Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 75. Bertemu...


__ADS_3

Ustadz Abdullah dan para santri datang pada waktu yang tepat untuk melihat penampilan Aban. Juri baru saja memanggil nama Aban dan Aban baru ingin memulai membaca Qur'anya.


" Surat Al-Mujadalah ayat 13, silahkan dibaca. " ucap salah satu juri.


" Baik. " Aban, ia mulai membuka Qur'annya dan mencari surat Al-Mujadalah ayat 13, rasa tegang dan canggung pasti dirasakan oleh Aban apalagi ketika melihat banyaknya peserta dan dewan juri yang siap untuk mengoreksi dirinya.


Aban menarik nafasnya dan mulai menepatkan mikrofonnya di dekat mulutnya.


Ta'awudz dan basmalah Aban ucapkan terlebih dahulu dengan suaranya yang sangat indah.


" Suara Aban bagus banget. " Farist.


" Biasa aja, " jawab Dimas dingin.


Farist hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dimas dan kembali fokus memandang Aban.


Suara indah yang dimiliki Aban membuat seisi ruangan kagum termasuk dewan juri yang sangat memperhatikan bacaan Aban. Azmi senang melihat penampilan Aban ia terus saja melukiskan senyum di wajah tampannya.


" Shodaqollahul 'Adziim...." Aban berhasil menyelesaikan bacaan Qur'annya tanpa ada kesalahan sedikitpun.


Semuanya memberikan tepukan tangan pada Aban.


" Bacaannya bagus, makhrajnya benar, panjang pendeknya juga pas.Sangat baik. " ucap salah satu juri yang di persilahkan memberi komentarnya.


" Terimakasih ustadz. " Aban.


" Baiklah peserta selanjutnya. " salah satu juri.


Aban turun dari panggungnya sembari membawa Qur'annya.


" Aban, " teriak Azmi sembari melambaikan tangannya.


Aban menoleh ke arah Azmi dan melangkah menghampiri semua yang sudah menunggunya.Sesampianya di sana Aban menyalam tangan ustadz Abdullah.


" Wishh hebat Ban, aku yakin kamu juaranya. " Azmi.


" Makasih Mi, aamiin. " Aban.


" Hebat Aban, kamu tidak ada salah sedikitpun tadi. " ustadz Abdullah.


" Terimakasih ustadz. " Aban.


Semua memuji Aban kecuali Dimas yang hanya menunjukkan ekspresi malasnya.


" Ustadz, sekarang kita ngapain?, pengumumannya kapan sih?, " Dimas.


" Oh ya,kita pergi ke ustadz Ridwan dulu, mungkin dia tau. " ustadz Abdullah.


" Yaudah kalau gitu, ayo ustadz. " Dimas sudah tidak tahan ada di sana.


" Ayo semua, kita ke ustadz Ridwan. " ustadz Abdullah.


Semua santri menganggukkan kepalanya,mereka semua melangkah menuju tempat para ustadz.


Sesampainya di sana satu-persatu santri menyalam tangan ustadz Ridwan.


" Ustadz Abdullah, saya dapat kabar kalau pengumuman lombanya digabung, jadi semua lomba diumumkan ditempat yang sama. " ustadz Ridwan.


" Baru saja saya ingin bertanya,kalau gitu kita tunggu saja. " ustadz Abdullah.

__ADS_1


" Tapi ustadz, santriwati?. " ucap salah satu santri.


" Hush,pikiranmu itu santriwati terus, " tegur Farist.


" Santriwati di pesantren santriwati, nanti ada pengumuman kalau sudah disuruh berkumpul. " ustadz Ridwan.


" Baiklah. " ustadz Abdullah.


Semua santri sudah menyelesaikan perlombaannya.


" Diharapkan para santri untuk berkumpul diruang makan. " terdengar suara yang sangat jelas dan keras karena menggunakan mikrofon mengumumkan hal itu kepada semua.


" Nah, kalian semua sana pergi,makan dulu. " ustadz Ridwan.


" Dimana ruang makannya ustadz?, kita kan gak tau." Farist.


" Sudah, kalian cari saja nanti pasti ketemu. Masa ustadz harus anterin kalian,kan udah pada gede . " ustadz Abdullah.


" Iya ustadz, mas, mending kita jalan aja dulu, dimana ada keramaian disitu ada makanan. " Azmi kepada Farist.


Mendengar ucapan Azmi membuat semua tertawa.


" Azmi, Azmi, ada-ada aja kamu. " ustadz Abdullah.


" Pintar kamu Mi, " ustadz Ridwan.


" Yaudah, ayo kita pergi, ustadz. " Farist mencium tangan ustadz Abdullah dan ustadz Ridwan.


Azmi, Aban, Dimas dan 4 santri lainnya ikut mencium tangan ustadz Abdullah dan ustadz Ridwan.


" Assalamualaikum." ucap semuanya.


" Kalian jangan malu-malu ya, ambil nasinya jangan sedikit. " teriak ustadz Ridwan kepada semua santri yang hanya tersenyum dan melanjutkan langkah mereka.


" Kamu Wan, bisa aja. " ustadz Abdullah.


Ustadz Ridwan hanya tertawa kecil kepada ustadz Abdullah.


" Ya sudah, mari ustadz, kita makan. " ustadz Ridwan.


" Ayo, " ustadz Abdullah.


Azmi dan yang lain sudah mengambil nasi mereka dan duduk di meja makan bersama.


" Alhamdulillah, waktunya makan. " ucap salah satu santri.


Mereka menikmati makan bersama begitu juga yang dilakukan oleh Azmi ia sangat lahap memakan makanannya. Dimas makan dengan perlahan sesekali ia memandang Azmi dengan tatapan tajamnya.


Azmi ingin mengambil minum yang ada dihadapannya tetapi Dimas berhasil merebut minuman Azmi.


" Dimas, itukan punya Azmi, kok kamu ambil sih. " Farist yang melihat Dimas mengambil minuman Azmi.


" Aku gak cukup kalau minum satu gelas, kamu ambil lagi sana Mi, " ucap Dimas seenaknya.


" Harusnya kamu ambil lagi, kenapa harus ambil punya Azmi?. " Farist.


Dimas tidak menjawab dan terus menyantap makanannya.


" Udah mas, aku ambil lagi, gak papa. " Azmi yang rela mengalah.

__ADS_1


" Denger tuh, Azmi aja gak papa. " Dimas.


Farist memandang ke arah Azmi yang mengangguk kepadanya dan hendak pergi untuk mengambil air.


Aban kembali melanjutkan makannya perlahan sesekali ia juga memandang Dimas yang ada dihadapannya.


"Mas Dimas, mas Dimas, kenapa sih dia kayak gitu sama aku?." Azmi setelah meminum airnya di tempat yang sudah disediakan air minum.


" Azmi, " teriak ustadzah Lily yang tiba-tiba ada di sana.


" Ustadzah Lily, kok ada disini?. " Azmi bingung ia bangun dan segera menuju ustadzah Lily.


" Assalamualaikum ustadzah, kok ada disini?. " ucap Azmi meletakkan kedua tangannya di depan dadanya.


" Iya, ustadzah tadi ada urusan sebentar disini." ustadzah Lily.


" Ooo, gitu." Azmi.


" Nanti kamu kasih ini sama ustadz Ridwan ya, karena saya tidak bisa kesana. " ustadzah Lily.


" Apa ini ustadzah?." tanya Azmi yang sudah menerima seamplop kertas yang diberikan ustadzah Lily.


" Itu pengumuman dan biaya untuk pesantren. " ustadzah Lily.


"Oooooo, Azmi kira.....


" Apa?. " ustadzah Lily mendahulukan pembicaraan Azmi.


" Bukan apa-apa ustadzah, hehe. " Azmi tertawa kecil.


" Ustadzah. " ucap seorang santriwati yang berusaha masuk di antara keramaian santriputra yang sedang berlalu lalang.


Dengan kakinya yang kecil santriwati itu berusaha untuk terus menunduk dan menghindari agar tidak bersentuhan dengan para santriwan. Ustadzah Lily dan Azmi terus memandangi ke arah suara yang meneriaki nama ustadzah Lily karena santriwati itu masih menunduk dan tidak jelas wajahnya.


" Assalamualaikum, ustadzah ayo, pengumumannya sudah mau mulai. " Aisyah kepada ustadzah Lily.


" Subhanallah, iya ustadzah sampai lupa. " ustadzah Lily menepuk dahinya.


"Wa'alaikumsalam. " Azmi tercengang memandang santriwati itu.


Bukannya menunduk Azmi malah terus memandang santriwati yang bersuara lembut dan terus menunduk itu.Rasa penasaran Azmi untuk mengetahui siapa santriwati itu terus saja terbesit dalam pikirannya.


" Azmi, kamu kenapa?,ingat jaga pandangan. " tegur ustadzah Lily.


" Hah?,oh iya ustadzah, lupa. " jawab Azmi.


" Ustadzah, tadi ada yang bilang sama saya pengumumannya disini,cuman dipisah karena disana ada acara lain yang akan diadakan sekarang,makanya Aisyah berani kesini." Aisyah, ya santriwati itu adalah Aisyah, santriwati cantik yang sangat berbakat.


Mendengar nama Aisyah membuat Azmi kaget.


" Aisyah. " ucap Azmi tanpa sadar walau dengan suara kecil membuat Aisyah mengangkat kepalanya terlihatlah wajah Aisyah yang cantik dan Azmi tercengang memandang Aisyah.


Melihat Azmi ,Aisyah menjadi kaget tubuhnya seolah kaku tidak bisa bergerak, ia terus saja memandang Azmi.


" Astagfirullahal 'adzim, kalian malah pandang-pandangan, ayo Aisyah kita pergi sebelum kalian dosa akibat zina mata. " ucap ustadzah Lily yang segera menarik tangan Aisyah dan membawanya pergi.


Aisyah langsung tertunduk dan melangkah mengikuti ustadzah Lily.


Azmi masih kaget dengan apa yang dilihatnya tadi, Azmi berjalan dengan pandangan kosong seperti memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2