Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 113. Butuh Keberanian!


__ADS_3

Tepat setelah sholat duhur berjama'ah anggota Syubban berkumpul di depan Masjid atas perintah Kyai. Azmi dan Aban masih mengenakan seragam Madrasahnya begitu juga dengan Akmal, Ali, Udin dan Firman yang tidak sempat mengganti seragam sekolah mereka.


Zakir menghentikan langkahnya ketika melihat tim Syubban dengan wajah kusam dan lelah duduk di depan Masjid menunggu kehadiran Kyai dan Ustadz Mustafa.


" Eh, itu ngapain mereka di situ? " tanya Zakir sangat penasaran.


" Gak tau, " jawab Helmi singkat.


" Aku masih heran aja sama Azmi, kenapa dia masih betah aja tinggal di pondok ini?Padahal aku udah jahilin dia, selalu ngajak ribut dan udah ngefitnah dia, heran sama tuh anak, " Zakir pandangannya fokus kepada Azmi yang sedang berdiskusi dengan Ahkam, Aban dan Muhklis.


" Sama Kir, entah terbuat dari apa hati Azmi, malahan dia bikin prestasi baru lagi di Syubbanul Muslimin, keren abis tuh anak, " Helmi tidak bisa berhenti memuji Azmi dihadapan Zakir yang makin kesal.


" Kalian itu udah salah nilai Azmi, lihat aja dia sekarang, mas Ali dan santri-santri yang lain masih menganggap dia itu pencuri itu gara-gara kita, " Sihin.


" Dia emang pantas dapat itu, dan itu belum seberapa kok, " Zakir.


" Sadar Kir, kamu mau ngapain lagi supaya Azmi jauh dari pesantren ini? Dan itu gak ada gunanya, Azmi itu orang yang kuat!" Sihin.


" Apa aja! Aku gak akan nyerah dan akan selalu buat Azmi sengsara!" Zakir dengan tatapan tajam kepada Sihin setelah matanya memandang lama Azmi, Zakir pergi begitu saja meninggalkan kedua temannya.


" Gak setia kawan kamu Hin, masih aja bela dia, " Helmi yang juga lari mengejar Zakir dan hanya Sihin sendirian ia merasa gelisah dan terus memikirkan Azmi.


" Aku gak boleh kaya gini terus, Azmi udah cukup di bully sama semua santri dan aku harus kasih tau yang sebenarnya, iya, aku harus kasih tau semuanya, " Sihin dengan penuh keyakinannya ia berjalan hendak menghampiri anggota Syubban.


............**************...........


Ketika Kyai datang dengan kompak anggota Syubban langsung berdiri seperti seorang santri yang hormat kepada Kyai, mereka semua menunduk tidak ada yang berani mengangkat kepala mereka.


" Assalamualaikum, " Kyai bersama dengan Ustadz Mustafa.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarkatuh, " jawab semua anggota.


" Kalian kok panas-panasan di depan Masjid? Ayo masuk, " perintah Kyai.


Para anggota menganggukkan kepala mereka dan melangkah masuk ke dalam Masjid.


Mereka semua duduk dengan rapi untuk mendengarkan informasi dari Kyai dan juga akan berdiskusi tentang masalah Azmi yang masih di musuhi oleh Ali sampai sekarang.


" Alhamdulillah, sampai hari ini kita di berikan kesehatan dan masih bisa untuk terus bersholawat bahkan kita sudah mendapat banyak prestasi dan sudah pergi kemana-mana, semua itu karena Allah dan jangan sekali-kali kalian sombong atas yang sudah kalian capai! Ini bukanlah akhir dari tujuan kita! Kita harus tetap semangat dan istiqomah, mengerti?" Kyai.


" Mengerti Kyai, " ucap semuanya.

__ADS_1


" Azmi, ayo maju nak, kita akan selesaikan masalahmu, " Kyai menunjuk Azmi yang sedari tadi menunduk dan fokus mendengarkan.


Seketika Azmi mengangkat kepalanya sebelum maju ia sempat memandang semua teman-temannya dan juga Ali yang masih kesal kepadanya.


Azmi menganggukkan kepalanya.


" Baik Kyai, " Azmi bangun dan duduk di samping Kyai masih menunduk.


" Apa kalian semua sudah memaafkan Azmi? " tanya Kyai kepada semuanya.


" Sudah.. " jawab para anggota Syubban dengan pelan dan kecil kecuali Ali yang hanya diam.


" Kok cilik men surane? ( kok kecil sekali suaranya) Kenapa? Belum makan semua? " tanya Kyai.


Semua anggota Syubban hanya tertunduk tanpa menjawab pertanyaan Kyai.


" Afwan Kyai, boleh saya bicara? " Ahkam mengangkat tangannya.


" Iya Ahkam, silakan, " Kyai.


Azmi yang menunduk dan ia juga canggung karena duduk di samping Kyai, Azmi mulai memandang ke arah Ahkam.


" Maaf Kyai, iya, saya juga tidak percaya kalau Azmi adalah pencuri, saya sadar kalau Azmi tiap waktu bersama saya, Azmi adalah santri yang bekecukupan bahkan dia yang kadang kasih uang sama saya saat saya kekurangan uang, " Aban membela Azmi hal itu membuat Azmi tersenyum senang dan kembali menundukkan.


" Tapi Kyai, kebenarannya adalah Azmi memang pencuri, kalian gak lihat apa? Kalau barang-barang yang di curi itu, ada di lemari Azmi!" Ali menatap sinis Azmi yang juga memandang ke arahnya.


" Kyai, saya juga tidak tau, kenapa barang-barang itu ada di lemari saya? Saya juga bingung Kyai, " tegas Azmi.


" Assalamualaikum, " ucap Sihin yang datang menghampiri Kyai dan anggota Syubban yang tengah berdiskusi.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semua.


" Saya mau mengatakan kebenaran tentang Azmi Kyai, " Sihin.


Mendengar itu semua pandangan menuju ke arah Sihin begitu juga dengan Azmi yang menatap dalam Sihin yang ada di sampingnya.


" Iya nak, silakan bicara, " Kyai mempersilakan Sihin untuk berbicara.


Sihin mulai duduk di dekat Azmi dengan sedikit canggung karena di tatap oleh semua anggota Syubban juga oleh Kyai dan Ustadz Mustafa , Sihin memberanikan diri untuk bicara kebenarannya.


" Sebenarnya, saya.... Sebenarnya... Eee... " Sihin begitu takut karena ia juga yang membantu Zakir untuk memfitnah Azmi.

__ADS_1


Azmi menoleh ke arah Sihin yang gugup.


" Sebenarnya, opo Hin?" Udin yang tidak sabar.


Azmi menggenggam tangan Sihin yang dingin karena ketakutan, membuat Sihin juga menoleh ke arah Azmi. Seakan Azmi tau perasaan Sihin, Azmi tersenyum dan menganggukkan kepalanya ia juga melepas genggaman tangannya.


" Ayo nak, katakan saja, kamu tidak perlu takut kita tidak akan memarahimu, " Kyai berusaha menenangkan Sihin.


" Sebelumnya saya mohon maaf Kyai, saya takut semua orang benci kepada saya setelah saya mengatakan ini, " Sihin dengan sangat gugup dan takut ia tidak berani mengangkat kepalanya dang merasa takut.


" Bilang aja Hin, kita gak akan benci sama kamu, ya kan teman-teman? " Firman.


" Iya benar Hin, ngomong aja, " ucap semua anggota Syubban sementara Ali hanya diam.


Sihin menghela nafasnya dan mulai menatap semua anggota Syubban yang sedang menantikan Sihin untuk berbicara.


" Yang sebenarnya memang bukan Azmi yang nyuri barang-barang mas Ali, Firman, mas Udin, Rifki dan teman-teman yang lain, Azmi sama sekali tidak tau apapun... Saya dan Zakirlah yang sudah menaruh barang-barang itu ke lemari Azmi, karena Zakir sangat benci dengan Azmi, rencana ini Zakir buat agar Azmi malu dan tidak betah tinggal di pondok ini, tapi ternyata sampai sekarang Azmi masih betah di pondok ini, saya minta maaf Kyai, Ustadz, Azmi dan semuanya, " Sihin dengan keberanian besar ia mengungkapkan kebenarannya.


Semua tim Syubban sangat tidak percaya mereka menggelengkan kepalanya dan memegang dahi mereka.


" Astagfirullah, " ucap semua dengan kompak termasuk Azmi, Kyai dan Ustadz Mustafa.


" Saya minta maaf Kyai, saya telah mengikuti Zakir padahal saya tau kalau itu salah, " Sihin.


Ali yang sudah tidak bisa menahan amarahnya berdiri dan menghampiri Sihin tidak hanya itu ia juga menarik paksa tangan Sihin hingga berdiri di hadapannya.


Serentak semuanya ikut berdiri, Azmi berusaha menenangkan Ali yang terkenal tidak bisa mengontrol emosinya.


"Mas Ali, tenang mas, " Azmi melerai Sihin dan Ali.


" Kamu sudah keterlaluan Hin! Kamu udah fitnah Azmi kaya gitu dan kamu baru bilang sekarang, Azmi harus nanggung malu sendirian dan dia juga udah dihukum di hadapan semua santri atas kesalahan yang sama sekali tidak dia perbuat! " Ali terus menggenggam tangan Sihin yang tidak berani menatap Ali.


"Maafin aku mas," ucap Sihin.


" Benar-benar kamu Hin, kita semua sampai sama benci Azmi, " tambah Firman.


Sihin hanya terus tertunduk membisu.


" Astagfirullah, kita harus panggil Zakir dan minta dia tanggung jawab atas apa yang dia perbuat!" Kyai.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2