Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 175. Godain Dek Rara


__ADS_3

Pagi ini adalah hari pertama bangun sahur seluruh umat muslim, suara kentungan dan teriakan orang membangunkan para warga untuk sahur. Lampu-lampu mulai menyala setelah terbangun dari teriakan suara yang terus terdengar terus berjalan membangunkan semua orang untuk sahur.


Terlihat sejumlah remaja yang sangat bersemangat berteriak sambil memukul kentongannya. Para ibu bersama anak gadisnya juga terlihat sangat bersemangat menyiapkan santap sahur untuk keluarga mereka. Begitu juga yang dilakukan dengan Aisyah, tangannya yang lembut dengan cekatan membantu ibunya memasak dan menyiapkan santapan sahur.


Tidak kalah dengan Aisyah, Rara juga ikut membantu ibunya memasak dan menyiapkan makanan dengan langkah kecil dan tangan mungilnya pelan-pelan Rara melangkah untuk menyiapkan makanan sahur.


Bersamaan dengan itu Naufal dan Abah mulai terbangun dan melangkah bersama, duduk secara kompak pada kursi mereka masing-masing.


" Mas, Azmi mana? " tanya Rara.


" Jangan-jangan masih tidur Mas Azmi," Naufal.


" Naufal, tolong bangunkan Masnya, suruh cepetan turun, ayo, Nak." perintah Abah.


" Baik Abah, " jawab Naufal tanpa bantahan ia segera naik menuju kamar Azmi.


Sesampainya ia tepat didepan pintu kamar Azmi, Naufal mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil-manggil Masnya berkali-kali.


" Mas Azmi, bangun, Mas? Sahur, " ucap Naufal dari balik pintu kamar Azmi.


Masih saja tidak ada jawaban dari dalam kamar Azmi, akhirnya dengan terpaksa Naufal membuka pintu kamar Azmi masuk untuk membangunkannya.


" Mas, Mas Azmi, bangun, sahur, " Naufal sambil menepuk-nepuk tangan Masnya agar segera bangun.


Mendengar suara Adiknya, dengan perlahan Azmi membuka matanya dan melihat wajah Naufal yang terus saja berusaha membangunkan dirinya.


" Hmm, " sahut Azmi ia segera bangun mengusap-ngusap matanya dan menenangkan dirinya.


" Ayo, Mas. Abah, Ummi sama Rara udah nunggu lho," Naufal.


Dengan kondisi yang lemas, Azmi tidak menjawab ia masih menggaruk pelan bangun belakang lehernya dan menoleh ke arah Naufal dengan matanya yang merah.


" Wushhh, merah banget matanya, Mas." Naufal terkejut melihat mata Azmi yang sangat merah.


" Kamu duluan aja kesana, Mas mau wudhu dulu, " Azmi.


" Yo wes, langsung wudhu lho, Mas." Naufal.


Tanpa menjawab ucapan Adiknya, Azmi langsung bangun ia menyempatkan dirinya untuk mengacak-ngacak rambut Adiknya itu barulah ia melangkahkan kaki menuju kamar mandinya.


" Sana wes, Dek. Entar Mas langsung turun," Azmi sebelum menutup pintu kamar mandinya.


Naufal mengangguk memandang Masnya sampai menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


" Kasihan Mas Azmi, pasti dia capek banget. Matanya sampai merah gitu, kaya anime di tv aja, " Naufal ia mulai melangkah turun kembali pada meja makan.


" Mas Azminya, mana? " tanya Ummi.


" Mas sek wudhu Mmi, aku disuruh turun dulu, " jawab Naufal.


" Yo wes, kamu langsung makan aja, gak enak kalau dingin, " Ummi.


" Tapi aku kasihan sama Mas Azmi, dia kaya capek banget, baru satu tahun mondok tapi Mas Azmi kaya udah jadi senior, pulangnya juga belakangan, " Naufal.


" Udah, kamu gak usah khawatir tentang Azmi, Abah tau kalau dia orang yang kuat dan sabar, Azmi gak akan ngeluh cuma soal sholawat kaya gini, " Abah.


" Nggih Abah, pokok'e aku bangga sama Mas Azmi," Naufal menunjukkan ekspresi bangganya.


Akhirnya Azmi turun dan segera duduk bersebelahan dengan Rara yang sudah tidak sabar menyantap sahurnya.


Tidak langsung menyantap sahur Azmi malah memegangi kanan-kiri bagian kepalanya dengan kedua tangannya.


" Kenapa le?" tanya Abah.


" Mboten, eeee.. Ten nopo-nopo ( gak papa) Bah," jawab Azmi


" Ayo, Nak. Cepat dimakan sahurnya, " Ummi.


Azmi mengangguk pelan dan hendak mengambil lauk pauknya tanpa sadar ia malah mengambil ayam goreng dipiring Rara yang masih belum Rara sentuh. Azmi langsung menggigit daging ayam itu tanpa tau itu milik Rara hingga akhirnya Rara...


Mendengar Adiknya yang kesal, Azmi berhenti menggigit daging ayam yang masih ada ditangan kanannya.


" Ini punya, Rara? Duh, maaf, ya Dek. Mas gak tau'e." ucap Azmi ia malah mengembalikan ayam goreng bekasnya ke piring Rara.


" Mas Azmi, ini bekas, Mas. Masa mau dikasih Rara lagi, sih? " ucap Rara ia sangat kesal kepada Masnya itu.


" Oh, iya, ya. Kalau gitu Mas ambil lagi, maaf, ya." ucap Azmi ia masih sempat-sempatnya mencubit pelan pipi tembem Rara dengan tangan kirinya.


" Wes, Dek Rara ambil ayam goreng lagi, ini, Nak." Ummi Azmi memberikan ayam goreng baru kepada Rara dan meletakkannya kepada piring Rara.


" Alhamdulillah, terimakasih Ummi, " Rara.


" Mas kenapa, Mas? " tanya Naufal yang terlihat khawatir dengan keadaan Masnya.


" Hah? Ooo enggak, Mas gak papa, cuma mau godain Dek Rara aja, " ucap Azmi melukis senyum manisnya.


" Wes tho le, dimakan sahurnya keburu subuh lho, " Abah.

__ADS_1


" Nggih Abah, " Azmi mengangguk.


Akhirnya mereka bisa menyantap sahur mereka bersama-sama dengan penuh kenikmatan.


...****...


Di siang hari yang sangat terik dan panas tepatnya setelah sholat duhur berjama'ah.


Azmi duduk santai pada sofa, ia menyenderkan tubuhnya, melepas pecinya dan mengepai-ngepai wajahnya dengan peci hitamnya itu.


Naufal yang melihat Masnya segera menghampiri dan duduk tepat disebelah Azmi.


" Mas Azmi, mondok itu enak, gak?" tanya Naufal dengan ekspresi yang sangat serius.


Melihat Adiknya yang bertanya seperti itu, Azmi malah tertawa dan menegakkan tubuhnya.


" Kok malah guyu'e?" Naufal.


Sebelum menjawab Azmi masih tertawa kecil dan menatap Adiknya itu.


" Opo'o? Kok nanya gitu kamu? " Azmi.


" Ya, gak papa, Mas. Emang ada yang salah dengan pertanyaan saya? " Naufal.


Azmi kembali tertawa kecil sekilas.


" Ya enggak, gini, mondok itu bukan masalah enak atau gak enaknya, tapi tergantung orangnya. Kalau orang itu sudah niat mondok untuk mencari ilmu yang barokah, Insya Allah, mau dia dikasih hukuman beratpun, dia pasti akan selalu semangat dan dengan tabah juga ikhlas menjalankan hukuman itu karena dia udah niat dari rumah ingin dapat ilmu barokah. Tapi, kalau dari rumah gak ada niat yang benar, walau fasilitas pondoknya enak sekalipun pasti dia akan sulit buat betah. Kecuali, orang itu dapat hidayah dan mulai fokus dengan tujuannya ke jalan yang lurus, gitu. " jelas Azmi.


" Ooo, gitu ya, Mas. Mas Azmi pernah, gak? Dikacangin sama arek pondok seng lain," tanya Naufal membuat Azmi terdiam dengan pertanyaan Naufal yang begitu njleb ke dalam hatinya.


" Mas, kok malah diam, sih? Jangan-jangan pernah, ya?" Naufal.


" Hah? Ya enggaklah, dipondok Mas punya banyak teman bahkan Mas punya best friend, mantap, kan? " Azmi.


Naufal tertawa kecil melihat Masnya dan mengangguk mengiyakan Masnya.


" Iya, Mas. Tapi kalau dijahilin, pernah? " Naufal.


" Kamu ini akeh takonane'e ( banyak pertanyaannya)." Azmi.


" Gak papalah, Mas. Aku kan, cuma pengen Mas cerita sama aku, " Naufal.


" Orang jahil itu pasti banyak dan tidak sulit ditemukan, kamu aja sering jahilin, Mas. Tapi kita gak usah ambil ribetlah, senyumin aja. Lama-kelamaan orang yang ngejahilin kita pasti bosan. Lagian di pondok pesantren itu ada Ustadz atau pengurus juga yang akan menjaga keamanan dan kenyamanan santrinya. Jadi kamu hanya perlu fokus buat belajar, " Azmi.

__ADS_1


Naufal akhirnya paham setelah dijelaskan Azmi, rasa takutnya sudah reda saat Azmi mulai menceritakan kisah serunya dengan teman-teman pondoknya. Azmi hanya ingin Adiknya senang mendengar ceritanya dan membuatnya semangat untuk mondok nanti dia tidak ingin menceritakan kesedihan yang pernah dia alami di pondok.


Bersambung....


__ADS_2