
Tepat pukul 03.00 Azmi dan Aban sudah terbangun dan baru saja selesai mengambil air wudhu saat mereka melangkah tiba-tiba terdengar suara orang yang sedang batuk keras.
" Ban, kok ada orang batuk, keras banget lagi." Azmi yang menghentikan langkahnya dan juga langkah Aban.
" Iya Mi, aku denger, ini dekat kamarnya mas Akmal, jangan-jangan....." Aban.
" Ayo Ban, " Azmi yang mulai khawatir,Aban menganggukkan kepalanya dan mereka mulai melangkah cepat mendekati kamar Akmal.
Dan benar saja saat Azmi dan Aban sampai mereka melihat Akmal yang terduduk di bangku dekat kamarnya seperti sesak nafas dan menggigil kedinginan. Azmi dan Aban segera menghampiri Akmal.
" Astagfirullah mas Akmal, " Azmi dengan wajah khawatir membangunkan Akmal dengan kedua tangannya,ia juga memeriksa memeriksa dahi Akmal.
" Panas banget Ban," Azmi.
" Ya udah Mi, bawa masuk aja ke kamarnya. " Aban.
" Iya Ban, ayo mas pelan -pelan. " Azmi ,dibantu Aban,Azmi merangkul Akmal membawanya ke kamar dan duduk dikasur Akmal.
Ali yang mendengar suara terbangun dan menyalakan lampu.Ali kaget ketika melihat Azmi dan Aban yang sudah duduk di kasur Akmal.
" Astagfirullah, kaget aku Mi, " Ali sembari mengusap-ngusap matanya.
" Mas Ali,gimana ini?, mas Akmal panas banget. " Azmi.
" Astagfirullah, Akmal. " Ali segera menghampiri Akmal dia memeriksa tubuh Akmal yang memang sangat panas.
Akmal terlihat sangat pucat dan darah mulai keluar dari hidungnya.
" Mas Ali, jaketnya mas Akmal dimana?. " Azmi.
" Itu Mi, yang gantung warna biru itu. " Ali menunjuk jaket Akmal yang tergantung.
Azmi segera mengambil jaket Akmal dan memasangnya.
" Sini mas, pakek jaketnya. " Azmi, perlahan ia memakaikan jaket kepada Akmal.
" Azmi, itu hidung mas Akmal keluar darah." Aban.
" Iya, mas ada tisu gak?. " Azmi.
" Ada sih, bentar. " Ali, ia segera mengambil tisu di atas sebuah lemari.
Ali memberikan tisu itu kepada Azmi,pelan-pelan Azmi membersihkan darah di hidung Akmal.
" Apa kita harus lapor ya ke ustadz?. " mas Ali.
" Iya mas ,aku takut mas Akmal kenapa-napa. " Aban.
" Nanti aja kita lapor, sekarang mas Akmal istirahat dulu, " Azmi.
" Iya Mi, kamu benar juga. " Ali.
" Oh iya Mi, aku ingat kata dokter yang nyuruh mas Akmal banyak minum air kalau keluar darah kayak gitu. " Aban.
" Iya aku juga ingat. " Azmi.
" Kalau gitu, aku ambil air dulu. " Ali mengambil air yang ia letakkan di atas lemari pakaiannya.
Ali segera memberi itu kepada Akmal .
" Ayo mas Akmal, pelan-pelan aja. " Azmi.
__ADS_1
" Iya ," Akmal, ia mau menerima air yang diberikan Ali dan meminumnya secara perlahan.
" Udah kalian tenang aja, aku gak papa kok, aku masih bisa sholat jama'ah nanti. " Akmal.
" Jangan Mal, lebih baik kamu jangan sholat jama'ah dulu, gak bakal dihukum kok semua ustadz tau keadaan kamu. " Ali.
" Iya mas Akmal, mas harus istirahat dulu, nanti kalau mas Akmal sudah baikan baru bisa ikut kegiatan lagi. " Azmi.
" Sebenarnya aku sakit apa sih?, aku selalu kayak gini, Ali kamu tau sendiri kan di sekolah aku sampai gak bisa nunjukin sholwatku karena tiba-tiba dadaku sesak. " Akmal.
" Emmm, " Ali, ia tidak tega melihat Akmal yang terus memandangnya .
" Kenapa kalian diam aja?,kalian nyembunyiin sesuatu kan dari aku. " Akmal.
" Enggak mas Akmal, mas itu baik-baik aja." Azmi.
" Iya mas, mungkin mas kecepek'an. " Aban.
Akmal merasa sangat sedih karena kondisinya yang lemah sekarang.
" Akmal, kamu istirahat aja dulu, Azmi sama Aban pulang aja, biar aku yang jagain Akmal, makasih ya, udah perhatian sama Akmal. " Ali.
" Udah tugas kita mas, " Azmi.
" Kalau gitu kita pulang yuk Mi, " Aban.
" Iya Ban, mas Ali, mas Akmal, kita lanjut ke kamar,assalamualaikum." Azmi.
" Assalamualaikum mas Ali, mas Akmal. " Aban.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabatakatuh. " ucap Ali dan Akmal.
Ali menoleh ke arah Akmal yang masih menggigil kedinginan.
Akmal hanya terdiam dan merebahkan dirinya perlahan. Akmal mulai merasa gelisah tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya diam-diam ia memperhatikan Ali yang masih menjaganya dan duduk di kasurnya.
Sholat subuh berjama'ah sudah selesai sebelum turun para santri mendengarkan ceramah dari ustadz Abdullah. Azmi sangat fokus mendengarkan sesekali ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang diucapkan ustadz Abdullah.
" Jadi saya ingin kalian semua belajar dengan giat di pesantren ini, tidak ada ilmu yang sia-sia dan istiqomahlah dalam menuntun ilmu supaya berkah dan mendepat berokah ilmu dari almarhum Kyai Hasyim. " ustadz Abdullah.
" Aamiin. " ucap semua santri sembari mengusap wajah mereka.
" Sekian dari saya, silahkan turun ingat sebentar lagi langsung bersiap mengaji kitab, assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuh." ustadz Abdullah.
" Wa'alaikumsalam waramatullahi wabarakatuh. " semua santri.
Beramai-ramai mereka berdiri dan melangkah hendak turun dari Masjid .
" Ayo Mi, " Aban.
Azmi mengangguk dan berdiri. Azmi dan Aban turun bersama dan melangkah bersama menuju kamar mereka.
" Azmi, Aban.... " teriak Rifki dan berjalan cepat menghampiri Azmi dan Aban yang terhentikan langkahnya akibat teriakan Rifki.
" Ada apa Ki?. " Aban.
" Tenang Ki,tarik nafas dulu. " Azmi.
" Mas Akmal pingsan ," Rifki.
" Pingsan?. " Aban.
__ADS_1
" Dimana Ki?, ayo kesana. " Azmi.
" Ayo, ayo." Rifki.
Mereka segera menghampiri dimana Akmal pingsan tepatnya menuju kamar Akmal,mereka semua merasa sangat khawatir .Hingga sampailah mereka di banyak kerumunan santri.
" Misi mas, " Azmi mencoba menerobos kerumunan itu.
" Astagfirullah, mas Ali, mas Akmal kenapa?. " Azmi mendekati Ali yang merangkul Akmal yang lemah dan tidak berdaya.
" Aku gak tau Mi, Akmal tiba-tiba pingsan. " Ali.
"Ki, panggil ustadz. " Ali.
" Iya mas, " Rifki.
" Jangan Ki, lebih baik bawa mas Akmal ke kantor. " Azmi.
" Iya benar,ya udah, ayo. " Ali.
" Mas -mas, tolong minggir dulu, kasih kita lewat ." Aban .
Azmi dan Ali mulai membawa Akmal ke kantor ustadz walau hari sudah semakin siang dan pelajaran mengaji kitab akan segera dimulai.
Dimas dan Zakir yang berada di sana tersenyum licik dan mulai menjalankan rencananya.
" Ayo mas, kita ke kamar Azmi sekarang. " Zakir.
" Ayo, " Dimas.
Dengan cepat mereka melangkah menuju kamar Azmi, ustadz Ridwan yang melihat mereka segera menghampiri mereka.
" Dimas, Zakir, kalian sedang apa disini?." tanya ustadz Ridwan mendekati Zakir dan Dimas.
" Ustadz, " Zakir yang kaget dan menghadap ke arah ustadz.Mereka segera mencium tangan ustadz Ridwan.
" Saya mau bilang lombanya besok, kalian harus segera bersiap-siap. " ustadz Ridwan.
" Iya ustadz, " Zakir.
" Tapi kenapa kalian ada di depan kamarnya Azmi?. " ustadz Ridwan.
" Kita mau ngajak Azmi ngaji kitab ustadz, bentar lagi mau ngaji kitab. " Dimas.
" Ya sudah, kalau gitu saya duluan, assalamualaikum. " ustadz Ridwan.
" Wa'alaikumsalam. " Dimas dan Zakir.
" Ayo cepetan, aku tau sekarang mas Ahkam sama mas Muhklis lagi belajar di kelasnya ." Zakir.
" Iya, ayo. " Dimas.
Mereka segera membuka pintu kamar Azmi dan mencari kertas dakwah Azmi.
" Nah, ini mas, ada namanya. " Zakir.
" Bagus, ayo kita keluar ." Dimas.
Mereka segera keluar membawa kertas yang akan di pakai untuk lomba dakwah Azmi yang berisi pelajaran dakwah yang di berikan ustadz Abdullah.
Sedangkan Azmi sedang berada di kantor membawa Akmal kepada ustadz Abdullah.
__ADS_1
Bersambung....