni malah tertawa licik mendengar ucapan Mufti.
" Nah, itu dia. Karena teman-teman baru itu sekarang perhatian lo lebih ke mereka daripada ke kita!" Doni ia berdiri sambil menunjuk-nunjuk kearah Mufti yang tengah menatapnya tajam dan menahan emosinya dengan mengepal kedua tangannya.
" Itu gak benar, Don. Gue sama sekali gak bedain kalian sama anak-anak Syubban! Lo kenapa, sih? Lo iri sama mereka? Lo masih benci sama mereka? Iya, hah! " Mufti ia juga ikut berdiri dan berbicara dengan keras kepada Doni.
" Muf, Don! Udah! Gak enak dilihatin orang, " teman Mufti berdiri untuk menenangkan kedua sahabat itu.
" Muf, sabar. Gak perlu marah kaya gini." ucap teman lainnya yang juga ikut berdiri.
" Orang ini yang udah buat kesabaran gue habis. Kalian urus aja dia, enek gue lihat muka dia!" Mufti ia sempat mendekati Doni yang menatap tajam dirinya lalu pergi membawa tasnya.
" Muf, Mufti! Lo mau kemana! " tanya teman Mufti.
" Tenang aja gue udah bayarin kalian!" teriak Mufti terus berjalan ia tidak memperdulikan banyak orang yang tengah menatapnya.
Doni duduk setelah Mufti pergi ia terdiam dan mengusap wajahnya sambil berpikir dengan wajah yang masih kesal.
" Don, lo kenapa, sih? " teman 1.
" Harusnya lo gak perlu kaya gitu tadi, " teman 2.
"Kalian berdua bisa diam, gak, sih! " sentak Doni yang membuat kedua temannya itu hanya bisa terdiam dan bersabar.
" Heh! Kalian gak usah lihat-lihat, ya!" ucap teman kepada orang-orang yang mengawasi mereka.
__ADS_1
Bersambung. ...