Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 119. Perasaan Tidak Enak


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu, keadaan Akmal yang hanya mengandalkan obat semakin parah walau ia selalu menunjukkan kepada semua orang kalau dia sehat tetapi tidak ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.


Tepat pukul 02.00 pagi pada awal hari kamis, Akmal sudah bangun untuk melaksanakan sholat tahajud dalam doa Akmal meneteskan air matanya sembari menahan rasa sakitnya.


" Ya Allah, hamba hanya ingin tim Syubanul Muslimin sukses, walau hamba sadar umur hamba sudah tidak lama lagi, hamba semakin tidak berdaya. Sesungguhnya engkau yang maha menghidupkan dan mematikan semua makhluk hidup, semoga hamba bisa meninggal dalam husnul khotimah.... Aamiin.. " Akmal di dalam doanya sembari terus meneteskan air matanya di malam yang sunyi ia larut dalam kesedihannya.


Azmi yang juga bangun sudah berada dj Masjid ketika ia mengampar sajadahnya ia melihat Akmal yang menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Azmi memilih untuk menghampiri Akmal karena ia merasa khawatir.


" Assalamualaikum mas Akmal, " Azmi duduk di samping Akmal dengan tatapan dalam.


Melihat Azmi yang sudah duduk di sampingnya, Akmal segera menghapus air matanya dan menoleh ke arah Azmi.


" Mas Akmal kenapa nangis? Apa ada yang sakit, mas?" tanya Azmi terus menatap Akmal dengan ekspresi khawatir.


" Enggak Mi, aku gak papa kok, " jawab Akmal tersenyum kecil.


" Beneran? Terus, mas kenapa nangis?" Azmi.


" Emm, ini... Aku lagi, " Akmal bingung harus menjawab apa sembari menggaruk pelan leher belakangnya sehingga ia menemukan alasan.


" Biasalah Mi, aku itu kalau berdoa khusyuk banget, makanya sampai nangis, " Akmal.


" Oooo, gitu, ya udah mas, aku sholat tahajud dulu, " Azmi.


" Iya, " Akmal.


Azmi kembali ke tempat di mana sajadah berwarna biru tua yang indah sudah ia hampar untuk melaksanakan sholat tahajud.


...************...


Pagi hari yang cerah membuat Hafsah sangat semangat untuk berangkat ketempat ia magang dengan motor kesayangannya.


Sejumlah anak Band yang merupakan teman Mufti menghampiri Hafsah untuk menggodanya dengan mengebut memutar Hafsah di jalan desa yang masih sepi itu.


Hafsah menjadi ketakutan dan berusaha mengusir segerombolan anak Band itu.


" Kalian mau apa? Jangan ganggu saya, ya! Pergi!" ucap Hafsah dengan suara teriakan yang tegas.


" Cantik banget mbak, mau kemana? " Anggota Band 1 yang berhenti bersama tiga teman lainnya walau masih melingkari Hafsah yang ketakutan.


" Pagi-pagi gini, pakai baju putih-putih, Dokter, ya? " Anggota Band 2.


" Bukan urusan kalian, awas! Saya buru-buru! " tegas Hafsah kembali.

__ADS_1


" Wedew, " ketiga anak Band itu yang terkejut dengan sentakan Hafsah.


" Galak banget mbak, selow dong, " Anggota Band 3.


" Kalian siapa, sih? Jangan ganggu saya, ya! " teriak Hafsah.


Ketiga anggota Band itu tidak mendengarkan dan terus melakukan aksinya menggangu Hafsah yang sedang sendiri di jalan sepi dekat persawahan.


Ketika Mufti datang untuk menghampiri teman-temannya yang sudah menghubungi dirinya mengebutkan motornya di jalan sepi. Namun, ketia ia sampai dan melihat dari kejauhan teman-teman Bandnya sedang menganggu Hafsah, Mufti marah dan semakin melajukan motornya.


" Heh heh heh! Pagi-pagi, udah gangguin cewek, gak ada kerjaan banget sih! Udah, sana pergi! " sentak Mufti.


" Ya elah Muf, kenapa, sih? Mumpung ada cewek cantik, emang lo gak mau? " tanya salah satu anggota Band yang membuat Mufti semakin kesal.


" Gue bilang pergi, pergi! " sentak Mufti membuat semua teman Band nya ketakutan dan lari dari situ, walau ada anggota Band yang sempat memperhatikan Hafsah sebelum ia pergi.


" Lo gak papa? " tanya Mufti.


" Gak usah sok peduli kamu, kamu itu sama aja kaya mereka! " Hafsah.


" Untung gue tolongin lo, kalau enggak, mereka itu bisa melakukan apa aja ke lo, gue gak mau mereka nyakitin lo, " Mufti mengecilkan suaranya di kalimat terakhirnya.


" Hah? Apa kamu bilang? " Hafsah kaget.


" Itu, emmm... Itu....Kita batalin aja ya, taruhannya, kata kakak aku, gak boleh mempertaruhkan kesuksesan orang, " jawab Hafsah.


" Gak bisa di batalin gitu aja dong! Lo gimana, sih? " Mufti menunjukkan kemarahannya.


" Ya, maaf, waktu itu aku emosi, jadi ngomongnya ngawur, " jawab Hafsah.


" Tapi itu..." Mufti.


" Aku udah telat nih, duluan ya, bye, assalamualaikum, " Hafsah memotong pembicaraan Mufti dengan cepat menstater motornya menghindari kemarahan Mufti.


" Woy! Arghh!!! Enak banget dia, batalin taruhan gitu aja, " Mufti kesal dengan tatapan ke arah Hafsah yang semakin menjauh


...*********...


Setelah sholat isya' berjama'ah, Azmi dan mas-mas hadroh berlatih bersama di Masjid, karena seperti biasa di malam jum'at, para santri selalu melakukan burdah yaitu sholawat bersama.


Dengan suaranya yang lantang dan indah Azmi melantunkan sholawatnya bergantian dengan Ahkam diiringi oleh tabuhan rebana dari tangan Firman, Udin, Muhklis dan 2 hadroh lainnya.


Aban yang baru keluar dari kamar mandi berjalan sendiri menghampiri tim Syubband yang sedang duduk bersama menikmati latihan mereka.

__ADS_1


" Assalamualaikum, " Aban duduk di samping Azmi yang dengan spontan memberikannya tempat duduk.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semua menghentikan latihan mereka.


" Ban, kamu gak lihat Ali sama Akmal? " tanya Firman.


" Enggak mas, " jawab Aban.


" Gak usah khawatir Man, entar lagi juga datang, " ucap Udin.


" Gak gitu Din, aku ngerasa gak enak aja, perasaan ku sekarang, kaya ada sesuatu buruk yang bakal terjadi, " Firman.


" Sama Man, aku juga, perasaan ku gak enak, " sambung Muhklis.


" Semoga gak terjadi apa-apa, " ucap Azmi dengan nada pelan dan khawatir sembari menunduk.


" Kalian semua tenang aja, Allah selalu lindungin kita, jangan pikir yang enggak-enggak, mending kita berdoa aja," ucap Ahkam menenangkan semua teman-temannya yang merasa sangat khawatir.


...***********...


Dada Akmal semakin sesak, wajahnya juga sangat pucat, bibirnya terlihat kering, mata Akmal juga merah mengeluarkan air tidak seperti biasanya. Ketika Akmal melihat ke arah cermin ia merasakan ke anehan dalam wajahnya. Tiba-tiba saja darah mengalir dari hidungnya ia segera mencari tisu dan dengan cepat Akmal membersihkan darah di hidungnya sembari bercermin.


" Mal, ayo berangkat, " Ali datang menunggu Akmal di depan pintu.


Akmal menjadi kaget dan segera memastikan tidak ada darah di hidungnya dengan langkah pelan dan lemas ia menghampiri sahabatnya.


" Mal, muka kamu pucat banget, kamu sakit, Mal? " tanya Ali khawatir.


Akmal memalingkan wajahnya dan kembali menoleh ke arah Ali sembari memberikan senyumnya.


" Gak papa kok Li, " jawab Akmal.


" Tapi Mal, ini gak kaya biasanya, masa kamu gak ngerasain apa-apa, badan kamu lemas? Atau... Ayo Mal, jujur aja sama aku, aku gak mau kamu kenapa-napa! " Ali sangat khawatir melihat wajah Akmal yang pucat dan tubuh Akmal yang lemas.


" Aku baik-baik aja Li, ini karena selama ini jadwal kita padat dan aku kecapek'an aja, " Akmal berusaha menenangkan temannya dari rasa khawatirnya dengan suara yang lemas tidak seperti biasanya.


" Tapi Akmal, kalau kamu capek, ya, istirahat aja dulu, " Ali.


" Kamu Li, udah, aku gak papa, ayo, keburu malam nih, " Akmal melangkah mendahului Ali menyembunyikan perasaannya yang tidak enak.


" Mal, tunggu Mal!" Ali mengejar langkah Akmal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2