Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 103. Satu Pukulan Keras.


__ADS_3

Azmi dan Ahkam semakin mempercepat langkah mereka untuk mencari para anggota Syubban. Setelah terus berjalan, Azmi menghentikan langkahnya dan melihat ada perkelahian di tempat parkir mobil Kyai dan ustadz Mustafa yang terparkir bersebelahan.


" Ayo mas, kita kesana! " ucap Azmi yang mulai khawatir.


Ahkam mengangguk.


" Ayo Mi, " Ahkam.


Sesampainya disana meteka melihat Ali, Firman dan Udin yang terus berkelahi dengan anggota Band. Azmi dan Ahkam terus mencoba menghentikan mereka.


" Mas Ali, udah mas, " Azmi berusaha menengahi perkelahian mereka begitu juga dengan Ahkam yang menghentikan perkelahian Firman dan Udin.


Tetapi Ali yang sangat kesal terus berkelahi dengan Mufti yang sama kesalnya mereka sama sekali tidak mendengarkan Azmi yang jauh lebih kecil daripada mereka.


Ketika Azmi berusaha menengahi mereka, satu pukulan keras menghantam wajah Azmi sehingga Azmi merasa kesakitan ia terdiam sembari menutupi wajahnya. Mengetahui hal itu membuat Mufti dan Ali terdiam memandang ke arah Azmi.


Ahkam yang juga mengetahui hal itu segera menghampiri Azmi. Pukulan Ali memang sangat keras melihat tangan Ali yang kekar dan sudah mengalahkan banyak musuh dalam perlombaan silat.


" Azmi, kamu gak papa, kan?" tanya Ahkam yang mulai khawatir.


Sementara Ali dan Mufti saling tatap tajam dan kembali memandang Azmi yang terus menutupi wajahnya.


" Gak papa mas Ahkam, aku gak papa, " Azmi terus memegangi wajahnya.


" Lagian anak kecil pakai ikut campur segala jadi kenak, kan." ucap Mufti dengan gayanya yang angkuh.


" Heh! Kalian pergi sana! Kalian selalu buat masalah sama kita, kita semua gak ada urusan sama kalian semua!" Ahkam mulai mendekati Mufti.


" Udah mas Ahkam, mas Ahkam harus tahan emosi, sekarang kita harus cepat kembali ke acara mas, semuanya udah nunggu, " Azmi berusaha menjelaskan.


Memang benar semua jama'ah sudah menunggu tim Syubban yang belum datang juga. Ustadz Mustafa meminta waktu dan mengatakan bahwa Azmi dan Ahkam akan segera membawa tim Syubban.


Mc dan panitia berusaha menenangkan para jama'ah apalagi jama'ah wanita yang sudah tidak sabar.


" Ayo mas, Kyai sama ustadz pasti khawatir sama kita," Azmi terus memohon kepada semua tim Syubban.


Ahkam yang masih berada di hadapan Mufti membalikkan tubuhnya dan melihat teman-temannya yang tidak berkutik sama sekali.


" Kalian nungguin apa, sih? Ayo, cepat! Kita gak boleh ngecewain para jama'ah yang udah nungguin kita! Kalian lupa tujuan utama kita, apa?" ucap Ahkam tegas kepada semuanya.


Anggota Band hanya bisa mendengarkan dengan wajah malas dan sama sekali tidak menghiraukan itu.


" Ayo semuanya, kita harus segera kesana!" tambah Azmi.


Mereka terlihat mulai mengerti dan mengganggukkan kepala mereka.


" Yaudah, ayo kita kesana! " Ali.


Mereka semua mulai pergi meninggalkan tempat, sementara Ali, Firman dan Udin menyempatkan diri mereka memandang tajam anggota Band sebelum melanjutkan langkah mereka.

__ADS_1


" Sombong amat mereka, " ucap anggota Band 1.


" Eh, anak kecil tadi berani juga nengahin lo sama... Siapa tadi musuh lo, Muf? " anggota Band 2.


" Mana gue tau, " jawab Mufti ketus.


" Sekarang kita ngapain, Muf? " tanya anggota Band 3.


Mufti tidak langsung menjawab pertanyaan itu dan masih memikirkan sesuatu.


Bagian bawah mulut Azmi terlihat lebam karena pukulan keras Ali, Azmi mencoba menahan rasa sakitnya memegangi mulutnya sembari meringis kesakitan.


Azmi dan Ahkam berhasil membawa tim Syubban untuk kembali tampil dan bersholawat begitu senangnya Kyai dan ustadz Mustafa melihat kedatangan mereka.


Mc mulai mempersilakan satu-persatu mereka naik ke atas panggung. Para jama'ah kembali menyoraki kedatangan tim Syubban dengan sangat meriah. Azmi menjadi orang terakhir yang naik ke atas panggung ia langsung duduk di samping Aban dan mengambil mikrofon yang sudah disediakan.


Melihat luka lebam Azmi membuat Aban merasa kasihan dengan Azmi.


" Itu gak papa, Mi? Kamu masih bisa sholawat? " tanya Aban mulai khawatir.


Mendengar itu Azmi yang memandang para jama'ah menoleh ke arah Aban yang akhirnya mau berbicara dengannya.


" Gak papa, luka kaya gini doang, Ban. " ucap Azmi tersenyum kecil dan kembali memainkan mikrofon yang ia pegang di tangan kanannya.


"Bisa dimulai adek-adek sholawatnya. " ucap Mc perempuan yang ada di bawah panggung dengan suara lembutnya kepada anggota Syubban yang masih berdiskusi.


Ahkam menganggukkan kepalanya dan memberi kode kepada semua teman-temannya.


Anggota Band itu masuk ke dalam acara untuk melihat penampilan tim Syubban yang sangat meriah.


" Heran gue, apa sih hebatnya mereka? Kenapa semua orang ini semangat dan suka banget sama mereka? " tanya salah satu anggota Band.


" Selera orang-orang ini aja yang kampung," anggota Band 2.


" Heh! Kamu bilang apa tadi? " tanya salah satu jama'ah yang berada di samping mereka.


" Hehe, enggak kok pak, mereka semua emang bagus ya, " anggota Band 2 yang takut melihat seorang bapak yang ada di sampingnya.


" Udah Muf, kita pulang aja, gak ada gunanya juga nontonin tim rebana kampung ini, " tambah anggota Band lainnya.


Mufti memandang anggota Syubban dengan tatapan tajam sebelum ia melangkah pergi dari acara sholawat yang sangat meriah itu.


" Muf, kok malah bengong? Ayo, pulang! " ajak teman Mufti.


Mufti menoleh dan menganggukkan kepalanya.


" Iya, ayo, siapa juga yang mau nontonin mereka?" ucap Mufti terus melangkah meningglakan semua teman-temannya.


Semua teman Mufti merasa bingung dengan tingkah Mufti dan mereka saling pandang satu sama lain.

__ADS_1


" Makin aneh aja tuh anak, " anggota Band 1.


" Dia sendiri yang ngajak kita masuk sini, " anggota Band 2.


" Ah, udah-udah, Mufti keburu jauh tuh, " anggota Band 3.


Anggota Band itu mulai pergi dari tempat acara, dan Mufti terus melajukan motornya dengan perasaan kesal mengingat perkelahiannya dengan Ali.


Setelah cukup lama, acara besar itu sudah selesai. Para anggota Syubban diminta pergi lebih dulu menuju parkiran sementara Kyai dan ustadz Mustafa masih membicarakan sesuatu.


Azmi yang terlihat sangat lelah dengan luka lebam yang semakin biru dan bengkak ia merasa semakin sakit dan melihat lukanya pada kaca spion mobil Kyai.


Ali yang mengetahui hal itu merasa bersalah dan mendekati Azmi.


" Masih sakit, Mi? " tanya Ali dingin tanpa memandang Azmi.


Azmi segera menegakkan tubuhnya setelah mengetahui Ali yang ada di dekatnya.


" Eh mas Ali, gak papa kok mas, cuma luka gini doang, entar juga sembuh. " Azmi.


Akhirnya Ali mau memandang Azmi walau dengan tatapan yang sedikit sinis.


" Yakin gak papa? " tanya Ali lagi.


" Iya mas, " jawab Azmi.


Sejumlah kaum hawa yang melihat tim Syubban yang sedang berkumpul menunggu Kyai dan ustadz Mustafa menjadi begitu histeris dan berteriak.


" Aaaa, itu tim hadrohnya, " cewek 1.


" Masya Allah ganteng banget, calon imam," cewek 2.


Mereka mulai berlarian mendekati tim Syubban yang tengah berkumpul sembari berbincang.


" Assalamualaikum, " ucap sejumlah kaum hawa.


" Wa'alaikumsalam," jawab tim Syubband yang kaget dengan kedatangan mereka.


" Mas boleh ambil fotonya, gak? " cewek 1.


" Aduh ganteng banget kalian, " cewek 2.


Tim Syubban mulai dikerumuni oleh banyak yang orang yang ingin melihat mereka dari dekat. Tidak hanya kaum hawa para jama'ah lain ikut datang untuk melihat mereka . Sementara tim Syubban hanya tertunduk sesekali mereka memberikan senyuman mereka.


" Aduh, ustadz sama Kyai mana, nih? " tanya Ali.


" Iyo, ustadz sama Kyai mana, ya? " Udin.


" Eh, itu kenapa mulutnya lebam gitu? Perasaan dari tadi kalian sholawatan bukan berkelahi, " tanya salah satu jama'ah yang membuat semua terdiam dan pandangan mereka tertuju kepada Azmi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2