
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di pesantren. Pak satpam sudah siap membukakan pintu gerbang pesantren sembari memberikan senyuman dan sapaan ramahnya.
" Terimakasih pak, " ucap ustadz Ridwan.
" Sama-sama ustadz,silahkan." pak satpam.
" Mari, " ustadz Ridwan.
" Nggeh, " pak satpam.
Ustadz Ridwan menjalankan mobilnya dan memarkirkan mobil itu di garasi dekat kantor ustadz.
Terlihat para santri yang baru saja pulang mengaji mereka beramai-ramai keluar dari kelas mereka masing-masing. Ustadz Ridwan, ustadz Abdullah dan yang lain mulai keluar dari mobil.
" Em, anak-anak, ingat nanti kalian semua ke kantorustadz, " ustadz Abdullah.
" Yang gak menang juga ustadz?. " tanya seorang santri.
" Iya, semuanya nanti ke kantor ini amanah dari Kyai, nanti malam Kyai mau menyampaikan sesuatu untuk kalian semua. " jawab ustadz Ridwan.
" Sudah, kalian datang saja habis mengaji kitab. " ustadz Abdullah.
" Baik ustadz,kita semua akan datang. " Azmi.
" Iya ustadz. " ucap semuanya.
" Kalau gitu kalian istirahat sekarang, " ustadz Abdullah.
Satu-persatu dari mereka mulai menyalam tangan ustadz Abdullah dan ustadz Ridwan.
" Assalamualaikum ustadz, " ucap semua santri.
" Wa'alaikumsalam. " ustadz Abdullah dan ustadz Ridwan.
" Ayo Wan, " ustadz Abdullah.
" Iya mas, " ustadz Ridwan.
Para ustadz itu mulai melangkah menuju kamar mereka yaitu kamar para ustadz.
Azmi dan Aban hanya berjalan berdua karena yang lain sudah kembali ke kamar mereka masing-masing.
" Ban, alhamdulillah banget ya, kita bisa bawa pulang piala dan dapat hadiah juga. " Azmi.
" Iya Mi, aku baru pertama kali ini lomba di pesantren lain dan aku gak nyangka kalau aku menang. " Aban.
" Kamu emang pantes menang Ban, kamu hebat. " Azmi.
" Bisa aja, kamu juga hebat Mi, " Aban.
" Aamiin, " Azmi sembari tersenyum kepada Aban,begitu juga Aban yang membalas senyuman Azmi.
" Assalamualaikum," ucap Azmi dan Aban sembari membuka pintu kamar.
" Wa'alaikumsalam. " Muhklis dan Ahkam menoleh ke arah Azmi dan Aban, mereka kaget dengan apa yang di bawa oleh Azmi dan Aban.
" Wishh, mantap, kalian menang, ayo cerita gimana tadi disana? . " Muhklis mendekati Azmi dan Aban.
" Kalian menang, alhamdulillah, selamat ya Mi, Ban, aku bangga sama kalian,kalian hebat." Ahkam.
" Alhamdulillah mas, bang, aku sama Aban bisa menang dalam perlombaan itu, kita juga gak nyangka, ya gak Ban. " Azmi.
__ADS_1
" Benar mas, bang, aku gak nyangka kalau aku bisa menang." Aban.
" Emang kalian itu paling best,ayo buka hadiahnya." Muhklis.
" Klis, kasih mereka duduk dulu lah, " Ahkam.
" Oh iya, sana Mi, Ban, duduk dulu. " Muhklis.
Azmi dan Aban mulai duduk di dekat Ahkam yang baru saja menyelesaikan membaca kitabnya.
" Hebat kalian, aku bangga banget sama kalian." Ahkam.
" Terimakasih mas, " Azmi dan Aban.
" Ini tuh,pialanya mas Ahkam juga, coba aja kalau gak ada mas Ahkam,mana mungkin aku bisa menang. " Azmi.
" Hush, gak boleh gitu Mi, itu semua juga berkat kerja keras kamu. " Ahkam meletakkan tangannya di pundak Azmi.
" Iya mas Ahkam ,tapi coba aja kalau..... " Azmi.
Ahkam segera menutup mulut Azmi dengan kertas untung saja Azmi segera menutup mulutnya sebelum kertas itu masuk ke dalam mulutnya.
" Ngomong terus kamu, sana buka hadiahnya,Ban kamu juga. " Ahkam melepaskan kertas yang ada ia letakkan di depan mulut Azmi.
" Mas Ahkam jahat banget sih, aku kan mau berterimakasih. " Azmi.
" Iya, sama-sama, " Ahkam.
" Gitu dong mas, nih aku buka hadiahnya, ayo Ban. " Azmi.
" Iya, ini aku lagi mau buka. " Aban.
Muhklis dan Ahkam hanya bisa memandang mereka sembari tersenyum.Kertas kado itu sudah terbuka dan terlihatlah sebuah kotak yang masih menutupi hadiah mereka. Azmi dan Aban sama-sama membuka kotak itu terlihatlah sarung dan baju koko yang sangat keren.
" Hadiahnya sama Mi, " Aban yang melihat hadiah Azmi.
" Iya Ban, kita kan sama-sama juara 1, " Azmi.
" Wishhh, karen banget tuh ,kalian bisa couple." Muhklis.
" Alhamdulillah. " ucap Azmi dan Aban bersamaan.
" Ya udah, itu hadiahnya simpan baik-baik, pialanya taruh di atas kotak buku aja Azmi, Aban. " Ahkam.
" Iya mas, aku taruh dulu. " Azmi bangun dan menaruh hadiah dan pialanya dengan rapi begitu juga dengan Aban.
" Eh, mas, " Azmi menoleh ke arah Ahkam.
" Hmmm, apa Mi?. " Ahkam memandang ke arah Azmi yang sedang jongkok di depan lemari pakaiannya.
Azmi segera bangun dan duduk di samping Ahkam.
" Kata ustadz Ridwan, kita dapat undangan buat hadroh. " Azmi.
" Hah?, yang benar Mi, mantap tuh, kapan Mi?." Mukhlis yang merasa sangat senang ketika mendengar dapat undangan.
" He, gak tau sih mas, ustadz bilang kita tunggu info aja. " Azmi.
" Emang kita dapat undangan dimana?. " Ahkam.
" Di Masjid, Masjid.... Masjid apa Ban?. " Azmi kepada Aban yang sedang duduk di kasurnya.
__ADS_1
" Masjid Al-Qadiri, kita tadi mampir sholat disana mas, " Aban.
" Ooooo..... " Ahkam.
" Mas tau?. " tanya Azmi.
" Enggak sih, " jawab Ahkam.
Azmi menghela nafasnya dan memalingkan pandangannya dari Ahkam.
" Yowes lah ,moga aja kita dapat, kan enak bisa keluar sekaligus cuci mata. " Muhklis.
" Astagfirullah, Klis, gak boleh gitu. " Ahkam.
" Astagfirullah, bang,ingat abang udah mau nikah. " ucap Azmi.
" Nikah?, sama siapa?, tunangan aja aku belum punya kok. " Muhklis.
" Sama ustadzah Fatim. " Azmi dengan ekspresi wajah lugunya yang membuat Ahkam dan Aban tertawa lepas.
" Mi, gak boleh gitu Mi, itu ustadzah lo. " Ahkam.
" Astagfirullah, ampuni hamba Ya Allah, aku gak sengaja,habisnya bang Muhklis sih, " Azmi.
" Kok aku yang disalahin lo," Muhklis.
" Azmi, Azmi, ada-ada aja. " Aban sembari menahan tawanya.
Azmi ikut tertawa melihat Aban.
" Udah berhenti, gak baik ngejek orang, dosa. " Muhklis.
" Iya bang, gak akan lagi. " Azmi.
" Ayo wudhu, daripada ketawa terus ,ayo." ajak Ahkam.
" Iya mas, ayo. " Azmi.
Mereka semua pergi untuk wudhu dan tidak lama kemudian terdengar suara adzan dari pesantren. Para santri yang lain juga beramai-ramai mengambil air wudhu.Suasana pesantren dengan para santri yang beramai-ramai wudhu bahkan ada yang mengantri ,pemandangan itu sangatlah indah dan adem ketika mata memandang itulah yang dirasakan Kyai yang tersenyum melihat para santri bergerombol untuk wudhu.
" Masya Allah, Ya Allah semoga mereka semua bisa menjadi ahli surga kelak dan bisa membuat orang tua mereka bangga. " Kyai sembari terus memandang para santri yang sedang wudhu.
Azmi dan Aban sudah selesai wudhu, Ahkam dan Muhklis meninggalkan mereka karena selesai lebih dulu. Tiba-tiba Dimas yang sedang bersama dengan Zakir menghadang Azmi.
" Maaf ya, kita lagi gak ada waktu mas,Kir ,kita mau cepat ke Masjid. " Azmi.
" Sombong banget jadi orang. " Zakir.
" Azmi, aku cuman mau ngasih tau, kalau kamu gak akan bisa ngalahin aku, kita lihat siapa yang akan jadi santri tauladan tahun ini,kamu jangan senang dulu deh baru menang dalam perlombaan itu." Dimas mendekati Azmi.
Azmi membalas dengan senyuman.
" Iya mas, aku gak terlalu berharap kok dapat gelar itu, jadi mas gak usah takut kesaing sama aku. " Azmi.
Mendengar itu Dimas menjadi semakin kesal dan menggenggam tangannya. Azmi yang melihat itu segera menegur Dimas.
" Sebaiknya mas harus cepat wudhu mas,ayo Ban, kita pergi. " Azmi menarik tangan Aban dan segera pergi dari hadapan Dimas dan Zakir.
" Sok banget sih tuh anak, " Dimas memandang langkah Azmi dan Aban yang sudah menjauh.
Bersambung.....
__ADS_1