
Pagi hari yang cerah ini, sesuai janji Mufti kepada teman-temannya ia sudah rapi dengan penampilannya yang begitu keren hendak pergi menemui teman-temannya yang sudah ia hubungi sebelumnya.
Saat melintas dikamar Kakaknya, Mufti jadi teringat akan janjinya kepada Hafsah. Diam-diam dengan tenang Mufti berdiri didepan pintu kamar Ustadz Mustafa sambil mengintip dari pintu kamar yang sedikit terbuka.
Ustadz Mustafa terlihat siap-siap dengan peci hitam yang terpasang dikepalanya ia seperti hendak pergi.
Mata Ustadz Mustafa tiba-tiba mengarah kepada Mufti yang terlihat jelas dalam pantulan cermin yang ada dihadapan Ustadz Mustafa. Sementara, Mufti tidak sadar kalau Kakaknya sudah mengetahui keberadaannya ia tampak gugup untuk bicara kepada Ustadz Mustafa.
" Masuk aja, Muf. Gak usah ngintip berdiri disitu. " ucap Ustadz Mustafa yang membuat Mufti kaget dibuatnya.
Mufti yang kaget terlihat semakin canggung ia membalikkan badannya dan malah nyengir kepada Ustadz Mustafa.
Mufti menggaruk pelan lehernya dengan kepala yang tertunduk.
" Ayo, sini. Masa sama Kakak sendiri gugup kaya gitu. Ada apa?" tanya Ustadz Mustafa berdiri dan melangkah mendekati Mufti.
" Hah? Enggak, siapa yang gugup? Enggak kok, biasa aja." ucap Mufti sekilas matanya memandang kearah Ustadz Mustafa dan kembali memalingkan wajahnya.
Ustadz Mustafa tersenyum melihat tingkah Mufti ia mengangguk dan mengiyakan ucapan Mufti.
" Iya, iya. Kalau gitu kenapa kamu berdiri disitu? Ada yang mau diomongin?" tanya Ustadz Mustafa.
Sebelumnya Mufti sempat terdiam sebelum menjawab hingga ia mulai melangkahkan kakinya mendekat hingga berdiri tepat dihadapan Ustadz Mustafa.
" Sebenarnya, aku.. Aku... Aku mau bilang, aku kangen sama anak-anak Syubband. Kakak pasti kangen juga, kan?" tanya Mufti dengan nada yang begitu pelan pada akhir kalimatnya.
" Iya, sih. Mereka sudah mau balik ke pondok sebentar lagi. Memang kenapa? Tumben kamu nanyain mereka? " tanya balik Ustadz Mustafa dengan wajah heran memandang Adiknya itu.
" Ya, gak papa. Emang gak boleh kalau aku kangen sama mereka. Mereka kan, teman-teman aku juga." Mufti.
Ustadz Mustafa kembali tersenyum saat mendengar ucapan Adiknya bahkan ia tertawa kecil menutupi mulutnya dengan memalingkan wajahnya.
" Kenapa sih, Kak? Kok malah ketawa. Emang ada yang lucu, ya? " Mufti.
" Enggak, cuma tumben aja kamu bersikap kaya gini. Terus kamu mau mereka ngapain? Mau mereka datang kesini, gitu? " Ustadz Mustafa.
" Nah, iya, Kak. Mereka tampil aja disini. Atau dipesantrennya aja biar meriah dan pesantrennya makin dikenal oleh masyarakat. Aku yakin pasti bakal ramai banget, please, Kak. Aku gak pernah kaya gini sama Kakak sebelumnya, aku pengen banget ketemu sama mereka, bisa seru-seruan sebelum mereka belajar lagi dipesantren." Mufti ia bicara dengan sangat sungguh-sungguh sangat menunjukkan kalau dia memang sangat ingin bertemu dengan anggota Syubban.
Melihat itu, Ustadz Mustafa jadi terdiam memandang dalam mata Mufti yang juga tengah menatap dirinya tengah menunggu jawaban dari Kakaknya.
Ustadz Mustafa mengangguk dan kembali memandang Mufti
" Oke, nanti Kakak bicarakan kepada, Kyai. Semoga saja bisa mereka tampil disini. Tapi, memang Azmi, Aban dan Ahkam pernah bilang kalau mereka punya ide bagus untuk sebuah karya baru dengan bantuan Kakak, Hamdi dan Syafiq pastinya. Kami sudah bicarakan itu juga, sebenarnya. Insya Allah, diusahain anggota Syubban juga akan datang sebelum mereka balik ke pesantren." Ustadz Mustafa.
__ADS_1
" Nah, iya, kan. Kalau gitu aku tunggu kehadiran mereka. Aku benar-benar minta tolong sama Kakak, " Mufti.
" Iya, iya." Ustadz Mustafa sambil mengangguk.
" Alhamdulillah, makasih Kakak yang baik banget. Kalau gitu aku pergi dulu, Kak. Udah ditungguin, nih. " Mufti ia mencium tangan Kakaknya begitu saja yang membuat Ustadz Mustafa tersenyum.
" Siapa yang nungguin?" tanya Ustadz Mustafa.
" Biasa, siapa lagi kalau bukan teman-temanku, Kak? Ya udah, jalan dulu. Assalamualaikum, " Mufti ia terlihat senang langsung melangkah dengan penuh semangat.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Aneh, tumben sikap Mufti kaya gitu sama orang. Perasaan mereka gak terlalu dekat juga. Tapi, ya udahlah." gumam Ustadz Mustafa yang sempat bingung dengan sikap Mufti tapi akhirnya bisa memaklumi dan menerimanya sambil geleng-geleng kepala dan tertawa kecil mengingat sikap Adiknya itu.
Tanpa berlama-lama Ustadz Mustafa segera bersiap untuk pergi menemui Kyai. Dalam diri Ustadz Mustafa ia juga rindu dengan semua anak didiknya.
***
Azmi duduk di kursi meja belajarnya sambil fokus menatap layar handphonenya entah apa yang Azmi lihat dalam handphonenya tapi terlihat jelas wajahnya yang begitu serius dan tiba-tiba juga tampak sedih.
Melihat chanel youtube miliknya dan sosial media lain miliknya dan juga anggota Syubban dimana terdapat komentar yang terlalu berlebihan memuji dirinya.
Tidak hanya itu, Azmi juga melihat video dimana para fansnya menangis ketika kedatangan dirinya bersama anggota Syubban yang lain.
" Astagfirullah, orang-orang kok sampai kaya gini kelakuannya." gumam Azmi sambil terus fokus menatap layar handphonenya.
Ummi Azmi yang tidak melihat kehadiran Azmi sedari tadi tentu sangat khawatir. Azmi juga belum turun dari kamarnya untuk sarapan.
" Azmi daritadi belum turun buat sarapan? " tanya Ummi kepada Naufal dan Rara yang duduk bersamanya sambil menyantap sarapannya.
" Belum kelihatan, Ummi. Habis sholat subuh tadi Mas Azmi diam dikamar terus, " jawab Naufal.
" Mas Azmi kenapa, ya? Nanti tangannya sakit lagi, " sambung Rara.
" Kalian habiskan sarapannya, ya, Nak. Ummi mau ke kamarnya Mas Azmi, " Ummi ia sempat mengelus lembut kepala kedua anaknya itu bergantian.
Naufal dan Rara mengangguk secara bersamaan.
" Iya, Ummi." jawab Naufal dan juga Rara.
Ummi tersenyum dan bergerak bangun melangkahkan kaki menuju kamar Azmi.
" Assalamualaikum, Azmi. Ummi boleh masuk, Nak." ucap Ummi sambil mengetok pintu kamar Azmi.
Azmi yang mendengar suara Umminya segera meletakkan handphonenya, bangun dari kursinya dan segera membukakan pintu untuk Umminya.
__ADS_1
" Wa'alaikumussalam, Ummi." jawab Azmi.
Melihat putranya, Ummi Azmi langsung tersenyum dan mengelus lengan kiri Azmi.
" Kamu kok diam dikamar terus? Ayo sarapan, " Ummi.
" Tapi, Azmi belum lapar kok, Ummi. Nanti aja, kalau udah lapar Azmi pasti makan." jawab Azmi.
" Kenapa? Tangan kamu masih sakit? " tanya Ummi.
" Enggak, Ummi. Gak papa, cuma nanti aja sarapannya." Azmi.
" Ya sudah kalau gitu, Ummi boleh ngomong sebentar sama kamu? " Ummi.
" Ummi, mau ngomong aja sama anaknya pakai izin. Bolehlah Ummi, ayo, masuk, Ummi. " ajak Azmi .
Ummi Azmi kembali tersenyum dan mengangguk ia mengikuti langkah Azmi masuk ke dalam kamarnya.
Ummi dan Azmi duduk dikasur, Azmi menunduk karena ia masih memikirkan masalahnya tadi belum itu ia juga masih memikirkan Zakir.
" Azmi, " panggil Ummi yang melihat wajah putranya itu tidak seperti biasanya.
" Iya, Ummi. Mau bicara apa sama Azmi? " tanya Azmi seketika memandang ke arah Umminya.
" Ummi senang sekali kalau kamu dikagumi sama banyak orang, Nak. Apalagi itu karena sholawat. Tapi, Ummi minta kalau kamu tetap bersikap layaknya seorang santri, ya, Nak. Jangan sampai kamu sombong dan tinggi hati." Ummi.
Azmi mengangguk satu kali.
" Iya, Ummi. Itu pasti, Azmi gak akan lupa gelar Azmi sebagai santri." Azmi.
" Bagus, Ummi juga tau kalau kamu pasti sedih banget sama orang-orang yang ngehujat kamu dan gak suka sama kamu. Ingat, Nak. Masalah seperti itu kamu jangan sampai ambil hati, Ummi tau kamu pasti sakit sekali, tapi terus minta kekuatan sama Allah. Ummi yakin kamu kuat, Nak." Ummi.
" Iya, Ummi. Insya Allah, dengan pertolongan Allah Azmi bisa seperti ini dan dengan pertolongan Nya-jugalah, Azmi kuat menghadapi semuanya. Ummi selalu doain Azmi, ya." Azmi.
" Pasti, Nak. Ummi selalu doain anak-anak Ummi. Sini, peluk sama Ummi." Ummi ia sudah tidak bisa menahan rasa sedih dan harunya ia langsung memeluk erat putranya.
Azmi yang sangat menyayangi Umminya memberikan pelukan hangat yang penuh dengan kasih sayang.
" Ummi bangga sama, Azmi. Jadi anak yang sholeh selalu, Nak." ucap Ummi Azmi setelah mencium kepala putranya.
" Iya, Ummi." jawab Azmi dalam pelukan Umminya.
Bersambung...
__ADS_1