
Para anggota Syubband semuanya diam wajah mereka begitu serius dan datar sampai Azmi yang sedari tadi menopang dagu dengan jempol dan telunjuknya saat sedang berpikir lalu ia mengangkat kepalanya dan....
" Dar!" Azmi berteriak dengan menegakkan tubuhnya sembari menepuk tangannya keras tentu saja dengan spontan semua anggota Syubban kompak kaget seperti orang hendak cegukan dengan ekspresi yang kaget mereka menoleh ke arah Azmi yang malah tertawa terpingkal-pingkal sambil menutup mulutnya tidak tahan mengingat bagaimana wajah semua temannya ketika kaget berjama'ah.
" Hurghh! Azmi, kamu ngagetin aja. Astagfirullah, " Ahkam yang hampir jantungan saat di kagetkan Azmi. Ahkam mengelus-ngelus dadanya sambil beristighfar dan menggeleng-gelengkan kepala pada Azmi.
Azmi semakin tertawa melihat ekspresi Ahkam tapi ia menyatukan kedua tangannya untuk minta maaf walau masih saja tertawa.
" Mi, aku juga kaget lho. Nih jantungku masih berdebar kencang," Muhklis wajahnya tampak kesal kepada Azmi.
" Maaf, maaf semuanya. Habis kalian serius banget, maafin aku, yah." Azmi ia masih menyatukan kedua tangannya meminta maaf dengan tawa manisnya.
" Iyo, Azmi tiba-tiba.. Dar! Aku kaget tenan'e,' sambung Udin.
" Azmi, Azmi. Masih aja kamu bercanda, ya." Ahkam kepada Azmi yang masih tersenyum.
" Aku minta maaf, mas. Suer, gak ada maksud buat kalian jantungan, ini semua cuma bercanda, serius. Jangan marah." Azmi menunjukkan dua jari dengan wajah keseriusannya.
" Dah jangan ketawa mulu, Mi." Ali juga ikut mulai serius membuat Azmi berhenti tersenyum dan menundukkan kepalanya persis terlihat ia sedang sedih.
Udin yang ada disebelahnya mengerti perasaan Azmi yang habis disentak oleh Ali.
" Wes, wes. Ojo nangis, Mi. Biasa omongan Ali itu lebih pedas dari cabe, " Udin sambil tangan kanannya mengelus-ngelus pundak Azmi yang masih saja tertunduk.
" Li, kasihan Azmi kamu gituin, " Firman.
" Aku belum selesai ngomong. Udah jangan ketawa terus nanti semua cewek-cewek datang lagi ngerubungin kamu, kaya semut ngerubungin gula." Ali.
Mendengar perkataan Ali membuat Azmi melukis tawa dengan senyuman manisnya mengangkat kepalanya memandang ke arah Ali.
Semua anggota Syubban juga ikut tersenyum melihat Azmi yang tertawa mereka kembali berbincang dengan ceria sampai waktu berbuka tiba.
...***...
Mufti masih tinggal sendiri hanya ada bibi ( pembantunya). Saat selesai taraweh, Mufti tidak sengaja bertemu dengan Hafsah yang baru saja berbincang dengan temannya.
" Hafsah, " ucap Mufti mendekati Hafsah.
__ADS_1
Ketika Hafsah membalikkan tubuhnya ia tercengang melihat penampilan Mufti yang begitu religius, saat itu Mufti yang tersenyum kepadanya memakai koko berwarna merah marun ia juga memakai sarung berwarna hijau tua dan peci hitam sungguh sangat berbeda penampilan Mufti yang biasanya dan kali ini aja terlihat sangat adem menyejukkan mata memandang.
Mata Hafsah tak kedip sama sekali, saat ini ia sangat fokus menatap betapa indahnya Mufti.
" Woy! Ngelamun aja, kenapa lo? Suka, ya sama gue? Udah deh, ngaku aja. Penampilan gue sekarang gimana? Ganteng, kan? Keren, ya? " Mufti ia memetikkan jari-jarinya beberapa kali untuk menyadarkan Hafsah dari lamunanya dan mendekatkan wajahnya sembari menaikkan alisnya ketika bertanya bagaimana penampilan dia sekarang.
Hafsah berkedip dan sadar saat Mufti memetikkan jarinya tepat dimatanya ia jadi salah tingkah dan memalingkan wajahnya.
" Astagfirullah, aku masa ngelihatin nih, anak kaya gitu. Sadar Hafsah, sadar! " Hafsah ia memukul-mukul kanan-kiri wajahnya secara bergantian beberapa kali hal itu membuat Mufti semakin bingung akan tingkah Hafsah.
" Hey! Lho kenapa, sih? " Mufti.
Hafsah kembali menatap Mufti dan bersiap untuk bicara.
" Ehem," Hafsah berdeham dengan tatapan yang dalam kepada Mufti menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak tertarik dengan Mufti.
" Astagfirullah, Mufti. Kamu tadi buka apa, ya? Ooo, aku tau pasti buka sama es buah makanya kamu jadi kepedean kaya gini." Hafsah ia bersikap seolah-seolah biasa saja kepada Mufti.
" Es buah? Bentar-bentar kok lo tau, sih? Tapi emang makan es buah bisa bikin pede, ya?" tanya Mufti semakin membuat Hafsah tegang.
Dengan tingkah Hafsah yang seperti itu membuat Mufti semakin bingung dan kembali mencoba menghentikan langkah Hafsah dengan berteriak memanggil namanya.
" Heh, Hafsah!" teriak Mufti kepada Hafsah yang sudah melangkahkan kaki dan hendak pergi.
Teriakan Mufti, membuat Hafsah kaget ia menghela nafasnya keras sambil memejamkan matanya untuk menahan kesalnya.
" Ada apa lagi, sih? " tanya Hafsah kembali membalikkan tubuhnya dan memandang Mufti.
" Boleh minta nomer lo, gak? " tanya Mufti lembut.
" Hah? Aku gak salah dengar, kan? Heh, buat apa kamu minta nomer aku? " tanya balik Hafsah.
" Eeee, buat... "
Mufti seketika berhenti bicara ketika memandang wajah cantik Hafsah yang tengah menunggu jawabannya.
" Gue bilang apa, ya? Masa gue bilang, kalau gue suka sama dia. Arghhhh! Mau taruh dimana muka gue? Yang ada gue diketawain sama nih, cewek. Secara, cowok idaman dia gak ada banget dalam diri gue, " ucap Mufti dalam hati dengan wajah yang sangat serius karena ia sedang berpikir.
__ADS_1
" Muf, Mufti. Yah, malah ngelamun nih, anak. Kamu mau ngapain minta nomer aku? " Hafsah menyadarkan Mufti dari lamunanya.
" Hah? Eee...Ehem, ya, enggak. Gue cuma mau temenan sama lo, bolehkan?" Mufti.
" Hmmmm, ya udah, iya, iya. Mana hape kamu? " Hafsah sambil memberikan telapak tangan kanannya untuk meminta hape Mufti.
Mufti yang tidak fokus dan malah melamun terus malah bingung dan gagal fokus.
" Apaan? Lo mau ngapain ngasih gue tangan?" tanya Mufti membuat Hafsah semakin kaget dan kesal berusaha tetap sabar dengan semua tingkah Mufti.
" Ya Allah, kamu kayanya kurang minum air deh, sampai gak fokus gitu? Tanganku kaya gini minta hape kamu, nanti aku kasih nomer aku, sini hapenya, " Hafsah.
" Oh, iya, iya." Mufti ia memalingkan wajahnya karena malu sambil mengambil handphonenya lalu memberinya kepada Hafsah.
Hafsah kembali kesal ketika melihat hape Mufti yang terpasang kunci kata sandi.
" Astagfirullah, hari ini aku harus super banget sabar. Nih, buka dulu kuncinya," ucap Hafsah mengembalikan handphone Mufti.
" Oh, iya, ya. Lupa gue, maaf." Mufti tertawa kecil sementara Hafsah yang sudah kesal hanya tersenyum yang tak lepas sudah begitu kesalnya ia.
Selesai itu barulah Hafsah memberikan nomernya.
" Udah, nih. Kalau gitu aku mau pulang dulu," Hafsah.
" Makasih, " Mufti.
" Iya, sama-sama. Assalamualaikum, " Hafsah yang hendak pergi mengangkat satu tangannya untuk melambaikan tangan sebelum ia melangkah.
" Wa'alaikumsalam, " Mufti.
Saat Hafsah sudah jauh barulah ia menunjukkan betapa bahagianya dirinya setelah mendapatkan orang yang ia suka.
" Yes! Yuhu, akhirnya gue dapat nomer dia, " Mufti dengan kepala tangan yang ia tunjukkan layaknya pemenang.
Begitu girangnya Mufti sampai ia mencium handphonenya itu dan melukis senyum kebahagiannya.
Bersambung......
__ADS_1