Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 85. Rencana Mulia.


__ADS_3

Ketika istirahat tiba Azmi dan Aban duduk dikantin sembari menunggu Rifki yang masih mengantri memesan makanannya.


" Ban, " ucap Azmi kepada Aban yang sedang membersihkan tangannya dengan tisu.


" Iya Mi, ada apa?. " tanya Aban menoleh ke arah Azmi melihat itu Azmi melukiskan senyumnya yang manis.


" Aku pengen banget buat masyarakat itu cinta sama sholawat,tapi gimana caranya ya?. " tanya Azmi.


" Hmmmm, kayaknya susah deh Mi, apalagi sekarang banyak yang takut ketinggalan di jaman sekarang ini orang lebih suka denger musik apa itu.. Emmmm... Dj, nah itu dan mungkin yang suka sama sholawat cuman kalangan santri atau orang tua. " Aban.


" Di dunia ini gak ada yang gak mungkin kan Ban, termasuk buat semua orang cinta sama sholawat ya gak semua sih, tapi setidaknya ribuan orang Ban,aku pengen banget buat semua orang sama-sama melantunkan sholawatnya untuk nabi Muhammad. " Azmi.


" Hayo, belum pada makan kalian?. " Rifki yang baru datang sembari membawa makanannya.


" Belum lah Ki, kita berdua nungguin kamu." Azmi.


" Wishh setia banget emang kalian, " Rifki sembari menepatkan dirinya duduk disamping Azmi dan Aban.


" Sholawatan jaman now Mi, jadi beda dari yang lain. " ucap Aban setelah berpikir cukup lama.


" Ngomongin apaan sih kalian?. " tanya Rifki dengan wajah bingung.


" Itu si Azmi pengen buat banyak orang cinta sama sholawat. " Aban.


" Oooo, gampang itu mah, Azmi tinggal masuk tv teru sholawatan aku yakin semua orang bakal cinta sama sholawat. " Rifki dengan sangat yakin.


" Kok kamu yakin banget Ki, kenapa?. " Azmi.


" Ya elah Mi, kamu lugu banget sih, ya secara kamu kan ganteng Mi, aku yakin semua kaum hawa kalau ngelihat kamu pasti jatuh cinta. " Rifki sembari mengunyah makanannya mendengar itu Azmi yang sedang makan dengan perlahan tiba-tiba batuk dan segera minum air.


" Astagfirullah Ki, bukan gitu maksudku. " Azmi.


" Tau nih Rifki, gak jelas, udahlah Mi, kamu makan aja dulu, nanti kita pikirin lagi. " Aban.


" Emang aku salah Mi, bener kan, Aban, aku bener kan. " Rifki.


" Udah makan dulu Ki, itu lupain aja intinya kamu salah. " Azmi.


Rifki pun terdiam dan menoleh ke arah Azmi dan Aban yang sangat menikmati makanannya Rifki kembali menyendok makanannya.


" Alhamdulillah, " Azmi setelah minum dan menghabiskan makanannya.


" Mi, aku mau nanya ." Rifki.


" Nanya apa? ." Azmi.


" Kamu udah ngehafalin kitab belum?." Rifki.


" Udah sama Aban, emang kenapa?. " Azmi.


" Oh iya, bentar lagi ada kemah Mi, " Aban.


" Serius?, kapan?. " tanya Azmi antusias.

__ADS_1


" Aku denger dari mas Akmal sama mas Ali itu 3 minggu lagi, nah di kemah itu nanti ada hafalan kitab. " Rifki.


" 3 minggu itu masih lama, emang hampir pulangan ya?." Azmi.


" Azmi, Azmi, kamu itu gak pernah apa ngitungin tanggal puasa?, " Rifki.


" Pernah sih, tapi dulu sekarang mah udah gak,kata mas Ahkam kalau ngitungin tanggal yang ada nanti kita gak betah di pesantren sama gak fokus nyari ilmunya." Azmi.


" Iya sih, kata mas Akmal gitu juga, habisnya aku pengen cepet-cepet pulang Mi, " Rifki.


"Rifki, santri emang harus bisa nahan rindu, kita harus fokus nyari ilmu dan buat bangga orang tua kita. " jelas Azmi kepada Rifki.


" Mmm, bener tuh Azmi, jangan ngitungin pulangan mulu Ki,tenang aja pasti pulang kok. " tambah Aban.


" Kalian bener, kalau gitu aku akan fokus nyari ilmu dan gak akan ngitungin tanggal lagi. " Rifki.


" Nah, gitu dong Ki, pokoknya kita harus semangat buat nyari ilmu di pesantren ini. " Azmi.


" Iya Mi, makasih ya, kalian semua udah ngingetin aku. " Rifki.


" Sama-sama Ki,lagian ini emang udah tugas kita buat mengajarkan kebaikan kepada sesama, ya kan Mi," Aban menoleh ke arah Azmi.


" Iya Ban, bener," Azmi sembari tersenyum.


Bel masuk sekolah berbunyi dengan sangat keras, Azmi, Aban dan Rifki mulai bangun dan melangkah menuju kelas.


...***************...


Setelah wudhu dan mengganti seragamnya dengan baju koko berwarna cokelat yang sangat keren, Azmi duduk dikasurnya sembari mengusap wajahnya yang masih sedikit basah karena air wudhu.


" Iya Ban, " jawab Azmi lemas.


" Kamu kenapa sih Mi?, kok ngelamun terus." Ahkam yang duduk dikasurmya menutup Al-Qur'an yang baru saja ia baca.


" Enggak kok mas, siapa yang ngelamun?. " Azmi.


" Biasa Azmi, diam-diam dia pasti mikirin sesuatu, hayo ngaku. " Muhklis yang berjalan menghampiri Azmi dan menyenggol Azmi.


" Gak ada bang, " jawab Azmi sembari tersenyum kecil.


Seketika semuanya memandang Azmi dengan wajah penasaran.


" Ya udah, ayo berangkat aja, ayo Ban, " ajak Azmi bangun dari kasurnya berdiri dihadapan Aban.


" Ayo, ayo mas, bang. " Aban.


" Iya, kalian duluan aja. " Ahkam.


Azmi mulai jalan lebih dulu dan melihat rintik hujan kecil turun membasahi halaman pesantren, Azmi terdiam asyik memandangi rintikan hujan itu.


" Hujan lagi ya Mi, " Aban yang berdiri disamping Azmi.


" Iya Ban, gak papa, cuman gerimis kok, ayo, " Azmi.

__ADS_1


" Mas, bang,ayo ,gerimis nih," Aban.


Qhamat mulai terdengar Muhklis dan Ahkam segera melangkah menghampiri Aban dan Azmi.


" Ayo Mi, Ban, " ajak Ahkam.


Azmi menganggukkan kepalanya dan melangkah bersama teman sekamarnya.Ketika sholat jama'ah dimulai hujan yang sangat lebat datang tetapi tidak mengurangi kekhusyk'an para santri dalam melaksanakan sholat jama'ah .Setelah berdzikir dan berdoa hujan masih saja belum reda.


" Untuk semuanya sebaiknya kalian disini dulu, hujannya masih lebat tunggu reda saja. " ustadz Abdullah yang menjadi imam.


" Baik ustadz, " jawab semua santri.


" Ya sudah tunggu saja ya, silahkan ambil Qur'an untuk mengaji sembari menunggu hujan reda. " ustadz Abdullah.


" Baik ustadz, " semua santri.


Mereka harus berdiam di Masjid sembari menunggu hujan reda.


Azmi menggosok kedua tangannya ia terlihat kedinginan, Ahkam yang berada disamping Azmi tertawa kecil melihat ekspresi Azmi.


" Dingin kamu Mi, " Ahkam.


" Iya mas ,hujannya lebat banget. " Azmi sembari menoleh ke arah Ahkam.


" Mi, gimana rencana kamu itu yang mau bikin anak jaman now cinta sama sholawat?." Aban.


" Belum tau Ban, " jawab Azmi memandang Aban.


" Wishh hebat tuh Mi, kamu harus bisa ngelakuin itu." Muhklis yang sedari tadi mendengarkan.


" Iya bang, tapi aku bingung harus gimana." Azmi.


" Hmmm, aku tau Mi, " Ahkam.


" Apa mas?. " tanya Azmi.


" Kita bikin aja lagu tentang cinta tapi ada nuansa sholawatnya aku yakin anak-anak muda pasti bakal suka tuh, " Ahkam.


" Sholawat tentang cinta, hmmmm, bener juga mas Ahkam kalau sholawat biasa itu udah sering di denger kalau sholawatnya beda pasti bakal banyak yang suka apalagi sekarang jaman bucin. " Azmi.


" Bucin?, apa tuh Mi?. " tanya Aban.


" Bucin itu budak cinta kayak si Azmi ini Ban, " Ahkam sembari tertawa kecil dan menepuk pundak Azmi.


" Kok aku sih, mas Ahkam tuh, " Azmi tertawa kecil.


" Mau Azmi, mau Ahkam sama aja kalian." Muhklis.


" Enggak, aku itu anak alim bang, " Azmi.


" Siah ,iya dah kamu memang religius. " Ahkam.


Azmi tersenyum sembari memandang Ahkam, Aban, dan Muhklis yang ikut tertawa kecil.Mereka terlihat sangat asyik berbincang sehingga tidak mengenal rasa kantuk sembari menunggu hujan reda begitu juga dengan para santri lainnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2