Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 115. Semoga Jera


__ADS_3

Sesuai perintah Kyai, Zakir bersama dengan kedua temannya menemui Kyai dan para Ustadz untuk menyelesaikan masalah dan memberi hukuman yang tepat untuk mereka bertiga. Semua santri juga sudah tau yang sebenarnya, nama Azmi kembali menjadi baik.


...********...


" Zakir, Zakir, kamu kenapa bisa sampai segitunya sih, sama Azmi? " tanya Ustadz Abdullah menggelengkan kepalanya dan menunduk sembari menyentuh dahinya.


" Maaf Ustadz, saya sadar atas kesalahan saya, " Zakir dengan nada pelan dan suara yang kecil sembari terus menunduk ia harus mempertanggung jawabkan apa yang telah ia buat.


" Kamu harus janji di depan kita semua, kalau kamu tidak akan melakukan hal buruk kepada Azmi atau santri yang lain juga, " Kyai.


Zakir ragu karena dasar hati yang sudah sangat membenci Azmi masih tidak bisa berubah begitu saja ia bahkan juga kesal dengan Sihin yang berkata jujur dan Helmi yang juga berpihak pada Azmi.


" Zakir, kenapa diam? Kamu masih benci sama Azmi, iya? " tanya Ustadz Mustafa.


" Opo'o toh Kir, Kir? Coba bilang sama kita semua, Azmi punya salah apa sama kamu? Sampai kamu benci sama dia, " tambah Ustadz Ridwan.


" Azmi itu anak yang baik Kir, dia sabar, kuat dan dia mudah untuk memaafkan kita semua, kamu harus sadar dan harus berubah Kir, " sambung Ustadz Fathur.


Dan Zakir hanya terus menunduk seperti ada setan yang terus berbisik untuk benci kepada Azmi, sementara kedua temannya memandang Zakir yang sudah merah wajahnya karena kesal.


" Zakir," panggil Kyai kepada Zakir yang hanya tertunduk dengan kedua tangan yang mengepal.


Semua Ustadz menjadi sangat bingung dan saling toleh mereka mulai khawatir dengan keadaan Zakir yang terus diam.


" Eh Kir, " Helmi memukul keras pundak Zakir agar dia sadar.


" Hah? " Zakir sangat kaget dan menoleh ke arah Helmi memandang Kyai bersama para Ustadz satu-persatu.


" Agar kamu jera saya akan hukum kamu dan juga teman-teman kamu dengan hukuman membersihkan tempat wudhu dan sebaris kamar mandi, hati kamu harus ikhlas melakukan hal ini, mengerti? " Kyai.


Helmi dan Sihin mulai mengangguk mereka pasrah dan mengiyakan hukuman yang di berikan.


Sementara Zakir masih diam hingga ia memandang Kyai dan mengangguk.


" Baik Kyai, " ucap Zakir dengan nada pelan.


" Ya sudah kerjakan sekarang juga hukuman kalian! Agar cepat selesai! " Kyai.


Di mulai dari Sihin satu-persatu mereka bangun menyalam tangan Kyai dan para Ustadz.


" Assalamualaikum, " Zakir, Helmi dan Sihin.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.


" Zakir, Zakir, entah apa yang merasukimu?" Ustadz Ridwan membuat semua orang yang tegang tertawa ia juga lupa bahwa ada Kyai hingga diingatkan oleh Ustadz Abdullah.

__ADS_1


" He, Kyai, maaf Kyai, " Ustadz Ridwan menunduk.


Kyai tersenyum kecil mengangguk beberapa kali.


" Iya, " jawab Kyai sembari tertawa kecil.


Mereka mulai berdiskusi tentang anak-anak Pesantren untuk membuat bentuk karakter yang lebih baik dan tidak boleh ada yang seperti Zakir saat ini.


...**************...


Zakir merasa sangat kesal, sembari menyikat keramik tempat wudhu ia mengawasi Sihin dengan tatapan tajam. Emosi yang sudah meluap membuat ia menjatuhkan keras sikatnya dan menghampiri Sihin.


" Hin! Kamu kenapa, sih? Kamu kenapa bilang yang sebenarnya sama Kyai? Apa kamu pengen jadi pahlawannya Azmi?Kamu gak mau lagi temenan sama aku, hah? " Zakir dengan tatapan yang sangat tajam kepada Sihin.


" Kir, kamu tenang! Ini aku lakuin demi kamu, biar kamu berubah, " jelas Sihin.


Zakir tidak ingin mendengar apapun lagi dari mulut Sihin ia mendorong keras Sihin hingga ia terjatuh dengan keras untung saja kepalanya tidak terbentur di tembok.


Melihat kejadian itu, Helmi yang sedari tadi diam akhirnya mendekati Sihin dan menolongnya. Setelah membantu Sihin berdiri, Helmi mendekati Zakir.


" Kir, harusnya kamu sadar! Perbuatan kamu itu sudah sangat tidak baik, seharusnya kamu berubah bukannya kaya gini! Kamu itu santri Kir, harusnya akhlak kamu itu bagus, bukan kaya gini!" Helmi.


Tetapi Zakir semakin malas untuk mendengarkan.


" Udah Hel, kita lanjut lagi, " Sihin.


Helmi menghela nafasnya dan mengangguk setelahnya ia kembali lanjut mengerjakan hukumannya.


Para santri beramai-ramai keluar dari kelas mengaji mereka tetapi hukuman Sihin, Zakir dan Helmi belum juga selesai, Kyai sengaja memberikan hukuman yang berat agar mereka sadar dan bisa berubah tapi tidak dengan Zakir yang malah semakin membenci Azmi ditambah ia sangat kesal dengan kedua temannya.


Tim Syubban yang hendak latihan berhenti untuk melihat ketiga teman itu dihukum.


" Yang bersih Kir, jangan sampai ada noda sedikitpun, " ucap Firman.


" Kita harap dengan kejadian ini kamu sadar ya, atas semua kesalahan kamu sama Azmi, " tambah Udin.


" Hush, gak boleh gitu, kasihan mereka, " ucap Ahkam.


" Yo, salah mereka dewe mas, " Udin.


" Eh, tunggu-tunggu, ini Ali sama Firman tadi belum minta maaf sama Azmi, ayo, minta maaf dulu, " Akmal.


Seketika pandangan Ali menuju kepada Azmi yang juga menatap dirinya sekilas.


" Mi, aku minta maaf ya, aku gak tau kalau ternyata kamu itu sama sekali gak salah, " Firman memberikan jabatan tangannya.

__ADS_1


" Iya mas, " Azmi berjabat tangan dengan Firman.


Ali melangkah maju mendekati Azmi ia juga memberikan jabatan tangannya sembari tersenyum kepada Azmi.


" Aku minta maaf Mi, dari semua teman-teman, aku yang paling buat hati kamu sakit, " Ali menatap dalam Azmi yang sedang berjabat tangan dengannya.


" Iya mas, gak papa," Azmi.


Mereka semua kembali akur mereka semua juga berharap semoga tidak ada permusuhan lagi di antara mereka.


" Tim Syubban, suruh kumpul tuh, " Dimas yang mampir untuk memberikan pesan dari Kyai dan Ustadz Mustafa ia juga hanya melihat Zakir sebentar dan kembali memandang anggota Syubban.


" Oke, makasih Mas, " Ahkam.


" Iya mas, duluan, assalamualaikum, " Dimas melangkah pergi begitu saja tanpa mau menyapa ataupun menoleh ke arah adik sepupunya itu.


Zakir terus memandang langkah Dimas yang terus berjalan sembari melakukan hukumannya dengan sangat kesal.


" Sek-sek, aku bingung, " Udin.


" Apa sih, Din? " Firman.


" Tadi itu mas Ahkam panggil si Dimas itu, Mas, dan Dimas manggil mas Ahkam, mas juga, mumet endasku, " Udin.


Tim Syubban hanya terdiam dan bingung harus menjawab darimana hingga Azmi berbicara.


" Gak usah ambil pusing mas Udin, pokok itulah, " Azmi.


Semuanya tertawa dan menggangguk membenarkan perkataan Azmi.


" Ayo-ayo, kita harus cepat ke tempat latihan, " Ahkam.


...***********...


Tim Syubban berlatih untuk acara yang akan mereka hadiri nanti, mereka terlihat semangat hingga ketika Akmal mulai mengambil posisi untuk melantunkan sholawat, dadanya kembali sesak dan tenggorokannya sakit tetapi Akmal berusaha memberikan penampilannya yang terbaik.


Ahkam yang tau dengan desah nafas Akmal yang kencang setelah Akmal berhenti sholawat mulai merasa khawatir ia memegang tangan Akmal membuat Akmal menoleh ke arahnya sementara Azmi masih fokus bersholawat bersama dengan Aban.


" Kamu gak papa, kan? " tanya Ahkam dengan wajah sangat khawatir.


" Enggak mas, gak papa, " Akmal berusaha menahan rasa sakitnya.


Ahkam hanya mengangguk dan mulai gilirannya untuk sholawat dalam pikirannya Ahkam masih khawatir dengan keadaan Akmal yang terus mengatur nafasnya kencang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2