
Fitri melepas perlahan pelukannya dan mengelus-ngelus pundak Aisyah seraya tersenyum dengan mata yang masih berkaca-kaca dan bilang...
" Hei, udah, Syah. Masa kamu belum bisa ikhlasin Kak Akmal? Dia udah tenang di alam sana kalau kamu terus-terusan nangis kaya gini, otomatis Kak Akmal gak akan tenang, Syah. Udah dong, aku tau kalau kamu orang yang kuat, " Fitri.
Aisyah menghapus air matanya dan menatap dalam Fitri yang selalu bisa menguatkan dirinya.
" Makasih, Fit. Kamu emang sahabat yang selalu ada buat aku, aku cuma minta sama kamu jangan bahas soal Azmi, oke." Aisyah.
Fitri baru saja ingin bicara tapi Aisyah lebih dulu mengucapkan...
" Pokoknya aku gak mau kamu nyebut nama itu!" Aisyah.
Fitri merasa bingung dan ia merasa terpaksa untuk mengangguk agar sahabatnya tidak lagi bersedih.
" Oke, iya, iya. " Fitri.
Aisyah melukis senyum manisnya begitu juga dengan Fitri. Di malam ini mereka berjalan bersama sampai kerumah mereka masing-masing walau dalam hati Fitri masih bingung dengan sikap Aisyah yang masih belum bisa memaafkan Azmi, ia juga terlihat biasa saja ketika mengetahui Azmi mulai viral, terkenal dan dikenal banyak orang.
...*****...
Setelah bersholawat ke berbagai belahan daerah Indonesia, tim Syubban merasa lelah saat ini posisi mereka berada di wilayah Surabaya. Tidak ada malam yang libur untuk bersholwat bahkan sehari penuh mereka sering tidak beristirahat menghadiri berbagai tempat untuk melaksanakan tugas mereka.
Pada pagi yang sudah cerah di hotel tempat Syubban menginap. Azmi dan Aban masih terlelap dengan pakaian seragam Syubban terlihat jelas bahwa kedua santri muda itu sangat kelelahan.
" Azmi, sama Aban mana? " tanya Ustadz Mustafa.
" Wah, jangan-jangan arek 2 iku sek turu'e," Udin.
" Astagfirullah. Ahkam, tolong kamu bangunkan Azmi dan Aban, " Kyai.
" Nggih Kyai, saya permisi dulu, " Ahkam.
Ahkam segera melangkah pada kamar Azmi.
" Azmi, Aban, bangun! Sahur!" teriak Ahkam didepan kamar Azmi dan Aban tapi tak kunjung ada jawaban padahal Ahkam sudah mengetuk pintu cukup keras.
Akhirnya dengan terpaksa, Ahkam masuk. Benar saja, Azmi dan Aban sungguh masih tertidur sangat lelap.
" Astagfirullah, riah, hei, bangun-bangun! " Ahkam ia terus menggoyangkan tubuh Azmi juga Aban dengan keras berkali-kali hingga Azmi membuka sedikit matanya.
" Apah, mas Ahkam? Engkok gik ketondu( apa, mas Ahkam? Aku masih ngantuk)." Azmi.
" Yee, malah nanya. Bangun, udah siang banget ini, udah sholat subuh kalian? Kyai nungguin lho, " Ahkam.
Mendengar kata Kyai membuat Azmi kaget ia segera bangun dengan rambut yang masih acak-acakan dan wajah yang kusam karena lelah dan baru saja bangun tidur.
Azmi mengusap-ngusap matanya ia terlihat bingung melihat Ahkam.
" Mareh bejeng sobuh been, Mi? ( Udah sholat subuh kamu, Mi? " tanya Ahkam.
__ADS_1
" Hmmm, udah kok mas. Tadi cuma mau rebahan, eh malah ketiduran, " Azmi.
Ahkam hanya bisa tertawa kecil melihat Azmi yang terlihat lemas dan menguap menutup mulutnya dengan mata setengah terbuka.
" Ban, bangun, Ban. Kyai nanyain kalian, " Ahkam.
Aban juga bangun secara perlahan walau dirinya masih sangat ngantuk hal itu harus mereka lawan mengetahui Kyai yang sudah menunggu mereka.
" Aku kurang tidur'e, mas." Aban dengan suaranya yang serak, itu biasa terjadi saat Aban baru bangun tidur.
" Kalian wudhu aja lagi, apa sekalian gitu mandi biar gak ngantuk?" Ahkam.
" Huwaa, Ya Allah, ngantuk banget, " Azmi.
" Makanya cepat mandi, semuanya juga udah segar cuma kalian aja yang belum mandi. Tau, kan kamar mandinya, dimana?" Ahkam.
Azmi mengangguk pelan dan segera bangun mengambil peralatan mandinya. Ia juga mengusap wajahnya dicermin sembari membersihkan kotoran matanya.
" Sana, Ban kamu juga, biar gak ngantuk." Ahkam.
" Iya, mas. " Aban.
Melangkah pelan dan kondisi lemas, Azmi dan Aban harus melawan rasa malasnya dan melawan rasa dingin dipagi hari mengingat mereka masih seorang santri yang sudah biasa bangun pagi dan mandi di suasana yang sangat dingin.
Azmi dan Aban terlihat sangat segar, dengan peci putih bersih Azmi yang ia kenakan sedikit memperlihatkan rambutnya, baju koko biru tua dan sarung hitam sementara Aban terlihat keren dengan koko hitam putihnya dan sarung cokelat tuanya, peci hitam dikenakan dengan benar.
" Ngakan kadek, Mi, Ban (makan dulu, Mi, Ban," Ali.
" Kapan pulang, mas? " tanya Azmi kepada Ali yang ada dihadapannya sambil membuka bungkus nasinya.
" Gak tau, Mi. Tanya Kyai, sana, " Ali.
" Ni-benni, ( aneh-aneh aja)." Azmi tersenyum kecil kembali mengarah kepada nasi bungkusnya.
Sebelum Azmi dan Aban menyantap makanannya tidak lupa mereka menawarkan kepada semua anggota.
Dalam ruang makan hanya ada anggota Syubban yang sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
" Eh, katanya Ustadz, besok kita pulang, " Udin.
" Iyeh, puasaan lusa, " jawab Ahkam.
" Beh, iya, mas. " Aban terlihat kaget dan serius menatap ke arah Ahkam.
" Iya, Ban. 2 hari lagi udah puasa, jadi kita besok bisa pulangan," Ahkam.
" Gak kerasa, udah mau puasa aja. Rasanya baru kemarin yang lebaran, masuk pesantren terus kenalan sama mas Ahkam, " Azmi yang membuat semua tersenyum.
" Assalamualaikum, " ucap Hafsah sudah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam warahmatullah, " jawab Mufti yang membuntuti Hafsah dan juga semua anggota Syubban.
Mendengar suara Mufti, Hafsah menoleh ke belakang dan benar saja Mufti sudah tersenyum lebar tepat dihadapannya.
" Ih, kamu ngapain ngikutin aku, sih?" Hafsah.
" Siapa yang ngikutin? Gue emang mau ketemu sama mereka, " Mufti.
" Onok opo, seh? (Ada apa, sih?)" tanya Udin.
" Kalian kan besok mau pulang, jadi kita live bareng dulu, ya. Gak papa, kan? Aku juga pengen foto sama kalian terutama sama Azmi, " Hafsah.
" Genit banget lo jadi cewek, " Mufti.
" Biarin, kamu iri? " Hafsah.
" Ogah banget iri sama lo, ihhh," Mufti memalingkan wajahnya.
Hafsah segera melangkah mendekati Azmi dan mulai membuka hapenya.
" Mau ngapain, Kak? " Azmi menjauhkan sedikit tubuhnya dari Hafsah.
" Mau live, ini banyak yang nanyain kamu lho, Mi. Gara-gara kamu, lihat, folowersku jadi nambah drastis, " Hafsah.
" Udahlah, Azmi gak mau live sama lo, " Mufti.
" Nyamber aja kamu, gak papalah, Mi. Nanti aku udah gak bareng-bareng kalian tau, biar kalian gak nyesel, boleh ya, please," Hafsah.
Azmi masih bingung dan menatap ke arah teman-temannya yang juga bingung harus apa.
" Gak papa, Mi. Mau aja, sekali-kali, " Ahkam.
" Nah, benar tuh, sekali ini aja kok, habis itu aku sama kalian udah berpisah dan gak tau kapan ketemu lagi, " Hafsah.
" Sok sibuk lo," Mufti.
" Emang Kak Hafsah mau kemana?" tanya Azmi.
" Mau fokus kerja, makanya mau, ya. " Hafsah.
" Eeee, gimana, ya? " Azmi ia masih ragu kembali memalingkan wajahnya.
" Nah, udah mulai nih, wih langsung banyak banget yang nonton. Eh kalian semuanya, ayo sini. Biar kalian tau banyaknya orang yang ngefans dan ngedukung kalian, " Hafsah.
Tim Syubban mulai mendekat walau sebelumnya mereka masih takut dan ragu begitu juga dengan Mufti ia mendekat untuk menghilangkan rasa penasarannya.
" Assalamualaikum, fansnya Syubban. Ini aku udah sama Syubban nih, " Hafsah.
Azmi terlihat malu-malu ia tersenyum melihat tingkah Hafsah sesekali Azmi menyapa para fansnya bersama tim Syubban yang lain terutama Aban dan Ahkam. Disinilah Azmi bersama anggota Syubban tau begitu banyak yang mendukung mereka.
__ADS_1
Bersambung....