
Semua anggota Band terdiam dengan kehadiran Hafsah yang sudah berdiri dihadapan Mufti. Sementara anggota Band yang sedari tadi protes dengan keputusan Mufti menggelengkan kepala dengan tangan kanan yang menyentuh dahinya setelah itu ia turunkan kembali fokus mendekati Mufti.
" Muf, enggak, Muf! Lo pasti gak mungkin nurutin kemauan cewek gak jelas ini! Pikirin nasib Band kita, Muf!" ucap anggota Band itu dengan sentakan mencoba menyadarkan Mufti agar mau berpihak dengan mereka.
" Band kalian gak akan hancur, aku janji sama kalian," Hafsah mulai berbicara berharap semua teman-teman Mufti mau membuat pengakuan.
" Huft, lo janji gak akan ngehancurin Band kita, hah? Pikir pakai otak! Apa yang masyarakat pikir tentang kita! Lo itu cewek yang licik! Lo udah bikin Mufti terpengaruh dengan kata-kata manis lo! " sentak anggota Band mendekatkan wajahnya kepada Hafsah dengan tangan yang menunjuk-nunjuk Hafsah matanya menunjukkan begitu bencinya ia dengan Hafsah.
Hafsah merasa sedikit rapuh dengan sentakan yang diberikan oleh anggota Band itu. Tidak terima dengan perlakuan temannya kepada Hafsah, Mufti mendorong pelan temannya agar menjauh dari wajah Hafsah.
" Selow, bro. Lo gak perlu kasar sama cewek. Sebelum minta ijin dari kalian, gue sama Hafsah udah ngomong ini secara profesional dan kita udah putusin untuk mengembalikan nama tim Syubban seperti semula. " Mufti.
Anggota Band itu sangat tajam tatapannya kepada Mufti dan Hafsah dengan tawa kecil rasa tidak percaya ia sangat kecewa kepada Mufti.
" Lo udah gila, Muf? Masa lo dengerin cewek kaya dia. Lo gak pikirin tentang kita nanti? Wah, egois lo, Muf. " anggota Band itu.
" Mufti, lo kenapa, sih? Kenapa lo tiba-tiba berubah kaya gini? Jangan-jangan lo kena pelet sama dia. Heh! Cewek licik, ngaku deh, lo! Lo apain Mufti? " anggota Band lainnya ikut tidak senang dengan kehadiran Hafsah yang telah membuat Mufti berubah 180 derajat.
" Astagfirullah, kamu jangan asal ngomong! Aku gak mungkin ngelakuin hal kaya gitu, " Hafsah tapi perkataannya hanya dianggap angin lalu oleh para anggota Band.
" Sekarang terserah kalian mau apa, ayo, Haf! Kita harus cepat ke pesantren sebelum tim Syubban pergi ninggalin pesantren itu, " Mufti.
" Iya, ayo!" Hafsah menganggukkan kepalanya.
Mufti dan Hafsah pergi keluar dari markas biasa Mufti bersama anggota Bandnya. Semua anggota Band hanya bisa terdiam walau ada salah seorang anggota yang berusaha menghentikan langkah Mufti.
Wajah kecewa dan marah terlihat jelas pada mereka. Mereka sangat tidak menyangka dengan hal yang mereka anggap " gila " dan itu akan dilakukan oleh Mufti. Padahal dari dahulu impiannya selalu ingin menjadi anak Band terkenal dengan tim Syubban yang hancur. Tapi yang dilihat oleh semua teman Mufti bertolak belakang dengan sifat asli Mufti dahulu.
Hafsah terus mengikuti Mufti sampai ke motornya. Seketika Mufti menghentikkan langkahnya dengan ekspresi bingung kepada Hafsah.
" Lo ngapain? Motor lo, mana? " tanya Mufti kepada Hafsah yang berdiri tepat di hadapannya yang sudah duduk di motor.
__ADS_1
" Aku gak bawa motor, Kak Hamdi gak bolehin aku nyetir gara-gara tabrakan kemarin. " jawab Hafsah dengan suara lembutnya beda jauh ketika ia bicara ngegas awal berjumpa dengan Mufti.
" Emang lo kesini naik apaan? " tanya Mufti.
" Naik ojek online, " jawab Hafsah singkat.
" Ya udah pesen aja lagi, gitu aja ribet, " Mufti begitu cueknya dan memalingkan wajahnya saat akhir kalimatnya.
Melihat sifat Mufti yang sangat dingin membuat Hafsah sangat geram geregetan ingin rasanya ia meremas-remas Mufti, ekspresi itu sangat tampak dengan jelas pada wajah cantik Hafsah.
" Benar-benar nih cowok, bikin darah tinggi aja. Masa gitu aja gak peka, sih? Erghhhh.. Gerget banget. Awas aja kamu, dasar es batu! " Hafsah dalam pikirnya menatap tajam Mufti yang masih ada di hadapannya.
Mufti menoleh ke arah Hafsah yang terlihat jelas menatapnya.
" Heh! Halo, lo kenapa? Lihatin gue kaya gitu, gak pernah lihat cowok ganteng dan sekeren gue?" Mufti.
" Ish, pede banget kamu! Sana-sana berangkat aja sendiri! Ngomong sendiri sama tim Syubban, " Hafsah mulai kesal dan meluapkan penuh kemarahannya.
Mufti yang melihat kejadian itu malah tertawa memandangi Hafsah yang masih terduduk sembari membersihkan tangannya.
" Gak usah ketawa kamu! " Hafsah semakin kesal dengan apa yang dilakukan Mufti.
Walau masih tertawa, Mufti bangun dari motornya untuk menghampiri Hafsah dan membantunya berdiri.
" Sini, gue bantu, " Mufti.
Hafsah sempat bengong menatap telapak tangan Mufti yang diberikan untuknya. Setelah sekian lama, Mufti sangat tidak sabar dan dengan segera membangunkan Hafsah.
" Ayo, kita harus cepat ke pesantren keburu tim Syubban pulang." Mufti.
" Iya, ayo, " Hafsah.
__ADS_1
Akhirnya Mufti mau menggonceng Hafsah berangkat menuju pesantren Nurul Qadim dengan segera.
___
___
___
Hari pulangan yang ditunggu-tunggu oleh semua santri akhirnya telah tiba. Wajah-wajah gembira tampak jelas pada para santri yang sudah siap untuk pulang kerumah mereka.
Semua Ustadz dan Kyai juga ikut senang melihat santri-santrinya yang sangat bahagia. Satu-persatu kendaraan masuk ke dalam pesantren untuk menjemput putra mereka.
Halaman pesantren mulai ramai dipenuhi oleh kendaraan.
Para santri yang rumahnya dekat dan masih sekitar jawa timur dijemput orangtua mereka. Dan untuk santri-santri yang tempat tinggalnya jauh sudah disediakan bus-bus yang sengaja dipesan untuk mengantarkan mereka dengan selamat.
Azmi sudah siap dengan koper hitamnya, peci berwarna putih bersih berlambang santri dan jaket berwarna marun sedikit berpadu dengan warna hitam dan mengenakan sarung berwarna cokelat tua. Azmi masih memandangi santri-santri yang tengah berpelukan dengan orangtua mereka.
Sungguh pemandangan yang sangat mengaharukan apalagi saat Azmi melihat Aban dan yang sedang memeluk erat ayahnya. Begitu juga saat ia melihat Rifki yang di kecup keningnya oleh ayahnya. Senyuman kecil terlukis di wajah Azmi melihat sahabat-sahabatnya bertemu kembali dengan orangtua mereka.
Bus-bus besar masuk dan siap mengantar pulang para santri. Teriakan sopir bus terdengar oleh Azmi dan membuatnya menoleh ke arah sopir itu. Dengan langkah pelannya Azmi berjalan sendiri menghampiri bus yang sudah terparkir di halaman pesantren bersebelahan dengan mobil-mobil yang tidak lain merupakan kendaraan keluarga para santri.
" Mau kemana, dek? " tanya sopir itu kepada Azmi yang berdiri dihadapannya.
" Ke Blitar, pak," jawab Azmi penuh keramahan.
" Jauh juga, ya? Hebat kamu, kalau gitu baik. Saya akan antarkan kamu dengan selamat sampai tempat tujuan, silakan naik, " sopir.
Azmi tersenyum dan menganggukkan kepalanya langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat ia mendengar teriakan Mufti memanggil namanya.
Bersambung...
__ADS_1