
Azmi menolehkan kepalanya hingga ia melihat Mufti yang hendak menghampirinya. Azmi memalingkan kembali wajahnya untuk meyakinkan apa yang telah ia lihat.
Azmi membalikkan tubuhnya dan benar saja Mufti semakin mendekati dirinya dan berdiri tepat dihadapan Azmi yang sudah siap untuk pulang kerumahnya dengan koper yang sudah ia genggam erat pada tangan kanannya.
" Mas Mufti, mau ngapain, mas?" tanya Azmi penuh keheranan.
Mufti masih belum ingin menjawab ia masih melepas lelahnya dan bersiap untuk bicara kepada Azmi yang sudah ia buat jelek namanya.
" Gu..Gue minta maaf sama lo, Mi. Atas kesalahan gue, nama lo jadi jelek dan tim Syubban juga hancur. " Mufti menatap Azmi sangat dalam.
" Kalau itu Azmi udah maafin mas, tapi nama Syubban udah hancur. Impian aku juga masih belum tercapai, " Azmi dengan tegas ia juga menatap Mufti dengan tatapannya yang tajam.
" Kalau gitu, lo sama teman-teman hadroh lo jangan pulang dulu. Gue akan memperbaiki nama tim Syubban hari ini juga. " Mufti ia bicara dengan sangat menggebu-gebu agar Azmi bisa yakin dengan dirinya.
" Mas, serius? " Azmi masih tidak percaya mengingat perlakuan Mufti bersama rekan Bandnya kepada Azmi dan tim hadroh yang lain. Azmi berdeham dengan menutup mulutnya dan kembali menatap Mufti.
" Gue serius, Mi. Gue sama sekali ingin tanggung jawab atas apa yang udah gue lakuin sama, lo. Harusnya gue malu sama lo, Mi. Lo emang anak berbakat, lo kuat, lo tegar dan lo selalu sabar menghadapi masyarakat yang ngehujat lo. Pantas aja Kak Mustafa selalu muji-muji lo dihadapan gue. Karena lo emang pantas dapat pujian, " Mufti ia berkata-kata dengan sangat menggebu menunjukkan rasa kagummya kepada Azmi yang sedang berdiri dihadapannya.
Sungguh Azmi masih tidak menyangka kalau Mufti bisa berubah dengan secepat ini. Tapi Azmi sangat bersyukur ia sangat senang melihat Mufti yang berubah seperti yang dilihatnya saat ini. Senyuman manis terpancar pada wajah tampan Azmi, matanya berbinar menatap Mufti, wajahnya sangat adem dan menyejukkan hati siapa saja yang memandang dengan senyumannya itu.
" Alhamdulillah, Masya Allah. Aku gak nyangka kalau mas Mufti bisa berubah, tapi aku bersyukur banget semoga mas bisa menjadi orang yang lebih baik kedepannya." Azmi.
" Aamiin, iya, Azmi. Sekarang lo mau, kan? Jangan pulang dulu untuk beberapa hari karena Hafsah mau ngundang lo buat acara nanti malam. Gue juga dikasih tau sama Kakak gue kalau lo udah ciptain lagu, " mohon Mufti kepada Azmi.
Azmi tertawa kecil.
" Alhamdulillah, iya mas, tapi itu juga dibantu mas Ahkam, Aban dan mas-mas hadroh lainnya, " Azmi.
" Gokil lo, Mi. Gue doain semoga lagu yang lo buat viral dan semua masyarakat Indonesia cinta dengan sholawat," Mufti.
" Aamiin Ya Rabb, " Azmi.
" Dek, ayo naik, saya udah mau berangkat. Ayo, supaya gak kemalaman." sopir bus kepada Azmi yang dilihatnya masih berbincang.
__ADS_1
" Saya gak jadi pulang, pak. Bapak berangkat aja, " Azmi.
" Serius, dek? Gak kangen sama orangtua, kamu mau puasa di pesantren? Orangtua kamu udah nungguin kamu, lo. " pak sopir itu.
" Santri mana yang gak kangen sama orangtua mereka setelah 1 tahun belajar di pesantren? Tapi saya punya sebuah impian untuk membuat bangga orangtua saya, jadi saya harus tahan rindu demi kebaikan saya dan juga orangtua saya. " jawab Azmi.
" Ya udah kalau gitu, dek. Saya ikut doa buat kamu supaya jadi orang sukses dengan impian kamu yang bisa tercapai. Kalau gitu saya berangkat, assalamualaikum, " pak sopir.
" Wa'alaikumsalam, aamiin, terimakasih, pak. Hati-hati," Azmi.
" Siap, " pak sopir ia mulai naik menutup pintu busnya dan menjalankan busnya.
Sopir bus itu siap menjalankan bus untuk mengantar santri-santri yang tempat tinggalnya lumayan jauh dari pesantren Nurul Qadim.
Azmi hanya bisa memandang jalannya bus yang harusnya menjadi kendaraan yang mengantarnya ke tempat tinggalnya. Tapi melihat kesungguhan Mufti, Azmi menaruh kepercayaan karena impian membuat nama Syubban kembali baik seperti dahulu.
Dan benar saja, seluruh anggota Syubban juga sudah duduk bersebelahan menyambut kehadiran Azmi yang tidak jadi pulang.
" Mas-mas, juga gak jadi pulang?" tanya Azmi kepada semua anggota Syubban yang sudah duduk anteng.
" Ya, semoga aja omongan tuh cewek bisa dipercaya. " Ali.
" Kalian tenang aja, gue kali ini serius mau bertanggung jawab atas apa yang udah gue perbuat. " jawab Mufti ingin meyakinkan Ali yang masih menaruh kecurigaan.
" Wih, kesambet apaan kamu? Gak ada hujan gak ada badai tiba-tiba berubah kaya gini, " Firman.
" Hushhh, jangan kaya gitu, Man. " tegur Ahkam.
" Assalamualaikum, " Kyai datang bersama Ustadz Mustafa.
Dengan serentak semua santri berdiri dan menundukkan kepala mereka menjawab salam dari Kyai dan Ustadz Mustafa.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semua anggota Syubban.
__ADS_1
Di mulai dari Azmi yang menyalam tangan Kyai dan Ustadz Mustafa, semua anggota juga ikut menyalam tangan Kyai dan Ustadz Mustafa termasuk Mufti yang masih berpakaian gaul dengan gaya anak Band yang juga masih melekat pada dirinya.
" Pada gak pulang semua ini. Sabar ya semuanya, Mufti akan membuat impian kalian kembali, kalian tenang saja. " Ustadz Mustafa.
" Assalamualaikum, " ucap Hafsah akhirnya ia datang karena sedari tadi ia harus menunggu diluar melihat masih banyak santri yang hendak pulang.
" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.
" Iya, jadi nanti kalian datang ke acara aku nanti malam, oke. Nanti akan ada banyak orang pastinya yang akan melihat penampilan kalian. Sebelum kalian tampil Mufti akan meminta maaf dan mengakui semua kesalahannya dihadapan banyak orang. " jelas Hafsah.
" Yap, kalian tenang aja, gue pastiin sebelum kalian tampil masyarakat akan mandang kalian seperti dulu lagi, " sambung Mufti.
" Maaf mas Mufti, tapi menurut aku mas buat permintaan maafnya lewat media sosial. Tau sendiri warga +62 kaya gimana. Kalau nanti masyakat malah menghujat mas, pasti masalahnya akan lebih rumit, mas. " usul Azmi.
" Saya juga setuju sama Azmi. Kalau langsung bicara seperti itu, takutnya akan terjadi masalah yang tambah ribet urusannya. " Ustadz Mustafa.
" Iya, aku juga tau soal itu, Azmi, Ustadz. Tapi aku akan memberikan perhatian dulu kepada masyarakat baru setelah itu aku akan jelaskan apa yang akan dibahas. Nanti juga Kak Hamdi akan menjamin ke amanannya dengan mendatangkan pihak kepolisian agar tidak menimbulkan keributan." Hafsah.
Azmi mengangguk paham tapi ia masih memikirkan sesuatu hingga ia kembali berbicara.
" Kalau kaya gitu, Insya Allah baik jalannya. Tapi, kita harus juga memberikan masyarakat atau jama'ah yang datang atas pengertiannya atau mereka juga harus berjanji kalau tidak akan marah ketika mas Mufti bicara yang sejujurnya, gimana? " Azmi.
" Hmm, iya, sih. Aku setuju sama Azmi." Hafsah.
" Saya juga sangat senang atas keberanian nak Mufti yang akan bicara yang sebenarnya. " Kyai.
" Iya, Kyai. Saya sudah sadar atas apa yang saya lakukan. " Mufti.
" Semoga aja, acaranya lancar dan nama Syubbanul Muslimin kembali baik, " Ahkam.
" Aamiin, " ucap semuanya mengusap wajah mereka dengan senyuman yang terlukis pada wajah mereka semua karena sudah tidak sabar untuk kembali bersholawat kepada seluruh masyarakat.
Bersambung....
__ADS_1
**Assalamualaikum para readers terus baca Kami Santri Bukan Artis, ya. Jangan lupa like, komen dan vote jangan juga lupa juga di pencet favoritnya.
...Thanks** .........