
Semua anggota Syubban berdiri memberanikan diri mereka melangkah maju menghampiri Kyai.
" Ada apa Kyai? Bagaimana keadaan Akmal? " tanya Ali kepada Kyai yang membelakangi dirinya. Kyai dengan cepat menghapus air matanya dan mencoba tegar untuk mengatakan yang sebenarnya kepada anggota Syubban yang sedang menunggu jawaban dari Kyai.
" Akmal sudah meninggal, dia sudah pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya, " ucap Kyai meletakkan tangan kanannya pada pundak Ali.
Kenyataan itu membuat seluruh anggota terpukul mata mereka berkaca-kaca sudah tidak sanggup menahan tangis.
" Innalillahi wa inna 'ilaihi roji'un, " ucap semua anggota Syubban dengan wajah yang sudah di basahi oleh air mata.
Ali tidak percaya akan hal ini, ia tidak menyangka bahwa sahabatnya akan pergi secepat itu. Tubuhnya lemas seketika tangisannya semakin deras dan ia menutupi wajahnya, Udin yang juga menangis mendekati Ali dan mengelus-ngelus lengan sahabatnya itu.
" Saya akan mengumumkan ini sampai wilayah santri putri, ayo anak-anak, masuk ke dalam Masjid dan Azmi pencet bel nak, " Kyai.
Azmi yang masih menangis menghapus air matanya untuk menjawab Kyai ia menghadap ke arah Kyai.
" Baik Kyai, " ucap Azmi dengan suara yang serak akibat menangis perlahan ia melangkah menuju Masjid.
" Ahkam, siapkan speaker yang bisa sampai kepada wilayah santri putri dan bahkan bisa terdengar hingga luar pesantren, " Kyai.
" Baik Kyai, " jawab Ahkam, suaranya juga bergetar dan matanya merah terus mengeluarkan air mata.
" Muhklis dan Nur, bisa bantu Ahkam, ayo, semuanya masuk Masjid, " Kyai.
" Baik Kyai, " mereka menjawab dengan suara lemas menahan tangis mereka hingga mereka melangkah perlahan masuk kedalam Masjid.
Ketika Azmi sampai di hadapan bel, Azmi masih tidak sanggup, tangannya bergetar ia masih mengingat Akmal yang tadi pagi masih sholat tahajud di Masjid ini, Azmi juga mengingat bahwa baru saja mereka melaksanakan burdah, Azmi tidak menyangka bahwa ini adalah sholawat terakhir bersama Akmal.
" Ya Allah, kenapa mas Akmal harus pergi secepat ini?" tanya Azmi menatap ke dinding Masjid lalu mata yang ia pejamkan tak sanggup mengingat kebersamaannya bersama Akmal.
Semua anggota Syubban melihat Azmi yang bersedih, mereka juga bersedih apalagi Ali, Udin dan Firman yang saling rangkul untuk saling menguatkan.
" Mi, bel Mi, " ucap Ali mencoba tegar.
Azmi membuka matanya dan melihat semuanya yang tengah bersedih dengan tarikan nafas pelannya, Azmi mulai mengangkat tangannya untuk memencet bel.
Tet....Tett.... Tett.....
Bel terdengar keras bahkan sampai ke wilayah santri putri yang sudah sunyi karena tidak ada kegiatan.
__ADS_1
" Kaya bel dari santriwan, mereka mau ngapain ya? " tanya Aisyah kepada Fitri yang sedang duduk bersamanya di kasurnya.
Fitri melihat jam yang menunjukkan pukul 12.00 malam.
" Eh iya, udah jam 12 lo, padahal, " Fitri.
" Aisyah, Fitri, ayo kumpul di Masjid, cepetan!! " ucap seorang santiwati dengan sangat terburu-buru dan nafas yang terperangah.
" Ada apa ya, Fit? Perasaan ku gak enak, " Aisyah menggenggam kedua tangan Fitri erat memasang wajah khawatirnya.
" Kamu tenang aja ya, Syah. Gak akan terjadi apa-apa, ayo, kita segera ke Masjid," ajak Fitri kepada Aisyah yang sangat khawatir.
...******...
Seluruh santriwati dan santriwan sudah ada di Masjid mereka masing-masing dengan wajah kusam karena sudah mengantuk dan lelah.
Ahkam datang membawa mikrfon sambungan yang sudah menyambung ke speaker yang akan menghasilkan suara keras dan bisa terdengar sampai keluar pesantren. Kyai menerimanya dan menganggukkan kepalanya pelan, Ahkam kembali untuk duduk di samping Azmi dan Ali yang memberikan tempat untuk Ahkam.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Kyai.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " ucap semuanya, baik dari wilayah santriwan dan santriwati.
Dengan menghelas nafas keras sebelum berbicara, Kyai mengucapkan bismillah dan baru mengucapkan semuanya menatap wajah-wajah santrinya yang sangat antusias menunggu ucapan Kyai.
"Inna lillahi wa inna 'ilaihi roji'un, " gema seluruh santriwan dan santriwati mereka turut berduka atas kepergian Akmal.
Sementara Aisyah yang mendengar nama Kakaknya di sebut seketika tubuhnya lemas tidak berdaya, air mata mulai jatuh dari matanya dan ia menangis sejadi-jadinya tidak percaya bahwa Kakaknya telah meninggalkannya.
Aisyah terus menangis menepatkan kedua tangannya pada wajahnya ia menggelengkan kepalanya tidak terima kalau kakaknya harus pergi meninggalkannya untuk selamanya.
" Enggak, enggak! Itu pasti bukan Kak Akmal, kan? " Aisyah dalam tangisan tersedu-sedu.
Fitri spontan memeluk sahabatnya yang sangat berduka ia mengelus-ngelus punggung Aisyah.
" Syah, kamu tenang ya, ikhlasin Kak Akmal," Fitri ikut menangis.
" Enggak!! " Aisyah larut dalam pelukan Fitri sembari menangis.
" Saya minta kalian membaca surat yasin dan tahlil untuk Akmal, baik santriwan ataupun satriwati, saya akan segera memulangkam Akmal kepada keluarganya," Kyai.
__ADS_1
Ali mengangkat tangannya.
" Iya Ali, ada apa? " tanya Kyai menoleh ke arah Ali.
" Maaf Kyai, saya dan teman-teman saya ingin melihat Akmal untuk terakhir kalinya, apa boleh kita, tim Syubbanul Muslimin, ikut bersama Kyai, untuk memakamkan almarhum Akmal? " Ali.
Kyai tidak tega kepada tim Syubban yang sangat kehilangan ia mengangguk menerima permintaan Ali.
" Baik anak-anak, ayo kalian segera bersiap, tunggu di mobil saya, dan... Ustadz Mustafa saya minta tolong, bimbing anak-anak untuk mengaji dan berdoa untuk almarhum Akmal, " pinta Kyai.
" Baik Kyai, " jawab ustadz Mustafa.
Kyai pamit kepada semua santrinya untuk mengantarkan Akmal, tim Syubban juga beranjak pergi mengikuti Kyai. Ustadz Mustafa mulai mengadakan doa untuk Akmal membimbing seluruh santri yang ikut kehilangan.
********
" Ayo semuanya, kita berdoa untuk kepergian santriwan atas nama Muhammad Akmal Kholilul Rahman, ayo anak-anak ambil Al-Qur'an kalian, " Ustadzah Lily.
Ketika semua santri pergi mengambil Al-Qur'an hanya Aisyah ditemani oleh Fitri maju menghampiri Ustadzah Lily.
" Maaf Ustadzah, Akmal itu kakak saya, saya ingin pergi menemui Kakak saya untuk terakhir kalinya, boleh kan, Ustadzah? Saya ingin ikut memakamkan Kakak saya Ustadzah, " Aisyah ia bicara dalam tangisannya.
Ustadzah Lily merasa kasihan dengan Aisyah yang terus menangis ia mendekati Aisyah dan memeluk santriwatinya itu yang semakin menjadi tangisannya.
...**********...
Kyai dan semuanya sudah bersiap untuk ke rumah sakit ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil ada teriakan yang menghentikan langkah mereka.
" Tunggu! " Ustadzah Lily yang memberanikan dirinya untuk datang ke wilayah santriwan demi Aisyah yang terus menangis dengan tubuhnya yang lemah.
" Ayo Aisyah, kita bicara dengan Kyai, " ajak Ustadzah Lily .
Aisyah hanya mengangguk dan melangkah perlahan menemui Kyai.
" Assalamualaikum Kyai, " Ustadzah Lily.
" Wa'alaikumsalam, " jawab Kyai dan semua anggota Syubban.
" Maaf sebelumnya Kyai, saya ingin memberitahu, ini Aisyah, dia adiknya Akmal Kyai, dia ingin menemui Akmal dan ikut mengantarkan Kakaknya untuk peristirahatan terakhirnya." jelas Ustadzah Lily.
__ADS_1
Kyai melihat Aisyah yang terus menangis dirangkul oleh Ustadzah Lily dan juga memandang anggota Syubban yang berdiri dengan wajah kusam dan mata yang merah mereka masih sedih.
Bersambung....