
Hari sudah semakin malam. Ustadz Abdullah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11:30 malam. Sementara Akmal dan Zakir hanya bisa tertunduk. Ahkam merasa sangat kecewa dengan Akmal ia terus memandang Akmal yang menunduk itu.
"Begini saja, masalah ini kita selesaikan besok. Karena ini sudah malam,hukuman pasti ustadz berikan pada Akmal dan Zakir.Untuk Akmal besok ustadz bayarkan uang kamu yang kamu ambil dari Zakir."ustadz Abdullah.
"Tapi ustadz, bagaimana saya bisa bayar?."tanya Akmal.
"Sudah, kamu tidak perlu pikirkan tentang itu, ustadz juga minta orang tua kalian datang, bisa. "ustadz Abdullah.
Akmal dan Zakir kaget mendengar ucapan ustadz yang menyuruh mereka untuk memanggil kedua orang tua mereka. Begitu juga dengan Azmi yang merasa kasihan kepada Akmal.
"Maaf ustadz, sebaiknya tidak usah lapor orang tuanya mas Akmal sama Zakir ustadz,"Azmi.
"Tidak bisa Azmi, mereka sudah melakukan kejahatan, ustadz tidak mau jika nanti ada santri lain yang meniru mereka,lagi pula ini sudah menjadi peraturan dari Kyai. "ustadz Abdullah.
Azmi mengangguk.
"Baik ustadz, besok saya telepon orang tua saya."Akmal.
"Iya ustadz, saya juga. "Zakir.
Ustadz Abdullah mengangguk beberapa kali.
"Ya sudah, kalian bisa pergi ke kamar."ustadz Abdullah.
"Baik ustadz ,kita pamit.Assalammualaikum."ucap Akmal berdiri dan mengucap salam.
Azmi,Aban,Zakir,Ahkam,dan Muhklis juga mengucap salam dan mencium tangan ustadz.
"Wa'alaikumsalam. "jawab ustadz Abdullah .
Mereka pergi meninggalkan ruangan. Saat Akmal melangkah perlahan Ahkam menghentikan langkah Akmal dengan memegang kerah baju Akmal dengan keras menghadapkan Akmal kepadanya.
"Tega banget kamu Mal,aku gak nyangka sama kamu bisa buat Azmi berdarah-darah kayak gitu. "Ahkam dengan sangat kesal.
Akmal hanya bisa tertunduk diam sembari meminta maaf. Azmi segera mendekati Ahkam sedangkan, Zakir hanya melihat kejadian itu dengan wajah malas.
"Udah mas Ahkam, kasihan mas Akmal."ucap Azmi berusaha menenangkan Ahkam yang sangat kesal.
"Azmi, ngapain kamu kasihan sama orang kayak dia. "Ahkam.
"Mas Ahkam,Azmi udah maaffin mas Akmal kok."Azmi.
Ahkam menoleh ke arah Azmi dan melepaskan tangannya dari kerah baju Akmal.
"Udah mas Ahkam, Azmi tau mas Akmal ngelakuin itu terpaksa karena dia gak mau nyusahin orang tuanya,iya kan mas. "Azmi.
Akmal hanya menganggukkan kepalanya.
"Huwaaaa, kalian tuh banyak drama banget sih ,udahlah besok kita juga bakal nerima hukuman dari ustadz. "Zakir.
"Eh Kir,kamu gak mau minta maaf sama Azmi. "Aban.
"Minta maaf sama dia, gak akan. "Zakir dengan sombong dan pergi meninggalkan tempat.
__ADS_1
"Dasar bocah, gak ada rasa bersalahnya."teriak Muhklis kesal.
Ahkam memandang Akmal dengan tatapan sinis.
"Azmi, sekali lagi mas minta maaf. "ucap Akmal kepada Azmi.
"Iya mas. "Azmi.
"Ya udah,ayo kita kekamar."ajak Ahkam kepada semuanya kecuali Akmal.
Azmi, Aban, Ahkam,dan Muhklis pergi meninggalkan Akmal sendirian. Akmal memandang langkah mereka dan memegangi dahinya ia memilih duduk di sebuah bangku untuk merenungi kesalahannya. Azmi sempat memandang Akmal dan merasa kasihan kepada Akmal.
"Ya allah ampuni kesalahan hamba,gimana ini ibu pasti sedih banget kalau harus dipanggil. "Akmal melepas pecinya dan memegangi dahinya.
Sedangkan Azmi masih memikirkan Akmal disaat semua temannya sudah mulai tidur. Aban yang mengetahui Azmi yang susah tidur segera bangun dan duduk.
"Mi, tidur gih,udah malam nih. "Aban yang berbicara dalam kegelapan.
"Iya Ban, aku kasihan sama mas Akmal. Ban, dia itu gak salah aku tau perasaan mas Akmal, sekarang dia pasti kepikiran gimana besok orang tua mas Akmal datang. "Azmi.
Aban menghela nafasnya.
"Iya Mi, aku ngerti .Tapi ini sudah jadi keputusan ustadz."Aban.
"Kamu benar Ban."Azmi.
"Mending kamu tidur gih,"Aban.
Aban dan Azmi mulai merebahkan diri mereka. Azmi membaca doa dan mengingat kejadian dimana Akmal memukuli Azmi. Azmi menghela batasnya dan memejamkan matanya.
Pagi hari 🌤..
Semua teman Akmal sudah tau tentang kesalahan Akmal. Tidak ada satupun temannya yang mau bicara dengan Akmal.
Padahal mereka akan mengikuti lomba silat hari itu. Akmal hanya duduk sendiri sudah bersiap mengenakan seragam silatnya.
"Ali, kamu sudah siap. "tanya Akmal kepada Ali yang duduk disebalahnya.
"Udah. "jawab Ali cuek.
"Mal, jujur aku kecewa banget sama kamu. Bisa-bisanya ya,kamu minta tolong sama Zakir daripada kita. Padahal kamu taukan yang kamu lakukan itu salah. "Firman kesal.
"Iya, aku cuman gak mau buat susah kalian. Dam waktu itu cuman Zakir yang..... "Akmal.
"Ah,wes toh Mal, Mal, sampean itu sudah berkhianat sama kita semua. "Udin.
"Iya, aku minta maaf, kalian jangan dingin kayak gini dong, kita kan sahabat. "Akmal.
Suara klakson mobil berbunyi beberapa kali. Itu merupakan mobil Kyai yang siap mengantarkan Akmal, Firman, Ali dan Udin ke pertandingan.
"Ayo berangkat. "ucap Ali yang masih kesal dengan Akmal.
Mereka semua berangkat menghampiri mobil yang sudah terparkir didepan pesantren.
__ADS_1
Akmal ditinggalkan oleh ketiga temannya yang sudah sangat kecewa dengannya.Azmi dan Aban yang melihat para pesilat yang akan berangkat segera menghampiri mereka.
"Semangat mas, Azmi yakin kalian pasti menang. "ucap Azmi kepada Ali, Firman, dan Udin.
"Iya mas -mas, semangat!!."Aban menambahkan.
"Terimakasih Azmi,Aban,"Ali, Firman dan Udin juga mengucapkan terimakasih kepada Azmi dan Aban.
Akmal datang menghampiri teman-temannya.
"Mas Akmal, semangat ya mas. "ucap Azmi memberi senyumnya.
"Iya Azmi ,terimakasih."jawab Akmal membalas senyuman Azmi.
Sedangkan Ali, Firman, dan Udin hanya diam enggan memandang Akmal.
"Ayo,ayo ,masuk. "ustadz Fathur.
"Baik ustadz. "Ali.
Mereka semua masuk menuju mobil. Azmi tetap memberi senyumnya kepada Akmal tanpa ada rasa kecewa sedikitpun.
"Azmiz mas berangkat dulu,doain ya,supaya mas menang. "Akmal.
"Iya mas, pasti aku doain. "Azmi.
"Makasih. "Akmal.
Azmi menganggukkan kepalanya berulang kali secara perlahan ia juga memberikan senyum manisnya pada Akmal.
Berangkatlah para pesilat yang akan bertanding. Azmi melambaikan tangannya ke arah mobil itu yang berjalan keluar pesantren.
"Mi, kamu ngapain sih masih baik aja sama mas Akmal ,dia itu jahat Azmi,"Aban yang kesal.
Azmi menoleh ke arah Aban sembari tersenyum.
"Gak Ban, mas Akmal gak jahat dia terpaksa ngelakuin itu.Bukan mas Akmal yang jahat tapi Zakir, karena dia yang sudah nyuruh mas Akmal kayak gitu, tapi gak papa aku udah maaffin mereka.Lagian gak baik marah-marah, ya kan. "Azmi.
"Iya Azmi,aku salut sama kamu. "Aban.
"Ah, bisa aja kamu Ban. "Azmi.
"Mulai nih, penyakitnya. "Aban.
Azmi dan Aban tertawa kecil.
"Ya udah kita ke kantin yuk, lapar nih."Aban.
"Ayo, selalu siap kalau itu."Azmi.
Akhirnya mereka berjalan bersama menuju kantin pesantren.
Bersambung.....
__ADS_1