
Kesibukan mereka terjeda saat waktu duhur tiba, tim Syubban itu sholat di Masjid besar setelah itu mereka semua beristirahat sejenak disana atas kelelahan yang sudah teramat sangat dirasakan oleh mereka.
Di Masjid yang megah dan mewah itu terlihat hanya ada beberapa orang, karena Azmi yang sudah sangat tidak tahan lagi atas panasnya suasana ia langsung berdiri menuju kipas angin memang disana hanya terlihat kipas angin yang banyak disudut dinding tapi tidak dinyalakan.
Tingkah Azmi tentunya menarik perhatian anggota Syubban. Sambil mengepai-ngepai bajunya, Azmi menyalakan kipas angin itu.
" Alhamdulillah, aku kira emang kipas anginnya mati. Kenapa mereka daritadi gak ngidupin ini? Sungguh perlu dipertanyakan," Azmi langsung duduk di samping Aban sambil melepas peci dan merapikan rambutnya.
" Iyo, sumuk tenan. Serasa pengen mandi pakai es, " sambung Udin.
Mata Azmi seperti sedang mencari sesuatu melihat suasana Masjid yang satu-persatu orang sudah pulang dan pergi dari Masjid.
" Nyari apa, Mi? " tanya Ahkam.
" Kyai, Ustadz, mas Hamdi sama mas Syafiq mana, ya? " tanya Azmi.
" Mereka lagi diluar, kita dibolehin istirahat dulu, terus nanti baru berangkat lagi ke acara untuk menjelang buka, " jawab Muhklis.
" Jujur, saya gak kuat. Capek banget ini, apalagi sekarang puasa, tambah komplet." keluh Firman.
Azmi yang juga sedari tadi menyimak pembicaraan seniornya seketika merebahkan kepala ke lantai Masjid yang dingin menikmati kipas angin yang terus menyejukkan tentu saja hal itu makin mengundang perhatian anggota Syubban mereka semua mengarahkan pandangan pada Azmi.
Azmi kembali melepas pecinya dan merentangkan tangannya sambil memejamkan matanya.
" Sae, Mi (enak, Mi) " Ahkam sambil menggoda Azmi yang sedang memejamkan matanya dengan tangan yang menepuk pipi Azmi pelan.
" Nikmat lo, mas. Serasa di Surga, coba deh. Haaa, sejuknya, " Azmi.
Anggota Syubban hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Azmi seketika Azmi tengkurap matanya mengarah pada Firman yang tadi mengeluh.
" Mas Firman, lelah itu jangan terlalu dirasain. Coba deh, mas nikmati aja semuanya dengan ikhlas fiillah. Insya Allah semua ini gak akan terasa capek, " Azmi.
" Benar tuh, kata Azmi. Kamu gak usah terlalu mikirin kegiatan kita, enjoy aja." Ali sambil menepuk pundak Firman.
" Iya, mas. Lagian karena ini bulan Ramadhan, jadi kita harus berlomba-lomba mencari pahala. Mencari berkahnya Ramadhan, " tambah Aban.
__ADS_1
" Betul banget, Ban." Azmi menoleh ke arah Aban dengan jempol tangan kanannya.
Ahkam juga yang sedari tadi mendengarkan melukis senyumnya dan mengangguk pelan beberapa kali.
Mereka kembali berbincang dengan asyik sampai menunggu waktu mereka untuk sholat ashar lalu baru kembali ketempat acara.
...****...
Aisyah yang baru saja selesai mengaji dan hendak melepaskan mukenahnya langsung dikagetkan oleh Fitri yang tiba-tiba datang dihadapannya.
" Darr!! " ucap Fitri mengagetkan Aisyah.
Tentu saja suara teriakan Fitri membuat Aisyah kaget.
" Astagfirullah, Fitri. Kamu ngagetin aja, gak salam, gak ketuk pintu, langsung nyelonong gitu aja." tegur Aisyah yang masih kaget setelah menghela nafas keras ketika melihat wajah Fitri.
Bukannya merasa bersalah, Fitri malah tersenyum lebar kepada Aisyah.
" Maaf ya, Syah. Kalau aku ngucap salam kamu jadinya gak kaget, dong. Lagian tadi aku udah bilang sama Ibu kamu, terus bilang gini, " Aisyahnya ada dikamar dia tadi masih ngaji, kalau mau masuk, sana, masuk aja gak papa." Gitu, maka dari itu aku langsung kesini, " Fitri.
" Tetap aja kamu udah buat aku kaget, nyelonong gitu aja. Gak sopan tau, " Aisyah masih kesal.
" Astagfirullah, iya hampir aja, Ya Allah." Aiysah mengelus-ngelus dada untuk meredakan kekesalannya.
Fitri malah masih saja tersenyum manis kepada Aisyah yang sebelumnya marah kepadanya atas tingkah lakunya. Setelah memejamkan mata dan menunduk sambil beristighfar, Aisyah mengangkat kepalanya lalu ia menatap Fitri tajam juga tersenyum tak lepas.
" Sekarang tolong jelasin, kamu kenapa datang kesini? Tumben, siang bolong kaya gini." Aisyah.
" Aku mau ngomong pentinggg banget sama kamu. Please, kali ini dengarin aku, yah." Fitri ia menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan wajah manisnya memohon pada Aisyah.
Tentu saja melihat Fitri yang seperti itu membuat Aisyah tegetar hatinya ia memalingkan wajahnya, membuang nafasnya keras sambil menggaruk-garuk pelan dahinya.
" Ya udah, aku lipat mukenah dulu. Kamu duduk aja di kasur aku," Aisyah.
" Oke," Fitri lagi-lagi tersenyum manis dengan jempol kananya.
__ADS_1
Aisyah segera membereskan alat sholatnya, setelah sudah selesai barulah ia menghampiri Fitri dan duduk tepat disamping Fitri.
" Ada apa, Fit?" tanya Aisyah dengan suara dan nada halusnya menatap Fitri.
" Tapi aku mau kamu gak marah, ya." Fitri.
Aisyah masih terdiam menatap Fitri dengan wajah serius lalu kembali menghela nafasnya.
" Iya, aku janji gak akan marah. Udah, ngomong aja, " Aisyah.
" Syah, Azmi kan udah sibuk sekarang terus dia banyak kepentingan..." Fitri belum selesai bicara tapi Aisyah lebih dulu memotong pembicaraan.
" Kenapa jadi ngomongin Azmi, sih? " Aisyah mengerutkan dahinya kupingnya sudah panas ketika mendengar nama Azmi.
" Syah, kamu dengarin dulu. Pemilik Masjid kampung ini juga semua warga itu butuh kamu buat acara menjelang berbuka puasa," Fitri.
" Maksud kamu? Aku harus apa? " Aisyah masih ketus.
Sebelum menjawab, Fitri menghela nafasnya untuk bersiap-siap memberikan jawaban yang tidak menyinggung sahabatnya yang sampai saat ini masih memiliki rasa dendam pada Azmi.
" Jadi, sebenarnya kalau ada Azmi atau anggota Syubannya setiap sore sampai adzan maghrib rencananya mereka yang akan mengisi sholawat. Tapi, itu kan gak mungkin soalnya mereka sibuk dan harus menghadiri tempat yang telah mengundang mereka, " Fitri lagi-lagi Aisyah tidak suka dengan Fitri yang bertele-tele dan terus-menerus menyebut nama Azmi juga anggota Syubban.
" Terus, kamu langsung ngomong intinya aja, Fit." Aisyah.
Fitri kembali diam sejenak memandang Aisyah.
" Iya, jadi, intinya... Pak Haji dan semua orang butuh kamu, kita. Buat isi acara, karena cuma kita yang diharapin disini secara, dari dulu emang kita yang ngisi kalau waktu dulu kan sama.... Eee, jadi gitulah. Kamu mau ya, Syah. Ini kesempatan lo, apalagi berlomba-lomba dalam kebaikan di bulan Ramadhan itu ganjarannya gede." Fitri.
Aisyah merenungi ucapan Fitri ia mengarahkan pandangan ke depan sembari berpikir. Setelah beberapa detik saja, Aisyah kembali menoleh ke arah Fitri yang tengah menunggu jawabannya.
" Jadi gimana, Syah? Mau, ya." Fitri.
" Tapi, dulu kan Kakak aku yang ngisi acara itu sama remaja Masjid disana. Aku takut gak bisa ngendaliin emosi aku, Fit. Kamu ngerti keadaan aku, kan? " Aisyah.
" Pasti, Syah. Aku ngerti perasaan kamu, tapi kita disana itu buat menggemakan sholawat. Aku yakin Kak Akmal pasti juga akan senang kalau kamu gantiin posisi dia. Syah, kamu harus bisa ikhlas, kamu harus bisa lupain semuanya yang buat kamu gak nyaman dan kamu harus bisa memaafkan. Kak Akmal udah tenang, Syah." Fitri ia meletakkan tangannya diatas tangan Aisyah dan ia menggenggam erat tangan lembut sahabatnya itu.
__ADS_1
Rasa takut dan ragu masih ada dalam benak Aisyah, tapi ia merasa terenyuh kepada ucapan dan tatapan dalam Fitri.
Bersambung....