
Pagi ini, Hamdi sudah terduduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang begitu berseri-seri menatap layar laptopnya. Hafsah yang melihat kakaknya senyam-senyum sendiri segera menghampiri mendekati Kakaknya.
" Kak, ada apa, sih? Dari tadi aku lihatin senyum-senyum sendiri." Hafsah duduk disamping Kakaknya yang begitu fokus dengan komputernya.
" Ini lho, Haf. Video Syubbanul Muslimin udah ditonton lebih dari 1 juta vierws padahal baru beberapa menit Kakak upload." tukas Hamdi sangat serius dan senang sekali sembari melihat komen-komen dari para penonton.
" Wah, serius, Kak? Semoga aja mereka jadi viral dan bisa membuat semua masyarakat muslim terutama pemuda untuk berhsolawat. " Hafsah ia juga terlihat sangat gembira dengan tangan yang ia satukan didepan wajahnya bersungguh-sungguh berdoa untuk kesuksesan Syubban.
" Doa kamu terkabul, Dek. Ini sudah jadi viral dong, mantap! Dalam sekejap yang nonton bertambah terus, " Hamdi.
Mereka semakin senang melihat video Syubbanul Muslimin yang sudah sampai kemana-mana.
Dalam pagi ini video mereka menjadi viral dan menjadi perbincangan hangat masyarakat. Baik itu dari Jakarta, Aceh, Kalimantan , Bandung, Bali dan berbagai tempat lainnya. Sungguh video mereka tersebar luas dengan berjuta mata yang yang sudah memandang mereka.
Video itu juga sampai kepada Doni yang merupakan teman Band Mufti. Ia sangat terkejut ketika bangun-bangun melihat video Azmi bersama tim hadrohnya yang sudah menjadi viral.
Ia seketika sangat kaget dan bangun mengusap-ngusap matanya untuk memastkan bahwa apa yang dia lihat itu tidak salah. Semakin kaget dirinya ketika melihat wajah Azmi yang paling dia ingat.
" Wah, gak benar, nih. Rebana kampung itu kok bisa se-viral ini, sih? Gue gak bisa biarin ini terjadi, gue harus nemuin Mufti, " ucap Doni penuh ambisi ia terlihat sangat tidak suka melihat musuhnya menjadi viral dan menjadi perbincangan hangat masyarakat apalagi kaum milenial.
Dengan tergesa-gesa Mufti segera bergegas dari tempat tidurnya untuk menemui Mufti tak lupa ia mengabari anggota Band yang lain.
Doni menghampiri rumah teman-teman Bandnya dengan sangat tergesa-gesa sungguh wajahnya terlihat sangat marah sembari terus mengegas laju motornya.
...****...
Sementara anggota Syubbban sedang asyik-asyiknya berbincang bersama Mufti yang ikutan nimbrung. Beberapa diantara mereka terlihat sudah segar karena sudah mandi begitu juga dengan Azmi yang sungguh bersinar wajahnya dengan peci jomplang yang ia kenakan memperlihatkan rambut depan Azmi yang basah karena diolesi gatsby terlihat sangat rapi dan cool.
Saat mereka asyik bercanda dan tertawa suara klakson dan mesin motor terdengar masuk ke wilayah pesantren yang tidak ada satpam karena pak satpam sudah pulang semenjak para santri pulang.
" Woi! Keluar lo, Mufti! " teriak Doni segera turun dari motornya diikuti dengan yang lain.
__ADS_1
Keributan itu terdengar kepada anggota Syubban yang sedang duduk-duduk santai mereka seketika bangun dengan kompak kaget melihat anggota Band yang sudah bikim rusuh di halaman pesantren.
Anggota Syubban segera menghampiri anggota Band yang membuat rusuh masuk ke dalam pesantren.
" Doni, kok lo bisa tau gue ada disini? " tanya Mufti heran.
" Ya, taulah, lo gak ingat kalau kita pernah pasang dimana keberadaan kita satu sama lain. Jadi, sekarang lo udah gabung sama anak-anak hadroh sampah ini! " ujar Doni penuh amarah wajahnya sungguh sangat kesal dan tatapannya sangat tajam kepada Mufti yang berdiri sangat dekat dihadapannya.
" Heh! Bisa dijaga gak omongan kamu? Maksudnya apa bilang kaya gitu?" Ali yang sudah terlanjur larut dalam emosinya dengan mengepal kedua tangannya ia mendekati Doni menatapnya tajam.
" Udah mas, tenang, " Azmi mencoba menenangkan ia juga menatap tajam Doni yang ada dihadapan Ali sungguh tatapan Azmi sangat tajam dan mengerikan tapi ia berusaha menahan emosinya.
" Don, mereka semua ini gak salah. Kita yang salah! Lo sadar gak, sih? " Mufti.
Doni malah tertawa licik bersamaam dengan memalingkan wajahnya dan kembali melangkah mendekati Mufti.
" Lo yang harusnya sadar, " Doni mendorong keras pundak Mufti.
Ahkam segera memegangi Mufti agar tidak terjatuh.
Ahkam mengangguk dan mengarahkan tatapannya kepada Doni.
" Kamu gak usah nyari masalah lagi sama kita, Band kamu juga gak hancur. Kita gak pernah punya masalah sama kamu dan teman-teman kamu lainnya!" tegas Ahkam mendekati Doni.
" Wes, kita berdamai saja, kita gak pernah benci sama kalian, " Udin ikut menyambung.
" Diam lo, jawir, " ucap salah satu anggota Band dengan sentakan.
" Opo toh? Ada yang salah dengan ucapan aku? Dikasih tau benar-benar juga, " jawab Udin balik membuat anggota Band tadi hendak bicara tapi berhasil dihentikan oleh Doni.
" Hebat ya, kalian? Bisa ngubah pikiran Mufti dengan sekilas. Gak usah sok alim didepan gue karena kalian semua tetap sebagai anak-anak rebana sampah yang gak guna! Kalian udah bikin Mufti lebih percaya sama kalian daripada teman-teman yang selalu nemenin dia. Dasar sampah! " Doni.
__ADS_1
Ucapan yang keluar dari mulut Doni membuat Mufti sangat marah dan dengan spontan hantaman keras tertimpa pada wajah Doni hingga ia terjatuh keras.
Hal itu membuat anggota Band dan anggota Syubban kaget. Anggota Band membantu Doni sementara Azmi dan Ahkam mencoba memegangi Mufti agar tidak meneruskan aksinya.
" Lo gak pantas bilang mereka kaya gitu! Jaga mulut lo, Don! Kalau gak karena mereka yang udah pernah kita hina kita gak akan seterkenal sekarang! " ucap Mufti dengan amarah yang memanas.
" Udah, mas. Berantem gak akan menyelesaikan masalah. " ujar Azmi tangannya masih erat menggenggam tangan Mufti.
" Benar, Muf. Tahan emosi kamu, " Ahkam.
Mufti mengatur nafasnya seketika ia menundukkan kepalanya. Azmi dan Ahkam mulai melepas genggaman tangan mereka.
Doni yang masih terduduk ditanah menatap sinis Azmi, Ahkam dan Mufti dengan tangan yang memegangi bibirnya yang mengeluarkan darah akibat hantaman keras Mufti.
Dengan bantuan teman-teman Band yang lain, Doni berdiri perlahan masih dengan tangan yang memegangi bibirnya.
Untung saja Ustadz Mustafa, Kyai dan pak sopir tiba ditempat kejadian untuk melerai pertengkaran yang terjadi.
" Ada apa ini? " tanya Kyai.
" Mufti kamu kenapa? Kok kaya marah gitu? " Ustadz Mustafa.
" Ini kenapa semua mukanya serius dan kalian ini siapa kok bisa masuk ke pesantren, Kyai? Anak-anak? " tambah pak sopir.
" Gue akan buat perhitungan sama lo, Muf. Sama kalian juga! Ayo guys! Kita cabut," Doni sebelum menuju motornya ia menunjuk-nunjuk Mufti dan anggota Syubban.
Dengan segera Doni dan teman-teman Bandnya yang lain pergi begitu saja mengegas motor mereka melaju keluar pesantren.
" Heh, kok malah pergi gitu aja'e? " pak sopir menatap terheran-heran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
" Anak-anak ada apa ini? Mereka itu siapa?" tanya Kyai kepada seluruh anggota Syubban yang masih terdiam dengan menundukkan kepala mereka.
__ADS_1
" Mufti, tolong jelaskan, ini ada apa?" tambah Ustadz Mustafa dengan tatapan serius kepada Mufti.
Bersambung....