Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 130. Tragedi Pembatas Terbuka.


__ADS_3

Bus-bus pesantren Nurul Qadim sampai di suatu perkemahan besar dan indah yang ada di Probolinggo, bus-bus itu parkir pada tempat yang sudah di sediakan dan diarahkan oleh tukang parkir yang ada di sana. Tidak lama mobil Kyai juga datang dan parkir tidak jauh dari bus-bus pesantren.


" Ayo semuanya turun, hati-hati dan jangan ada yang saling dorong!" ucap Ahkam yang berdiri dan mengawasi semua santri yang hendak turun.


" Mas, " Azmi memberi salamnya dengan menyematkan senyumnya yang manis dan memberi tos pada Ahkam.


Ahkam membalas tosan Azmi tidak hanya itu ia juga membenarkan peci Azmi yang jomplang sebelum Azmi turun.


Semua santriwan jalan terlebih dahulu di bimbing oleh para Ustadz dan juga para senior yang sementara Kyai mendampingi mereka dari belakang.


Para Ustadzah meminta santriwati untuk menunggu turunnya semua santriwan agar tidak bertabrakan.


Lapangan yang hijau dan luas khusus untuk perkemahan yang sudah di booking oleh pihak pesantren membuat semua santri terlihat sangat gembira dan sangat menikmati pemandangan yang indah tetapi tidak dengan Zakir yang terlihat berjalan pelan di belakang Azmi dengan tangan yang terlipat di depan perutnya dan wajah malas tidak bersemangat.


Jauh beda dengan Azmi yang dengan percaya diri melantunkan sholawatnya bersama Ahkam dan Aban atas permintaan Ustadz Abdullah, dengan suara 3 A yang indah membuat acara kemah semakin seru.


"Semangat Kir, jangan lemas gitu! Kaya gak makan seminggu aja, " ledek Rifki yang sedari tadi berjalan di sebelah Zakir.


Zakir menghentikan langkahnya dan menatap tajam Rifki.


" Aku gak senang sama suara mereka, sok merdu aja, sakit kuping aku, " Zakir menunjukkan kupingnya yang sakit akibat mendengar suara Azmi dan Aban yang ada di depannya.


" Ya udah tutupin aja kupingmu, kamu emang paling aneh Kir, suara Azmi, Aban dan mas Ahkam itu bagus, kaya suara kamu merdu aja, " ledek Rifki melanjutkan langkahnya berjalan di samping Aban karena ia malas melihat tingkah Zakir.


" Azmi, Aban, suaranya bagus? Ya elah, suara kaya gitu dibilang bagus, jauh bagusan suara aku lah, " ujar Zakir pada dirinya sendiri dengan tatapan tajam ia mengawasi Azmi dan Aban yang terus bersholawat dan kembali lanjut berjalan.


Tempat kemah santriwan dan santriwati sudah di batasi oleh senior santriwan dan senior santriwati yang bertugas untuk membuat perbatasan dengan memasang sebuah tenda panjang dan lebar di dekat pohon sebagai perbatasan wilayah santriwan dan santriwati agar tidak bertemu dan tidak bisa melihat wajah lawan jenis.


Ustadz Ridwan terlihat berbicara dengan Ustadzah Lily untuk membicarakan perkumpulan agar santriwan dan santriwati bisa mendengarkan ucapan Kyai.


" Kalau begitu anak santriwan barisnya di sebelah sini Ustadz, nanti yang santriwati saya bariskan di sebelah sini. Jadi, nanti semuanya bisa mendengar pidato Kyai dengan jelas." jelas Ustadzah Lily menunjukkan di mana santriwan dan santriwati harus berbaris.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Ustadzah Lily, Ustadz Ridwan mengerti dan mengagukkan kepalanya pelan beberapa kali.


" Baik Ustadzah kalau gitu saya langsung minta santriwan baris di sini, tolong urus barisan santriwati supaya ini bisa cepat di laksanakan, " Ustadz Ridwan.

__ADS_1


" Baik Ustadz, saya urus santriwati dulu, assalamualaikum, " ucap Ustadzah Lily suaranya yang lemah lembut membuat kagum Ustadz Ridwan yang berdiri di dekatnya.


Belum menjawab salam Ustadzah Lily, Ustadz Ridwan malah melamun terus memandang langkah Ustadzah Lily yang semakin menjauh.


" Astagfirullah, wa'alaikumsalam warahmatullahi wabatakatuh, " ucap Ustadz Ridwan yang bangun dari lamunannya pada Ustadzah Lily dan langsung mengusap wajahnya pergi menuju perkumpulan anak-anak santriwan.


Setelah berbicara dengan Kyai, para santriwan berjalan menuju tempat perbatasan antara santriwan dan santriwati.


" Itu jangan dekat sama batasnya, " ucap Ustadz Fathur mengawasi Zakir yang berdiri sangat dekat dengan batas.


Tetapi Zakir yang tidak mendengarkan malah bersender pada tempat batas sambil melamun.


" Zakir! Tolong jangan senderan, ya! Bisa lepas itu nanti! " teriak tegas Ustadz Fathur dengan tegas yang membuat Zakir kaget dan segera menegakkan tubuhnya.


" I I I, iya Ustadz, " ucap Zakir tebata-terbata dan mulai bergeser menjauhi perbatasan.


" Makanya jangan melamun aja Kir, kalau copotkan bahaya, " ledek Azmi dengan bola mata yang berputar menatap Zakir sekilas.


" Diam bisa, gak? Gak bakal copot juga, Ustadz nya aja yang lebay, " ucap Zakir dengan pandangan malas berpaling dari Azmi.


" Berdirinya agak jauhin ya, sama batasnya. Supaya gak deketan sama santriwatinya! " teriak kembali Ustadz Ridwan.


Azmi yang baris paling pojok dekat pembatas melihat ke arah Aban dan meminta Aban untuk bergeser agar Azmi bisa jauh dari pembatas yang sudah ada santriwati di sebelahnya.


Tanpa sengaja, yang di sebelah Azmi adalah Aisyah hanya saja mereka sudah di batasi oleh pembatas.


Aisyah terlihat lemas dengan wajah yang tidak bersemangat berbaris menghadap ke depan dengan sangat lesu. Fitri yang mengetahui bahwa Aisyah masih sedih langsung menepuk pundak Aisyah membuat Aisyah menoleh ke arahnya.


" Syah, jangan lemas gitu dong! Ayo semangat! " ucap Fitri berusaha menyemangati temannya yang sangat tidak bersemangat.


Aisyah hanya tersenyum manis dan kembali memalingkan wajahnya datar sementara tatapan Fitri sangat dalam kepada sahabatnya, Fitri ikut menoleh ke depan sembari menghela nafasnya.


Ustadz Abdullah sudah menyediakan mikrofon untuk Kyai, dengan langkah pelan ia maju memberikan mikrofon itu pada Kyai dengan penuh rasa hormat dan sangat sopan.


Setelah Kyai menerima mikrofon ia kembali menatap para santrinya yang tidak pernah ia bayangkan akan jadi sebanyak ini. Kyai tersenyum terharu melangkah maju untuk memberikan pidatonya.

__ADS_1


" Baik, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Kyai.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " ucap semua santri dan semua Ustadz-Ustadzah suara mereka menggema keras pada tempat perkemahan.


" Alhamdulillah kita ucapkan, hari ini kita bisa melaksanakan perkemahan di tempat ini. Kalian semua sudah tau, kalau kemah akan selalu diadakan sebelum pulangan, yang baru mondok belum pernah ya, Jadi saya minta nanti para seniornya untuk mengajari adek-adeknya apa saja yang di lakukan, siap! " Kyai.


" Insya Allah siap, Kyai! " sorak semua santri.


Tanpa diketahui semua yang fokus mendengar Kyai, terlihat pembatas tidak kuat dan hendak putus. Semua santri dan Ustadz-Ustadzah yang berada di belakang santri untuk mengawasi juga sangat fokus mendengarkan dan tidak mengetahui hal itu sama sekali.


" Alhamdulillah, semangat sekali kalian. Nanti juga ada Ustadz atau Ustadzah yang akan membagi jadi akan ada kelompok nanti kalian buat tenda sesuai dengan teman sekelas ya, " Kyai.


" Maaf Kyai, sekelas dalam sekolah umum," potong Ustadz Abdullah memberitahu.


" Oh iya, sekelas sekolah umum seperti Madrasah Tsanawiyah atau Madrasah Aliyah. " Kyai.


Semua santri menganggukkan kepala mereka paham atas apa yang dimaksud. Tapi Aisyah masih terus saja tidak bisa melupakan kepergian Kakaknya, wajahnya yang putih pucat tiba-tiba air mata membasahi pipinya.


Tali yang tidak terikat dengan kuat, seketika terlepas dari ikatannya dan membuat pembatas terbuka.


Dengan spontan secara bersamaan Azmi dan Aisyah yang kaget saling melihat ke arah pembatas dan mereka sempat bertatapan. Melihat wajah Aisyah yang dibasahi air mata membuat Azmi kasihan pada Aisyah.


" Tolong dijaga pandangannya! Jangan ada yang melihat ke arah pembatas! " teriak Ustadz Ridwan.


" Anak-anak semuanya menghadap ke sana ya, jangan ada yang melihat ke arah santriwan! " terak juga Ustadzah Lily mengatur agar semua santriwati tidak melihat ke arah santriwan.


Santriwan dan santriwati mau mendengarkan mereka semua membalikkan tubuh mereka agar pandangan mereka tidak tertuju kepada lawan jenis begitu juga yang di lakukan dengan Azmi dan Aisyah.


" Gimana ini? Kam, kamu gak benar ngikatnya, " protes Ustadz Fathur membuat para senior yang bertugas tertunduk takut.


" Sudah-sudah, kok marah-marah, ayo Ahkam, Muhklis, Ali, ikat lagi dengan kuat! Pastikan tidak akan terlepas lagi! " Kyai kepada semua senior.


" Baik Kyai, " Ahkam.


Mulailah mereka berjalan menuju wilayah pembatas, para santriwati yang ada di pojok di minta untuk sedikit bergeser agar tidak tersentuh dengan santriwan senior yang akan memperbaiki pembatas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2