Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 123. Ini Adalah Yang Terbaik.


__ADS_3

" Adiknya Akmal," Kyai menoleh ke arah Aisyah yang terus msnangis


Aisyah menahan tangisannya dengan suaranya yang tersedu-sedu karena terus menangis.


" Iya Kyai, saya minta izin sama Kyai, saya ingin mengantarkan Kakak saya ke tempat peristirahatan terakhirnya, " Aisyah dengan suara bergetar dan cegukan.


Kyai mengangguk pelan.


" Baiklah, kamu duduk di depan ya, sama pak sopir, " Kyai.


" Baik Kyai, terimakasih Kyai, " Aisyah.


" Iya nak, kamu yang tabah ya, ayo, semuanya masuk ke dalam mobil, " Kyai.


" Ayo nak, masuk, " ucap pak sopir ramah.


Tim Syubban satu-pesatu masuk ke dalam mobil Kyai yang mewah dan panjang itu, jadi muat untuk tim Syubban bersama Kyai, Aisyah dan pak sopir.


" Ustadzah, Aisyah pamit dulu, " Aisyah ia mencium tangan Ustadzahnya yang juga mengelus kepala Aisyah penuh kasih sayang.


" Assalamualaikum, " ucap Aisyah mengangkat kepalanya.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Ustadzah Lily.


Aisyah melangkah perlahan dengan waktu yang bersamaan Azmi dan Aisyah sempat saling pandang melihat Azmi yang sudah berada di pojok mobil dengan wajah dengan air mata yang masih berlinang, Aisyah kembali melangkah masuk ke dalam mobil Kyai dan duduk di depan di samping pak sopir yang ramah.


" Ustadzah, saya minta pimpin anak-anak untuk mengaji dan berdoa untuk Almarhum Akmal, " Kyai.


" Baik Kyai, tentu, " Ustadzah Lily mengangguk.


" Saya dan anak-anak pergi dulu, assalamualaikum, " Kyai.


" Wa'alaikumsalam Kyai, " Ustadzah Lily.


Kyai duduk tepat di pojok samping Ali yang sudah memberikan tempat duduk untuk Kyai.


Kyai menoleh ke arah semua tim Syubban dan Aisyah, tidak berhenti mereka mengeluarkan suara cegukan yang biasa terjadi ketika orang menangis lama.


" Ayo pak, kita segera menuju rumah sakit," Kyai.


" Baik Kyai, " pak sopir menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankan mobilnya, pak satpam yang masih berjaga karena wilayah ponpes yang berduka memberi sapaan ramah kepada semuanya yang masih bersedih.

__ADS_1


...*********...


Ustadzah Abdullah larut dalam tangisannya mencium tangan Akmal yang terbaring kaku terselimuti kain putih sementara Ustadz Ridwan merangkul Ustadz Abdullah tidak sanggup melihat Akmal yang sudah tiada.


" Assalamualaikum, " suara lembut terdengar dari depan pintu ruangan.


Kedua Ustadz yang kaget menoleh ke arah seorang Suster yang tidak lain adalah Hafsah.


" Wa'alaikumsalam, " jawab kedua Ustadz itu dengan nada pelan.


" Saya turut berduka atas kepergian Akmal, saya sempat kenal dengan dia, saya juga merasa sangat kehilangan," ucap Hafsah ia melangkah maju untuk mendekati jenazah Akmal, tubuh Hafsah bergetar ia tidak sanggup melihat jenazah Akmal sehingga membuatnya menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


" Aku sayang banget sama kamu, kenapa kamu harus pergi sebelum aku kasih tau perasaan aku Mal?" Hafsah menegakkan tubuhnya untuk menatap Akmal, Ustadz Abdullah dan Ustadz Ridwan tidak bisa mengatakan apapun mereka hanya bisa memandangi Hafsah dan Akmal.


" Makasih Mal, kamu udah ngasih aku pelajaran berharga, walau kita cuma ketemu sebentar, yang tenang ya, di sana," ucap Hafsah mencoba tegar menatapi Akmal, walau air mata terus menetes membasahi pipinya.


Dengan langkah cepat tim Syubban, Kyai, dan Aisyah memasuki rumah sakit dengan ruangan yang di beritahu perawat, Kyai bersama yang lain semakin mempercepat langkah mereka.


Ketika sampai di kamar Akmal, Aisyah segera berlari menghampiri Kakaknya yang terbaring kaku, Hafsah mundur memberi tempat untuk Aisyah. Aisyah membuka kain yang menutupi wajah kakaknya.


Semakin sedih Aisyah, ketika melihat jenazah Kakaknya yang kini ada dihadapannya, dengan pelukan erat ia terus menangis haru dalam dada Kakaknya.


" Aku turut berduka atas kepergian Akmal, kalian yang tabah ya, " ucap Hafsah di dekat Ali kepada semua anggota Syubban dengan suaranya yang halus.


" Terimakasih, " jawab Ali terus menunduk.


" Aku permisi, assalamualaikum, "Hafsah.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.


" Kyai sebaiknya kita menghungi orangtua Akmal, agar mereka tidak semakin sedih nanti, jika melihat Akmal pulang dengan keadaan sudah tidak bernyawa, " Ustadz Abdullah.


" Iya, kamu benar, saya akan hubungi, " Kyai.


Kyai mulai menghubungi keluarga Akmal, mendengar putranya sudah tidak bernyawa, apalagi ayah Akmal yang baru saja keluar dari rumah sakit membuat ibu Akmal merasa sangat sedih dan terpikul, ia pingsan dan menjatuhkan teleponnya.


Suaminya yang melihat ibu Akmal lemas dan menangis segera menghampirinya.


" Ada apa bu? " tanya suaminya.


" Akmal, Akmal, sudah meninggal yah," ibu Akmal menangis.

__ADS_1


" Inna lillahi wa inna 'ilaihi roji'un, Akmal! " ayah Akmal ikut menangis dan merangkul istrinya hal yang tidak pernah mereka bayangkan kini terjadi menimpa mereka. Sosok Akmal sebagai putra mereka yang sangat patuh, sholeh, pintar bahkan selalu membuat kedua orangtuanya bangga telah pergi lebih dulu meninggalkan kedua orangtuanya yang sangat menyayangi Akmal.


...************...


Atas perintah Kyai, Ustadz Abdullah dan Ustadz Ridwan pergi meminta pihak rumah sakit membawa Akmal sampai ke Blitar, setelah mengurus semuanya, Akmal siap dan sudah masuk ke dalam mobil ambulance. Dari kejauhan Hafsah masih mengintip dengan air mata yang menetes tidak tega melihatnya, Hafsah menunduk menggelengkan kepalanya dan pergi kembali masuk ke rumah sakit.


" Ridwan, Abdullah, jaga anak-anak di pesantren, saya dan anak-anak Syubban mau berangkat, " Kyai.


" Baik Kyai, kita pasti akan jaga semua santri," ucap Ustadz Abdullah.


" Iya Kyai, saya juga, " tambah ustadz Ridwan.


Kyai tersenyum dan mengangguk.


" Ayo nak, sudah jangan menangis, nanti Kakak kamu juga sedih, " Kyai.


Aisyah hanya mengangguk sampai ia masuk ke dalam mobil Kyai duduk di samping pak sopir ia tidak kuat jika harus duduk di samping jenazah Kakaknya sementara Kyai memilih duduk di mobil ambulance agar bisa mendoakan Akmal selama perjalanan.


Dari malam hingga matahari sudah menampakkan dirinya Aisyah bersama tim Syubban masih berjaga mereka tidak bisa tidur karena rasa kehilangan membuat mereka sepanjang malam memikirkannya.


Di suasana subuh, ketika sampai di rumah Akmal, para warga sudah datang atas kabar yang mereka tahu. Warga ikut berduka ketika Akmal di bawa dalam keadaan kaku sudah tidak bernafas.


Pemakaman berjalan dengan lancar sehingga Akmal sudah masuk ke dalam liang lahat, Aisyah bersama orangtuanya hanya bisa melihat dan merelakan Akmal dengan tangis haru yang terus menyelimuti mereka begitu juga dengan tim Syubban yang terus menangis melihat Akmal di makamkan.


Semua warga mengungkapkan bela sungkawa mereka, mereka semua sangat sedih dengan kepergian Akmal.


" Ibu dan bapak yang tabah ya, ini sudah takdir Allah, umur memang tidak bisa ditebak, " salah seorang ibu dengan ucapan lirih kepada kedua orangtua Akmal.


" Iya bu, terimakasih, " ayah Akmal.


Aisyah terus mengelus batu nisan Akmal, ia tidak berhenti menangis, Aisyah sempat mencium batu nisan Kakaknya dengan penuh haru.


Ibu Akmal merangkul dan mengelus lengan putrinya.


" Sudah nak, ayo kita pulang, " ibu Akmal.


Ketika Aisyah bangun ia menatap ke arah anggota Syubban yang sedang menunduk seketika perasaannya campur aduk dan merasakan kebencian kepada semua anggota Syubban.


" Ini semua salah kalian! Kenapa kalian gak tau kalau Kak Akmal sakit parah? Kenapa kalian terus maksa Kakak untuk ikut hadroh sama kalian? " sentak Aisyah kepada semua tim Syubban membuat anggota Syubban menatap Aisyah sembari menggelengkan kepala mereka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2