Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 217 Menyesal Dan Sadar


__ADS_3

" Ah, paling itu cuma temannya Zakir." pikir Azmi karena yang ia lihat mereka hanya berbicara tanpa menyentuh Zakir.


Azmi langsung melangkah mencari suatu tempat untuk duduk menunggu Naufal ia sama sekali tidak menghiraukan Zakir karena Azmi tidak berpikir suatu hal buruk yang akan terjadi pada Zakir. Azmi memasang sorbannya yang menjadi andalan saat ia pergi keluar mengindar dari fans-fans yang terlalu berlebihan kepada dirinya.


Zakir yang hanya sendirian dikepung oleh ketiga pemuda yang tidak lain adalah suruhannya untuk melukai Azmi.


" Nah, ini dia bocah yang udah ngeremehin kita." penjahat 1.


" Baru minta uang jajan sama orangtua sombong amat lho," penjahat 2.


" Sikat aja nih, anak! Kasih pelajaran biar dia gak asal ngeremehin orang kaya kita!" sambung penjahat 3.


" Eh, kalian mau ngapain? Jangan macam-macam, ya! Ini tempat umum kalian bisa aja digebukin sama orang," ucap Zakir berusaha melawan walau wajahnya sudah tampak ketakutan.


" Jalanan ini sepi, gak akan ada orang yang nolongin kamu! " penjahat 1.


Dengan wajah seram dan mereka bertiga langsung mendekati Zakir, Zakir semakin mundur tapi ia tidak bisa mengelak dengan pukulan keras yang sampai pada wajahnya. Zakir langsung terjatuh dan merengek kesakitan.


" Aduuuhhh!" rengek Zakir dan itu didengar oleh Azmi yang masih menunggu Naufal.


Azmi mulai khawatir kalau terjadi apa-apa pada orang yang selalu membenci dirinya. Azmi tidak bisa berpikir lagi saat ia mendegar suara rengekan Zakir yang kesakitan ia langsung meninggalkan barangnya dan pergi untuk menolong Zakir.


Tidak hanya satu kali, ketiga penjahat itu kembali membangunkan Zakir dan memukulnya terus-menerus hingga Zakir tidak berdaya dan tersungkur ditanah


Dan benar saja, Zakir yang terduduk ditanah sudah sangat kesakitan karena dihajar. Zakir memegangi wajahnya yang habis dipukul dan babak belur sambil meringis kesakitan.


" Pakai ini aja, biar dia makin kapok!"


Salah seorang penjahat memberikan kayu besar kepada temannya yang akan dihantamkan kepada tubuh Zakir.


" Jangan, aku minta maaf! Kalian jangan lakuin ini sama aku, " ucap Zakir yang ketakutan dan menutupi wajahnya.


Tapi para pemuda yang sudah sangat mengambil hati akan ucapan Zakir yang telah meremehkan mereka.


Dan...


Untung saja saat pemuda itu hendak menghantamkan kayu yang cukup besar ketubuh Zakir, Azmi datang ia dari belakang memegangi tangan pemuda itu dari belakang mencoba menghentikan kekerasan yang akan mereka lakukan.


Azmi mengambil kayu dari tangan pemuda itu dan membuangnya agar tidak lagi digunakan untuk menyakiti Zakir.


Azmi melepas sorbannya dan menjatuhkannya ditanah untuk menghadapi ketiga pemuda.

__ADS_1


Begitu kagetnya Zakir ketika melihat Azmi yang berusaha menolongnya ia tercengang dengan wajah yang babak belur.


" Apa-apaan, nih? Beraninya main keroyokan sama orang yang lebih kecil lagi dari kalian. Istighfar mas-mas semua, ini hari suci jangan kalian kotori dengan sikap rendah kalian ini! " Azmi.


" Lho kalau gak tau apa yang terjadi jangan ikut campur! Mau bonyok kaya nih, anak!" ucap penjahat 1.


" Tapi dia teman saya, jadi saya berhak ikut campur. Kalian pikir saya takut sama kalian yang beraninya keroyokan!" Azmi.


Salah seorang penjahat dengan wajah sangarnya malah tertawa licik mendengar ucapan Azmi itu.


Azmi menoleh kepada penjahat yang tertawa dan wajahnya tampak bingung.


" Lo nganggap dia teman? Asal lo tau, ini anak yang mau celakain lo. Dia yang udah nyuruh kita buat nyulik dan ngehajar lo! Sadar, bro! Jangan terlalu baik jadi orang!" ucap penjahat 2 sambil mendorong kedua pundak Azmi sampai Azmi terdorong ia juga terus mentertawai Azmi bersama dengan teman-temannya.


Azmi sempat terdiam kaku setelah mendengar pengakuan dari ketiga pemuda yang ingin melukai Zakir dan juga dirinya.


Azmi menoleh kebelakang memandang Zakir yang tidak bisa berbuat apa-apa ia hanya terus meringis kesakitan memegangi dagu sampai bawah bibirnya yang terluka, Zakir menunduk ketika Azmi memandangnya tajam pergerakan bola mata Zakir terlihat jelas kalau ia sedang gelisah.


Penjahat itu mengambil kesempatan saat Azmi dan Zakir saling diam. Salah satu penjahat kembali mengambil kayu yang telah dilempar Azmi memberinya kepada temannya yang lebih terlihat galak dan tangannya yang lebih besar dengan cepat mereka menghampiri Zakir dan hendak memukulnya dengan kayu yang cukup besar.


Tapi, untung saja Azmi yang berada tidak jauh dari sana dengan sigap menghalangi perbuatan itu dengan menggunakan tangannya. Ia secara spontan menggunakan tangannya untuk menopang pukulan kayu yang akan dihantamkan pada Zakir.


**


" Mas Azmi, endi tho? Masa barangnya aja seng enek dek kene wonge gak enek? Mas Azmi, Mas Azmi." Naufal ia terlihat kebingungan bergumam sendiri sambil memperhatikan barang yang ia bawa dan juga sudut sekitar untuk mencari dimana keberadaan Masnya.


Naufal menggaruk bagian belakang lehernya, membenarkan pecinya setelah beberapa saat barulah ia pergi untuk mencari Masnya.


" Aku cari ajalah, semoga aja gak jauh darisini. Apa Mas Azmi ke toilet? Argghhh, tapi kalau ke toilet harusnya aku ketemu sama Mas Azmi tadi. Terus dimana'e? Weslah, golek'i ae." Naufal ia mulai melangkah mengambil bungkusan barang belanjaannya pergi untuk mencari Azmi.


Betapa kagetnya ketiga penjahat saat melihat Azmi yang sigap menghadang pukulan yang ditujukan oleh Zakir, mereka semua tidak menyangka kalau Azmi masih mau membantu Zakir. Begitu juga Zakir yang tidak menyangka akan aksi pahlawan yang dilakukan oleh Azmi.


Pukulan keras yang dihantamkan kepada kedua tangan Azmi yang menggunakan kayu yang ukurannya cukup besar membuat Azmi seketika merasakan sakit yang amat sangat ia berteriak sambil memegangi tangannya terlihat tidak kuat menahan sakitnya sampai Azmi membungkukkan tubuhnya dengan tangan yang ia rangkup didepan dadanya.


" Arggggggghhhhh! " teriak Azmi begitu kencang melampiaskan betapa sakitnya tangannya lalu ia terduduk untuk menahan sakitnya kedua tangannya.


" Azmi! " Zakir yang khawatir akan keadaan Azmi tapi ia juga sulit berdiri pada saat itu dan bingung harus berbuat apa.


Naufal yang mendengar suara Azmi seketika kaget dan terdiam ia langsung menghampiri dimana letak suara itu.


Naufal melihat Masnya yang bersama ketiga penjahat kejam, ia melihat Azmi terus meringis kesakitan dengan segera Naufal berteriak minta tolong agar ketiga penjahat itu pergi.

__ADS_1


" Tolong, tolong! " teriak Naufal.


Ketiga penjahat yang juga mendengar suara teriakan itu kaget dan menoleh ke arah Naufal, mereka mulai takut dan segera kabur meninggalkan tempat.


" Heh! Jangan kabur! " teriak Naufal melihat larinya penjahat yang semakin jauh tapi ia lebih mementingkan keadaan Azmi sehingga mengurungkan niatnya untuk mengejar ketiga penjahat.


" Mas Azmi, " Naufal ia berlari menghampiri Masnya.


Naufal meletakkan belanjaannya ditanah dan segera mendekati Azmi yang masih pada kondisi menahan rasa sakit tangannya.


Zakir mulai merasa bersalah, ia mengingat semua kejadian jahat yang telah dilakukannya hanya untuk kebenciannya. Mata Zakir mulai berkaca-kaca ia sadar akan betapa licik dan jahatnya ia kepada Azmi yang merupakan orang yang sangat baik.


Azmi yang tidak pernah terbesit dipikirannya untuk membalas kejahatannya dan ia selalu sabar akan apa yang telah Zakir lakukan.


Setelah beberapa detik ia melamuni dan mengingat semua perilaku jahatnya ia mulai bangun dan mendekati Azmi.


" Mas, gimana ini? Mas kenapa bisa kaya gini? " Naufal ia sangat panik dan bingung harus berbuat apa memegangi punggung Masnya.


" Kita bawa Azmi kerumahnya aja langsung, biar aku hubungi Kak Dimas buat bawa motor nganterin Azmi sampai rumah," ucap Zakir dengan suara lirih ia tidak tega melihat Azmi yang tengah menahan rasa sakitnya.


" Gak usah, gak usah. Aku masih kuat jalan sampai rumah, ayo, Dek." Azmi ia menolak tawaran Zakir yang mulai sadar dan mulai berkata baik kepadanya.


" Mas Azmi yakin? Aku khawatir sama, Mas'e." Naufal.


" Yakin, ayo, kita cepetan pulang! " Azmi ia seakan terburu-buru untuk pergi dari hadapan Zakir.


Mendengar permintaan Masnya, Naufal mengangguk pelan beberapa kali. Ia membantu Azmi berdiri dan melangkah bersama untuk pulang.


" Mari, Mas." ucap Naufal ramah kepada Zakir.


Zakir mengangguk.


" Iya, " jawab Zakir.


Tapi Azmi tidak mau menoleh ataupun berpamitan, mungkin karena ia masih menahan sakitnya dan melangkah pelan bersama dengan Naufal.


Zakir terdiam memandangi langkah Azmi ia masih belum menyangka hal seperti ini akan terjadi dan barulah ia menyesali semua perbuatan jahatnya setelah melihat Azmi yang menahan sakitnya hanya untuk menyelamatkan dirinya.


**Menyelamatkan orang yang selama ini selalu berusaha membuatnya celaka.


Menyelamatkan orang yang selama ini menganggapnya sebagai musuh.

__ADS_1


Menyelamatkan orang yang selama ini hanya berpikir buruk tentang perbuatan baik yang telah Azmi lakukan**.


Bersambung.....


__ADS_2