Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 221 Kembali Merasakan Sakit


__ADS_3

Setelah semua acara silaturahmi, kini waktunya Azmi bersama dengan keluarganya beristirahat. Tangan Azmi masih terlihat lebam walau sakitnya sudah mulai reda.


Azmi langsung duduk di sofa lembut bersebelahan dengan Adik-Adiknya.


" Tangannya masih sakit, Mas?" tanya Ummi menghampiri Azmi dan duduk disebelahnya diikuti dengan Abah yang juga duduk di sofa tepatnya disamping Rara.


" Alhamdulillah, Mmi. Ini udah mendingan." jawab Azmi menoleh ke arah Umminya sembari tersenyum kecil.


" Alhamdulillah kalau gitu, kalau masih sakit bilang sama Ummi, ya, Mas." Ummi.


Azmi mengangguk.


" Iya Ummi," jawab Azmi.


Ummi yang melihat wajah polos anaknya yang sudah sukses itu mengelus kepala putra sulungnya dengan penuh kasih sayang membuat Azmi tertunduk sambil tersenyum ia merasakan. kehangatan dari tangan lembut Umminya.


" Mas Azmi sehat-sehat dong, Mas. Nanti aku gak ada yang ngajak main lagi, " Naufal.


" Iya, iya. Ini cuma kecelakaan, Mas udah sehat sekarang." Azmi.


" Seng dipikir ps tok, Naufal iki. Mbok ya, ngelakuin hal yang berfaedah ngono lho. Ngaji, murajaah bareng Mase." Abah.


Naufal terdiam karena ucapan Abahnya ia mengangguk dan mengiyakan ucapan Abahnya.


" Nggih, Abah. Insya Allah," jawab Naufal dengan satu kali anggukan.


" Ummi, Azmi mau ambil minum dulu." Azmi.


" Iya, " Ummi.


Azmi perlahan bangun ia membungkukkan tubuhnya saat ia melangkah dihadapan Ummi dan Abahnya dan terus melangkah menuju dapur.


Wajah Azmi terlihat lemas entah apa yang ia pikirkan saat ini tapi langkahnya juga begitu pelan dan tidak bertenaga sangat tampak jelas jika Azmi tengah memikirkan sesuatu.


Ia terus melangkah sampai ke dapur untuk mengambil air. Pertama ia berhasil mengambil gelas tapi ketika ia mengisi air tiba-tiba saja rasa nyeri dan ngilu pada tangan kanan yang sedang memegang gelas itu kembali terasa sakit yang teramat sangat.


Tangannya tiba-tiba saja kaku tanpa sebab dan membuatnya tidak dapat memegang gelas dengan erat hingga gelasnya jatuh dan pecah.


" Arghhhh! " teriak Azmi memegangi tangannya yang tengah kesakitan.


Semuanya yang mendengar suara gelas beling yang terjatuh dan pecah itu segera menghampiri Azmi untuk melihat apa yang terjadi.


" Astagfirullah, Azmi. Kenapa, sayang? " tanya Ummi Azmi mendekati putranya yang tengah menahan sakitnya.


Abah Azmi mengambil pecahan beling itu dengan sangat hati-hati.


" Abah, biar Azmi aja yang bersihin. Itu salah Azmi." Azmi.

__ADS_1


" Wes tho, le. Kamu lagi sakit itu, Abah gak papa, " Abah.


" Biar Naufal bantu Abah, " ucap Naufal segera membantu Abahnya.


Azmi terus merengek kesakitan dalam pelukan Umminya membuat Ummi begitu cemas dan takut terjadi apa-apa pada putranya.


" Ya Allah Azmi, ayo kekamar biar Ummi obatin tangan kamu." Ummi.


" Rara ikut Ummi, " ucap Rara dengan langkah kecilnya ia mengikuti Ummi yang membawa Azmi.


Azmi dibawa ke kamar dengan sangat hati-hati sambil terus dipegangi oleh Umminya. Ia begitu terlihat sangat kesakitan sampai wajahnya tampak pucat tapi Azmi tetap berusaha kuat menahan rasa sakitnya.


Ummi dibantu Rara yang mengambil air dingin segera kembali mengobati tangan Azmi agar kembali pulih dan rasa sakitnya bisa hilang.


" Sini, Nak. Ummi kompres lagi, habis ini kamu minum obat supaya gak nyeri lagi." Ummi.


Azmi mengangguk menegakkan tubuhnya dan Ummi mulai mengambil kain yang dipakai untuk mengompres Azmi, memerasnya dan mengontrak tangan Azmi yang masih lebam.


Rara yang duduk disamping Ummi sangat dalam dan fokus memandang Masnya yang tengah kesakitan. Wajahnya yang mengemaskan terlihat sangat khawatir dengan keadaan Azmi.


" Mas Azmi, tangannya sakit banget ya, Mas? " tanya Rara dengan suara lirih dan mata lebarnya menatap dalam Azmi yang seketika mengangkat kepalanya dan pandangannya tertuju pada Rara yang khawatir dengan keadaan dirinya.


" Gak papa kok, Dek. Paling cuma kumat bentar ini sakitnya, " Azmi.


Rara hanya terdiam dan menundukkan kepalanya dengan wajah yang masih murung karena rasa khawatir dan takut kalau Masnya kenapa-napa masih ada dalam pikirannya.


" Dek Rara gak usah khawatir, Mas Azmi gak apa-apa kok," ucap Ummi Azmi sembari mengelus-ngelus kepala Rara dan merapikan rambut putri kecilnya itu dengan penuh kasih sayang.


" Iya, Dek. Mas gak papa, senyum dong, entar cantiknya hilang, " Azmi berusaha membuat Adiknya tersenyum walau tangannya masih sedikit merasakan ngilu.


Kedua tangan Azmi yang masih membiru terus dipegangi oleh Ummi Azmi dengan perlahan tetap mengompres tangan putranya dengan air dingin.


" Beneran gak papa, Ummi. Mas Azmi gak patah, kan tangannya?" tanya Rara.


Mendengar pertanyaan Rara yang seperti itu tentu saja membuat Azmi dan Umminya sedikit kaget mereka saling toleh hingga Ummi tersenyum dan bicara menjawab ucapan Rara.


" Enggak sayang, tangan Mase Insya Allah baik-baik saja. Ini mungkin karena luka lebam yang belum sembuh jadi masih ada rasa sakitnya, " jelas Ummi.


Rara mengangguk paham akan ucapan Umminya.


" Assalamualaikum, " ucap Naufal dan Abah yang mengetuk pintu kamar Azmi sembari membukanya lalu masuk untuk melihat keadaan putra sulungnya.


" Wa'alaikumussalam," jawab semuanya.


" Gimana keadaan Mas Azmi? Masih sakit Mas tangannya? " tanya Naufal.


" Wes mendingan, daripada yang tadi, " Azmi.

__ADS_1


" Ini ada obat buat hilangin nyeri, diminum biar cepat sembuh," Abah.


" Abah, emang itu obatnya benar? Nanti Azmi salah obat, " Ummi.


" Enggak Ummi, ini obatnya benar. Buat ngilangin rasa sakit habis jatuh atau terbentur sesuatu yang mengakibatkan luka lebam." jawab Abah.


" Coba Ummi lihat, " Ummi.


Ummi membaca petunjuk dari bungkus obat berbentuk pil itu dengan seksama dan benar saja fungsi obat itu untuk menghilangkan rasa nyeri untuk orang yang terluka.


" Abah dapat darimana ini? " tanya Ummi.


Seketika wajah Abah dan Naufal terdiam dan ekspresi Naufal juga jauh berbeda ia langsung menundukkan kepalanya.


" Itu punya Naufal Ummi, " jawab Naufal dengan kepala yang tertunduk.


" Punya Naufal? Naufal pernah jatuh, Nak? " tanya Ummi.


Wajah Azmi, Rara, Abah dan Ummi kini tertuju dan hanya fokus kepada Naufal.


" Naufal minta maaf, Ummi. Sebenarnya Naufal pernah berantem disekolah. Tapi, itu semua bukan salah Naufal kok Ummi, Aku cuma mau beladiri karena dia udah jelek-jelekkin Naufal." jawab Naufal dengan jujur dengan suara lirih dan gemetar matanya juga tidak berani memandang siapapun.


" Astagfirullah, Naufal. Kamu kenapa gak pernah bilang sama Ummi? Terus ini obatnya kamu beli sendiri? Atau bagaimana? Kalau salah pakai obat itu bisa bahaya, Nak." Ummi.


" Enggak kok, Ummi. Jadi, Naufal berkelahi setelah pulang sekolah. Pipi kanan Naufal rasanya sakit banget terus Ada Ibu temannya Naufal yang menghampiri dan nanya keadaan Naufal. Tante itu baik banget Ummi, dia mau nggak Naufal kerumah sakit dan bayarin obat Naufal." jawab Naufal.


" Iya Ummi, Naufal tadi sudah cerita sama Abah. Sudah jangan marahi dia, yang terpenting Naufal sudah mau jujur," Abah.


Mendengar penjelasan Naufal, Ummi teringat dimana Naufal pernah pulang sekolah telat dan membuat dirinya khawatir.


Saat sudah sampai rumah, Naufal sudah menundukkan kepalanya dan menyembunyikan luka lebamnya itu.


Ketika Ummi bertanya itu kenapa, Naufal menjawab ia hanya habis terjatuh. Ummi hanya mengangguk tanpa bertanya lagi dan langsung meminta Naufal untuk segera mandi lalu makan siang.


" Iya, Ummi ingat sekarang. Tapi tetap saja Naufal. Berkelahi, melakukan kekerasan itu sama sekali tidak benar, Nak. Kita gak akan tau hal buruk yang akan terjadi ketika kita berkelahi. Naudzubillah, kalau ada hal buruk yang terjadi sama kamu. Terus bagaimana? Siapa yang mau disalahkan?" tanya Ummi.


" Naufal sendiri Ummi, " jawab Naufal sekilas menatap Umminya dan kembali menundukkan kepalanya.


" Ummi kamu benar juga, kalau cuma soal ledek-ledekkan, itu jangan kamu ambil hati, Nak. Harus sabar dan anggap saja itu pecutan agar kamu bisa jadi lebih baik, ingat, Nak. Orang yang seperti itu hanya orang yang iri sama kamu dan mereka hanya ingin membuat kamu lemah. " Abah.


" Nggih, Abah, Ummi. Naufal minta maaf, " Naufal.


Ummi dan Abah tersenyum dan mengangguk mereka memaafkan Naufal yang berani jujur dan mau mengakui kesalahannya.


Azmi yang mendengar semua itu dengan sangat fokus teringat dengan dirinya yang juga berkelahi dengan orang-orang jahat. Apakah Azmi juga salah? Tapi Azmi hanya membantu Zakir, pikir Azmi yang memalingkan wajahnya sambil memikirkan semua itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2