
Mufti mengendarai motornya dengan keadaan marah karena perkataan Doni yang sekarang masih terngiang-ngiang dalam pikirannya. Mufti juga meluapkan kekesalannya dengan memukul kepala motornya sambil berteriak.
" Arghhhh! "
Dan kekesalannya membuat Mufti gagal fokus, Mufti tidak melihat ada anak kecil yang menyebrang dengan berlari saat mengetahui hal itu Mufti langsung banting stir untuk menghindari anak kecil yang menyebrang ini hingga ia terjatuh dan kepalanya terbentur pada trotoar.
Mufti sempat melihat anak kecil yang masih selamat dan ia bersyukur akan hal itu tapi ia merasakan rasa sakit pada tubuhnya yang tertindih motor. Dijalan desa yang sepi tidak ada orang yang bisa membantunya.
Dan secara kebetulan, Hafsah melintas di jalan yang sama dengan Mufti dari kejauhan Hafsah melihat seorang laki-laki yang terjatuh dan tengah berusaha bangun menahan rasa sakitnya.
" Astagfirullah, itu orang kenapa?" ucap Hafsah segera menghampiri laki-laki itu yang ia tidak tau kalau itu Mufti.
Hafsah langsung memarkirkan sepeda motornya tidak jauh dari tempat dimana Mufti terjatuh. Tanpa berlama-lama Hafsah langsung menghampiri Mufti untuk membantunya bangun.
" Aduh, Mas. Kenapa bisa jatuh kaya gini? Padahal jalanannya sepi loh," Hafsah ia mendekati Mufti dari belakang dan tidak langsung membantu Hafsah malah bertanya kenapa Mufti bisa terjatuh.
Mufti yang tadinya kesal semakin kesal saat Hafsah bicara seperti itu padanya tapi ia tidak langsung menoleh.
Mengetahui laki-laki yang ia tolong tidak menjawab, Hafsah langsung membangunkan terlebih dahulu motor Mufti yang lumayan cukup berat bagaimana tidak motor Mufti adalah motor ninja yang tentunya sangat berat.
" Duh, berat banget, ya." Hafsah.
Mufti mengangangkat kepalanya dan ia langsung tercengang ketika melihat Hafsah yang ada dihadapannya dan tengah berusaha mengangkat motornya itu.
Hafsah berhasil mengangkat sedikit dengan sekuat tenaga walau belum menyingkir dari hadapan Mufti seutuhnya.
" Mas bisa bantu, gak? Saya gak kuat," Hafsah ia meminta Mufti untuk membantunya dan Hafsah juga kaget ketika melihat Mufti.
" Ya Allah, ternyata kamu, Muf. Daritadi gak ada suaranya," Hafsah.
" Iya, kenapa emangnya? " jawab Mufti ketus.
" Ih, dibantuin malah kaya gitu ngomongnya. Ayo, berusaha bangun, ini motornya udah keangkat dikit." Hafsah.
Mufti tidak langsung beranjak wajahnya terlihat lesu dan lemas.
" Mufti! Cepetan! Ini gak ada orang disini, kamu mau motornya jatuh lagi nimpa kamu! Cepetan, tangan aku udah sakit banget, ini. " ucap Hafsah ia sudah tidak kuat menahan motor Mufti dan meminta Mufti untuk segeta menolongnya.
" Iya, iya. Lemah banget sih, lo." Mufti perlahan ia bangun dan untuk membantu Hafsah mengangkat motor miliknya.
Akhirnya motor Mufti bisa berdiri dengan perlahan Mufti dibantu oleh Hafsah memakirkan motor ninja yang cukup berat itu.
Tubuh Mufti begitu lemas karena habis terjatuh apalagi ia tidak mengenakan helm kepalanya yang terbentur membuat Mufti merasakan sakit dikepalanya.
__ADS_1
Tiba-tiba pandangannya kepada Hafsah perlahan buram dan semakin hitam, Mufti terjatuh dalam pelukan Hafsah yang cepat menopangnya.
" Loh, loh, loh. Muf, Mufti bangun! Mufti! Aduh, gimana, nih? Mana gak ada orang lagi. Mufti, " Hafsah ia masih memeluk erat tubuh Mufti yang pingsan.
Perlahan, Hafsah membawa Mufti ketepi ia melihat sebuah bangku yang ada disana dan dengan perlahan Hafsah membawa Mufti sampai kesana.
" Mufti, Muf! Bangun, " Hafsah ia menepuk-nepuk pipi Mufti tapi Mufti masih tak kunjung bangun.
Hafsah terus berusaha membangunkan Mufti tapi entah mengapa Mufti sulit sekali untuk bangun ditambah lagi suasana jalan yang sepi ada yang berlalu lalang beberapa.
Akhirnya Hafsah berinisiatif membangunkan Mufti dengan air minum yang ia bawa beberapa kali ia semprotkan dan benar saja usaha yang dilakukan Hafsah akhirnya berbuah hasil juga, tidak perlu waktu yang lama Mufti terbangun dan seketika kaget.
" Heh, lo ngapain, sih? Cipratin gue pakai air, " ucap Mufti yang baru sadar sembari bangun dan mengusap-ngusap wajahnya.
" Tadi kamu pingsan tau, untung aja ada aku. Bukannya terima kasih juga, " Hafsah.
" Iya, sama-sama. " Mufti dengan santainya.
" Ya Allah berilah hamba kesabaran menghadapi orang kaya dia ini, " Hafsah ia mencoba sabar karena sikap Mufti yang sama sekali cuek padahal Hafsah sudah bersusah payah menolongnya dari mengangkat motornya yang berat sampai membawa Mufti yang pingsan dan membangunkannya.
" Alay lo, jadi orang." Mufti ia yang tampak kesal langsung bangun dan hendak pergi begitu saja.
Hafsah yang melihatnya tentu kesal dan ia langsung ikut bangun hendak mengikuti Mufti.
Mufti memegangi kepalanya dan mencoba menahan rasa sakitnya tapi saat melangkah, langkah kaki Mufti tidak bisa berjalan dengan lurus. Tubuhnya oleng ketika berjalan.
Melihat itu, Hafsah segera mendekati Mufti untuk membantunya dengan spontan Hafsah memegangi tubuh Mufti.
" Eh, eh. Mufti, kamu gak papa? Kamu sakit, ya?" tanya Hafsah.
" Enggak, gak tau, nih. Tiba-tiba gue pusing banget," Mufti.
" Astagfirullah, ya udah kita kerumah sakit ya, biar aku yang anter kamu, " Hafsah.
" Eh, gak usah, gak usah. Gue gak papa kok, cuma pusing biasa. Ini biasa terjadi kali. Gak usah lebay deh, " Mufti.
" Bukan lebay, Mufti. Aku cuma takut kamu kenapa-napa, " Hafsah.
Ucapan Hafsah membuat Mufti terdiam, suaranya yang lembut menggerakkan hati Mufti dan membuat Mufti tersenyum dibuatnya.
" Ternyata nih, cewek bisa perhatian juga sama gue. Hmmmh, jangan-jangan dia diam-diam ada rasa juga sama gue. Tapi... Argh, gue kan bukan tipe dia. Udahlah gue gak usah berharap entar nyesek sendiri lagi," ucap Mufti dalam hati Mufti ia memandang Hafsah juga begitu dalam dan ekspresinya tampak berubah-berubah dari tersenyum hingga datar diakhir ia bergumam.
" Heh, Mufti. Kamu lagi mikir apa, sih? Ya udah, kalau kamu gak mau kerumah sakit. Duduk dulu disini sampai pusing kamu hilang Aku mau lanjut jalan dulu, " Hafsah ia hendak pergi tapi Mufti tidak terima dan langsung menarik tangan Hafsah seketika membuat langkah Hafsah terhenti.
__ADS_1
" Hafsah, lo jangan pergi, ya. Masa lo tega ninggalin gue disini sendiri. Temenin gue dulu, " Mufti.
Hafsah membalikkan tubuhnya dan memandang Mufti.
" Mufti, kamu tuh yang lebay. Kamu cuma pusing biasa, kan? Ya udah duduk aja sampai pusing kamu sembuh, " Hafsah.
" Lo kok tega banget, Haf. emang lo mau kemana, sih? Kerja? Ini kan hari minggu." Mufti wajahnya yang pucat dan nada suaranya yang lirih membuat Hafsah menjadi kasihan dengannya.
" Kasihan juga, Mufti. Mukanya pucat banget, lagian aku cuma mau jalan-jalan aja. Apa aku temenin dia dulu, ya." pikir Hafsah.
" Tapi, kalau lo mau jalan. Ya udah, " Mufti melepas genggaman tangannya yang sedari tadi memegang tangan Hafsah.
" Mufti, oke. Aku mau temenin kamu. Aku juga lagi gak kerja, tapi ini sampai pusing kamu itu hilang. " Hafsah.
" Iya, bawel. Ayo, " Mufti ia menarik tangan Hafsah dan mengajaknya untuk duduk bersamanya.
Mereka akhirnya duduk berdua, Hafsah mulai terlihat tegang dan bingung harus mulai bicara apa.
Sementara Mufti terlihat memijat-mijat kepalanya.
" Oh, iya. Muf, kamu tadi kenapa bisa jatuh? " tanya Hafsah yang membuat Mufti menghentikan pijatannya dan fokus menatap Hafsah.
" Sebenernya gue habis ribut sama teman-teman gue tadi. Gue kepikiran dan gak fokus sama jalan terus tadi ada anak kecil nyebrang dan hampir aja gue nabrak dia. Tapi, untung aja gue sempat ngehindar eh, malah nabrak trotoar apesnya lagi gue gak pakai hlem lagi." Mufti.
" Ya Allah, kasihan banget kamu. Tapi, kepala kamu gak papa, Muf? " tanya Hafsah.
" Gak papa, cuma kebentur dikit masih aman," jawab Mufti.
" Tapi, emangnya kamu ribut kenapa lagi, sih? Ya, kalau aku boleh tau, kalau enggak ya gk papa lupain aja, " Hafsah.
" Mereka ngejelek-jelekkin anak Syubband. Gue gak tau apa yang ada dalam pikiran teman-teman gue terutama si Doni itu sampai dia berpikir gue berubah karena anak-anak Syubband. Aneh banget, kan? " Mufti.
" Kayanya Doni cuma iri aja, mungkin emang bisa jadi perhatian kamu berkurang sama mereka." Hafsah.
" Enggak, Hafsah. Doni aja yang terlalu lebay, gue gak berubah kok. Gue cuma pengen bawa mereka ke jalan yang benar secara perlahan. Setelah gue berteman dengan anak-anak Syubband, gue ngerasain ketenangan. Gak tau kenapa, ngelihat wajah mereka aja gue ngerasa adem banget. Padahal gue ada kejutan buat mereka. " Mufti.
Hafsah mengangguk mengerti.
" Kamu sabar aja, Muf. Kamu juga harus ingat kalau mereka teman kamu dari dulu, dari kamu susah. Ya, mungkin mereka masih bersikap seperti ini karena wawasan mereka belum banyak tentang agama. Kamu harus sabar kuncinya. Jangan gampang emosi, pelan-pelan mereka pasti jadi lebih baik dan gak akan iri sama anak Syubband. " Hafsah.
Mufti mengangguk pelan beberapa kali akan ucapan Hafsah.
" Iya, makasih udah kasih gue saran." Mufti ia memberikan senyuman manisnya kepada Hafsah dan Hafsah juga memberikan senyuman manisnya pada Mufti. Tatapan mereka berdua tampak begitu dalam.
__ADS_1
Bersambung....